
"Mirai, selamat ya sebentar lagi kau dan Hiro akan bertunangan. Aku senang, akhirnya kau bisa mendapatkan kebahagiaan," ucap Aiko memberi selamat.
"Aiko, bagaimana kau tahu kalau aku dan Hiro akan bertunangan?" tanya Mirai.
"Tentu saja aku tahu, karena Hiro sudah memberikan undangan pertunangan kalian padaku." Aiko membuka tasnya, lalu menunjukkan undangan yang diberikan oleh Hiro.
Sontak Mirai terkejut saat melihat undangan itu. Di dalam undangan itu sudah tertulis hari dan tanggal pertunangan. Tinggal tersisa beberapa hari lagi maka pesta pertunangan mereka akan digelar. Mirai sangat terkejut karena ia tidak tahu apa-apa tentang undangan itu. Bahkan, Hiro sendiri tidak memberitahu dia sebelumnya.
"Semua ini Hiro yang menyebarkannya, tetapi mengapa dia tidak memberitahuku lebih dulu," ucap Mirai dalam hatinya.
Beberapa saat setelah itu, Hiro masuk ke dalam kelas dengan ekspresi bahagia. Cowok rambut merah itu duduk bersandar di bangkunya sambil meregangkan kaki. Tak menunggu lama, Mirai pun langsung menghampirinya dengan cepat.
"Hiro, kita harus bicara!" ucap Mirai serius.
Hiro menatap Mirai dengan senyuman. "Iya, bicaralah."
"Apakah kau yang menyebarkan berita pertunangan kita di kampus?" tanya Mirai ingin tahu.
Hiro mengangguk. "Iya benar. Aku telah menyebarkan undangan pertunangan kita ke semua teman-temanku di kampus."
"Apa?!" Mirai terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. "Kenapa kau tidak memberitahu aku dulu tentang tanggal pertunangan kita? Kau memutuskan hari dan tanggal pertunangan begitu saja. Bahkan, aku tidak tahu apa-apa tentang undangan itu."
"Mirai, aku pikir memberitahumu dulu atau tidak bagiku itu sama saja. Lagipula, aku terlalu bersemangat untuk membagikan undangan itu. Jadi, aku buru-buru membagikannya. Maafkan aku!" ucap Hiro sedikit menyesal.
Mirai menarik nafas sebelum bicara. "Baiklah. Karena semuanya sudah terjadi maka aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."
Mirai membalikkan badan hendak kembali ke tempat duduknya, tetapi Hiro meraih lengan Mirai dengan cepat.
"Tunggu! Ada satu orang yang belum aku beri undangan. Dan sepertinya, kau sudah tahu siapa orang itu. Aku minta tolong kau berikan undangan ini padanya." Hiro memberikan sebuah undangan kepada Mirai, dan gadis itu pun menerimanya.
Mirai membaca nama yang tertera dalam undangan itu. "Eisuke."
Mirai diam sesaat, lalu dengan berat hati ia mulai bicara. "Baiklah. Aku akan memberikan undangan ini padanya."
Dengan hati yang tidak nyaman, Mirai berjalan menuju tempat duduk Eisuke. Dari kejauhan, Hiro terus-menerus melihat ke arah Mirai dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi meskipun di hatimu masih mencintai dia. Aku tidak akan membiarkan dia memilikimu!" ucap Hiro dalam hatinya.
Mirai berhenti di depan meja Eisuke. Ia menatap wajah Eisuke dengan rasa canggung. Namun sebaliknya, si cowok tampan itu menatap Mirai dengan sangat tenang.
"Umm, aku ke sini mau memberikan undangan pertunanganku." Mirai memberikan sebuah undangan pada Eisuke dan cowok itu menerimanya.
"Apakah kau bisa hadir di pesta pertunanganku nanti?" tanya Mirai.
"Tentu saja, aku akan datang," jawab Eisuke sambil tersenyum. Cowok itu memasang senyuman di wajahnya untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Terima kasih." Mirai membalas Eisuke dengan senyuman, lalu ia kembali menuju ke tempat duduknya.
Sesaat kemudian, Aya masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Mirai.
Aya menoleh ke arah Mirai. "Sebentar lagi kau dan Hiro akan bertunangan? Tadi dia memberikan undangan kepadaku."
"Iya, pesta pertunanganku kurang beberapa hari lagi," jawab Mirai lirih.
Aya mendekati Mirai dan mengamati wajah gadis itu. "Kau nampak tidak bahagia? Apa ada sesuatu?"
Mirai mencoba menutupi kegelisahannya.
***
Malam hari, Keluarga Harada sedang melakukan makan malam di rumahnya. Dan hari ini, Kenji Harada sedang sibuk di kantor sehingga tidak ikut makan malam bersama. Ayano melihat kedua putranya sedang makan dalam keheningan.
"Ibu dengar Hiro dan Mirai akan bertunangan. Apakah itu benar?" tanya Ayano.
Kaito dan Eisuke saling bertukar tatapan satu sama lain.
Kaito tersenyum dan angkat bicara. "Iya, itu benar. Mereka sebentar lagi akan bertunangan. Darimana ibu tahu berita itu?"
"Tadi pagi keluarga Watanabe mengirimkan undangan pertunangan ke sini," jawab Ayano.
"Hiro juga mengundang semua teman-temannya di kampus. Kelihatannya pesta pertunangan mereka akan meriah," ucap Kaito.
__ADS_1
Ayano mengangguk. "Beruntung sekali Hiro bisa mendapatkan gadis itu. Dari pertama kali melihatnya ibu sudah tahu kalau Mirai adalah gadis yang baik."
Tiba-tiba Eisuke bangkit berdiri dengan mimik wajah sedih. "Aku mau kembali ke kamar." Eisuke berjalan pergi meninggalkan ruang makan.
"Seharusnya ibu tidak membahas ini terlalu jauh karena ada yang terluka di sini," ucap Kaito sambil melirik ke arah Eisuke pergi.
"Apa maksudmu, Kaito?" tanya Ayano ingin tahu.
"Suatu saat ibu juga akan tahu sendiri." Kaito berdiri dari kursinya, lalu ia pergi menyusul Eisuke ke kamarnya.
Kaito mengetuk pintu kamar Eisuke, kemudian ia masuk ke dalam. Ia melihat Eisuke sedang merenung di depan jendela.
"Apa kau sekarang menyesal telah kehilangan Mirai?" tanya Kaito.
Eisuke hanya diam dan tidak menjawab. Namun, setelah terdiam cukup lama akhirnya ia mulai bicara.
"Dia akan lebih bahagia bersama Hiro."
"Bagaimana jika dia tidak bahagia?"
Eisuke terdiam sejenak, lalu bicara lagi. "Dari awal aku tidak bisa mendekatinya karena aku adalah anak dari penjahat yang telah membunuh kedua orangtuanya. Aku adalah anak dari orang yang menyebabkan dia jadi yatim piatu. Karena perbuatan kotor ayah, kini hidupnya jadi menderita. Jika Mirai mengetahui hal ini, mungkin dia akan membenciku."
Kaito mengerutkan dahi. "Kau belum mencobanya. Kau menyerah sebelum bertarung!"
"Aku tidak ingin mencobanya," ucap Eisuke putus asa.
"Baiklah, aku hargai keputusanmu. Kau memang orang yang sulit dimengerti. Oh ya, tadi Aya meneleponku. Dia bilang ingin berangkat bersama kita ke pesta pertunangan Mirai. Jadi, kita bertiga akan berangkat bersama," ucap Kaito.
"Terserah. Aku tidak peduli!" ucap Eisuke.
"Oke, siapkan dirimu untuk menyaksikan pertunangan mereka. Jangan sampai kau sedih saat melihatnya." Kaito mengakhiri percakapan, lalu keluar dari kamar.
***
Hari pertunangan Mirai dan Hiro telah tiba. Mereka melangsungkan pesta pertunangan di sebuah hotel berbintang. Tempat itu didesain sangat mewah, dan dihiasi bunga-bunga layaknya pesta pernikahan. Para tamu undangan satu per satu mulai muncul berdatangan. Mirai berdiri di samping Hiro dengan mengenakan gaun panjang warna krem yang sangat cantik.
__ADS_1
Kaito, Eisuke, dan Aya tiba di pesta itu. Mereka bertiga duduk bersama di sebuah meja tamu yang sudah disiapkan. Hiro dan Mirai berjalan mengitari ruangan untuk menyapa para tamu yang hadir malam itu. Tak lama kemudian, mereka berdua berhenti di meja Kaito.