
"Terima kasih kalian sudah mau hadir. Aku dan pacarku sangat senang kalian datang," sapa Hiro sambil tersenyum.
Cowok rambut merah itu menarik pinggang Mirai dan memeluknya erat. Ia sengaja memamerkan kemesraan di depan Eisuke.
"Aku mengucapkan selamat atas pertunangan kalian," ucap Kaito.
"Aku juga mengucapkan selamat untuk kalian berdua," tambah Aya.
Mirai tersenyum tipis. "Terima kasih."
Eisuke hanya menundukkan kepala dan tidak mengatakan apapun. Hiro menatap Eisuke dengan senyuman puas dan penuh kemenangan.
"Apakah kalian bertiga berangkat bersama? Kelihatannya Aya dan Eisuke sekarang menjadi lebih dekat. Aku kagum dengan kalian berdua. Dalam waktu yang sesingkat ini kalian bisa cepat akrab," ucap Hiro disertai senyuman.
"Ya, kami memang berangkat bersama," jawab Kaito.
"Mirai, apa kau tak terkejut melihat Aya dan Eisuke dekat dalam waktu yang singkat?" tanya Hiro memanasi.
"Aku... terkejut," jawab Mirai lirih.
"Hiro, ini bukan saatnya membicarakan orang lain. Sebaiknya kau fokus dengan pesta pertunanganmu," ucap Aya.
Hiro tertawa kecil. "Oke. Aku mengerti cewek tomboy."
Hiro dan Mirai berjalan kembali ke atas podium untuk melangsungkan acara pertunangan. Hiro mengeluarkan sebuah cincin berlian dari sakunya, lalu memasukkan cincin itu ke jari manis Mirai. Menyambut moment itu, seluruh tamu bertepuk tangan dengan antusias.
Eisuke mengepalkan tangannya ketika melihat Hiro dan Mirai bermesraan di atas podium. Emosinya bergejolak seketika.
"Senyuman bahagia mereka hanya membuat hatiku sakit," ucap Eisuke dalam hatinya.
Eisuke bangkit berdiri, lalu ia berjalan pergi meninggalkan pesta.
"Adikku yang menyedihkan. Dia tidak sanggup melihat pertunjukkan ini," ucap Kaito sambil menggelengkan kepala.
"Sepertinya aku perlu bicara dengannya." Aya berdiri dari kursinya, lalu dengan cepat menyusul Eisuke.
Eisuke keluar dari hotel. Ia mengepalkan tangan, lalu memukul tembok yang ada di depannya. Wajahnya dipenuhi dengan amarah, kekecewaan, dan penyesalan. Tak lama, Aya datang menghampirinya.
"Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu kau menyukai Mirai," ucap Aya.
Eisuke menoleh. "Memang! Aku sangat menyukainya."
Aya dapat melihat mata Eisuke penuh dengan ketulusan.
"Apa dia sangat berharga bagimu? Bisakah aku menggantikan posisinya di hatimu?" tanya Aya sungguh berharap.
__ADS_1
"Mirai sudah masuk ke dalam hatiku terlalu dalam dan tidak ada satu orang pun yang dapat menggantikannya," jawab Eisuke.
"Kau yakin dengan ucapanmu itu? Kalau begitu kau benar-benar telah menolakku," ucap Aya dengan raut wajah kecewa.
"Ya, lebih dari yakin. Sebaiknya kau menjauhiku, karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa mencintaimu." Eisuke menyakinkan Aya.
"Aku tahu itu. Karena kau telah menolakku, maka aku tidak akan berharap padamu lagi. Namun, apakah kita bisa menjadi teman?" Aya tersenyum dan Eisuke hanya terdiam tidak menjawabnya.
"Hmm, yang aku butuhkan saat ini adalah mengetahui isi hati Mirai yang sebenarnya. Jika ternyata Mirai juga memiliki perasaan yang sama dengan Eisuke, maka dalam kasus ini Hiro adalah penghalang," ucap Aya dalam hatinya.
Sementara itu, Kaito sedang duduk sendirian di mejanya. Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh Aiko yang muncul dari arah belakang.
"Kak Kaito!" sapa Aiko.
"Oh, Nona Aiko."
"Kak Kaito datang ke pesta sendirian?"
"Tidak. Aku datang bersama Aya dan Eisuke."
"Oh, dimana mereka?"
"Mereka ada di luar," jawab Kaito.
Aiko menganggukkan kepala. "Aku mendengar kabar kalau beberapa bulan lagi kak Kaito akan wisuda. Apa itu benar?"
Wajah Aiko memerah ketika melihat senyuman manis Kaito.
"Aku senang mendengarnya. Aku harap kita bisa sering bertemu," ucap Aiko.
"Kaito." Aya datang menyela pembicaraan. "Sepertinya kita harus pulang sekarang. Eisuke menunggumu di luar."
Setelah berbicara dengan Kaito, Aya membalikkan badan lalu pergi. Bahkan, ia tidak menyapa atau bicara dengan Aiko. Hati dan pikiran cewek tomboy itu terlihat sedang kalut.
"Nona Aiko, aku permisi dulu. Jika butuh sesuatu jangan malu untuk menghubungiku," ucap Kaito.
Aiko mengangguk. "Iya. Hati-hati di jalan, Kak."
Beberapa jam kemudian, pesta pertunangan berakhir dengan meriah. Para tamu mulai pergi meninggalkan pesta. Dalam sekejab, ruangan itu kosong menyisakan Hiro dan Mirai yang sedang berduaan di sana.
Hiro menatap Mirai dengan senyuman. "Akhirnya kita berdua resmi bertunangan. Apakah kau bahagia dengan pertunangan ini?"
Mirai terdiam dan ragu-ragu untuk menjawab. "Aku.. bahagia."
Hiro mengetahui bahwa Mirai terlihat ragu-ragu dengan jawabannya, tetapi cowok rambut merah itu tak peduli. Ia berambisi ingin menjadikan Mirai miliknya seorang.
__ADS_1
Hiro tertawa kecil. "Kau sangat imut dan manis. Aku benar-benar mencintaimu. Aku janji akan membahagiakanmu."
Hiro mencondongkan wajahnya, lalu mencium bibir Mirai yang manis.
"Mmhh.."
"Kenapa saat Hiro menciumku aku tidak merasakan sesuatu seperti ketika bersama Eisuke? dan kenapa aku tiba-tiba merasa merindukan dia," batin Mirai ditengah ciumannya dengan Hiro.
Malam itu, setelah pesta pertunangan berakhir, Mirai kembali ke rumahnya. Ia duduk di meja belajar sambil membuka buku diari kosong. Mirai menuliskan semua isi hatinya ke dalam buku itu. Ia juga mencurahkan rasa kesedihan dan kegelisahan yang ia alami. Mirai menyadari bahwa pertunangannya dengan Hiro tidak membuatnya bahagia. Semuanya serasa terjadi begitu saja.
***
Satu minggu telah berlalu, Mirai dan Hiro tiba di kampus untuk kuliah seperti biasa. Hiro mengawal Mirai dengan sangat ketat. Pulang pergi kuliah Hiro selalu bersamanya.
Pagi ini, suasana di kelas sangat tenang. Semuanya fokus dengan bukunya masing-masing. Namun, Aya dengan hati-hati mendekati Mirai yang sedang duduk dekatnya.
"Ssstt... Mirai," panggil Aya dengan berbisik lirih.
Mirai menoleh. "Iya?"
"Kau nanti malam ada acara?"
"Tidak ada, kenapa?"
"Malam ini aku ingin minum di bar. Maukah kau bergabung denganku?" ajak Aya.
Mirai dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak bisa minum dan aku tidak kuat minum."
"Please, temani aku. Aku benar-benar suntuk malam ini. Temani aku kali ini saja. Selanjutnya aku janji tidak akan mengajakmu ke bar lagi. Bagaimana?" ucap Aya dengan nada memohon.
Mirai berpikir sejenak. "Baiklah. Aku akan menemanimu malam ini, tapi aku tidak akan minum banyak."
Aya tersenyum puas. "Kalau begitu beritahu aku alamat rumahmu. Nanti malam aku akan menjemputmu."
Aya memberikan secarik kertas pada Mirai, kemudian dengan cepat Mirai menuliskan alamat rumahnya di kertas itu.
***
Kini, pelajaran di kelas telah selesai. Mirai dan Hiro berjalan melewati lorong hendak mau pulang. Namun, dari arah yang berlawanan seorang cowok berjalan tergesa-gesa lalu menabraknya.
"Uups! Maaf," ucap Cowok itu.
"Kak Akihiro?" Mirai menatap cowok itu serasa tidak asing.
"Oh, Mirai."
__ADS_1
"Apa kabar, Kak? Aku sudah lama tidak melihat kak Akihiro."