
Seminggu kemudian ( Surabaya ).
Rena menjemputku ke Bandara. Dia perjalanan menuju pulang, Rena menceritakan selama tidak aku dia kewalahan dalam bekerja mengawasi para pekerja yang selalu menggodanya.
Dia mengatakan jadi pengawas lapangan itu tak semudah yang ia pikirkan.
" aku sebal banget mas, apalagi si Hamid yang orang Lampung itu mas"
" Yang gendut, mantan napi itu??"
" ia mas!" dengan muka kesal"
" emang kenapa dengan dia??"
" dia itu mentang mentang bagus dalam bekerja, dia seperti mandor gitu! Dia nyuruh nyuruh pekerja yang lain!"
" dia diam saja!! Telunjuknya yang bekerja"
" giliran ada kamu dan aku dia pura pura kerja keras"
" Apa dia kita kita bego apa??"
" kita kan ada cctv!! Liat aja entar, aku mau papah memecat dia mas!! Dia jadi benalu bagi pekerja yang lain sama dengan si Uef"
Rena terlihat murka benar benar. Jangankan Rena, akupun tidak suka dengan Hamid dan Uef. Namun apa daya, Mereka itu pekerja andalan ayahnya Rena.
" pokoknya aku gak mau tau! Pecat mereka berdua. Atau aku gak mau bekerja lagi untuk selamanya titik " ucap Rena dengan nafas terengah engah.
Akhirnya aku dan Rena tiba di kantor ayah Rena. Terlihat Rena keluar dengan terburu buru dengan ekspresi muka yang sangat kesal. Dia masuk kedalam dan tak menghiraukan ke berada ku, aku segera turun dan mengikuti Rena dari belakang.
Dug Dug Dug... Rena mengetuk pintu ruangan ayahnya.
" pokoknya aku gak bakalan mau bekerja lagi kalau Hamid dan Uef masih ada di perusahaan kita! Ucap Rena ke ayahnya"
" kamu kenapa Ren?? Ucap ayahnya" yang sedang merokok menghadap laptop"
" baru datang, masuk dan marah marah" ucapnya dengan ketus"
" aku gak suka sama mereka pah!!"
" papah jangan liat mereka dari pekerjaannya, tapi juga liat dari attitude mereka pah"
" mereka jadi benalu bagi pekerja yang lain"
" dia juga kurang ajar sama aku pah"
" sekarang apaph pilih mereka yang di keluarkan, apa aku dan pekerja yang lain yang keluar "
" loh loh. Tenang dulu sayang"
" galak banget anak papah! Ucap ayahnya dengan becanda"
Ayahnya Rena sebenarnya tau kelakuan dari kedua pekerjanya itu. Sudah banyak laporan negative yang masuk, namun ayahnya Rena tak tega dengan mereka.
" oke sekarang papah bisa pecat mereka"
" tapi dengan satu syarat "
" Apa pah??" ucap Rena dengan senang "
" papah ingin kamu segera menikah Rena"
" apaaaaa??? Nikah!!!"
" sama siapa pah?? Rena belum punya calon pah" ucap Rena terkeju"
" kamu itu belum punya calon, tp tiap hari bareng Achsand!!"
" ayah itu bukan anak kecil Rena!!"
__ADS_1
" kamu suka kan sama Achsand??"
Aku dan Rena terkejut mendengar kata kata yang keluar dari mulut Pa.dahlan.
" maksud bapak apa yaa pak??"
" ia sand!! Kamu mau aku nikahin sama anak gak?"
" saya lihat kalian sudah ada benih benih cinta dari awal."
" apalagi kamu Rena!" ketika gak ada achsand kamu seperti orang sakau"
Aku bener benar tak menduga bakal kejadian seperti ini. Aku dan Rena saling menatap.
" ayah sudah tua Rena"
" hidup ayah tak akan lama lagi kayanya!! Ayah sering sakit sakitan"
" sebelum ayah meninggal. Ayah Mau gendong cucu dari kamu nak"
" perusahaan juga mau siapa yang pegang, kalau bukan kamu sama calon suamimu??"
" ayah percaya, achsand bisa menjadi pemimpin di perusahaan ini dan menjadi suami idaman buat kamu"
Mendengar itu Rena tersenyum tersipu malu. Rena menatapku dengan penuh harapan aku mengiyakan ke inginkan ayahnya.
Aku tak memungkiri, aku juga mau menjadi suaminya. Namun aku bingung menjelaskan kepada mereka.
Sebenarnya aku sudah mempunyai istri, dan anaku sudah tiga. Seandainya mereka tau, pasti mereka tidak akan mau dan sudi meneriaki. Ayah mana yang anaknya mau di duakan, dan wanita mana yang mau di adu, klau bukan Lingga dan Tresha gumam ku dalam hati.
" kalo yah bilang gitu, aku terserah ayah sih" ucap Rena dengan penuh harap"
" Kuncinya ada d mas Achsand sekarang"
" mas mau nikahin aku gak??" dengan nada manja"
" emhh gimana yaah aku jawabnya pak??"
" kamu pikir pikir dulu yaa"
" saya kasih waktu seminggu"
" nanti saya hubungi ibu kamu"
Mati aku " ucapku dalam hati".. Aku ingin segera pergi dan menelepon ibu.
" pak aku permisi ke toilet dulu yaa" sambil berjalan keluar ruangan"
Aku segera menelepon ibu, aku mengatakan apa yang barusan ayah Rena katakan. Aku meminta ibu untuk merahasiakan Statusku.
Ibu terperanjat setelah aku memberi kabar seperti ini.
" kamu serius a"
" kamu yakin??" ini akan kejadian Lingga jilid dua loh a"
" ini bukan kemauanku bu!!"
" semua yang terjadi sama aa, diluar keinginan aa bu"
" ibu juga tau "
" ibu gak mau ikutan"
" Tapi ibu akan dukung aa"
" sama seperti kejadian dengan Lingga"
Aku segera masuk kembali ke ruangan Pa.Dahlan. Terlihat Rena dan ayahnya sedang membicarakanku.
__ADS_1
" ohh ia Ren, besok papah ada undangan pernikahan temen lama papah"
" papaj gak bisa hadir, papah ada banyak urusan!! Jadi papah harap kalian bisa menggantikannya! Nanti ayah kasih tau temen ayah"
" ini kartu undangannya dibawa yaa" kalo gak ada ini, kalian gak bisa masuk"
" maklum orang berpengaruh"
" baik pah"
" ohh ia pah..aku sama mas Achsand pulang duluan yaa!!"
" kasian mas Achsand belum istirahat, pasti capek"
" alah itu alasan kamu kali!! Udah lama gak ketemu pangeranmu kan " hahahahahah
" yo wiss.."
" hati hati dijalannya"
Aku dan Rena segera pergi meninggalkan kantor ayahnya. Aku dan Rena langsung pulang kerumahnya.
" ohh ia Ren.. Aku mau istirahat dulu yaa"
" ia mas"
" ohh ia satu lagi!! Mas pikirin yang papah tadi bicarakan ya?"
" oke "
Aku segera pergi ke kamar, langkahku lemas dan bergetar.
Didalam kamari aku berbaring dan menatap langit langit seperti biasanya. Aku menghisap sebatang rokok untuk menghilangkan stress.
" aku harus bagaimana tuhan?"
" baru saja aku di tinggal kematian Tresha"
" aku juga baru mempunyai dua anak bayi"
" sekarang aku di tawari untuk menikah lagi"
" Apa yang harus aku lakukan Tuhan?"
Aku bingung memberi tau Lingga kenyataan ini, dia pasti tidak bakalan menerima.
Namun aku juga tidak munafik, aku juga mencintai Rena.
Dan andaikan Lingga mengizinkan, apakah Rena dan ayahnya mau menerima keadaanku?
Ini gak bakalan terjadi untuk yang kedua kalinya untuku berpoligami.
Namun aku harus mengatakan yang sebenarnya tentangku ke Rena dan ayahnya.
Aku segera mematikan rokok, aku berjalan ke kamar mandi sambil menenteng membawa handuk.
Tok tok tok.. Mas Achsand " ucap Rena dari balik pintu"
Aku segera membuka pintu.
" ia gimana Ren??"
Rena langsung memeluku! Dia menangis tersedu sedu.
" kamu kenapa Ren??"
" aku kangen banget sama kamu mas"
" selama tidak Ada kamu, aku tersiksa rindu mas"
__ADS_1
" kirain ada apa"
Aku dan rena