
"Oke, aku akan buktikan kalau kita berdua tidak bisa menjadi teman!" Eisuke menindih Mirai ke dinding kayu dan mencium tengkuk leher gadis itu dengan kasar. Ia juga mencengkeram kedua tangan Mirai hingga tak bisa bergerak.
"Aahh.. Aahh..., Eisuke, apa yang kau lakukan. Hentikan!" Mirai memberontak.
Eisuke tidak berhenti dan terus menekan Mirai. Tanpa mereka sadari, Hiro mulai berjalan mendekati gubuk itu. Cowok rambut merah itu berteriak memanggil-manggil Mirai.
"Mirai! Mirai!" teriak Hiro kencang.
Suara teriakan Hiro terdengar sampai ke dalam gubuk sehingga membuat mereka berdua kaget. Eisuke berhenti dan melepaskan Mirai. Tiba-tiba, gadis itu bergerak ingin keluar dari gubuk. Dengan cepat, Eisuke meraih tangannya.
"Jangan pergi," ucap Eisuke.
"Eisuke, lepaskan aku! Hiro sekarang sedang mencariku," jawab Mirai.
Gadis itu berusaha dengan sekuat tenaganya untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Eisuke. Dengan sadar, cowok tampan itu mengendorkan cengkeramannya dan melepaskan Mirai. Mirai pun berlari keluar meninggalkan Eisuke sendirian di gubuk itu.
"Aku tidak ingin kehilangan dia, tetapi dia lebih memilih pergi bersama Hiro," batin Eisuke sedih.
Mirai melihat Hiro berjalan dengan penuh kekhawatiran.
"Hiro!" panggil Mirai.
Hiro melebarkan matanya dan terkejut melihat Mirai ada di depannya. "Mirai!"
Cowok rambut merah itu berlari ke arah Mirai, lalu memeluk gadis itu erat-erat. "Aku sudah mencarimu kemana-mana, tetapi aku tidak menemukanmu. Aku sungguh sangat khawatir!"
"Hiro, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir," jawab Mirai dalam pelukan Hiro.
"Benar kau tidak terluka atau terjadi sesuatu? aku benar-benar khawatir padamu," ucap Hiro.
"Tidak ada, aku tadi hanya tersesat." Mirai menutupi kejadian sebenarnya.
Hiro bernafas lega. "Syukurlah tidak terjadi sesuatu padamu. Sekarang ayo kita kembali ke tenda. Aiko sangat mencemaskanmu."
Mirai mengangguk, dan mereka pun kembali ke tenda bersama.
Malam hari, Akihiro dan semuanya mengadakan acara api unggun dan makan bersama. Acara bakar daging dan beberapa aneka makanan yang lainnya. Semua berkumpul bersama melingkari api unggun, tetapi Eisuke tidak ikut dan memilih menyendiri di dalam tenda.
Mulai saat itu, Eisuke mulai menjauh dan tidak mendekati Mirai lagi.
Malam kedua, mereka masih mengadakan acara api unggun dan makan-makan bersama. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang dengan gembira.
__ADS_1
"Mirai, tidak terasa sebentar lagi kau juga akan segera wisuda," ucap Akihiro sambil tersenyum.
"Iya, aku sudah 3 tahun kuliah di kampus ini," jawab Mirai.
"Dan setelah lulus nanti, kami berdua akan menggelar pernikahan," sela Hiro.
"Wah, so sweet..," ucap Aiko sambil tersenyum.
Aya diam-diam mengamati Eisuke tidak ada di sana. Ia curiga telah terjadi sesuatu.
"Kaito, dimana Eisuke? Dari kemarin dia tidak ikut acara api unggun," tanya Aya.
"Adikku ada di tenda. Sudah biasa jika dia melakukan hal-hal aneh semacam itu!" jawab Kaito santai.
Setelah acara api unggun selesai, semuanya masuk ke dalam tenda masing-masing. Malam itu, Eisuke berdiri di depan tenda menikmati angin malam yang dingin. Dari belakang, Kaito tiba-tiba muncul dan menghampirinya.
"Kenapa kau tidak tidur? Akhir-akhir ini sikapmu sangat aneh. Apakah ini karena Mirai?" tanya Kaito.
"Aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup melihatnya bersama orang lain," jawab Eisuke resah.
"Aku sudah tahu kau pasti akan menyesali ini." Kaito menepuk bahu adiknya. "Semuanya sudah terjadi. Kau tidak ada pilihan lain selain menjalaninya. Mirai dan Hiro sebentar lagi akan menikah. Sebaiknya, kau ikhlaskan saja gadis itu."
Kaito masuk ke dalam tenda menyisakan Eisuke yang sedang merenung di luar.
***
"Sejak kejadian di gubuk itu, Eisuke menjadi bersikap aneh," batin Mirai.
Di samping itu, Hiro tengah menggenggam tangan Mirai dengan erat.
"Mirai, kenapa kau diam saja? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Hiro.
Mirai menggigit bibirnya dan menggeleng. "Tidak ada."
Hiro tersenyum dan menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
***
Tiga bulan telah berlalu, semuanya berjalan lancar seperti biasa. Tidak ada yang berubah dalam kehidupan kampus. Namun, hari ini suasana di kelas serasa berbeda. Hari ini, Eisuke tidak masuk kuliah dan sejak itu Eisuke tidak pernah muncul lagi.
Di sisi lain, Kaito saat ini masuk bekerja sebagai guru musik di sebuah perusahaan label rekaman terbesar di Tokyo. Sejak kecil Kaito sangat menyukai musik dan pandai bermain musik. Oleh karena itu, ia bercita-cita ingin bekerja dalam bidang musik. Dengan bakat dan kepandaian yang ia miliki, tentu saja ia dapat mewujudkan impiannya dengan mudah.
__ADS_1
Satu bulan telah terlewati, tetapi sampai hari ini Mirai belum bertemu dengan Eisuke.
Mirai bertanya-tanya dalam hatinya. "Sudah satu bulan Eisuke tidak masuk kuliah. Sebenarnya, ada apa dengannya?"
"Aiko, apa kau tahu kenapa Eisuke tidak pernah masuk kuliah?" tanya Mirai.
"Ehm, kalau kata kak Kaito sih, Eisuke mengikuti kuliah online sampai akhir kelulusan," jawab Aiko.
"Itu artinya.. dia tidak akan masuk kampus sampai kelulusan?"
Aiko mengangguk. "Iya, begitulah. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan Eisuke? Jangan katakan padaku kalau kau masih menyukai dia."
"Tidak ada apa-apa," jawab Mirai.
Beberapa jam kemudian, Mirai pulang bersama Hiro. Dalam perjalanan, Hiro mengatakan sesuatu hal yang sangat penting.
"Mirai, beberapa bulan lagi kita akan wisuda."
"Ya, aku tahu. Aku akan fokus belajar supaya mendapatkan hasil yang memuaskan," ucap Mirai.
Hiro menggelengkan kepala. "Bukan itu yang aku maksud. Orangtuaku telah memesan undangan pernikahan kita. Mungkin 2 minggu lagi undangan akan selesai dan akan dibagikan."
Mirai membulatkan mata terkejut. "Kapan kita akan menikah?"
"Tiga hari setelah kita wisuda."
"Hiro, tidakkah itu terlalu cepat?"
"Tidak, karena aku ingin segera menikahimu," jawab Hiro sambil tersenyum. Sebaliknya, Mirai terlihat gelisah dan tidak nyaman. Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mirai tiba di rumah dengan wajah muram. Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong dan pikiran yang kacau. Ia seperti dihadapkan dengan 2 pilihan yang sulit.
"Mirai, kau sudah pulang? Kenapa wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?" tanya Paman.
"Paman."
"Apa kau ada masalah? Jika ada sesuatu, ceritalah pada paman. Jangan dipendam sendiri," ucap Paman.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya Mirai bicara. "Tinggal beberapa bulan lagi aku akan lulus kuliah. Namun, Hiro bilang pernikahan kami akan digelar tiga hari setelah kelulusan."
"Bukankah ini berita baik? Kenapa kau kelihatan tidak senang?" tanya Paman bingung.
__ADS_1
"Aku sendiri tidak tahu harus senang atau sedih. Aku sangat lelah hari ini. Aku ingin istirahat," jawab Mirai sambil melangkah pergi.