
Mirai menatap anak itu. "Kau adalah anak di perkebunan waktu itu, kan? Kenapa kau ada di sini? Cepat kembalikan makanan yang kau curi."
"Ya, benar. Aku mengikuti cowok itu ke perkebunan karena aku ingin balas dendam padanya," jawab Anak itu.
"Cowok yang kau maksud adalah Eisuke?"
"Ya, tentu saja. Aku sudah lama mengincar dia."
"Lalu, mengapa kau mencuri makanan itu? Cepat kembalikan padaku!" bentak Mirai.
"Aku mencuri karena aku lapar. Aku tidak punya uang untuk membeli makanan," jawab anak itu sambil menundukkan kepala.
Mirai menghela nafas. "Apa kau punya orangtua? Dimana kau tinggal? Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak punya orangtua. Aku hanya punya seorang ayah, tetapi dia sudah meninggal," ucap anak itu pelan.
"Kalau begitu, dimana kau tinggal selama ini?" tanya Mirai ingin tahu.
"Aku tidak punya rumah. Aku tidur dimana saja dan berpindah-pindah," jawab anak itu.
"Oh, kasihan sekali lagi anak ini. Dibalik kelakuannya yang mengerikan, ternyata dia adalah anak yang malang," batin Mirai bersimpati.
"Umm.. baik lah, ambil saja makanan itu, anggap saja aku sedang berbaik hati padamu. Namun, dengan satu syarat, jangan mencuri lagi. Kau mengerti?" ucap Mirai bijak.
"Aku tidak bisa. Selama ini aku hidup untuk mencuri. Aku mencuri untuk makan," jawab anak itu jujur.
Mirai terdiam dan berpikir serius. "Begini saja, jika kau lapar kau bisa datang ke minimarket tempatku bekerja. Aku akan membelikanmu makanan. Namun, aku punya satu permintaan!"
"Apa itu?" tanya anak itu.
"Lupakan dendammu pada Eisuke. Jangan kejar dia lagi. Apa kau bisa? Jika ayahmu masih hidup, mungkin dia juga tidak ingin melihatmu menderita seperti ini," ucap Mirai menerangkan.
Anak itu terdiam cukup lama, lalu ia membuka mulutnya untuk bicara. "Baik lah! Aku tidak akan mengejarnya lagi. Tapi.. Bolehkah aku datang ke tempatmu setiap hari? Sejujurnya, aku mengalami kesulitan untuk makan."
"Oke, datanglah ke tempat kerjaku. Aku akan memberimu makan setiap hari." Mirai setuju dengan permintaan anak itu. "Btw, siapa namamu?"
"Namaku Yoshi. Yoshi Sano." Anak itu memberitahu namanya.
"Baik lah, Yoshi. Ambillah makanan itu, dan mulai besok datanglah ke tempatku. Aku sekarang mau kembali bekerja. Sampai ketemu besok." ucap Mirai.
"Tunggu! Bolehkah aku tahu nama kakak?" tanya Yoshi.
"Namaku, Mirai. Sampai ketemu besok!" Mirai mengakhiri percakapannya.
"Terima kasih," ucap Yoshi pelan sambil menatap Mirai pergi.
__ADS_1
"Aku merasa kasihan dengannya. Aku dan Yoshi memiliki persamaan tidak punya orangtua. Namun, aku sedikit lebih beruntung daripada dia, karena aku masih memiliki paman yang merawatku," ucap Mirai dalam hatinya.
***
Malam ini, di rumah kediaman Shinomiya terlihat sunyi dan sepi. Megumi tiba-tiba menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang kerja.
"Apa ayah sibuk? Bolehkah aku masuk?" tanya Megumi sopan.
"Boleh sayang, masuk lah!" Ayahnya tersenyum. "Kenapa kau tiba-tiba mencari ayah? Ada apa."
Megumi menundukkan kepala dan sulit menjelaskan. "Ayah, aku..."
"Katakan pada ayah, ada apa?" tanya Ayahnya sekali lagi.
Megumi menatap ayahnya. "Selama ini ayah tahu, kan, sejak kecil aku sangat menyukai Eisuke. Aku..."
"Hm.. Hm.. Ayah tahu sekarang maksud putri ayah." Ayah Megumi tertawa kecil. "Kau ingin meminta bantuan ayah untuk mendapatkan Eisuke kan?"
"Iya," jawab Megumi sambil mengangguk kan kepala.
"Dari dulu, keluarga Shinomiya dan keluarga Harada sudah menjadi rekan bisnis yang sangat dekat. Nanti ayah akan coba bicarakan hal ini dengan keluarga Harada," ucap Ayah Megumi.
"Terima kasih, ayah." Megumi tersenyum senang.
***
"Kak Kaito, Hiro," sapa Mirai.
"Hai, cantik," jawab Hiro menggoda.
"Hello, kalau tidak salah namamu Mirai, ya. Benar?" tanya Kaito.
"Iya, benar. Rupanya kak Kaito masih ingat namaku," ucap Mirai tersenyum.
Kaito tertawa. "Tentu saja."
"Apakah kalian saling kenal?" tanya Hiro penasaran.
"Hanya pernah bertemu beberapa kali saja. Oh ya, minggu depan aku ulang tahun. Kalian berdua datanglah ke pesta ulang tahunku," ucap Kaito mengundang.
"Oke, kami berdua akan datang," jawab Hiro cepat.
"Hiro! Aku belum bilang iya, kenapa kau sudah mendahului?!" tanya Mirai kesal.
Kaito tersenyum dan menepuk bahu Mirai pelan. "Sudahlah datang saja, Oke? Aku pergi dulu. Sampai jumpa." Kaito berjalan pergi dan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Mirai, aku ingin kau pergi bersamaku ke ulang tahun Kaito," ucap Hiro berharap.
Mirai mengerutkan kening. "Bukankah kak Kaito adalah kakaknya Eisuke, sedangkan kau dan Eisuke nampak tidak bersahabat. Kau yakin ingin datang ke pestanya?"
"Aku memang benci Eisuke, tetapi aku dan Kaito adalah teman baik. Jangan dipikir lagi, saat pesta ulang tahunnya tiba aku akan menjemputmu," ucap Hiro.
"Umm, baiklah." Mirai akhirnya setuju.
"Sekarang ayo kita masuk kelas!" Hiro meraih tangan Mirai dan menggenggamnya erat.
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Saat hampir tiba di depan kelas, Eisuke tiba-tiba muncul dan menyandarkan tubuhnya di pintu masuk. Mirai mencoba menarik tangannya dari genggaman Hiro, tetapi genggaman itu terlalu erat dan ia tidak berhasil melepaskan tangannya. Alhasil, Eisuke melihat mereka bergandengan tangan.
Sepulang kuliah, Aiko berkunjung ke minimarket tempat Mirai bekerja. Ia ingin tahu seperti apa tempat kerja temannya itu.
"Apa benar tidak apa-apa jika aku main ke tempat kerjamu ini?" tanya Aiko.
"Iya, tidak apa-apa. Bossku orang yang baik." jawab Mirai.
"Minimarketmu lumayan bersih," ucap Aiko sambil melihat sekeliling.
"Iya, setiap hari karyawan di sini selalu bergantian membersihkannya. Oh ya, Kau mau minum apa?" tanya Mirai.
"Apa saja boleh," jawab Aiko sambil melihat-lihat sekeliling.
Disaat Mirai pergi mengambil minum, Yoshi masuk ke dalam minimarket. Aiko pun membelalakkan matanya ketika melihat anak itu.
"Mirai! Siapa dia? Kenapa bajunya kotor sekali!" jerit Aiko ketakutan.
Tak lama kemudian, Mirai kembali dengan membawa minuman. "Oh, ini anak yang aku temukan di jalan. Aku kasihan sama dia. Jadi, aku membantunya memberi makan."
Aiko membulatkan matanya. "Huh? kau baik sekali. Bahkan kelewat baik!"
Mirai memberikan sekotak nasi pada Yoshi. "Yoshi, ini cepat makan."
"Kak Mirai, terima kasih banyak sudah membantuku." Yoshi tidak dapat menahan air matanya dan akhirnya menangis.
Mirai tersenyum miris dan berpikir. "(Jika aku membelikan Yoshi makanan setiap hari, mungkin uangku tidak akan cukup. Sepertinya aku harus mencari cara lain)"
***
Malam hari, Paman selalu menunggu Mirai untuk makan malam bersama. Saat tiba di rumah, Mirai terlihat gelisah dan memikirkan sesuatu.
"Sepertinya aku perlu membicarakan masalah yoshi kepada paman." Mirai berpikir dalam hatinya.
Tanpa ia sadari, Saputangannya terjatuh di lantai dan paman mengambilnya.
__ADS_1