
Hari mengabarkan ayah dibawa keruang ICU. Aku mengajak ibu pergi ke mushola untuk menunaikan sholat hajat dan berdoa untuk kesembuhan ayah, lalu aku berpesan dan menyuruh hari untuk menunggu dlruang tunggu.
Dijalan menuju mushola, ibu bertanya kenapa tadi aku begitu yakin bahwa ayah belum meninggal. akupun tak mengerti dengan semua ini, begitu keras keinginan hati menolak bahwa ayah itu belum mati. Lalu kuceritakan pada ibu, sebelum kejadian aku mencium bau yang aneh. kutanya ibu apakah dia memciumnya, ternyata ibu juga tak mencium baunya.
Setiba dimushola, ibu ketoilet dan berwudhu, sedangkan aku duduk sejenak dikursi kayu. Tiba tiba bau itu tercium kembali, segera aku ambil wudhu dan masuk. Kedalam mushola. Aku tunaikan sholat, taubat, sholat hajat, dan sholat istikhoroh. Kemudian kulanjutkan berdzikir dan meRuqyah diri sendiri.
*******
Keesokan harinya, tepat pukul 11.00 wib, aku mendapatkan kabar dari hari bahwa ayah sudah sadar, mendengar kabar itu, aku dan segera menghampiri ayah diruang ICU.
Kubuka pintu ruang ICU terlihat ayah sedang duduk ditempat tidur, terlihat cairan infus yang menempel ditangan serta selang oksigen yang sedang dihirupnya, aku dan ibu memeluk dan mencium ayaah.
" ayah kenapa bu??,. Kenapa ayah ada dirumah sakit?? " dengan suara lirih
" ayah tadi malam pingsan" udah yaa, ayah jangan dulu banyak bergerak, nanti kalau udah dirumah ibu ceritain.
Terlihat dilayar komputer detak jantung ayah naik turun tidak stabil. Lalu ayah menyuruhku untuk mendekatkan telinga, ayah memberi isyarat dan berbisik " buka hp ayah".
Ku telpon Tresha, aku menyuruh dia untuk membuka pesan atau panggilan masuk. Tak lama berselang Tresha mengabari, bahwa pesan kotak masuk ayah mendapat ancaman dari wartawan dan rekan kerjanya. Aku menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sambil beistighfar.
Kesokan harinya kamipun pulang, ketika kami baru datang terlihat jelas tetangga dekat sudah berkumpul dirumah ayah, pikirku mereka mungkin mau menjenguk ayah. Benar saja ketika aku keluar memapah ayah, sebagian dari mereka langsung membantu membopong ayah masuk kedalam.
__ADS_1
*******
Untuk menjaga kesehatan ayah, akhirnya aku dan ibu memutuskan untuk membeli rumah didekat kantor tempat ayah bekerja, ayahpun menyetujuinya.
Tiga bulan berlalu. Tibala tiba datang sepasang paruh baya bertamu kerumah, terlihat dia memarkirkan mobil baknya dipinggir jendela dekat kamarku, didalamnya terdapat banyak sembako, daging, sayur serta buah buahan. Tanyaku dalam hati mereka itu siapa.
Terdengar suara mengucapkan salam dipintu depan, ibu terlihat menengok dari jendela. Kami merasa aneh, karna kami belum memberitahu teman atau rekan kerja ayah kami pindah kesini. Lalu ayah terbangun dari tidurnya dan menanyakan " kalian sedang apa didekat jendela?.
Lalu ayah mendekat dan menegok kejendela, ayahpun kaget, ternyata orang yang datang tersebut adalah orang yang mengancam ayah waktu ayah masuk rumah sakit
Seketika itu amarah memuncak, namun Tresha melarangku.
Tresha kedapur mengambil air dan kue kue untuk menyuguhi mereka. Merekapun berbincang bincang dengan ayahbdan ibu, terdengar mereka meminta maaf kepada ayah atas ancamannya waktu itu. ayah dan ibupum memaafkan mereka.
Tiba tiba ayah bertanya kepada mereka darimana mereka tau kami sudah pindah dan berada disini, terlihat wajah mereka kaget dan mereka menjelaskan dengan terbata bata disertai dengan jawaban yang tak masuk akal.
Lalu mereka mengalihkan pembicaraan mereka, mereka menjelaskna kedatangan mereka kerumah untuk meminta maaf dan merekapun memberikan semua yang ada dimobil bak untuk kami. Merekapun pergi keluar dan menurunkan semuanya. Mereka memohon agar pemberiannya diterima, ayahpun mengamininya. Ayah menyuruh kedua adiku untuk memasukan semua kegarasi, setelah itub Merekapun pamit untuk pulang.
Selepas mereka pulang, tercium bau aneh yang waktu itu aku cium. Lalu aku menjelaskan ke ayah dan ibuku kejadian waktu ayah masuk rumah sakit. Akupun melarang ayah untuk memakan makanan yang mereka beri tadi. Biar aku saja yang memakannya.
Malampun tiba, kami kedatangan Hendra anak dari pamanku. Bersamaan itu ayah minta dipijit utuk menghilangkan pegal pegal kepada hendra, dan hendrapun mengiyakannya.
__ADS_1
Lalu kami menonton telivisi, kebetulan waktu itu ada pertandingan Persib Bandung vs Persik Kediri. Ibu dan Tresha pergi kedapur untuk memasak makanan pemberian tadi. Aku sudah melarang mereka, namun ibu bilang jangan bersuudzon dan menolak rezeki. Akupun tak bisa berbuat apa apa. Tak lama berselang ibu membawakan Tulang Kaki Sapi kesukaan ayah, dan ayahpun memakannya.
Terlihat ayah begitu senang ketika persib menang, dia dengan bangga memakai baju jersey Persib Bandung. Aku dan Tresha pun berlalu pergi kekamar atas untuk tidur, terlihat anaku Ghiffa sudah pulas dengan makanan yang masih ia pegang, lalu kamipun tidur.
Ditengah malam aku terbangun oleh suara yang keras, suara itu seperti batu yang menghantam genting, bersama dengan itu tercium kembali bau yang menyengat waktu itu, akupun membangunkan Tresha.
Aaa aaaa aaaaaa.....akbar, hadi Cepat kesini, terdengar suara ibu bertriak memanggil kami. Lalu kamipun turun dan menghampiri ayah dan ibu dikamar terlihat ayah seperti waktu itu, kali ini lebih parah. Sepertinya kali ini benar ayah sedang menghadapi sakaratu maut.
Terlihat mata ayah melotot mengarah keatas, disertai kejang dan busa yang keluar dari mulutnya. Lalu aku menyuruh ibu, hendra dan kedua adiku untuk membopong ayah masuk kedalam mobil, tresha kusuruh untuk menjaga rumah Ghiffar. Lalu aku mengeluarkan mobil dari garasi untuk membawa ayah ke RS Al-ihsan Baleendah.
Diperjalanan otaku traveling kemana mana, lalu ibu menyarankan aku agar tetap tenang dan fokus mengendarai mobil, terdengar suara batuk yang sangat keras dari ayah disertai keluar darah yang muncrat kebajuku.
Setibanya dirumah sakit, ayah kembali dibawa keruang IGD. Waktu itu, entah kenapa firasatku kali ini ayah akan benar benar meninggal. Entah kenapa aku begitu yakin, tak seperti waktu itu.
Tak lama berselang terlihat suster menghampiri kami,. Suster itu memberi kabar bahwa ayah sudah meninggal dunia. Mendengar itu seketika sekujur tubuhku gemetar, air mata jatuh tak tertahankan, ibu dan adik adiku berteriak histeris dan berlari menuju ruang IGD.
Kuberjalan dengan tergesa gesa, sambil memberi kanar lewat telpon kepada Tresha dan keluargaku yang lain. Hatiku merasa sulit menerima semua ini, aku juga masih belum percaya dengan kepergian ayah yang begitu cepat. Baru beberapa jam kami makan, mengobrol dan nonton bersama. Sekarang ayah sudah tiada.
Terlihat Tresha dan ghiffar sudah dipintu keluar rumah sakit, Suara sirine dari ambulanpun bergema, aku dan ibu memutuskan membawa ayah kerumah yang dulu. Lalu kutelpon hari dan ali untuk mempersiapkan segelanya, tak lupa aku telpon guru ngajiku dan tokoh masyarakat disana mengabarkan berita kematian ayah.
Sesampainya disana, aku dikagetkan dengan..........
__ADS_1