
***
Hari ini, selesai mata pelajaran kuliah selesai, Aiko dan Mirai pergi ke halaman kampus, lalu mereka duduk bersama di taman.
"Mirai."
"Ya, Aiko?"
"Ehm, sepertinya...."
"Sepertinya apa?"
"Sepertinya Hiro menyukaimu," jawab Aiko pelan.
"Huh?" Mirai sedikit terkejut. "Benarkah? Bagaimana kau tahu?"
Aiko mengangguk yakin. "Dia sering menghubungiku hanya untuk menanyakanmu."
"Oh," ucap Mirai singkat.
"Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukai Hiro?" tanya Aiko ingin tahu.
Mirai terdiam dan tak tahu harus menjawab apa.
"Jika belum ada orang yang kau suka, tolong pertimbangkan dia. Hiro adalah cowok yang baik. Aku mendukung hubungan kalian," ucap Aiko sambil tersenyum.
Mirai mengangguk pelan. "Aku mengerti maksudmu."
***
Dua bulan telah berlalu!
Pagi ini, Mirai terlihat tengah menunggu kereta subway di stasiun. Bunyi kereta subway telah tiba. Ia masuk ke dalam kereta dan mencari tempat duduk yang kosong. Namun, di sana ia melihat seseorang dengan wajah yang tidak asing.
"Kak Akihiro!" panggil Mirai pada orang itu.
Akihiro menoleh. " Hai, Mirai. Kebetulan bertemu di sini. Mau berangkat ke kampus?"
"Iya, aku mau berangkat kuliah," jawab Mirai.
"Oh, apa hari ini kau ada waktu? Aku ingin minta tolong sesuatu."
"Boleh, apa itu?"
"Hari ini aku ada meeting dengan beberapa pengurus kampus. Jadi, mungkin pekerjaanku di perpustakaan sedikit terhambat. Maukah kau membantuku mengurus perpustakaan sebentar? Hanya menyusun buku di rak sesuatu abjad. Tidak sulit kok," ucap Akihiro.
"Oke, setelah pelajaran di kelas selesai, aku akan ke perpustakaan," jawab Mirai setuju.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka tiba di kampus dan keduanya berpisah. Mirai masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.
__ADS_1
"Sebelum pelajaran ini saya akhiri, saya ingin menyampaikan bahwa satu bulan lagi ada pesta ulang tahun kampus yang ke-50th. Pestanya akan diadakan di gedung Aula dan akan diisi dengan acara pesta dansa. Kalian harus membawa pasangan dansa masing-masing. Dan semua mahasiswa baru diwajibkan untuk ikut. Terima kasih," ujar Profesor.
Profesor keluar dari ruangan dan suasana di kelas menjadi gaduh. Tak lama dari itu, beberapa mahasiswa senior masuk ke dalam kelas.
"Berkaitan dengan acara pesta di kampus, kami akan mengadakan latihan dansa bersama. Bagi yang ingin ikut latihan silakan mendaftar ya," ucap Mahasiswa senior.
Mahasiswa di kelas sangat antusias mengikuti latihan itu. Pendaftaran menjadi antri panjang dan hiruk pikuk di sekitar meningkat.
"Mirai, kau pernah bilang padaku kalau kau tidak bisa dansa, benar?" tanya Aiko.
"Iya, benar. Aku sama sekali tidak bisa dansa," jawab Mirai sedikit cemas.
"Kalau begitu ayo kita ikut latihan, masih ada waktu untuk belajar," ajak Aiko.
"Tapi...."
"Tidak ada kata tapi! Aku akan mendaftar latihan untuk kita berdua," ucap Aiko sambil pergi mendaftar.
Mirai menarik nafas pelan. " Aiko memang begitu dari dulu."
Tiba-tiba, dua buah telapak tangan menutup mata Mirai dari belakang.
"Siapa ini?" tanya Mirai ditengah matanya yang gelap.
"Apakah kau mau menjadi pasangan dansaku?" tanya seseorang dari belakang.
"Hiro?!"
Mirai menoleh ke arah Hiro. "Tentu saja aku tahu, aku sudah hafal suaramu."
Hiro tersenyum dan mendekati Mirai. "Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"A-aku... aku sekarang sedang ada urusan. Aku pergi dulu." Tanpa menunggu respon dari Hiro, Mirai berlari keluar kelas dan pergi menuju perpustakaan.
Mirai tiba di perpustakaan dengan nafas terengah-engah. Ia mengambil buku-buku di keranjang, lalu menyusunnya di rak. Dan ketika ia hendak berpindah ke barisan rak yang lain, Mirai melihat Eisuke tengah bersandar di jendela sambil membaca buku. Sesekali angin berhembus membelai poni rambutnya yang panjang.
Tanpa ia sadari, Mirai telah memandang Eisuke terlalu lama. Sampai akhirnya, cowok itu menyadarinya dan menoleh ke arahnya.
"A-anu..." Mirai merasa kaget dan gugup. "A-apa kau ikut latihan dansa?"
"Tidak!" jawab Eisuke dingin.
"Umm, baik lah. Maaf menganggu waktumu," ucap Mirai sambil melanjutkan menyusun buku di rak.
"Eisuke adalah orang yang misterius. Ekspresinya tidak bisa dibaca," batin Mirai.
Suasana di perpustakaan terasa sangat sunyi dan senyap. Tidak ada orang di sana selain mereka berdua. Dan tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Eisuke!" Seorang gadis cantik berjalan mendekati Eisuke.
__ADS_1
"Megumi," batin Mirai.
"Eisuke, maukah kau jadi pasanganku di pesta dansa nanti?" tanya Megumi.
Eisuke tidak menjawab. Ia menutup bukunya dan mengabaikan Megumi. Cowok tampan itu dengan tenang keluar dari perpustakaan. Megumi menatap Mirai dengan tatapan sinis. Dan tak lama kemudian, Megumi pun ikut pergi meninggalkan perpustakaan.
"Apakah hubungan mereka berdua dekat?" tanya Mirai dalam hati. Rasa ingin tahunya menjadi besar seketika.
Keesokan harinya, Mirai dan Aiko mulai latihan dansa bersama. Para senior mengajarinya dansa berpasangan.
"Mirai, luruskan badanmu. Jangan kaku, rilek!" ujar Senior.
"Baik," jawab Mirai.
"Langkahkan kaki ke belakang tekuk sedikit lutut kanan. Renggangkan kedua telapak kaki, arahkan lurus ke depan," ucap Senior mengajari dansa.
"Wah, ternyata dansa itu tidak semudah yang aku bayangkan," batin Mirai.
Setelah cukup lama berlatih, akhirnya latihan dansa hari ini selesai. Mirai dan Aiko duduk di lantai bersama.
"Aiko, bagaimana latihan dansamu? Kau bisa mengikutinya?" tanya Mirai.
Aiko mengangguk cepat. "Tentu saja. Sejak kecil aku sudah pernah ikut dansa. Jadi, latihan ini aku bisa mengikutinya dengan mudah.
"Begitu ya. Aku sama sekali belum lancar. Ini sulit bagiku," ucap Mirai gelisah.
Aiko tersenyum. "Jangan khawatir. Masih ada waktu untuk latihan. Oh ya, apa kau sudah punya gaun untuk ke pesta? Maksudku gaun untuk dansa."
Mirai menggelengkan kepala. "Aku tidak punya baju pesta."
"Aku akan meminjamimu baju. Kebetulan ibuku punya butik. Jadi, aku punya banyak koleksi baju di rumah," ucap Aiko.
"Benar kah? Terima kasih banyak, Aiko." Mirai tersenyum senang.
Aiko mengulurkan tangan dan tersenyum. Mirai pun membalasnya dengan senyuman.
***
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari ini adalah hari ulang tahun kampus. Mirai dan Aiko tengah melakukan persiapan di dalam butik. Sederet baju pesta yang cantik nampak tersusun rapi di gantungan, dan itu membuat Mirai bingung dan tidak bisa memilih.
"Gaun pestamu banyak sekali, aku bingung mau pilih yang mana," ucap Mirai bingung.
"Bagaimana kalau aku minta tolong ibuku untuk memilihkan gaun untukmu?" tanya Aiko.
"Iya, boleh." jawab Mirai.
Sesaat kemudian, ibu Aiko datang dengan membawa sebuah gaun di tangannya.
"Hello, Mirai. Aiko sudah cerita kalau kau sedang bingung memilih baju. Kalau menurut tante, kau cocok dengan gaun ini," ucap Ibu Aiko sambil menyerahkan gaun itu pada Mirai.
__ADS_1
"Maroon sabrina dress."