
Malam itu, Hanifa dan Angkasa menginap di pesantren. Memang telah di sediakan kamar khusus bagi tamu yang kebetulan membutuhkan tempat untuk beristirahat.
Karena memang banyak keluarga santri yang berasal dari luar kota. Bahkan, ada juga beberapa yang dari luar negeri misalnya, negara serumpun.
"Hasna mau tidur sama Bunda, gak mau di kamar asrama," pinta Hasna dengan tatapan memohon..
"Tapi sayang, setidaknya mulai malam ini kamu harus membiasakan dirimu untuk tidur di kamar asrama bersama para santriwati yang lain. Sekalian memperkenalkan diri," saran Hanifa menasihati putrinya itu.
"Justru itu, karena kedepannya aku bakalan jarang ketemu Bunda. Jadi, untuk makan ini ijinkan Hasna tidur sama Bunda ya," rengek Hasna.
Hanifa yang melihat hal tak biasa dari putrinya ini pun akhirnya mengiyakan. Benar juga kata Hasna menurutnya.
Mereka pun tidur berduaan. Bahkan Hasna memeluk tubuhnya. Timbul sedikit rasa tak tega dalam hati Hanifa. Putrinya selama ini yang selalu kurang perhatian darinya. Kini, justru semakin jauh dari sisinya.
Akan tetapi, sekali lagi apa langkah yang ia ambil adalah demi kebaikan Hasna sendiri. Sebagai seorang ibu, tentunya Hanifa risau dengan segala kelakuan Hasna yang selalu memperdulikan orang lain ketimbang dirinya.
Hanifa berharap, dengan berada dan menuntut ilmu di sini, Hasna bisa mengerti untuk menerima takdir hidupnya. Menghapus kebenciannya terhadap kaum laki-laki.
"Sayang, bunda berharap kau menemukan arti hidup dan jati dirimu di sini. Semoga kau semakin mengerti dan menerima takdir hidupmu," bisik Hanifa lembut di telinga Hasna yang telah pulas terpejam.
Keesokan pagi, Hasna harus merelakan perpisahan sementaranya dengan sang bunda. Sekalipun, selama ini gadis itu memang jarang bersama dengan keluarganya. Lantaran Hanifa dan Angkasa sibuk dengan jadwal dakwahnya.
Akan tetapi, Hasna merasa dirinya kali ini seakan benar-benar di buang menjauh. Belum apa-apa, Hasna sudah mulai merasa kesepian.
Hasna, jangan terlalu merisaukan masa depan. Jalani saja. Siapa tau kau betah di sini. 😁
Tempat ini benar-benar asing baginya. Hasna tidak seperti sang kakak yang dengan keinginannya sendiri menuntut ilmu Islam hingga ke luar negeri.
"Saudaraku, titip cucu kesayanganku ya. Semoga, rencana kita berjalan lancar," ucap Angkasa seraya merangkul kyai Faisal.
"Insyaallah. Tenanglah. Di sini aman, banyak pembimbing dan pembina. Lagipula, Musa akan secara langsung mengajar di kelas pemula. Mereka akan sering berinteraksi," jelas Kyai Faisal, sang pemilik pondok pesantren tersebut.
Hasna akhirnya melepas kepergian keluarganya itu dengan senyum. Satu yang dia pikirkan saat ini. Semoga Mila dan kawan-kawannya baik-baik saja di kampus.
__ADS_1
Dirinya takkan bisa dengan bebas keluar setelah berasa di dalam pondok pesantren ini. Bahkan, menggunakan ponsel pun takkan lagi sebebas biasanya. Semua akan ada aturannya mulai sekarang.
Huftt!
Hasna menghela napas untuk memulai harinya.
"Lo pasti bisa Hasna. Tempat ini bukan sebuah penjara maupun rumah tahanan. Lo pasti bisa survive," batinnya.
"Mari Nak. Sebentar lagi kelasmu akan di mulai," ajak Ning Khumaira. Wanita paruh baya yang mengenakan niqob seperti sang bunda tiba-tiba merangkul lengannya.
Hasna masuk ke dalam kamarnya lebih dulu untuk mengambil semua kebutuhan belajar. Dua orang gadis yang merupakan teman sekamarnya nampak berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Um, aku Hasna," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Oh, aku Syifa."
"Dan aku, Sarah."
Mereka pun berjabat tangan dan tersenyum.
"Yok, cepet. Kelas sebentar lagi di mulai. Aku udah gak sabar mau ketemu gus tampan," ajak Sarah.
Mendengar ucapan kawan barunya itu, Hasna pun menepuk keningnya. Mungkin, semua lebih sulit dari dugaannya. Wanita bucin terhadap pria tanpa ternyata ada di mana-mana. Termasuk dalam lingkungan yang selalu membatasi ini-itu dengan segala peraturannya.
"Kenapa yang mengajar harus laki-laki. Bukankah, kita harus menjaga pandangan?" tanya Hasna.
"Ustadz hanya akan mengajar beberapa pelajaran tertentu. Selebihnya kita hanya akan di ajar oleh Ustadjah, apalagi mengenai fiqih," jelas Syifa.
"Hemm." Hasna hanya menjawab singkat dan seadanya.
Kebetulan Hasna hanya sekamar bertiga. Sementara yang lain minimal satu kamar itu berenam.
"Kenapa kita cuma bertiga? Padahal, aku lihat kasurnya ada enam, lemari juga?" cecar Hasna pada dua kawan barunya ini.
__ADS_1
"Sebenarnya sebelum kamu datang ada enam teman kami. Tapi mereka sudah lebih dulu pulang karena sesuatu hal," jawab Sarah.
"Apa itu? Bukankah tiap kelas akan di sesuaikan kamarnya?" telisik Hasna lagi.
"Em, katanya sih, menurut kabar yang aku dengar beberapa dari mereka di jodohkan, lalu menikah." Kali ini tiba giliran, Syifa yang menjawab.
Hasna pun bergidik acap kali mendengar kata di jodohkan. Baginya, yang mendapatkan pasangan dengan cara mencari sendiri saja belum tentu benar. Apalagi jika di jodohkan. Begitulah menurut pemikiran Hasna.
"Kenapa, Na. Kok kamu bergidik gitu?" tanya Syifa heran.
"Menikah, adalah hal yang paling mengerikan dalam hidup!" celetuk Hasna. " Apalagi, kalau sampai di jodohkan oleh orang tua, hiii ... horor banget," tambah Hasna lagi.
Syifa dan Sarah pun melongo bersamaan. Mereka tidak menyangka di balik kesan Hasna yang manis dan humblel ternyata gadis ini takut menikah.
"Kenapa ekspresi kalian berdua kayak gitu? Kalian pikir nikah itu enak? Ck, jangan liat yang manis dan uwwu-nya aja. Banyak duka dan pahit di dalam hubungan itu. Dan kalian tau, yang terkena imbasnya bukan hanya pasangan dari suami istri tersebut, tapi ... juga orang lain, termasuk anak-anak," oceh Hasna dengan mendramatisir nada bicaranya. Sehingga, kedua temannya ini menelan ludah susah.
"Maksud kamu, gimana sih, Na? Kok aku dengernya kayak ngeri jadinya. Padahal, aku niat mau minta jodoh sama Allah. Aku ... mau nikah muda," ungkap Sarah.
"Intinya, jangan pernah mengambil keputusan itu secara singkat. Pikirkan matang-matang. Pernikahan itu menghalalkan dua insan dalam hubungan yang Allah ridho. Bukan perihal menyatukan dua hati saja, karena banyak hati di sana. Ada orang tua dan juga sanak saudara. Setelah menikah, juga akan ada hati baru yang harus kalian jaga. Yaitu, anak-anak," jelas Hasna.
Mereka berdua berjalan sangat lambat karena Syifa dan Sarah sedang menelaah kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut kawan baru mereka ini. Dan, semuanya masuk akal.
"Apa kalian pernah terpikirkan hal itu ketika memutuskan untuk menikah? Udah paham emang nikah itu apa? Apa kalian cuma mikir kisah romantisnya aja? Makan sepiring berdua, mandi satu bejana berdua? Cih, itu adalah hal yang menjijikan dan terlalu drama!" tambah Hasna lagi.
"Ya, ku pikir menikah adalah salah satu jalan pacaran halal. Wadah untuk merasakan nikmatnya surga dunia," timpal Sarah.
"Tapi, salah pilih orang ... bisa jadi ... neraka!" jelas Hasna lagi dengan mendramatisir suara dan juga ekspresi wajahnya.
Hingga hal itu membuat kedua kawannya ini, bergidik ngeri.
Melihat raut wajah kawannya yang mendadak berubah itu, membuat Hasna tersenyum samar.
"Dasar korban Drakor!" batin Hasna.
__ADS_1
Bersambung