
Mirai bergegas mandi dan langsung menuju ke kampus. Hari ini, ia bangun kesiangan dan terlambat masuk kuliah.
"Mirai, kenapa hari ini kau datang terlambat? Cepat duduk di tempatmu," ucap Profesor.
"Iya, Pak," jawab Mirai sambil berjalan menuju tempat duduknya.
Mirai melihat ke arah Hiro, tetapi cowok rambut merah itu membuang muka dan menghindar. Kemudian ia menoleh ke arah Eisuke, tetapi cowok tampan itu juga tidak melihatnya.
"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Mirai dalam hati.
Disaat Mirai tengah mempersiapkan alat tulisnya, tiba-tiba sebuah lipatan kertas melompat dan jatuh di mejanya. Ia menoleh ke arah datangnya kertas itu, tapi ia tidak menemukan siapa yang melemparnya. Mirai membuka lipatan kertas itu dan ada sebuah catatan tertulis di sana :
"Selesai kelas temui aku di atap gedung. By Eisuke."
"Eisuke?" Batin Mirai.
Beberapa jam kemudian, pelajaran di kelas selesai. Mirai melihat Eisuke pergi menuju ke atap gedung. Gadis itu pun mengikutinya dari belakang. Setelah sampai di atap gedung, Eisuke mengeluarkan sebuah saputangan burung merak warna merah dari saku bajunya.
"Ini milikmu?" tanya Eisuke sambil memberikan saputangan itu pada Mirai.
"Benar, itu milikku. Kenapa saputangan ini ada di kamu?" tanya Mirai.
"Semalam kau menjatuhkannya," jawab Eisuke.
"Oh, benar. Semalam aku mabuk. Bahkan, aku juga ingat kalau telah menciumnya. Aku sungguh merasa malu," Batin Mirai malu.
Teringat kejadian semalam, Mirai benar-benar merasa malu dan tidak berani menatap wajah Eisuke. Mirai menundukkan kepala dan terdiam. Keheningan terjadi diantara keduanya.
"Hmm, ternyata anak perempuan yang aku temui di rumah sakit waktu itu adalah Mirai," ucap Eisuke dalam hati.
Mirai mengangkat wajahnya dan mulai bicara. "Aku minta maaf atas kejadian semalam. Aku benar-benar mabuk dan pikiranku tidak terkendali. Aku telah melakukan sesuatu yang tidak pantas."
"Namun, yang kau lakukan semalam itu membuat hatiku tersentuh," bisik Eisuke dengan tersenyum.
"Apa maksudmu?" tanya Mirai tak mengerti.
Tiba-tiba Eisuke mengulurkan tangannya, seolah-olah ingin berjabat tangan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Aku ingin menjadi temanmu, Mirai! Aku ingin mengenalmu lebih dekat," ucap Eisuke.
Sontak mata Mirai melebar saat mendengar kata-kata Eisuke. Dengan rasa canggung, Mirai mengulurkan tangannya dan tersenyum. Mereka berdua berjabat tangan dan saling memandang. Tak lama kemudian, tangan mereka terpisah.
"By the way, apa kau tidak pernah memakai saputangan itu?" tanya Eisuke.
Mirai mengangguk. "Iya, tidak pernah. Ini adalah barang yang paling berharga bagiku. Jadi, aku selalu menyimpannya. Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau aku tidak pernah memakainya?"
"Aku tahu karena saputangan itu terlihat masih baru. Hmm.. Bolehkah aku tahu, kenapa saputangan itu menjadi barang berharga untukmu?" tanya Eisuke.
Mirai menceritakan semua kisah masa kecilnya pada Eisuke. Termasuk kisah saputangan itu.
"Hmm, jadi anak laki-laki itu bisa membuatmu berhenti menangis dan kau suka padanya?" tanya Eisuke sambil tersenyum.
Mirai mengangguk pelan. "Iya, tapi itu dulu. Dan sekarang sudah berubah!"
"Karena orang yang aku sukai sekarang adalah kau, Eisuke." Mirai jujur dalam hatinya.
"Jika kau bertemu lagi dengan anak itu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Eisuke ingin tahu.
"Aku ingin mengembalikan saputangan ini dan berterima kasih padanya," jawab Mirai.
"Gaya bicaranya seolah-olah dia mengenal anak laki-laki itu," gumam Mirai lirih.
***
Liburan musim panas telah tiba. Semua mahasiswa libur kuliah selama 2 bulan. Dan malam ini, Aiko mengajak Mirai pergi melihat festival kembang api di tepi sungai. Suasananya sangat ramai dan banyak penjual makanan di sana.
"Wah, kembang apinya indah sekali. Aku sudah lama tidak melihat kembang api," ucap Mirai senang.
Aiko tersenyum. "Aku tahu makanya aku mengajakmu."
"Terima kasih, Aiko. Kau adalah sahabatku yang paling pengertian," ucap Mirai sambil tersenyum.
Tiba-tiba, percakapan mereka terganggu oleh suara seseorang di belakangnya.
"Bolehkah aku bergabung?"
__ADS_1
"Hiro, kau sudah datang. Sini-sini!" ucap Aiko memanggil.
"Sejak pesta ulang tahun Kaito kemarin, Hiro tidak bicara denganku sama sekali," batin Mirai tidak enak.
"Mirai, aku mengundang Hiro untuk datang ke sini. Kau tidak keberatan kan?" tanya Aiko.
Mirai menganggukkan kepala. "Iya. Tidak apa-apa."
Dan sesaat kemudian, kembang api bermekaran di langit yang gelap.
"Mirai, bisakah kita bicara sebentar? Hanya berdua," tanya Hiro pada Mirai.
"Iya, bisa."
Hiro membawa Mirai ke tempat yang lain di sekitar tepi sungai. Sebuah tempat yang sepi dan cuma ada mereka berdua.
"Apakah kau marah padaku? Di kelas kau diam saja dan tidak bicara denganku sama sekali. Aku minta maaf jika ada salah denganmu," ucap Mirai.
Hiro menggelengkan kepala. "Aku tidak marah. Aku hanya bingung bagaimana memulainya. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Boleh, apa itu?"
Hiro menarik nafas sebelum mengucapkan pertanyaannya. "Apakah kau dan Eisuke berhubungan dekat?"
"Kami hanya berteman," jawab Mirai pelan.
"Apa kau menyukai Eisuke?" tanya Hiro ingin tahu.
"Aku..." Mirai tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kalau ternyata dugaanku selama ini benar, itu tidak masalah. Aku tidak peduli kau menyukai Eisuke atau tidak!" Hiro mendekati Mirai dan menyentuh kedua bahu gadis itu.
"Mirai, aku menyukaimu. Aku sudah menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. Aku ingin kau menjadi kekasihku." Hiro mengungkapkan perasaan tulusnya.
"Hiro..." Mirai tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kau bersedia menerimaku. Kau adalah cewek yang paling spesial bagiku," ucap Hiro tulus.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Namun, jauh di dalam lubuk hatiku.. Aku mencintai Eisuke." Mirai jujur dalam hatinya.
Hiro tiba-tiba menarik Mirai ke dalam pelukannya. Di bawah bunga-bunga api yang indah, Hiro memeluk Mirai erat seolah-olah tak ingin membiarkannya pergi.