
Mirai masuk ke dalam hotel dan ada seorang petugas yang menyambutnya di sana.
"Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Petugas itu.
"Saya ingin bertemu dengan Eisuke. Um, maksud saya Eisuke Harada," jawab Mirai sedikit ragu-ragu.
Petugas itu terlihat bingung dan tak mengerti.
"Maaf, saya kurang mengerti dengan orang yang anda maksud. Saya akan mengantar anda ke resepsionis. Mari ikuti saya!"
Petugas itu membawa Mirai ke resepsionis, lalu meninggalkan gadis itu di sana. Mirai melangkah maju dan mendekati dua orang petugas resepsionis yang sedang bertugas.
"Permisi, nama saya Mirai. Saya kemari ingin bertemu dengan Eisuke Harada," ucap Mirai sambil menatap dua petugas itu.
"Maaf, apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Petugas resepsion pertama.
"Um, tidak. Saya belum membuat janji," jawab Mirai.
Petugas resepsion kedua tiba-tiba angkat bicara. "Oh iya, maaf sebelumnya. Apakah nama anda benar Mirai Sakurai?"
"Iya benar. Nama saya Mirai Sakurai. Ini identitas saya," ucap Mirai sambil menunjukkan kartu identitasnya.
"Tadi, Tuan Muda Kaito menelepon dan menyuruh saya untuk mengantar anda menemui Tuan Muda Eisuke. Mari silakan, saya akan mengantar anda ke tempat Tuan Muda," ucap Petugas resepsion kedua.
Mirai mengangguk. "Terima kasih."
Petugas resepsion itu membawa Mirai masuk ke dalam lift. Kemudian, mereka naik menuju lantai paling atas di hotel itu. Suara bel pintu lift berbunyi dan akhirnya mereka tiba di lantai paling atas. Petugas resepsion itu berjalan menuju lorong diikuti Mirai di belakangnya. Petugas itu berhenti di depan kamar paling ujung di lorong itu.
"Ini adalah kamar Tuan Muda Eisuke. Jika tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi," Petugas itu membungkuk, lalu pergi meninggalkan Mirai.
Tanpa ragu-ragu, Mirai langsung menggedor pintu di depannya. Setelah cukup lama menggedor pintu, akhirnya pintu itu pun terbuka. Sontak Eisuke terkejut melihat Mirai ada di depannya.
"Kau... Mengapa ada di sini?" tanya Eisuke terkejut.
PLAK !!!
__ADS_1
Sebuah tamparan melayang di pipi Eisuke. Mirai menampar Eisuke dengan sangat keras. Ekspresi kesal dan marah terpampang jelas di wajah gadis itu.
"DASAR PEMBOHONG! PENIPU!" teriak Mirai dengan suara kencang.
Melihat Mirai yang berteriak-teriak seperti orang gila, Eisuke pun menarik gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
"Mengapa kau berteriak-teriak seperti itu? Dan mengapa kau ada di sini?" tanya Eisuke bingung.
"Setelah membohongiku selama ini, berani-beraninya kau bertanya seperti itu padaku. Kenapa kau menyembunyikan semua kebenaran dariku? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kalau anak laki-laki yang memberiku saputangan itu adalah dirimu!" ucap Mirai dengan tatapan tajam.
"Mirai..."
"Kau berbohong padaku tentang pertunanganmu dengan Megumi. Kau juga membiayai kuliahku hingga akhir. Kenapa kau melakukan ini semua?" tanya Mirai.
"Mirai, maafkan aku..." Eisuke menundukkan kepala.
"Jawab aku, Eisuke!! bentak Mirai kesal.
Eisuke terdiam dan memalingkan wajah.
Eisuke menatap Mirai tajam. "Karena jika aku mengatakannya, kau pasti akan membenciku!"
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa alasannya?" tanya Mirai ingin tahu.
"Karena aku adalah anak dari orang yang menyebabkan kedua orangtuamu meninggal. Ayahku adalah penyebab kecelakaan bus itu," jawab Eisuke.
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!" tanya Mirai tak mengerti.
Eisuke menceritakan yang sebenarnya. "Saat itu dalam perjalanan ayahku menyuruh supirnya untuk menerobos lampu merah, dan di sana lah kecelakaan itu terjadi. Mobil ayahku bertabrakan dengan sebuah bus. Ayahku adalah penyebab dari kecelakaan itu, dan ayahku telah membunuh banyak orang. Tidak hanya itu, ayahku juga telah memfitnah ayah Yoshi. Ayahku melimpahkan kesalahannya pada supir bus itu seolah-olah supir bus itu mabuk dan kecelakaan. Ayahku tidak bertanggung jawab dan kabur begitu saja. Apakah kau mengerti sekarang? Itu sebabnya, selama ini aku selalu merasa bersalah tiap kali dekat denganmu. Karena aku adalah anak dari seorang pembunuh!"
Air mata perlahan keluar dari ujung mata Mirai. Ia terpatung dan membeku ketika mendengar penjelasan Eisuke.
"Aku dulu pernah mendengar kalau bus yang aku tumpangi bersama orangtuaku bertabrakan dengan sebuah mobil. Dan ternyata mobil itu adalah ayah Eisuke. Oleh karena itu, kami berdua bertemu di rumah sakit," ucap Mirai dalam hatinya.
"Ayahku telah membunuh kedua orangtuamu dan juga ayah Yoshi. Apa kau masih tidak membenciku?" tanya Eisuke.
__ADS_1
Mirai menangis menatap cowok itu. "Kejadian itu sudah lama terjadi, dan sebenarnya aku sudah melupakannya. Seandainya ayahmu memang bersalah, aku tetap tidak akan membencimu karena semua ini bukanlah kesalahanmu."
Eisuke melebarkan mata terkejut. "Mirai.."
Mirai terdiam dalam isak tangisnya. Mereka berdua saling menatap dengan penuh arti, seperti menunjukkan rasa cinta satu sama lain.
Di tempat lain, Hiro sudah tiba di pelaminan dan menunggu Mirai datang. Para tamu sudah berkumpul siap menyaksikan acara pernikahan tersebut.
"Hiro, selamat ya," ucap salah seorang tamu.
"Terima kasih," jawab Hiro sambil tersenyum.
"Aku tidak sabar ingin segera melihat pengantin wanitanya. Pasti dia sangat cantik," ucap tamu yang lain.
"Mungkin sebentar lagi dia akan datang," Hiro terlihat bahagia.
Sementara itu, Mirai dan Eisuke masih terdiam di tempat itu. Mirai menghapus air mata di pipinya dan menatap Eisuke.
"Apakah selama ini kau pernah mencintaiku?" tanya Mirai ingin tahu.
Begitu mendengar pertanyaan Mirai, Eisuke nampak kaget dan terdiam. Ia bingung dan salah tingkah. Cowok tampan itu kehilangan kata-kata untuk bicara.
"Eisuke, tolong jawab aku dengan jujur. Aku sudah lelah kau bohongi!" ucap Mirai.
Eisuke menatap Mirai, lalu berjalan mendekatinya. Matanya fokus menatap wajah cantik gadis itu.
"Aku akan berkata jujur dan tidak akan berpura-pura lagi. Selama ini aku menyukaimu, tetapi aku tidak berani mendekatimu. Semakin hari rasa cinta itu tumbuh dan aku tidak bisa melupakanmu. Aku mencintaimu, Mirai. Aku sangat mencintaimu." Eisuke mengungkapkan perasaannya.
"Bodoh! Kau adalah cowok bodoh. Aku sudah mencintaimu begitu lama, dan kali ini aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin bersamamu, Eisuke," ucap Mirai lembut.
Eisuke menangkup wajah Mirai. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku ingin menjagamu di sisiku."
"Aku mencintaimu," bisik Mirai lembut.
Akhirnya, mereka berdua mengakui perasaan satu sama lain. Mereka saling menatap dan tersenyum. Kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
__ADS_1
Perlahan, mereka saling mendekat dan bibir mereka menyatu dalam ciuman. Gejolak cinta yang dahsyat membuat keduanya lupa akan segalanya. Dengan sendirinya, tubuh mereka bergerak dan jatuh ke tempat tidur bersama. Eisuke memeluk erat tubuh gadis itu dan ciuman tumbuh kian memanas menggebu-gebu. Helai demi helai pakaian terbuang di lantai. Mirai menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada kekasih tercintanya.