Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 28 --> Bantuan misterius


__ADS_3

Sore hari, Paman dan Yoshi sudah menyiapkan hidangan kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Mirai. Sebuah kue tart kecil yang dihiasi lilin warna warni telah dinyalakan. Mirai memejamkan matanya dan berdoa dalam hati.


Prok Prok Prok!


Suara tepuk tangan menggema di ruangan.


"Selamat ulang tahun, Kak Mirai," ucap Yoshi.


"Ah, tidak terasa keponakan paman yang kecil ini sekarang sudah berumur 21 tahun. Mirai sudah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita yang cantik. Selamat ulang tahun, Mirai. Semoga semua harapanmu menjadi kenyataan," ujar Paman.


"Terima kasih, Paman." Mirai tersenyum manis.


Paman mencoba menghidupkan suasana. "Ayo sekarang potong kuenya. Yoshi, kau mau kue tidak?"


"Aku mau.. Aku mau..!" teriak Yoshi dengan gembira.


Mirai tersenyum melihat keluarga kecilnya itu. Ia memotong kue dan membagikannya bersama Yoshi dan Paman. Pesta ulang tahun Mirai yang sederhana berakhir dengan bahagia.


***


Hari ini, Mirai resmi tidak masuk kuliah. Ia mengisi hari-harinya dengan membantu Paman di restaurant.


Sementara di kelas, Eisuke terus-terusan melihat ke arah tempat duduk Mirai yang kosong.


"Kenapa dia tidak masuk? Apakah terjadi sesuatu dengannya?" tanya Eisuke dalam hati.


Hari kedua sampai kelima, Eisuke masih menatap kursi Mirai yang kosong. Pikiran cowok itu mulai kacau dan frustasi.


Malam hari di rumah kediaman Harada, Kaito terlihat sedang bermain piano di ruang musik. Eisuke dengan ekspresi gelisah masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Kaito.


"Kaito, aku ingin bicara," ucap Eisuke dengan nada serius.


"Ada apa? Katakan saja," jawab Kaito sambil bermain piano.


Eisuke nampak kesal karena Kaito terlihat tidak serius. "Kaito, hentikan pianonya! Aku ingin bicara denganmu."


Mendengar nada tinggi Eisuke, akhirnya Kaito menghentikan pianonya. "Kenapa kau marah-marah? Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


Eisuke menatap Kaito dengan serius. "Kaito, apa kau tahu sesuatu tentang Mirai? Sudah 5 hari dia tidak masuk kuliah."


"Kenapa kau menanyakan Mirai padaku?" tanya Kaito heran.


"Karena kau adalah asisten Profesor, kau pasti tahu sesuatu tentang dia," jawab Eisuke yakin.


Kaito menatap Eisuke. "Baru 5 hari tidak bertemu dengan nya kau sudah gila seperti ini. Sebenarnya kau ini ingin melepaskan dia atau tidak?!"

__ADS_1


"Tidak usah menanyakan itu. Cepat katakan apa yang kau ketahui tentang Mirai," jawab Eisuke dingin.


"Oke, aku akan memberitahumu yang sebenarnya. Selama ini Mirai Sakurai masuk kuliah karena dia mendapatkan beasiswa. Kini, masa berlalu beasiswa itu sudah berakhir. Dia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliahnya dan dia memilih untuk berhenti." Kaito mengungkapkan sebenarnya.


Eisuke terbelalak kaget. "Aku akan menanggung biaya kuliahnya."


Kaito mengeryitkan dahi "Apa kau yakin dengan kata-katamu itu? Kampus kita adalah kampus termahal di Tokyo. Dan kau juga sudah tahu, biaya kuliah di sana tidaklah murah. Kau yakin ingin mengeluarkan banyak uang demi gadis itu?"


"Aku tidak peduli. Segera urus semua dokumen Mirai! Aku akan membayar semua keuangannya. Oh ya, satu hal lagi, jangan beritahu siapapun tentang masalah ini. Apapun yang aku lakukan pada Mirai adalah rahasia kita berdua," ucap Eisuke.


"Baik lah. Aku akan penuhi keinginanmu," jawab Kaito.


Eisuke membalikkan badan, lalu pergi.


Kaito menatap Eisuke sambil bergumam. "Melihat apa yang telah kau lakukan barusan, aku tidak yakin kau sanggup melepaskan Mirai."


***


Beberapa hari kemudian, pihak kampus menelepon Mirai dan menyuruhnya untuk datang ke kampus. Mirai pun datang ke kampus dengan ragu-ragu dan bingung.


Sesampainya di ruangan profesor, ia melihat Kaito sedang sibuk di sana.


"Permisi," sapa Mirai.


Kaito menoleh. "Oh, Mirai. Silakan duduk!"


Kaito tersenyum. "Aku mewakili Profesor untuk mengurus masalah kuliahmu."


"Masalah kuliahku?" tanya Mirai bingung.


"Iya, masalah tentang kuliahmu. Ada seseorang yang membantu biaya kuliahmu dan sekarang kau bisa kembali masuk kuliah seperti biasanya," ucap Kaito menerangkan.


Mirai melebarkan mata terkejut. "Huh? Benarkah? Kalau boleh tahu siapa orang itu?"


"Iya, benar. Orang itu sangat baik dan dermawan. Dia rela menyumbangkan hartanya dan membantumu. Namun sayangnya orang itu menolak untuk disebutkan namanya," jawab Kaito.


"Um.. Begitukah? Pasti orang itu adalah orang yang sangat baik. Alangkah senangnya jika aku bisa bertemu dengannya dan mengatakan terima kasih. Kak Kaito, tolong sampaikan rasa terima kasihku kepadanya. Kebaikannya akan selalu aku ingat di hati," ucap Mirai tulus.


"Oke, aku akan sampaikan padanya."


"Terima kasih, Kak Kaito."


"Baiklah. Mulai besok kau bisa masuk kuliah lagi seperti biasa." ucap Kaito.


Mirai tersenyum bahagia. "Iya, terima kasih. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak."

__ADS_1


Sebelum kembali ke rumah, Mirai mampir mengunjungi makam kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu, Bagaimana kabar kalian? Aku berharap kalian selalu bahagia di sana. Ayah, ibu, Aku telah gagal menggapai cintaku. Aku telah kehilangan laki-laki yang aku cintai. Namun, hari ini ada orang yang baik hati mau membantu biaya kuliahku. Aku senang sekali bisa kembali melanjutkan kuliah. Aku janji kepada kalian akan belajar dengan baik," ucap Mirai di depan makam kedua orang tuanya.


Setelah tiba di rumah, Mirai menceritakan semuanya pada Paman.


"Wah, orang itu benar-benar baik mau membantu biaya kuliah orang yang tidak mampu. Semoga suatu saat nanti Paman bisa bertemu dengan orang itu dan mengucapkan terima kasih," ujar Paman.


Mirai tersenyum cerah. "Jika diberi kesempatan aku juga ingin bertemu dengan orang itu."


***


Keesokan harinya, Mirai dengan semangat berangkat ke kampus. Ia duduk di tempat duduknya seperti biasa di kelas.


Dari bangkunya, Eisuke menatap Mirai dengan tersenyum. "Selamat datang kembali, Mirai."


Melihat Mirai masuk kuliah lagi, Aiko dan Hiro langsung menyapa gadis itu. Mereka berdua tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


"Mirai, kau sudah kembali dari desa? Bagaimana kunjunganmu di sana? Apakah menyenangkan?" tanya Aiko.


Mirai tersenyum. "Iya, menyenangkan."


"Hai, aku sangat merindukanmu. Jangan buat aku mati karena cinta," sahut Hiro.


"Ehem.. ada yang lagi kangen nih," goda Aiko.


"Bolehkah nanti malam aku main ke tempatmu?" bisik Hiro.


"Iya boleh."


"Oke, nanti malam aku akan ke sana," Hiro mengedipkan satu matanya.


***


Matahari mulai terbenam, dan Eisuke sedang memandang langit di balkon rumahnya. Dari arah belakang, Kaito tiba-tiba datang menghampirinya.


"Gadis itu mengucapkan terima kasih padamu," ucap Kaito pada Eisuke.


Eisuke terdiam dan memandang langit dengan ekspresi tenang.


"Apa kau yakin akan melepaskan Mirai?"


"Ya, aku akan melepaskannya."


"Jika kau mencintainya, kenapa kau harus melepaskannya? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu." Kaito tak mengerti pikiran adiknya.

__ADS_1


"Aku melepaskan Mirai karena aku ingin dia lebih bahagia," jawab Eisuke.


Kaito menghela nafas. "Aku harap kau tidak menyesali kata-katamu itu."


__ADS_2