
"Aiko, apa kau melihat Eisuke?" tanya Mirai.
Aiko berpikir sejenak. "Ehm, tadi waktu di bus aku melihatnya. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan dia?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya-tanya kenapa dia tidak ada di sini," jawab Mirai.
Aiko mengamati orang-orang sekitar. "Oh benar, dia tidak ada. Mungkin saja dia sekarang ada di kamarnya dan tidak ikut makan. Coba kau cek di kamarnya!"
Di lain tempat, Eisuke sedang menatap langit di bawah pepohonan yang remang-remang. Dari balik semak-semak, tiba-tiba muncul seorang remaja laki-laki dengan pakaian lusuh dan membawa pisau lipat di tangannya.
Krak, Krak ! Bunyi ranting kayu terinjak kaki.
"Siapa itu?" tanya Eisuke.
"Akhirnya kita bertemu lagi, bajingan!" jawab seorang anak Remaja laki-laki.
Eisuke menyipitkan mata. "Kau?"
Sementara itu, Mirai sedang berdiri di depan kamar Eisuke dan mengetuk pintu kamarnya. Berkali-kali ia ketuk, tetapi tidak ada jawaban.
"Apa dia tidak ada di kamarnya ya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak," batin Mirai tidak enak.
Mirai memutuskan untuk mencari Eisuke ke semua tempat di dalam penginapan, tetapi cowok tampan itu tidak ada di sana. Akhirnya, Mirai beralih keluar dan menuju ke area pepohonan besar. Dan di sana, ia melihat Eisuke sedang berhadapan dengan anak remaja laki-laki yang sedang membawa pisau lipat di tangannya.
"Oh, tidak! Apa yang sedang dia lakukan!" ucap Mirai pelan dan penuh kekhawatiran.
Tanpa ragu-ragu, gadis itu berlari dan berhenti di tengah-tengah antara Eisuke dan remaja itu berdiri.
"Mirai, apa yang kau lakukan di sana. Cepat pergi!" ucap Eisuke.
"Tidak! Aku tidak akan pergi!" jawab Mirai.
"Siapa kau cewek?! Jangan menghalangi jalanku!" bentak remaja itu.
"Please, jangan bermain pisau, itu sangat berbahaya. Buang pisaumu itu!" ucap Mirai.
Remaja itu melotot tajam. "Kau pikir kau siapa berani menyuruhku. Aku dan dia masih punya dendam yang harus diselesaikan. Nama baik ayahku tercemar karena perbuatan keluarga Harada."
"Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tetapi tolong selesaikan dengan baik-baik," bujuk Mirai.
"Diam kau cewek! Jangan halangi jalanku, atau kau akan merasakan akibatnya!" ancam remaja itu.
"Mirai, cepat pergi dari sana! ini adalah masalahku, jangan ikut campur!" bentak Eisuke kencang.
__ADS_1
"Tidak, aku adalah temanmu dan aku akan membantumu." jawab Mirai keras kepala.
Remaja itu tiba-tiba tertawa. "Baiklah kalau begitu. Rasakan ini!"
Remaja itu mengayunkan pisaunya ke arah Mirai. Dengan cepat, Eisuke menarik gadis itu ke belakang dan menukar posisinya.
Syuut... ! Pisau itu menggores lengan kiri Eisuke. Dan seketika itu darah segar mengalir dari lengan tangannya.
"Argh!" Eisuke merintih kesakitan.
"Eisuke!" teriak Mirai panik.
Eisuke memegang lengan kirinya dan merintih kesakitan, sedangkan remaja yang melukainya kabur entah kemana. Mirai mendekati Eisuke dan memapah cowok itu kembali ke kamarnya.
Kreek ! Pintu kamar Eisuke terbuka. Mirai mendudukan cowok itu di sisi tempat tidur.
"Jangan bergerak. Aku akan mengobatimu," Mirai pergi mengambil perban dan obat-obatan.
Setelah kembali, gadis itu langsung membersihkan lukanya.
"Maaf, semua ini salahku," ucap Mirai.
"Kau adalah cewek paling bodoh yang pernah aku temui!" jawab Eisuke ketus.
Mirai mengobati lengan Eisuke dengan kepala menunduk. ia tidak berani menatap wajah cowok itu karena dirinya merasa bersalah atas apa yang terjadi. Setelah lukanya selesai di obati, Eisuke berbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan mata.
"Istirahatlah, aku akan berjaga di sini sebentar sampai kau tidur. Setelah kau tidur, aku akan kembali ke kamarku," ucap Mirai.
"Aku harap dia tidak marah padaku." Mirai berharap dalam hatinya.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tanpa sadar, Mirai terpejam di sisi tempat tidur Eisuke. Tak lama kemudian, Eisuke membuka mata dan melihat gadis itu tengah tidur lelap di tepi kasur. Ia pun bangun, lalu mengangkat gadis itu ke tempat tidur miliknya. Setelah itu, ia merebahkan dirinya di kursi dan memicingkan matanya.
***
Matahari sudah menunjukkan cahaya terangnya, dan kicauan burung terdengar merdu di pagi hari ini. Dengan wajah segar, Mirai terbangun dari tidurnya. Ia merentangkan kedua tangannya ke atas sambil tersenyum.
"Tidur di penginapan ini ternyata nyenyak juga," ucap Mirai.
Saat membuka mata, betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat Eisuke sedang berbaring di sampingnya. Cowok tampan itu menatap Mirai dengan senyumannya yang manis.
"Ke-kenapa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan di tempat tidur?" tanya Mirai sedikit gugup dan panik.
"Ini kamarku. Kau yang ketiduran di sini," jawab Eisuke tenang.
__ADS_1
"Ta-tapi.. Kita tidak satu ranjang kan? Maksudku..." Mirai mulai terbata-bata.
"Aku tidak pernah tidur denganmu," jawab Eisuke jujur.
"Tapi kenapa kita..?" tanya Mirai sedikit tak percaya.
Eisuke tiba-tiba bergerak mendekati gadis itu.
"Kenapa raut wajahmu berubah seperti itu? Apa kau berharap aku menidurimu? Jika itu yang kau inginkan, aku tidak keberatan," bisik Eisuke lembut.
Mirai melebarkan matanya ."Dasar kurang ajar!"
Mirai mendorong tubuh Eisuke menjauh, tetapi cowok itu justru tersenyum melihat Mirai yang salah tingkah. Dengan wajah tersipu malu, gadis itu berlari keluar dan kembali menuju kamarnya.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu," batin Mirai kesal.
Tugas penelitian di perkebunan akan segera dimulai. Semua orang berkumpul untuk bersiap-siap untuk pergi.
"Hai, cantik. Selamat pagi," sapa Hiro.
"Hiro, selamat pagi," balas Mirai.
"Aku tadi datang ke kamarmu dan mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Apa hari ini kau bangun kesiangan?" tanya Hiro.
"Pasti aku tadi masih di kamar Eisuke," ucap Mirai dalam hati.
"Hei, Mirai. kenapa kau diam?" tanya Hiro lagi.
"Oh iya, aku tadi masih tidur. Mau pergi ke perkebunan sekarang?" Mirai mengalihkan pembicaraan.
"Ayo, kita pergi bersama!" ajak Hiro dan Mirai pun mengangguk.
Semua mahasiswa membawa buku, lalu pergi bersama-sama menuju ke perkebunan. Setiap mahasiswa melakukan tugasnya masing-masing. Dan di sana, Mirai bertemu dengan Eisuke. Cowok tampan itu terlihat tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mirai menghampiri Eisuke dan berbicara pelan. "Eisuke, bagaimana luka di lenganmu? Apakah sudah baikan?"
"Hmm, baik. Mengapa kau menanyakan itu?" tanya Eisuke.
"Aku khawatir dengan lukamu. Bagaimanapun kau terluka karena aku. Jadi, aku ingin memastikan kalau kau baik-baik saja," jawab Mirai.
Eisuke tersenyum tipis dan berbisik lirih di telinga Mirai. "Kau khawatir padaku atau kau suka padaku?"
"Huh? Pertanyaan macam apa itu? Apa kau tidak mengerti niat baikku? Dasar menyebalkan," jawab Mirai kesal, lalu ia pergi meninggalkan Eisuke.
__ADS_1