
Eisuke telah membaca pesan dari Aya. Sontak cowok tampan itu lantas berlari menuju gudang. Eisuke membuka pintu gudang dengan raut wajah khawatir.
"MIRAI!" Eisuke berteriak keras.
Mirai yang sedang bertumpu di tangga tiba-tiba kaget dan kehilangan keseimbangan. Tangga kayu itu mulai miring dan ia hampir terjatuh dari tangga.
"Aaahhk!" teriak Mirai yang mau jatuh.
Eisuke mencoba menangkap Mirai yang akan jatuh, tetapi usahanya gagal. Alhasil, keduanya terjatuh di lantai bersama. Eisuke jatuh telentang di lantai diikuti Mirai di atasnya. Gadis itu jatuh tepat di dada Eisuke. Keduanya saling memalingkan wajah dan merasa canggung satu sama lain. Mirai lekas berdiri. Tak lama, Eisuke pun melakukan hal yang sama.
"Maaf, aku tidak hati-hati dan akhirnya terjatuh," ucap Mirai.
"Oh, aku juga minta maaf karena aku tiba-tiba datang dan mengaggetkanmu." Eisuke menyadari bahwa Aya telah membohonginya.
"Tidak apa-apa. Umm, aku sekarang mau lanjut mencari jam tangan Aya di atas lemari itu," ucap Mirai.
"Hmm, izinkan aku membantumu. Memanjat tangga sangat berbahaya untuk cewek. Biar aku saja yang melakukannya." Eisuke menawarkan bantuan.
Mirai mengangguk tersenyum. "Baiklah."
Sementara itu, Aya mengintip mereka dari balik pintu dan tersenyum.
"Baguslah jika mereka mulai dekat lagi," ucap Aya dalam hatinya. Cewek tomboy itu pergi dan meninggalkan mereka di gudang.
Kini, Eisuke dan Mirai telah berhasil menemukan jam tangan Aya. Mereka berdua berjalan keluar dari gudang bersama.
"Eisuke, terima kasih hari ini kau telah membantuku," ucap Mirai.
"Ya, sama-sama. Kau tidak pulang bersama Hiro?"
"Tidak. Sepertinya Hiro sudah pulang duluan."
Eisuke terdiam sejenak. "Hmm, jika kau tidak keberatan aku akan mengantarmu pulang."
"Umm.." Mirai berpikir sejenak. "Baiklah. Selama itu tidak merepotkanmu aku tidak keberatan."
"Supirku sudah menunggu di luar. Mari kita pulang!" ajak Eisuke.
Dalam perjalanan, Eisuke dan Mirai tidak bicara sepatah kata pun. Hati mereka berdebar-debar, seakan-akan benih cinta diantara mereka mulai bersemi kembali.
***
__ADS_1
Waktu tidak terasa berjalan sangat cepat. Hari ini, kampus akan menggelar acara kelulusan para senior. Setelah beberapa jam berlalu, para senior keluar dari Aula dengan senyum semringah. Mereka mengakhiri acara kelulusan dengan gembira. Akihiro dan Kaito bersama-sama keluar dari gedung.
"Wah, aku kagum padamu. Kau telah dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik di kampus," ucap Akihiro kagum.
Kaito tertawa. "Terima kasih."
"Kau sangat pintar dalam segala hal. Wajar saja jika sejak awal profesor memilihmu sebagai asistennya," puji Akihiro.
Kaito tertawa kecil. "Akihiro, terima kasih pujiannya. Bagaimana kalau nanti malam kita rayakan kelulusan dengan pesta minum sake?"
"Ide yang bagus. Setuju," jawab Akihiro tersenyum.
Sesaat kemudian, Mirai datang bersama Aya, Aiko, dan Hiro. Mereka berempat berjalan mendekati Kaito dan Akihiro.
"Selamat wisuda, Kak Kaito." Aiko tersenyum manis pada Kaito.
"Selamat atas gelar barumu, Kawan," ucap Hiro.
"Aku juga mau mengucapkan selamat berbahagia atas wisudamu. Semoga kedepannya kau menjadi orang yang sukses," ucap Aya.
Kaito tersenyum cerah. "Terima kasih banyak atas doa dan ucapan kalian."
"Kak Kaito dan kak Akihiro, selamat atas kelulusan kalian. Semoga tujuan dan cita-cita kalian tercapai," ucap Mirai.
"Mirai, terima kasih. Jika kau menikah nanti, jangan lupa undang aku, ya." Akihiro tersenyum manis.
Mirai membalas senyuman. "Aku pasti akan mengundang kalian berdua."
"Tiga hari lagi kampus kita akan mengadakan liburan ke gunung. Rencananya akan berkemah di sana selama 3 malam. Apa kalian semua mau ikut?" tanya Kaito.
"Aku ikut," jawab Aya antusias.
"Aku juga ikut." Aiko tak mau kalah.
Hiro dan Mirai saling menatap satu sama lain.
"Mirai, bagaimana kalau kita juga ikut? Sepertinya ini sangat menyenangkan," ucap Hiro.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Aku mau ikut," jawab Mirai.
"Oke, karena semuanya ikut maka 3 hari lagi kita berkumpul di sini. Kita berangkat ke gunung bersama-sama," ucap Akihiro.
__ADS_1
Kaito terlihat senang. "Liburan ke gunung kali ini pasti menyenangkan."
"Iya, benar. Oke, sampai ketemu 3 hari lagi." Aya mengakhiri pembicaraan dan tak lama kemudian mereka semua berpisah.
Di tempat lain, Megumi dan Nana tengah berdiri di depan jendela sambil menatap luar.
"Putri Megumi, apakah anda tidak berencana ikut kemah di gunung bersama yang lain?" tanya Nana.
"Tidak. Aku tidak suka gunung dan kotor-kotoran seperti itu." jawab Megumi.
"Dengar-dengar, Tuan muda Eisuke juga ikut."
"Biarkan saja dia. Aku sudah malas mengurusinya," jawab Megumi.
***
Tiga hari telah berlalu. Semua mahasiswa sudah berkumpul di halaman kampus. Suara pluit berbunyi, Akihiro selaku panitia meniup pluit dan memberi aba-aba kepada semua untuk segera masuk ke dalam bus.
Dengan patuh, semuanya berbaris dan masuk ke dalam bus. Mirai dan Hiro duduk berdampingan, sedangkan di seberang mereka terlihat Aiko dan Aya sedang duduk bersama. Di belakang Aya, ada Kaito dan Eisuke. Selama dalam perjalanan, Eisuke terus melihat ke arah Mirai.
"Kenapa aku tidak bisa melupakannya? Entah kenapa aku merasa ingin selalu dekat dengannya," ucapnya dalam hati.
Beberapa jam kemudian, bus berhenti di sebuah lahan kosong di gunung. Semua orang keluar dari bus, mereka berkumpul dan menunggu intruksi dari Akihiro.
"Untuk sampai ke lokasi, kita perlu berjalan lagi sekitar 30 menit menuju ke atas gunung. Karena lokasinya dikelilingi hutan, aku sarankan pada kalian untuk tidak pergi kemana-mana sendirian. Apa kalian semua mengerti?" Akihiro memberi pengarahan.
"Ya, kami mengerti," jawab semua serentak.
"Siapkan barang-barang kalian. Jangan ada yang ketinggalan," ucap Akihiro.
Semuanya mulai berjalan menuju tempat perkemahan. Mereka melewati hutan dan jalanan yang menanjak. Setelah 30 menitan berlalu, mereka akhirnya tiba di sebuah bukit dengan lapang yang luas. Udaranya sangat segar dan pemandangan yang indah.
"Kita sudah sampai. Sekarang kita dirikan tenda, lalu berbagi tugas. Siapkan air dan kayu bakar. Ingat, satu tenda hanya berisi 3 orang saja," ucap Akihiro.
"Ya, kami mengerti," jawab semua serempak.
Masing-masing kelompok mulai mendirikan tendanya. Mirai, Aiko, dan Aya akan tidur bersama di tenda. Eisuke satu kelompok dengan Kaito dan Akihiro, sedangkan Hiro satu kelompok dengan 2 orang teman sekelasnya yang lain.
"Oke, Sekarang kita bagi tugas. Mirai, kau pergi mengambil air. Dan kau Aiko, pergi mencari kayu bakar. Aku akan di sini mengecek tenda dan kebutuhan apa saja yang kurang," ucap Aya membagi tugas.
"Hei, apa kau lupa yang dikatakan kak Akihiro tadi? Kita dilarang pergi sendirian. Lagipula, aku takut pergi mencari kayu bakar sendirian di hutan," ucap Aiko.
__ADS_1
"Dasar penakut!" Aya meledek Aiko.