Tulusku Deritaku

Tulusku Deritaku
Episode 56 # kematian Tresha


__ADS_3

Aku kaget tiba tiba suara hp ku berdering.


Terlihat Ghiffar anakku yang menelepon! Tiba tiba hatiku terasa tertampar atas apa yang aku lakukan barusan bersama Rena.


" siapa yang menelpon mas?? ucap Rena sambil memakai pakaiannya kembali"


" Ko gak di angkat??"


" biasa Ren orang iseng! Ucapku bingung menjawabnya "


"Aku masuk kedalam duluan ya Ren?? Ada panggilan alam nih" ucapku sambil melangkah meninggalkan Rena.


" heheheh.. Ia mas "


Aku masuk kedalam rumah Rena dengan rasa malu terhadap diriku sendiri! "Apa yang sudah aku lakukan Tuhan??".


Sesampainya di kamar, Aku membaringkan tubuhku! Aku menatap langit langit dengan perasaan gundah gulana. Aku segera menelpon anaku.


" hallo Assalamualaikum ayah" ucap ghiffar dengan nada manjanya"


" kenapa tadi gak di angkat telpon Ghiffar?"


" waalaikum salam"


" maaf tadi ayah ga pegang hp"


" Ada apa solehku?? Memuji a aku "


Anaku mengabarkan dia akan ikut studi tur dari sekolahnya. Aku kaget, aku kira ada apa apa dengan kandungan Tresha.


Anaku memberikan telpon kepada Tresha! Dia mengatakan gak enak hati seharian ini, apalagi dari sesudah ashar katanya.


Aku terpukul dengan perkataannya! Memang hati perasaan seorang istri sangat sensitif, batunya seolah terkoneksi dengan kejelekan yang baru saja aku lakukakan.


Dulu aku sering di kecewakan Tresha! tapi apa yang aku lakukan barusan sungguh sangat biadab.


" aa disana jaga diri aa baik baik ucap Tresha"


Perkataan itu membuatku seperti di sayat sayat. Belum seminggu, aku sudah mengkhianati kedua istriku dengan biadab! Entah apa yang merasukiku, hingga berbuat setega ini.


************


6 bulan kemudian.


" Ditahan yaa bu yaaa! ucap suster memberi aba aba kepada Tresha"


" sudah pembukaan 7 bunda! Tinggal 2 pembukaan lagi "


Tresha memegang tanganku dengan sangat erat! Jari jemariku terasa sakit setelah di tekannya.


Terlihat wajah Tresha pucat pasi menahan rasa sakit pembukaan, air matanya tak berhenti mengalir sambil berteriak teriak.


Aku menyaksikan untuk yang ke dua kalinya.


" siap ya buu yaaa "


" sekarang tarik nafas, terus keluarkan "


" ayo bu, tekan sekuat mungkin "


Tresha sedang berusaha sekuat tenaga, di bantu dokter yang mendorongnya.


Aku terus berdoa dan membaca ayat ayat Alquran sambil memeluk Tresha. Terasa keringat dingin dari tubuh Tresha, aku takut terjadi apa apa dengan Tresha.


Suasana hatiku campur aduk melihat keadaan ini.


Terlihat dokter menyuruh suster untuk menyiapkan peralatan bedah.

__ADS_1


" maaf pa! Bapak tunggu di luar dulu yaa! Keadaan ibu melemah, ini harus di oprasi caesar" ucap suster !"


Aku segera keluar ruangan. Terlihat ibu, Lingga dan Ghiffar ada di kursi tunggu! Mereka segera menghampiriku dan menanyakan keadaan Tresha"


Aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka!


" kenapa kamu diam a?? Ucap Lingga


" udah Lingga, kita tunggu kabar aja dari dokter atau suster!"


" semoga Tresha dan bayinya selamat"


Tak berapa lama berselang.


" keluarganya pa Achsand " ucap dokter "


Aku segera menghampiri dokter.


" maaf sebelumnya. Kami sedang berusaha semampu kami! Namun situasi dan keadaannya tidak memungkinkan kami untung menyelamatkan keduanya"


" jadi kami memberi pilihan ke Pa.Achsand, apakah mau menyelamatkan Ibunya atau menyelamatkan bayi yang di kandungnya??"


Situasi ini membuatku syok, aku tak bisa memelih! Aku hanya terdiam 1000 bahasa! Tiba tiba.


" selamatkan ibunya dokter! Ucap ibu"


" saya harus bertanya ke Pa.Achsand dan mendapat izin dari beliau bu.


" ia sudah.. Sya selaku ibunya bertanggung jawab dok!" anak saya pasti sedang down dengan kenyataan ini"


" baik bu! Ucap dokter"


" sekara g ikut saya ! Ucap suster"


Dokter kemudian masuk ke ruangan oprasi, sedangkan ibu mengikuti suster untuk mengisi surat perjanjian.


" memang berat dihadapkan dengan pilihan sesulit ini"


" aku juga kalao di posisi a, aku bakal memilih pilihan sama dengan ibu"


Aku hanya terdiam mendengar Lingga bicara!! Pikiranku traveling ke arah negative, aku takut kehilangan ke dua duanya.


Ghiffar memeluku yang duduk terdiam di kursi tunggu. Dia dan Lingga berusaha menenagka aku.


Ghiffar memberikan minum ke padaku dengan tangan yang masih suci dari dosa.


" minum dulu yaah! Nanti sakit loh"


" ia a. Minum dulu! Ucap Lingga"


Aku segera mengambil air dari Ghiffar dan meminumnya. Tanganku gemetar dan juga lemas memegang botol air yang di berikan Ghiffar.


Lingga membantuku untuk meminumnya. Aku bisa minum dengan di bantu Lingga.


Detil demi detik, berganti menit dan jam. Akhirnya terdengar pintu terbuka dari ruangan oprasi.


Dokter keluar dengan nada lemas memanggilku! Dokter mengaluarkan sarung tangan bekas oprasi, dan membuka masker yang berada ada wajahnya.


Aku, Lingga dan Ghiffar menghampiri Dokter.


" Pa.Achsand dengan berat hati saya khususnya selaku dokter menyampaikan maaf."


" kami tak bisa menyelamatkan ibu Tresha"


" kami sudah berusaha sekuat dan semampu kami!"


" sekali lagi.. Saya minta maaf"

__ADS_1


Aku terdiam mematung tak bisa berbicara! Aku seperti di sambar petir di siang bolong. Baru saja aku menunggu Tresha berjuang melahirkan, sekarang Tresha tidak terselamatkan dan meninggal dunia.


Terdengar teriakan Giiffaf menangis dan berusaha masuk kedalam. Dia meronta ronta di teras menangisi kepergian ibunya. Aku segera menenangkan dia, dengan membangunkan dan memeluknya


" bayinya gimana dok?? Apakah selamat" Tanya Lingga"


" bayinya sedang kami lakukan penanganan"


" berdoa saja, semoga bayinya selamat!ucap dokter sambil meninggalkan kami dan masuk keruang oprasi kembali.


Terlihat ibu datang! Lingga menjelaskan ke ibu tentang kenyataannya!


Ibu menenangkan Ghiffar yang sedang menangis dan meronta ronta karena kepergian Tresha.


Tak lama setelah itu. Terdengar dokter memanggil kami! Kami segera mengahampiri dokter.


" gimana keadaan bayinya Dok? Ucap ibu"


" bayinya selamat dan berjenis kelamin perempuan"


Kami semua masuk kedalam ruangan! Terlihat Tresha sudah tidak bernyawa dengan berbaring di tutupi kain putih.


Aku membuka kain putih tersebut. Terlihat wanita yang sangat kucintai terkubur tak bernyawa. Aku mencium pipi yang pucat pasi dan dingin. Ghiffar terus berteriak dan meronta ronta.


Ibu terus mencengangkan Ghiffar dengan Lingga.


Aku tak percaya yang terjadi denganku sekarang. Banyak pertanyaan pertanyaa timbul dalam benaku.


********


Suara sirine mobil ambulan menemani kepulangan kami. Terlihat di rumah ibu banyak keluarga, teman dan sahabat serta tetangga dekat yang sudah menunggu kedatangan almarhum Tresha.


Mayat Tresha di bawa kedalam rumah dan langsung segera dimandikan. Keluarga dan sehabat dekatku mencanangkan aku dan Ghiffar.


Aku menangis sejadi jadinya mengingat kenangan setelah melihat foto kebersamaan kami di dinding.


Setelah itu Tresha di kafani. Aku dan Ghiffar menangis sejadi jadinya.


Terlihat saudara, teman dan tetangga memberi penghormatan terakhir dengan membacakan yasin bersama sama.


Jenazah Tresha dimasukan kedalam keranda, akan di bawa ke mesjid untuk di solatkan.


Didalam masjid suasana berdesakan desakan! Banyak keluarga, sahabat dan ibu ibu pengajian yang ikut mau menyolatkan.


Karena Tresha semenjak aku di Surabaya adalah ketua ibu ibu majelis taklim.


Setelah itu, jenazah Tresha di masukan kembali kedalam keranda dan akan di bawa ketempat peristirahatan yang terakhir, yaitu di makamkan.


Terlihat di pemakan sudah banyak orang yang sudah menunggu Tresha. Aku dan Ghiffar menangis sejadi jadinya, ketika melihat liang kubur yang akan segera Tresha tempati.


Kedua adiku dan guru ngajiku terlihat sudah berada di bawah liang Lahat. Jenazah Tresha di turunkan dari keranda, kemudia dimasukan ke liang lahat.


" aku mau ibu, aku mau ibu"


" Ibu gak boleh mati"


" ghiffar sayang ibu"


" ibuuuuu Jangan tinggalin ghiffar bu" ucap ghiffar teriak dan meronta ronta "


Aku segera turun ke liang Lahat. Aku dan Guru ngajiku memasukan Tresha dan menghalanginya dengan papan. Aku tak kuat dengan pemandangan ini, dan hampir hilang kesadaran.


Teman dan keluarga menariku ke atas dari liang kubur. Tanah di timpakan keliang lahat sambil di injak Injak hingga rata dengan yang aku tapaki.


Guru ngajiku dan yang ada di pemakaman memberi penghormatan terakhir dengan membacakan doa doa.


Terlihat semua mulai meninggalkan kami. tinggal aku, ibu, Ghiffar, kedua adiku, mamanya Lingga dan ibunya Tresha.

__ADS_1


Kami


__ADS_2