
Diperjalanan, masalah rumah tangga mengganggu pikiranku, aku bahkan sampe beberapakali berhenti hanya untuk menghela nafas panjang. Semua terasa sesak didada, pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa bisa kubendung.
Dari kejauhan terlihat jembatan membentang lurus, akupun memutuskan untuk berhenti disana. Terlihat sungai dibawahnya, airnya kotor seperti air gooday moccacino yang selaku aku seduh tiap hari. Lalu aku naik keatas besi penyangga jembatan tersebut dan berteriak sekeras kerasnya.
" tuhaaaaaaaaaan semua ini tak adil bagiku
" engkau maha tahu, engkau pasti tau betapa sakitnyaaa aku
" semua yang kulakukan sia sia selama delapan tahun ini tuhaaaaaan
" TULUSKU menajadi DERITAKU
" bantu aku untuk ikhlas melepasnya,
" hilangkan dihati dan pikiranku bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya
" cintaaaaa ini membunuhku perlahaaaan tuhaaaaaan
"Sejenak kubaringkan tubuhku di rerumputan," Aku merasa bodoh dan tolol, bahkan aku merasa seperti gila, aku mencintai dan hidup bersama orang yang tidak mencintaiku. Aku menyayangi orang yang menyakitiku, dan aku meninggalkan orang yang sangat mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus. Betapa bodohnya aku!!
Apakah semua ini karma dari Rika, dan ketiga mantanku yang lain??. Maafkan aku Tuhan.
Akupun melanjukan perjalananku. Setibanya disamsat aku berjalan keruang Pa. Baur sesuai intruksi Hari. Terlihat orang dengan kepentingan berbeda lalu lalang keluar masuk samsat. Ada yang membayar pajak, ada yang mengurus BBN, ada juga yang sama sepertiku mengurus kendaraan baru. Akupun menyerahkan berkas faktur kepada Pa. Baur diruangannya.
Lalu aku menunggu proses kendaraan tersebut diruang tunggu yang disiapkan Pa. Baur. Tak lama dari itu, Tresha mengechatku via WhatsApp , dia menanyakan keberadaanku, dia khawatir, ditambah Ghiffar ingin bertemu denganku. Tak sudi aku membalas chat nya, lebih baik aku tidur, dan memnonton youtube untuk menghilangkan stressku.
Lagi lagi konsentrasi terpecah, nonton youtube seperti tidak ada gunanya, sudah kulihat channel yang terhoror, tidak ada yang sehoror kisahku. Kupindahkan ke channel yang lucu, tak ada yang selucu tindakanku terhadap Tresha. Akhirnya kumatikan lalu aku merenung.
" kemanapun aku pergi, dimanapun aku berada, masalahku dengan Tresha selalu menghantuiku.
" aku sadar satu satunya jalan adalah perpisahan
" aku berfikir tingkat ketulusan mencintai seseorang adalah dengan membiarkannya dia pergi
" yaa Allaah aku yakin, kau akan mengganti yang buruk dengam yang baik, dan mengganti yang baik dengan yang lebih baik.
Terdengar suara adzan ashar waktu itu, yaa tuhan atas masalahku ini, aku hingga lupa melewatkan sholat dzuhur. Lalu aku bersegera ke mushola untuk melalsanakan sholat. Didalam mushola aku memutuskan untuk menjama dan mengqoshor sholat dzuhur yang terlewat. Yaa Allaah sampai segininya aku menghadapi urusan rumah tanggaku.
Terdengar suara telepon dari Pa. Baur, dia mengabarkan bahwa prosesnya sudah selesai, dia menyuruhku keruangannya untuk mengambil STNK dan Plat nomer kendaraan.
" kamu orang baru yaah, siapa namamu kang??
" ia pak, aku baru hari ini masuk kerja
" aku temennya hari
" ohh temennya hari yaa
__ADS_1
" lain kali kamu harus datang sebelum jam 11 ya,, tadi kamu hampir saja terlambat.
" baik. Paa untuk kedepannya saya akan memperbaiki kesalahanku.
" saya pamit untuk pulang pa
Sorepun tiba, akhirnya aku pulang dengan perasaan yang tak menentu, aku bingung harus pulang kemana sekarang! Apakah aku pulang kerumah ibu, atau kerumah mertua!. Sudah dua hari aku tak bertemu Ghiffar.
Aku tak munafik, aku juga sangat merindukan Tresha dibalik sakit dan kecewa yang aku rasakan ini. Aku berharap ada keajaiban dari semua beban yang aku pikul ini. Aku berharap Tresha berubah, dan rumah tanggaku sakinah, mawadah serta warahmah sampai maut memisahkan.
Tak lama berselang, tresha menelpon menyuruhku agar pulang kerumah mertua, namun aku tolak. Aku menyuruh Tresha dan Ghiffar untuk menginap di rumah ibu. Treshapun mengiyakannya.
Setibanya dirumah ibu, aku putuskan untuk membeli makanan untuk ibu dan yang lainnya. Akupun membeli martabak bangka kesukaanku ibu, lalu kulanjutkan membeli nasi padang untuku dan yang lainnya. Terkhir aku membeli eskrim magnum conelo kesukaan tresha dan Ghiffar.
" Assalamualaikum aa pulang
Terlihat Ghiffar berlari menghampiriku, dia memeluk dan menciumku.
" ayah dua hari ini kemana aja pulang
" dede kangen tau yahh
Akupun balik memeluk dan mencium anaku, tak lupa kuberikan eskrim dan chitato kesukaannya. Terlihat ibu dan Tresha sedang bicara empat mata diruang tamu, entah apa yang mereka bicarakan, mereka terlihat sangat serius sesekali menengok ke arahku. Aku yakin mereka sedang membicarakan hubungan aku dengan Tresha.
" ibu.... Ayo kita makan bareng!
" ini bu aku belikan martabak bangka kesukaan ibu
" ohh ia sha, ini eskrim kesukaan kamu dan akbar, kamu masukin dulu ke kulkas.
" sekarang kita makan sama sama dulu yaa
Akhirnya aku, ibu, adik adiku, Tresha dan Ghiffar makan bersama. Sambil makan aku perhatikan raut muka ibu, ibu terlihat seperti masih kesal. Kulibat Tresha terlihat dari gestur tubuhnya seperti tak nyaman. Beda dengan kedua adiku, mereka sangat menikmati makanannya.
" a gimana tadi perjalanan dan pekerjaannya??
" sangat tidak baik bu, aku gak fokus ketika mengendarai motor, hampir saja aku tadi celaka bu
" Akbar, Hadi, tolong ajak Ghiffar main Ps diatas.
" ibu mau bicara penting sama kakak kalian
Akhirnya kedua adiku membawa Ghiffar keatas.
" Tresha..... Ibu kemarin sudah bicara dengan anak ibu, ibu tanya kedepannya anak ibu mau giman?
" dia menjawab, semua keputusannya ada ditangan kamu, dia tetep pada pendiriannya, dia ta akan mengakhiri apa yang dimulainya.
__ADS_1
" jujur ibu juga sangat kecewa kepadamu, namun apa daya ibu. Kalian yang memelih untuk jalan semua ini, kalian juga yang rasakan akibat dari pilihan kalian.
" sekarang ibu mau tanya, apakah mau terus, apa kamu akhiri semuanya??
Terlihat wajah Tresha pucat pasi setelah mendengar pertanyaan ibu, tubuhnya begertar sesekali menghela nafas panjang. Tresha menatapku namun aku mengabaikannya.
" a..aaa..aku bingung bu, aku tak bisa menjawabnya
" kamu harus tanggung jawab sha,
" kamu harus memberi jawaban sekarang juga, aku butuh kepastian darimu.
" soal Ghiffar biar aku yang tanggung semuanya
" udah a udah,, aa jangan bicara seperti itu
" aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi a, aku tak akan pernah menggugat aa
" jujur aku yang bodoh, aku sudah menyia nyiakan dan menghancurkan kasih sayang serta kepercayaan aa dan ibu
" sekaliagi maafi aku aa, maafin aku ibu
" kasih aku kesempatan sekali lagi
Ibupun menatap ke arahku, akupun merunduk tak bisa berkata kata.
" aku tak bisa memberikan jawaban sha
" kamu tanya aja ibu, aku tak mau salah dan sakit untuk yang kesekian kalinya
" Tresha... ibu tau aa sangat menyayang dan mencintaimu dengan tulus,
" sakit yang ia rasakan selama ini, ibu juga merasakannya
" kalau ini terjadi sama lelaki lain, ibu gak tau bakal seperti apa!
" ibu cuma mau titip pesan untukmu Tresha
" jangan sia siakaa anak ibu,
" ibu izinkan kamu untuk memperbaiki semuanya
" sekali lagi ingat jangan sia siakan anak ibu
Tresha memeluk dan tersungkur dilutut ibu, dengan terbata bata dia mengucapkan terima kasih.
Dan akupun berlalu pergi kekamarku...
__ADS_1