Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 19 --> Ciuman tak terduga


__ADS_3

Liburan musim panas akan segera berakhir. Sore ini, Mirai memasak untuk makan malam di rumah.


"Wah, masakan kak Mirai benar-benar enak," puji Yoshi.


"Benar, ini sangat enak sekali. Mirai ini persis seperti ayahnya, dia punya bakat memasak yang baik," tambah Paman memuji.


"Terima kasih pujiannya," ucap Mirai tersenyum.


Dari arah pintu terdengar ketukan yang cukup keras. Paman pergi membukanya, dan sesaat kemudian ia membawa masuk seseorang.


"Ayo masuk. Kita makan bersama jangan malu-malu." suara Paman terdengar jelas.


"Hiro!"


Hiro duduk di samping Mirai dan menyodorkan sebuah shopping bag. "Aku menghabiskan liburan musim panas keluar negeri bersama keluargaku, dan aku datang ke sini untuk memberikan oleh-oleh."


"Terima kasih, Hiro." ucap Mirai.


Mata Hiro berbinar saat melihat Mirai. Ketulusan hatinya terpancar di wajahnya.


"Hiroto, semua hidangan malam ini, semua Mirai yang masak. Ayo makan, jangan malu-malu," ucap Paman.


"Benarkah? Bolehkah aku mencicipinya?" tanya Hiro sambil tersenyum.


"Silakan. Aku ambilkan mangkuknya," jawab Mirai.


"Hiro, kau punya berapa saudara di rumah?" tanya Paman.


"Aku tidak punya saudara. Aku adalah anak tunggal di rumah," jawab Hiro.


"Begitu rupanya." Paman menganggukkan kepala. "Ayo silakan dimakan makanannya."


Kemudian, mereka berempat makan malam bersama dengan penuh kehangatan.


***


Liburan musim panas telah berakhir. Hari ini, semua mahasiswa masuk kuliah seperti biasa. Langit pagi yang penuh kehangatan, mendampingi langkah Mirai ke kampus pagi ini. Gadis itu berhenti di depan gerbang sambil memasukkan sepotong coklat ke mulutnya.


"Hemm.. Coklat oleh-oleh dari Hiro ini enak sekali," ucapnya pelan sambil perlahan masuk ke dalam kampus.


Pagi ini, Eisuke tiba di kampus lebih awal. Cowok tampan itu berjalan melewati lorong dan di sana ada Hiro yang tengah bersandar di dinding. Cowok rambut merah itu menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku menyukai dia!" ucap Hiro pada Eisuke.


Mendengar Hiro bicara, Sontak Eisuke menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Aku menyukai Mirai. Jauhi dia dan jangan mendekatinya lagi!" ucap Hiro dengan tatapan tajam.


Eisuke masih terdiam dan tidak menjawab.


"Aku yang lebih dulu menyukai dia. Bukan kau!" sambung Hiro.


"Tapi aku yang lebih dulu bertemu dengannya," jawab Eisuke dengan nada kesal, lalu ia pergi meninggalkan Hiro.


Merasa tidak puas dengan jawaban Eisuke, Hiro mengepalkan tangan, lalu memukul tembok yang ada di belakangnya. "Sial!"


Dua puluh menit berlalu, Mirai terlihat mengikuti mata pelajaran bersama dosen di kelas.


Beberapa jam kemudian, Bunyi bell berdering dan mata pelajaran kuliah telah selesai. Mirai menuju ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Saat gadis itu berjalan melewati lorong, ia mendengar suara langkah kaki yang menggema di sekitar. Dan tak lama setelah itu, Megumi dan Nana muncul di depannya. Dua cewek itu sengaja menghalangi jalan.


"Megumi, aku mau lewat," ucap Mirai.


Megumi menyeringai. "Sepertinya setiap jalan di kampus ini tidak pantas kau lewati. Kau terlalu kotor dan murahan!"


"Apa maksudmu bicara seperti itu?!" tanya Mirai kesal.


"Seperti yang kau dengar, kau terlalu kotor dan murahan. Aku sudah tahu semua tentang riwayatmu, Mirai Sakurai!" Megumi tersenyum sinis.


Mirai mengerutkan dahi. "Aku sungguh tidak tahu apa maksudmu melakukan semua ini, tapi tolong jangan ganggu aku!"


"Jangan bawa nama orangtuaku. Aku tidak mengizinkanmu menyebut nama mereka!" ucap Mirai dengan mata berkaca-kaca.


Megumi tertawa. "Orangtuamu sudah mati! dan sekarang mereka ada di neraka menunggumu. Benarkan, Nana?"


"Iya benar." Nana ikut tertawa.


"TIDAK!" teriak Mirai dengan meneteskan air mata di pipinya. Hati gadis itu terasa hancur berkeping-keping ketika mendengar mereka merendahkan orangtuanya. Harga dirinya terasa sangat tertindas. Air mata semakin banyak keluar dan mengalir dengan sendirinya.


"Megumi, hentikan!" Eisuke tiba-tiba muncul dari belakang.


Mirai berusaha menahan air matanya, tetapi tak bisa. Ia membalikkan badan dan berlari melewati Eisuke begitu saja. Ini pertama kalinya ia mengabaikan cowok itu.


Melihat gadis itu menangis, Eisuke pun berlari mengejarnya.


Mirai menangis di atap gedung sendirian. Ia merasa sedih mengingat kedua orangtuanya. Air matanya mengalir deras tanpa henti. Ia dapat mengingat dengan jelas semua kata-kata busuk yang dilontarkan Megumi padanya.


"Berhentilah menangis!" ucap Eisuke di belakangnya.


"Bukan urusanmu. Pergi dan tinggalkan aku sendiri!" ucap Mirai ditengah isak tangisnya yang pilu.


"Bagaimana jika aku tidak mau pergi?" tanya Eisuke.

__ADS_1


Mirai membalikkan badan, lalu menatap Eisuke dengan sebal. "Kalau begitu aku yang pergi dari sini!"


Mirai mulai bergerak dan melangkah pergi, tetapi cowok tampan itu meraih tangannya dan menariknya dengan kuat. Ciuman tak terduga menghentikan air mata gadis itu. Eisuke mencium bibir Mirai dengan lembut dan hangat.


"Mmmhh." desah Mirai tak berkutik.


Mirai memejamkan matanya dan tak bisa berbuat apa-apa. Ketika mereka tengah menikmati ciuman itu, Eisuke perlahan-lahan menyeka air mata yang ada di pipi Mirai. Setelah itu, ia mundur dan melepaskan tubuh gadis itu.


"Kenapa kau menciumku?"


"Karena aku ingin menghapus air matamu itu," jawab Eisuke dingin, lalu cowok itu pergi meninggalkan Mirai.


Mirai menyentuh bibirnya dengan jarinya. "Eisuke menciumku."


Malam hari, Mirai berbaring di tempat tidurnya dan berusaha memejamkan mata. Namun, ciuman itu terus saja membayangi pikirannya.


"Selain anak laki-laki yang memberiku saputangan itu, Eisuke adalah orang kedua yang dapat menghentikanku menangis," ucapnya dalam hati.


***


Beberapa hari kemudian, Aiko, Hiro, dan Mirai makan bersama di kafetaria. Mereka makan sambil mengobrol seperti biasa.


"Aku tiba-tiba teringat orangtuaku. Dan hari ini, aku akan mengunjungi makam mereka," ucap Mirai sambil bersiap-siap untuk pergi.


"Apa kau sudah lama tak berkunjung ke makam mereka?" tanya Aiko.


"Iya sudah lama. Aku sibuk dengan aktivitasku di kampus dan bekerja. Oh ya, aku pergi duluan ya. Aku mau pergi ke makam orangtuaku. Dadah..," ucap Mirai.


"Oke. Kau pergi sendirian? Mau aku temani?" Aiko menawarkan diri.


Mirai menggelengkan kepala. "Tidak usah. Aku pergi sendiri saja."


Aiko mengangguk pelan. "Baiklah. Hati-hati di jalan ya."


Sesaat setelah gadis itu pergi, Aiko dan Hiro melanjutkan percakapannya.


"Kalau boleh tahu orangtua Mirai meninggal karena apa?" tanya Hiro ingin tahu.


Aiko menceritakan kejadian sebenarnya. "Mirai waktu kecil naik bus bersama orangtuanya dan bus itu mengalami kecelakaan. Kecelakaan itulah yang menyebabkan kedua orangtuanya meninggal. Tapi untunglah Mirai selamat dari insiden itu."


"Kalau begitu.. Dia sekarang pasti sangat sedih. Apa kau tahu dimana makam orangtuanya?" Hiro merasa khawatir.


"Ya, aku tahu," jawab Aiko.


Aiko memberitahu Hiro, lalu dengan wajah cemas, cowok rambut merah itu berlari menyusul Mirai.

__ADS_1


__ADS_2