
Empat tahun berlalu. Ghiffar tumbuh sebagai anak yang periang, dia tumbuh dilingkungan yang penuh kasih sayang. Pamanku adalah orang yang sangat menyayangi Tresha dan Ghiffar, apapun yang mereka mau, ia akan turuti.
Aku dan anak istriku menginap dirumah paman yang berdempetan dengan rumah orang tuaku. Kami berada disana untuk merawat paman yang sedang sakit, "dia tidak mau berkeluarga, dan memutuskan untuk hidup sendiri" dia juga seorang PNS dan menjabat Kepala Sekolah disekolah MTsS ku dulu.
Malam harinya aku merenung diteras depan rumah, dengan sebatang roko yang aku hisap ditemani secangkir kopi. Akhir akhir ini hal aneh diluar nalar dan logika sering terjadi, ayahku dalam sebulan masuk RS dua kali, namun setelah diperikas tidak ada apa apa. Pamanku juga sakit sepele sebenarnya, kakinya kebentur meja jati tidak keras, namun menyebabkan bengkak dan membuat dia tidak bisa berjlan.
Taka terasa lima hari sudah aku dan tresha mengurus paman. Hingga tiba waktu malam yang aneh dan mencekam. Pukul 22.00 tendengar suara orang mandi di toilet, namun setelah aku dan Tresha mengecek tidak ada. Dua jam kemudia, Tresha dan aku mendengar suara telapak kaki kuda diteras luar rumah, lagi lagi tak ada apa apa setelah di cek. Namun
Aduh.. aduh.. Sakit
Tolong.... Tolong.. Achsand,, Treshaaaa
Aku dan tresha segera menghampiri paman dan meninggalkan ghiffar tidur sendirian dikamar..
" yaa Allaah uwa, uwa kenapa
" coba ambilin air sayang
Paman menahan sakit dengan aneh, matanya melotot, kedua tangannya memegang dada sebelah kanan, sesekali kedua kakinya bergerak keatas kebawah.
aku baluri sekujur tubuhnya dengan minyak angin, dari area pinggul sampai kaki terasa sangat dingin bagaikan es, sedangka dari kepala sampai dada terasa sangat panas.
Treshapun keluar ruma membangunkan ayah dan ibu, terlihat ibu datang sambil menelpon mengabari keluarga yang lain.
13 Oktober 2013 Pukul 03.30 keringat dingin menetes disekujur tubuh paman, lalu kusenderkan paman didada bidangku, terlihat ibu dan tresha mengelus dan memijit paman diarea kaki. Tak lama berselang paman batuk dengan keras, lalu keluar darah menggumpal tercecer di teras, matanya melotot keatas seperti mau keluar, nafasnya tersendad sendad, tangan dan kakinya bergerak seperti yang terkena setrum. Dan akhirnya pukul 04.45 wib menghembuskan nafas terakhir.
Ibu dan tresha menangis histeris dengan sangat keras, hingga tetangga terdekat mendengar dan berdatangan. Suasana subuh itu terlihat kacau. Ada yang bilang paman belum meninggal dan harus segera dibawa kerumah sakit, ada yang bilang paman sudah meninggal.
__ADS_1
Akhirnya guru ngajiku menenangkan semua orang yang berada dirumah, terlihat dia datang dengabseorang dokter klinik dekat rumah orang tuaku, lalu mereka mengecek keadaan paman. Tak lama setelah itu mereka mengucapkan innalillahi wainnaillaihi rajiun.
*******
5 bulan kemudian.
Setelah kepergian paman yang mendadak, akhirnya aku dan anak isteriku tinggal dirumah paman untuk sementara.
Pagi itu seperti biasa aku berangkat sekolah untuk mengajar. Kebetulan juga waktu itu sekolahku akan ada penilaian Akreditasi. Semua orang disekolah sibuk dengan tugasnya masing masing hingga larut malam.
Tak enak hati waktu aku sedang bekerja, kepalaku berat dan pusing, badanku semua pegal dan linu. Sesekali bulu romaku merinding. Pukul 21.00 aku meminta izin pulang duluan kerekan rekan guru.
Aku pulang sendiri dengan mengendarai motor ditengah gelapnya malam, jarak dari sekolah kerumah memang lumayan jauh, aku harus melewati jembatan dan pemakaman yang menurut sebagian orang sangat angker.
Ketika dijalan, tak satupun kendaraanpun yang lewat, sambil membaca bacaan qur'an dan berdoa didalam hati akupun melewati jembatan dan pemakaman tersebut. Terasa merinding dari sekujur tubuhku waktu itu.
" sayang ini bau apaan yah
" bau apa a? Aku tak mencium bau apa apa a
Aneh.. hanya aku yang mencium bau tersebut, Treshapun bilang dia tadi pindah kerumah ayah, dia takut tidur berdua bersama ghiffar. Aku dan Tresha berjalan menuju kamarku, terlihat diruang tamu ayah dan ibu tidur disana dengan TV yang masih menyala.
Setibanya dikamar, bau itu mencul kembali. Dan semakin menyengat.
"sayang kamu serius gak mencium bau apa apa??
" enggak a, sumpah!! Mungkin bau karpet yg dicuci ibu belum kering
__ADS_1
Lalu kubaringkan tubuhku yang sudah lelah ini, Treshapun menyelimutiku. Sejenak kutermenung, semua bau pernah aku cium, dimulai bau kotoran, bangkai hewan maupun manusia, dan bau yang lainnya. Tapi aku belum pernah memcium bau seperti ini.
Tiba tiba aku menggigil, terasa panas dan dingin diseluruh badanku, keringat bercucuran, akupun membangunkan Tresha untuk mengambil kayu lutih dan obat masuk angin, tresha mengelap keringat yang mmembasahi seluruh tubuh, lalau membaluri dengan kayu putijh. Dia memakaikan aku sampai tiga selimut. Tiba tiba
" aa... Teteh... Akbar.... Hadi
Terdengar suara teriakan dan tangisan ibu yang histeris, akupun dan Tresha langsung menghampiri kebawah terlihat ayah yang sedang Sakaratul Maut dipangkuan ibu, matanya melihat keatas sesekali melotot, keluar busa dari mulutnya, badanya kejang kejang. Akupun berteriak dengan sangat keras meminta pertolongan, parahnya lagi malam itu sedang ada pemadaman listrik, ditambah sorenya aku baru saja menjual mobil lama ayahku.
Tetangga dekat berdatangan kerumah ayah, mereka masuk silih berganti, terdengar dari lidah mereka bahwa ayah sudah meninggal dunia. Aku tak percaya dengan ini semua. Lalu guruku menghampiri ayah, dia melihat dan meraba keadaan tubuh ayah, dia bilang ayah sudah meninggal.
Sejenak aku termenung, aku belum percaya dan tak mau menyesal,, melihat ayah yang terkujur kaku, aku melihat air mata menetes dipipi ayah. Lalu aku menyuruh hari untuk meminjam mobil, haripun menuruti perkataanku.
Kugendong ayah kedalam mobil, diikuti ibu dan dua saudara ayahku. Tresha aku larang untuk ikut, karena giffar gak ada yang menjaga. Terdengar dari beberapa orang ketika aku membawa ayah ke RS.
" ahh percuma dibawa ke RS juga, dia kan sudah meninggal
Sebenarnya semua orang termasuk ibu dan Tresha sudah menganggap ayah sudah meninggal, cuma aku yang tak percaya dan keukeuh membawa ayah ke RS. Hari menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
Terasa seluruh badan ayah dingin dipangkuanku, kupeluk dan kucium ayah, didalam hati aku berdoa. Yaa Allaah ayahku milikmu, langit dan bumi beserta isinya semuanya milikmu. Silahkan ambil yaa Allaah aku ikhlas dan ridho.
Tiba tiba tiba ayah bergerak, akupun kaget dan tak percaya dengan kenyataan ini, aku dan ibu saling pandang, lalu hari tancap gas dengan serius dan fokus.
Kamipun tiba di RS immanuel bandung, terlihat hari langsung turun menghampiri security dan petugas RS, merekapun bersegera membawa ranjang dorong kemobil, dan membawa ayah keruang IGD.
Aku dan ibu saling berpelukan, kami menangis bahagia melihat dan menyaksikan keajaiban ini. Aku besama ibu menunaikan sujud syukur di aspal jalan seketika itu juga, lalu kukabarkan berita ini dengan menelpon Tresha, kusuruh dia untuk menyebarkan kepada semua yng masih ada dirumah. Merekapun terkejut dan seolah tak percaya dengan kejadian dan berita yang akunsampikan.
Aku dan ibu bersegera masuk kedalam ruang IGD, terlihat hari dan saudara ayah sudah berada disana duluan, lalu hari mengabarkan bahwa..............
__ADS_1