
"Hai, cewek. Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apakah kau sudah berubah hati menjadi suka padaku?" ucap Kaito sambil tersenyum.
Aya mendekati kaca mobil Kaito yang terbuka. "Aku ke sini cuma ingin minta nomor handphone-mu dan nomor Eisuke. Cepat berikan padaku sekarang juga!"
Kaito tertawa keras. "Hahaha. Sebenarnya aku benci memberikan nomor handphone kepada orang lain, tapi berhubung kau sangat manis maka aku akan memberikannya." Kaito memberikan ponselnya kepada Aya, lalu cewek tomboy itu dengan cepat menyimpan nomor kakak beradik itu di handphone-nya.
"Aku mau mengatakan sesuatu padamu. Sampai kapan pun adikku tidak akan pernah bisa menyukaimu. Karena di dalam hatinya sudah ada cewek yang dia sukai," ucap Kaito.
Aya menaikkan alis. "Oh ya? Bolehkah aku tahu siapa cewek itu?"
"Hmm, sepertinya aku tidak bisa memberitahumu. Namun yang jelas mereka tidak bersama karena cewek itu sudah punya pacar," jawab Kaito.
"Dari kata-kata yang dia ucapkan, besar dugaanku kalau cewek yang dia maksud adalah Mirai," batin Aya yakin.
Aya tersenyum. "Oke, aku harus mengucapkan terima kasih padamu karena kau telah memberitahuku sedikit tentang adikmu. Besok malam ayahku mengadakan pesta pameran seni di gedung galeri. Aku mengundangmu dan Eisuke untuk datang."
"Aku sudah tahu kalau ayahmu adalah seorang seniman terkenal. Tanpa kau undang pun aku akan tetap datang bersama orangtuaku," ucap Kaito.
Disaat Aya dan Kaito tengah asik bercakap-cakap, seorang supir berpakaian kemeja hitam datang menghampiri Aya.
"Nona Aya, sekarang sudah waktunya pulang," ucap supir itu.
Aya mengangguk. "Sampai ketemu besok, Kaito." Aya pergi menuju mobilnya dan tak lama dari itu, Kaito pergi mengendarai mobilnya dengan cepat.
***
Matahari telah terbenam, dan langit pun berubah menjadi gelap. Malam ini, Hiro menjemput Mirai untuk makan malam di rumahnya. Mirai mengenakan baju terbaiknya dan melakukan sedikit make-up di wajahnya.
Aroma lezat hidangan di meja sudah tercium di udara. Mirai duduk di samping Hiro untuk memulai makan malamnya. Kedua orangtua Hiro mengamati penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga kepala. Mereka memandang Mirai dengan tatapan tajam, seperti ada yang mengganjal di hati mereka.
__ADS_1
Hiro meremas tangan Mirai sambil berbisik pelan. "Jangan gugup."
Mirai mengangguk dan memberi Hiro senyuman. Ia mencoba bersikap tenang dan berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
Setelah diam cukup lama, Hiro membuka suara untuk memecahkan keheningan. "Ayah, Ibu, kenalkan ini pacarku namanya Mirai."
"Selamat malam, nama saya Mirai. Senang bertemu dengan anda," ucap Mirai sedikit kaku.
Nyonya Watanabe menatap Mirai dengan tatapan sinis. "Darimana asalmu? Selama ini aku tidak pernah melihatmu di acara pesta kalangan elite!"
Tubuh Mirai serasa menegang ketika mendengar kata-kata tajam yang dilontarkan oleh Nyonya Watanabe. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, Hiro dengan cepat langsung menyela pembicaraan.
"Mirai tidak berasal dari kalangan elite. Dia dan keluarganya adalah pengusaha restaurant biasa. Kami berdua saling menyukai satu sama lain, dan aku akan segera melamarnya," ucap Hiro.
Sontak Mirai terkejut dengan ucapan Hiro yang mendadak ingin melamarnya. Cowok rambut merah itu terang-terangan mengungkapkan maksud hatinya pada kedua orangtuanya.
Mirai mencondongkan wajahnya ke arah Hiro dan berbisik lirih. "Hiro, apa yang kau katakan? Kita belum pernah membicarakan hal ini sebelumnya."
Mirai menatap Hiro terkejut. Disaat ia mendengar kata-kata itu, otaknya seperti terus berputar dan tidak tahu harus melakukan apa.
Tuan Watanabe yang tadinya diam tiba-tiba ikut angkat bicara. "Hiro, ikut ayah ke ruang kerja. Ayah ingin bicara berdua denganmu." Tuan Watanabe pergi menuju ruang kerja diikuti Hiro di belakangnya.
Suasana di ruang makan berubah menjadi sunyi. Nyonya Watanabe meneguk wine-nya sambil melirik ke arah Mirai.
"Dari pakaian yang kau kenakan aku sudah tahu kalau kau bukan dari kalangan elite. Apa kau pikir dengan modal cantik saja cukup untuk mendapatkan putra tunggalku? Orang sepertimu sama sekali tidak pantas!" ucap Nyonya Watanabe dengan sorot mata tajam.
Saat itu, hati Mirai seperti hancur tercabik-cabik oleh ucapan Nyonya Watanabe yang menusuk. Tubuh gadis itu seperti membeku, matanya mulai lembab dan berair. Ia berusaha tegar dan ingin membuka mulutnya untuk bicara, tetapi terasa sulit dan berat. Mirai tidak tahu harus berkata apa kepada Nyonya Watanabe.
"Aku tidak akan setuju jika orang sepertimu menikah dengan putraku!" sambung Nyonya Watanabe.
__ADS_1
"Nyonya, sebaiknya anda merestui mereka. Gadis ini kelihatannya adalah gadis yang baik. Tuan muda Hiro juga sangat mencintainya," sela bibi Hong tiba-tiba.
"Bibi Hong! Jangan ikut campur masalah keluargaku!" bentak Nyonya Watanabe marah.
Sementara itu, Tuan Watanabe dan Hiro sedang melakukan diskusi di ruang kerja.
"Apa kau yakin ingin melamar gadis itu?" tanya Tuan Watanabe serius.
"Iya, aku sangat yakin dengan keputusanku. Aku ingin melamarnya dan menikahinya secepat mungkin," jawab Hiro penuh keyakinan.
Tuan Watanabe mengerutkan dahi. "Gadis itu adalah gadis biasa. Dia bukan dari kalangan elite seperti kita."
"Kenapa kalau dia bukan dari kalangan elite? Apakah itu masalah? Meskipun ayah dan ibu tidak setuju dengan keputusanku ini, aku akan tetap melamarnya dan menikahinya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri!" ucap Hiro tegas tanpa ragu-ragu sedikit pun.
Tuan Watanabe mengangguk. "Baiklah. Jika kau tetap bersikeras ingin melamar gadis itu, ayah izinkan. Kau adalah putra satu-satunya di keluarga ini. Jangan kecewakan ayah!"
"Terima kasih, Ayah. Aku janji tidak akan mengecewakan ayah," jawab Hiro dengan senyuman cerah di wajahnya.
Di ruang lain, Mirai semakin tertekan oleh kata-kata yang dilontarkan Nyonya Watanabe. Penghinaan yang tiada henti terus-menerus diucapkannya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah setuju dengan hubungan..."
"Ibu!" Hiro tiba-tiba datang memotong kalimat ibunya.
Semua orang di ruang makan tersentak kaget dengan kehadiran Hiro yang muncul secara tiba-tiba. Semua mata tertuju pada cowok rambut merah itu.
"Ayah sudah menyetujui hubunganku dengan Mirai. Jadi, pertunangan ini akan tetap dilaksanakan meskipun ibu tidak setuju. Mirai, ayo kita pergi." Hiro menarik tangan Mirai, lalu menggandengnya pergi keluar. Tak lama, Hiro dan Mirai sudah pergi meninggalkan rumah itu.
"Gara-gara gadis itu, Hiro kini jadi berubah," batin Nyonya Watanabe.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Mirai nampak murung dan sedih. Dan Hiro mengetahui hal itu.
"Aku minta maaf atas semua kata-kata yang ibuku ucapkan. Jangan dimasukkan dalam hati. Lagipula, ayahku sudah setuju dengan hubungan kita," ucap Hiro.