Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 26 --> Cinta ditolak


__ADS_3

Paman tersenyum kagum. "Hiro, kau sungguh laki-laki yang hebat. Kau berani mengungkapkan perasaanmu tanpa ragu-ragu. Paman kagum padamu."


Hiro tersenyum. "Aku siap membantu dengan sepenuh hati. Alangkah senangnya jika Mirai mau menjadi kekasihku. Ah, mungkin aku terlalu berterus terang, tapi aku tidak bisa menutupi perasaanku padanya. Aku sangat mencintai Mirai. Jika Paman butuh sesuatu jangan ragu untuk menghubungiku."


Hiro memberikan kartu namanya kepada Paman, setelah itu ia berpamitan lalu pergi.


***


Setelah istirahat cukup lama, akhirnya hari ini Mirai kembali masuk kuliah. Disaat melewati lorong, tiba-tiba ada Eisuke yang muncul dari arah depannya. Mereka berdua berhadapan menuju arah berlawanan. Namun, ketika mereka hendak berpapasan, Mirai berhenti dan menatap Eisuke dengan penuh harapan.


"Eisuke!" Mirai mencoba menyapa Eisuke, tetapi Eisuke hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Cowok tampan itu mengabaikan Mirai seolah-olah mereka tidak saling kenal.


Mirai berbalik dan melihatnya dari belakang. "Kenapa Eisuke bersikap aneh. Seolah-olah sikapnya menunjukkan tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami."


Saat pelajaran kuliah di kelas berlangsung, Mirai terus menatap ke arah Eisuke. Namun cowok tampan itu menghindarinya.


Bunyi bel berdering. Mirai melihat Eisuke pergi ke atap gedung dan Mirai pun mulai mengikuti cowok itu. Namun, dari arah belakang tiba-tiba Hiro meraih pergelangan tangannya.


"Hiro!" ucap Mirai kaget.


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin bicara dengan Eisuke."


Hiro perlahan melepaskan tangan Mirai. "Pergilah. Aku akan menunggumu di sini."


Mengabaikan rasa sakit pada dirinya, Mirai berusaha berjalan ke arah Eisuke pergi. Sesampainya di sana, Ia melihat Eisuke sedang menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Angin dingin berhembus mengacak-acak rambutnya yang hitam.


Mirai berjalan mendekatinya, tetapi cowok itu tiba-tiba membuka matanya dan menatap Mirai. Langkah gadis itu terhenti ketika Eisuke menatapnya dengan tatapan dingin. Setelah diam sejenak, akhirnya Mirai memutuskan untuk bicara. Ia berusaha mengungkapkan isi hatinya pada cowok tampan itu.


"Apa kau ada waktu sebentar? Aku ingin bicara," ucap Mirai.


Eisuke tidak menjawab dan hanya menatap Mirai.


"Kenapa saat di Hokkaido kau kembali sendirian ke Tokyo?" tanya Mirai ingin tahu alasannya.


"Maafkan aku," jawab Eisuke.


Air mata mulai keluar dari ujung mata Mirai. "Apa kau tahu, disaat aku terbangun kau adalah orang pertama yang ingin aku lihat. Dan selama sebulan kita tidak bertemu, aku sangat merindukanmu. Eisuke, aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu."


"Aku akan bertunangan dengan Megumi. Maaf, aku tidak bisa bersamamu!" Eisuke menolak.


Kata-kata Eisuke membuat Mirai membeku seketika. "Jadi apa yang dikatakan Megumi waktu itu benar. Mereka akan bertunangan!"

__ADS_1


"Aku benar-benar bodoh!" gumam Mirai lirih.


Dengan air mata kesedihan, Mirai berbalik dan mencoba berjalan pergi. Namun kakinya kembali merasakan sakit dan membuat gadis itu hampir terjatuh.


"Ahk!" Mirai meraih sebuah tiang di dekatnya dan berjalan tertatih.


Melihat Mirai sakit, Eisuke bergerak mendekatinya dan ingin membantunya. Namun langkahnya terhenti oleh Hiro yang tiba-tiba muncul.


"Mirai!" Hiro berlari mendekat dan memapah gadis itu.


"Hiro."


"Kau pikir aku akan meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini?" Hiro melirik ke arah Eisuke dengan sinis. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


Setelah Hiro dan Mirai pergi, Eisuke menggenggam kedua tangannya erat-erat. "Ada Hiro di sisinya yang akan menjaganya dengan baik."


***


Malam ini, Aiko sedang sibuk menggantikan ibunya di butik. Pintu berderit terbuka dan ia dikejutkan oleh sosok tamu yang datang.


"Selamat malam."


Aiko menoleh. "Kak Kaito, tumben datang ke sini. Ada yang bisa aku bantu?"


"Aku dengar ibumu adalah desainer terkenal. Aku datang ke sini ingin melihat-lihat kemeja pria. Apakah ada?" tanya Kaito.


Disaat mereka berdua sedang melihat-lihat baju, Kaito tiba-tiba menanyakan sesuatu hal.


"Nona Aiko, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Ya, silakan."


"Kau dulu pernah bilang padaku kalau saputangan milikku ini mirip sekali dengan saputangan temanmu. Kalau boleh tahu siapakah temanmu itu?" tanya Kaito penasaran.


"Oh, itu Mirai. Saputangan kak Kaito sangat mirip dengan saputangan milik Mirai. Hanya berbeda warna saja. Saputangan Mirai berwarna merah," jawab Aiko.


Kaito menyipitkan matanya. "Mirai Sakurai?"


"Iya, benar."


Kaito tersenyum. "Terima kasih infonya, Nona Aiko."


"Jadi orang yang Eisuke temui waktu kecil itu adalah Mirai," ucap Kaito dalam hatinya.

__ADS_1


***


Satu minggu lagi, Mirai genap 2 tahun di kampus, sekaligus hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya.


Di tengah malam, Mirai berbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan mata. Namun, ia tidak bisa tidur. Badannya berputar ke kanan dan ke kiri. Ia perlahan membuka matanya dan keluar kamar untuk mengambil minum. Di sana ada Paman yang sedang menonton TV sendirian.


"Mirai, kau belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur, Paman."


"Apa ada masalah? Ceritalah pada Paman."


"Um, satu minggu lagi beasiswaku akan berakhir. Mungkin aku akan berhenti kuliah," ucap Mirai.


Paman menatap Mirai kaget. "Paman hampir lupa kalau kuliahmu sudah genap 2 tahun. Sayang sekali jika harus berhenti kuliah, tetapi paman juga tidak bisa membantumu. Uang kita belum cukup untuk membayar kuliahmu. Hiro pernah mengatakan padaku kalau dia ingin membantu masalah keuanganmu."


"Tidak! Aku tidak ingin merepotkan Hiro lagi. Aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Minggu ini adalah hari terakhirku di kampus," ucap Mirai.


"Baiklah jika keputusanmu sudah bulat. Paman hargai keputusanmu." Paman setuju dengan keputusan Mirai.


***


Keesokan harinya, hujan mulai turun deras. Mirai mengikuti pelajaran di kelas dengan mata sembab.


"Kau habis menangis ya?" tanya Aiko sambil mengamati kedua matanya.


"Iya."


"Katakan padaku apa yang terjadi?"


Mirai menceritakan semuanya tentang Eisuke pada Aiko.


"Begitu rupanya. Jangan dipikir terlalu dalam nanti kau sakit. Sekarang jalani saja apa yang ada. Aku dan Hiro selalu ada untukmu." Aiko tersenyum menghibur Mirai.


Pelajaran di kelas selesai, tetapi hujan yang dari pagi masih berlanjut sepanjang hari. Mirai memutuskan untuk menunggu di dalam kelas sendirian. Ia berdiri di depan jendela dan meratapi hidupnya yang berat. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan tidak ingin memberitahu siapapun, termasuk Hiro dan Aiko. Tetesan hujan berbintik-bintik di kaca jendela. Dari arah pintu, tiba-tiba muncul seseorang yang tidak asing.


"Mirai kau belum pulang?"


Mirai menoleh. "Hiro."


"Aku mau mengambil barangku yang ketinggalan." Setelah mengambil barangnya, Hiro berjalan mendekati Mirai. "Kelihatannya hujan masih lama, apa kau mau pulang bersamaku?"


"Boleh, tetapi aku mau mampir ke perpustakaan sebentar."

__ADS_1


"Oke, aku akan menemanimu."


Sementara itu, di dalam perpustakaan. Eisuke sedang membaca buku dan menyandarkan tubuhnya di rak. Tiba-tiba Megumi masuk ke perpustakaan dan mendekatinya dengan tergesa-gesa.


__ADS_2