
Matahari mulai terbenam dan mereka semua kembali ke penginapan. Semua berkumpul di ruang makan untuk memulai makan malam.
"Wah, tidak terasa waktu di sini berjalan begitu cepat ya," ucap Aiko.
"Buat apa lama-lama di sini. Membosankan!" sahut Hiro.
"Dasar Hiro tidak asik ah...," ucap Aiko kesal.
Disaat Aiko dan Hiro sedang mengobrol, Mirai hanya terdiam dalam lamunannya. Ia mengamati ruangan sekitar dan mencari keberadaan Eisuke. Namun, cowok tampan itu tak ada di sana.
"Dimana dia? Apa malam ini dia tidak ikut makan lagi?"
***
Setelah beberapa hari di perkebunan, tugas penelitian pun selesai. Semua orang telah kembali ke rumahnya masing-masing. Malam itu, Mirai sedang berbaring di tempat tidurnya dan mencoba untuk memejamkan mata. Namun, bayangan Eisuke terus saja menghantuinya. Ia selalu teringat moment bersama Eisuke.
"Ada apa denganku? Kenapa aku terus saja memikirkan dia? Um.. Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya." Mirai mulai menyadari perasaannya.
Pagi ini, langit terlihat sangat cerah. Mirai melakukan aktivitas seperti biasa di kampus. Ia menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku.
Pada waktu yang sama, Eisuke sedang membaca buku di perpustakaan dan ditemani Megumi di sampingnya.
"Kenapa lenganmu terluka?" tanya Megumi.
"Bukan urusanmu!" jawab Eisuke dingin.
Megumi menatap Eisuke tajam. "Mirai Sakurai. Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia!" jawab Eisuke tegas.
"Kenapa saat aku menyebut namanya kau jadi emosi? Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu kalian berdua mulai dekat," ucap Megumi penuh kecemburuan.
"Pergilah menjauh dan jangan ikut campur urusanku," ucap Eisuke kasar.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Eisuke, aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan seperti ini padaku!" Megumi memohon.
Ketika Eisuke hendak pergi, Megumi tiba-tiba berlari dan memeluknya. Megumi memeluk Eisuke dengan erat dan tidak melepaskannya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Eisuke," ucap Megumi sambil meneteskan air mata.
"Megumi, lepaskan aku!" ucap Eisuke dengan nada tidak suka.
Pada saat itu, Mirai masuk ke dalam perpustakaan dan melihat mereka berpelukan. Sontak Mirai terkejut dan tercengang melihat penampakan itu.
"Oh, maaf mengganggu!" Mirai membalikkan badan, lalu keluar dari perpustakaan.
"Entah kenapa hatiku terasa sakit saat melihat mereka bersama," batin Mirai cemburu.
__ADS_1
Mirai kembali ke kelas dan duduk di sebelah Aiko.
"Mirai, kenapa wajahmu nampak pucat? Kau sakit?" tanya Aiko.
Mirai menggelengkan kepala. "Tidak."
"Kalau kau sakit, aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan," ucap Aiko
"Tidak usah, aku tidak apa-apa," jawab Mirai.
Tak lama kemudian, Eisuke masuk ke dalam kelas dan menatap Mirai. Kedua mata bertemu dan tidak saling bicara.
Jam kuliah telah selesai, Mirai berjalan pulang seperti biasa. Masih di sekitar kampus, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram dan menutup mulutnya dari belakang.
"Ngg.. Lepaskan aku!"
Tidak tahu siapa orang itu, Mirai lantas dibawa ke dalam gudang yang kosong.
BRUK! Tubuh Mirai terlempar ke lantai begitu saja. Perlahan, ia mendongak ke atas dan melihat orang itu.
"Nana, Megumi!" ucap Mirai pelan hampir tak terdengar.
Megumi tersenyum sinis. "Kenapa kau terkejut melihatku?"
"Apa tujuan kalian menangkapku seperti ini?" tanya Mirai ingin tahu maksud mereka.
"Apa maksudmu?" tanya Mirai tak mengerti.
Megumi menarik rambut Mirai dengan paksa. "Kau beraninya mendekati Eisuke. Dasar cewek murahan! Kau tidak pantas dengan nya."
"Ahk.. Lepaskan! Aku tidak seperti yang kau katakan." jawab Mirai kesakitan.
"Kau pikir kau bisa membohongiku? Dari tatapan matamu saja aku sudah tahu kalau kau menyukai Eisuke." Megumi mendorong tubuh Mirai ke lantai.
Kemudian, Megumi menyiram Mirai dengan seember air yang sudah disiapkan oleh Nana.
BYUR !!!
Megumi tertawa. "Rasakan! Jika kau masih mendekatinya lagi, maka aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan hal ini lagi bahkan lebih mengerikan dari ini."
Dengan rasa puas, Megumi dan Nana keluar dari gudang. Mereka mengunci pintu, lalu meninggalkan Mirai di dalam gudang sendirian.
"Megumi, tolong buka pintunya!" teriak Mirai sambil menggedor pintu dari dalam.
Dengan pakaian basah kuyup, Mirai terkunci di dalam gudang. Langit pun berubah menjadi gelap, sedangkan gadis itu masih terkurung di sana.
"Paman pasti khawatir jika aku tidak pulang," gumam Mirai ditengah kesedihannya.
__ADS_1
Mirai mencoba mengambil handphone-nya, tetapi handphone-nya mati sehingga ia tak dapat menghubungi siapapun. Tidak ada yang bisa dilakukan di sana selain menunggu pertolongan dari orang lain. Ia hanya termenung dan meratapi nasib buruk yang menimpanya.
"Aku tak tahu apa salahku sehingga mereka melakukan ini padaku," batin Mirai sedih. Dan perlahan, tubuhnya mulai menggigil dan lemas.
***
Pagi telah tiba, semua kegiatan di kampus dimulai seperti biasa. Melihat bangku Mirai yang kosong, Aiko mulai khawatir dan cemas.
"Hiro, apa kau melihat Mirai pagi ini? Tidak biasanya dia terlambat," ucap Aiko cemas.
Hiro menggelengkan kepala cepat. "Aku tidak melihatnya. Apa kau sudah menghubunginya?"
"Aku sudah mencoba meneleponnya, tetapi handphone-nya tidak aktif. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Aiko.
Aiko mulai diam dan berpikir. "Waktu di penginapan kemarin Mirai pernah bertanya tentang Eisuke. Mungkin saja mereka berteman. Aku akan coba bertanya pada Eisuke, siapa tahu dia mengetahui sesuatu tentang Mirai."
"Eisuke, apa kau melihat Mirai hari ini? Dia tidak ada kabar sama sekali," tanya Aiko pada Eisuke.
"Aku tidak melihatnya," jawab Eisuke tidak tahu.
"Aneh. Mirai tidak masuk kuliah tanpa memberitahu lebih dulu. Tidak biasanya dia seperti ini," ucap Aiko curiga.
Eisuke terdiam dan berpikir. "Hmm!"
Sesaat kemudian, Seseorang masuk ke dalam kelas.
"Permisi, Apakah Mirai Sakurai adalah mahasiswa di kelas ini? Pagi ini dia ditemukan pingsan di dalam gudang dan sekarang dia dirawat di ruang kesehatan," ucap orang itu.
Karena sangat terkejut, Aiko dan Hiro langsung berlari menuju ruang kesehatan.
Di dalam ruang kesehatan, Mirai tengah berbaring di kasur. Perlahan-lahan, ia mulai membuka matanya. Ia melihat ada seorang wanita di ruangan itu.
"A-anu, ini dimana ya?" tanya Mirai.
Wanita itu menoleh. "Oh, Kau sudah bangun ya. Ini adalah ruang kesehatan. Pagi tadi, petugas kebersihan menemukan mu terkunci di dalam gudang. Bagaimana kau bisa berada di sana sepanjang malam?"
"I-itu...." Mirai ragu-ragu untuk bicara.
Pintu tiba-tiba terbuka, Aiko dan Hiro masuk ke dalam ruangan.
"Mirai, kau tidak apa-apa?" tanya Aiko khawatir.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu," tambah Hiro.
"Aku tidak apa-apa," jawab Mirai lemah seperti tidak bertenaga.
"Katakan padaku, Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hiro geram.
__ADS_1