
Hari pernikahan pun tiba. Kami sekarang berada di Vila ayahnya Lingga, suasana dingin seperti es terasa. Bukan tanpa sebab pernikahan aku dan Lingga di gelar disini, ini semata mayan agar orang terdekat kami tidak tau. Dan rencananya aku, Tresha, Lingaa dan Ghiffar akan berada disini sampai bayi Lingga lahir.
Dari pihaku sebagai mempelai pria, hanya disaksikan ibu dan kedua adiku dari. Sedangkan di pihak perempuan, ibunya Lingga, ayahnya Lingga beserta ibu tirinya. Pihak lain yang hadir, guru ngajiku dan seperangkat petugas KUA.
Aku sebenarnya malu pernikahan ini tak mengundang keluarga atau teman dan sahabat dekatku, mertua bilang ini sebagai syarat saja. Di samping untuk menutupi kehamilan Lingga juga.
Terlihat ayahnya Lingga, dia sebenarnya menentang pernikahan ini. Aku sangat mengerti perasaannya, ayah mana yang mau anak semata wayang ya di nikahi pria yang sudah beristri.
Yang aku salut disini adalah Tresha, entah apa yang membuatnya setegar ini. Kalau aku berada di posisinya, lebih baik aku berpisah daripada di madu, aku tak kan berfikir tentang anak, karena sudah pasti anak itu kewajiban orang tuanya terkhusus ayahnya.
Ibu terlihat dilema, entah harus senang atau sedih dengan kenyataan ini. Beban memang, namun ini sudah terlanjur. Ini juga bukan keputusan sepihak, ini keputusan bersama.
Acara ijab qobul pun akan segera di mulai, aku dan Lingga duduk berdampingan. Lingga terlihat cantik, meski hanya berdandan sederhana. Dia hanya memakai kebaya putih di padukan dengan sarung tiga negri yang melilit di pinggangnya.
Tresha kemudian memasangkan kain di kepalaku dan kepala Lingga. Dan ijab qabu pun dimulai.
Tanganku bersalaman dengan ayahnya Lingga, kemudian petugas KUA membimbing ayahnya Lingga berkata kata menikahkanku aku, dengan wajah kesal ayah nya menatap dan merelakan menikahkanku dengan Lingga.
" saya terima nikah dan kawinnya Lingga binti Munadiyan dengan seperangkat alat sholat dan emas 12,5 gram di bayar kontan "
Akhirnya aku dan Lingga sah menjadi suami istri, di bawah doa yang di ucapkan guru ngajiku aku menangis tersedu sedu. Terlihat semua tidak memasang wajah senang, mereka terlihat bingung. Apalagi Tresha, dia menjadi saksi suaminya menikah menduakan cintanya.
Semua beranjak pergi setelah acara ijab qabul dan makan makan selesai. tinggal Aku Lingga Ghiffar dan Tresha beserta asisten rumah tangganya.
Suasana seketika hening malam ini, kami bertiga saling menatap satu sama lain, tiba tiba.
" aa kamu dan Lingga tidur aja berdua "
" biar aku dikamar bawah, seperti yang sudah sudah "
" tapi sha"
__ADS_1
" aa gak boleh begitu, ini hari pernikahan kalian"
" aa jangan liat aku "
" aku gak apa apa "
" ohh iaa.. Kamu bawa aa ke atas Lingga "
" maafin aku yaa Sha "
" sudah cepet pergi kesana, ini hari kebahagian kalian "
Kemudian Tresha beranjak pergi meninggalkan kami, terlihat dia membalikan badan dengan tangisan yang membasahi kedua pipinya. Aku tak tega melihat Tresha begini, tapi. Entahlah.
Lingga menuntuntunku ke kamar atas , terlihat kamar sudah di desain untuk aku dan Lingga. Aku berbaring dangan memijit mijit kening dan alisku di atas ranjang. Kemudian Lingga menghampiri aku dan menyandarkan kepalanya di dada bidangku"
" sayang kenapa suasananya jadi begini ya??
"semua terasa panas, tak karuan dan membingungkan "
Kemudian Lingga memasukan tangannya kedalam Boxerku, dia memegang dan memainkan burung peliaraanku! Dia menjulurkan dan memainkan lidahnya di ares dada bidangku.
Lingga melucuti semua semua pakaianku, dan duduk di atas perutku! Aku yang terpancing, segera aku membuka kebaya dan sarung tiga negerinya.
Aku baringkan dia secara perlahan, aku memainkan lidahku di area gunung kembar miliknya, sambil memainkan jari jemariku di rumah kerang miliknya. Terdengar suara manja yang ke luar dari mulut Lingga, membuatku semakin bersemangat.
Lidah ku meliak liuk dari gunung kembarnya sampai ke pusar, kemudia lidahku memainkan mutiara kerang ajaib milik Lingga sambil mempermainkan penutup kedua gunung kembarnya.
Teihat Lingga menengadahkan kepala keatas, dengan.matanyang terpejam dan dengan suara yang merdu, dia bergerak gerak dan sesekali menggoyangkan badannya. Kemudian Lingga membantuku dengan membukakan rumah kerang ajaib dengan kedua tangannya, agar aku lebih leluasa memainkan mutiaranya .
" iyah begitu a, emhh emhh ahhhh "
__ADS_1
" remas lebih keras lagi a, ,iah iyah iyah emhh "
" main tutuo gunungnya a "
" iyah a, terus terus terus a, lebih kenceng lagi a"
" Iyah iyah iyah ahhhhjhhhhhhhhhhhh "
Terlihat Lingga lemas bergerak gerak dengan nafas yang terengah engah, lingga sudah mencapai titik kenikmatan duluan. Kemudian aku memasukan burung peliaraanku kendala rumah kerang ajaib Lingga. Aku peluk dengan erat, kemudian Lingga memeluku dan menyimpan dagunya dibahuku.
Aku gerakan dengan kecepatan sedang awalnya, sehingga menimbulkan suara dan nada merdu dari Lingga. Kemudian Lingga menyilangkan ke dua kakinya di belakangku, aku gerakan ke atas kebawah dengan sangat cepat.
Lingga menjerit jerit ke enakan dengan kecepatan seperti itu, sehingga membuat nadanya tak beraturan. Kemudian kami saling bersilat lidah, dan saling beradu indra perasa di area mulutnya. Lingaa mencengkram dan mencakar punggungku karena ke enakan.
" lebih keras lagi a, iah iah iah "
" ahhhhhhhhhhbb"
Terdengar Lingga sudah mencapai finis dua kali, aku menyuruh Lingga untuk berubah posisi, aku suruh dia untuk nungging.
Kemudian kumasukan burung peliaraanku kedalam rumah kerang ajaibnya, aku jambak rambutnya, sehingga Lingga menengadahkan kepalanya keatas, di iringi suara merdu. Aku gerakan kedepan dan belakang dengan.kecepatan sangat tinggi sehingga menimbulkan suara aneh dari benturan burung peliaaraanku dengan rumah ajaib milik Lingga ( plook plok plok plok ).
Aku lepaskan jambakanku, dam memainkan dua tutup gunung kembarnya, lagi lagi Lingga menjerit ke enakan.
"Iyah iyah a terus a terus terus a, iah begitu"
Aku lepaskan jari jemariku dari gunung kembarnya, kemudian aku tarik kedua tangan Lingga ke belakang, aku tambah kecepatan burung peiaraanku dengan kecepatan sangat tinggi. Sampai sampai Lingga menaruh keningnya di ranjang karena sudah lemas. Kemudian aku berhenti sejenak, dan melepaskan burung peliaraanku.
Terdengar suara aneh seperti kentut dari rumah kerang ajaib milik Lingga ketika aku melapaskan burung peliaraanku. Kami berdua tertawa akibat suara tersebut.
Kemudian aku berbaring terlentang, kemudian Lingga memasukan burung peliaraanku kedalam rumah kerang ajaib miliknya, dia bergoyang sesekali menggesek gesekan mutiara kerang ajaib miliknya. Terlihat gunung kembarnya bergerak keatas kebawah, kemudia aku pegang den memainkan jari jemariku di kedua penutup gunung kembar miliknya.
__ADS_1
Lingga menengadahkan kepalanya ke atas dengan seura merdu dan mata terpejam. Kemudian aku suruh Lingga untuk bergoyang lebih cepat. Lingga memegang kedua lutuutku dan bergoyang dengan kecepatan tinggi. Dan ahhhhhhhh ahhhhb ahhhh akhirnya burung peliaraanku muntah di rumah kerang ajaib milik Lingga.
Lingga masih bergoyang goyang perlahan, dengan mata masih terpejam.. Kemudian dia duduk dan mengambil Cdnya untuk mengelap bekas muntahan burung peliaraanku .