Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 43# Hasna Terima


__ADS_3

"Kau ini!" Kyai Faisal menyabet asal putra keduanya dengan sorban. Karena Gus Musa terus saja meledak Mas-nya.


"Apa kamu sudah sungguh-sungguh ikhlas dan ridho, jika Mas-mu yang akan mengkhitbah Hasna?" tanya Kyai Faisal sekali lagi untuk memastikan.


"Ikhlas dong, Abi. Nanti juga jodoh Musa dateng. Liat aja," jawab Putra keduanya itu.


"Aamiin. Tapi, janji kamu jangan nangis ya pas liat Mas-mu ijab kabul dan menyebut nama Hasna," ucap Kyai Faisal lagi.


"Ngapain nangis. Jodoh Musa dateng sebentar lagi. Nanti kita barengan nikahnya," ucap asal Musa untuk menghibur hatinya saja.


Akan tetapi, ucapannya itu di aamiin-kan dengan serius oleh kedua orang tua dan Gus Amar tentunya. Karena bisa saja dari harapan menjadi kenyataan.


"Semoga harapanmu menjadi kenyataan, Dek. Mas akan senang sekali kalau kita bisa nikah bareng," ucap Gus Amar tulus.


"Aamiin, semoga Allah ijabah doaku. Masa iya Allah tega bikin aku jadi sad boy. Tapi, seandainya enggak pun aku minta Allah kasih aku sabar yang banyak. Biar aku gak iri," ucap Gus Musa yang mana membuat kelurganya tertawa.


Hasna yang baru menginjak tangga ketika, sontak menghentikan langkahnya kala mendengar tawa tengah dari ruang tamu.


"Mereka bahagia sekali. Apa yang tengah mereka tertawakan sebenarnya?" gumam Hasna bertanya seorang diri.


Gadis itu pun kembali memantapkan langkahnya untuk maju Seorang Hasna harus berani menghadapi apapun. Termasuk tantangannya sendiri.


"Tuh, Hasna. Ayo sayang, kita berangkat!" ujar Ning Khumaira yang langsung menyambut Hasna dan menggandeng gadis itu keluar rumah menuju kendaraan mereka.


Mereka berlima pun berangkat menuju rumah sakit. Amar yang menyetir mobil Van milik pesantren ini. Sementara di sebelahnya duduk sang adik tenang. Di kursi belakang Ning Khumaira di apit oleh Hasna dan juga Kyai Faisal.


Tak ada yang bersuara, Hasna lebih memilih membuka aplikasi quran digital dan membacanya pelan.


Ning Khumaira menoleh sebentar ke arah Hasna dan tersenyum. Harapannya memiliki menentu yang cantik, sholih dan unik seperti Hasna sebentar lagi akan Allah wujudkan.


Jika semua terkabul, ia akan menjaga dan menyayangi Hasna seperti putrinya sendiri.


Beberapa jam kemudian mereka semua sampai di rumah sakit. Ponsel Hanifa yang rusak membuat wanita itu tak tau ada rencana yang tersusun pada harga ini. Bahwa dirinya akan kedatangan sang putri bersama keluarga yang akan menghitbahnya langsung.


Akan tetapi, firasat dari Angkasa bekerja.


"Apakah Hasna akan datang hari ini?" tanya Angkasa kepada putrinya. Kini Hanifa dengan membersihkan leher dan wajah pria ini dengan waslap dan air hangat.


"Insyaallah, Pa. Pasti Ning Khumaira akan mengajaknya kesini jika keadaan anak itu sudah benar-benar sehat. Sayang, ponsel Hanifa rusak. Sementara, ponsel papa juga hancur," jawab Hanifa.


"Iya, Papa juga tidak mau kalau Hasna nanti kelelahan. Jarak dari rumah sakit ini ke pesantren cukup jauh. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam lebih dengan mobil. Biarlah, Papa di sini juga baik-baik saja," ucap Angkasa seraya memegangi dada sebelah kirinya.


"Papa kenapa? Apa ada yang sakit? Biar Hanifa panggil perawat ya?" cecar wanita berpakaian serba tertutup itu.


"Tidak, Han. Hanya saja, Papa merasa akan ada hal yang besar terjadi pada hari ini," jelas Angkasa dengan raut yang masih penuh tanda tanya. Karena pria itu tiba-tiba tersenyum.


"Hal besar apa, Pa? Tolong, jangan bikin Hanifa takut dan khawatir," sahut Hanifa yang justru merasa paranoid. Karena, wajah Angkasa begitu berseri-seri.


"Bukan hal yang menyedihkan, Han. Tetapi, hal ini sepertinya akan membuat kita terus tersenyum lebar," jelas Angkasa.

__ADS_1


Jawaban Angkasa barusan membuat Hanifa semakin bertanya-tanya dalam hatinya. Seketika ia berdoa dalam hati agar apa yang di sangkakan oleh sang papa menjadi kenyataan.


"Semoga saja apa yang menjadi firasat Papa adalah hal baik untuk keluarga kita ya," ucap Hanifa penuh harap.


Benar saja, belum rapat bibirnya berbicara. Pintu kamar di ketuk dari luar Hanifa langsung mengenakan niqob-nya.


Klekk.


"Hasna ..,"


"Bunda!"


Ibu dan anak ini pun berpelukan. Hingga, pandangan Hasna beralih ke atas hospital bed.


"Kakek, Bun," ucap Hasna lirih. Hanifa pun mengangguk untuk mengijinkan Hasna mendekati Angkasa.


"Kakek!" panggil Hasna seraya menghambur untuk memeluk raga Angkasa yang banyak di balut perban.


"Kakek kenapa?" tanya Hasna seraya terisak.


"Sayang, sudah jangan mengisi Kakek. Semua sudah lewat, sekarang Kakek baik-baik saja insyaallah," jawab Angkasa dengan suara yang juga bergetar.


"Baik-baik aja dimana. Kepala kakek aja kayak mummi gini," sahut Hasna menimpali dengan tangisan bak anak kecil.


Angkasa yang mau ikut menangis pun jadi tertawa mendengar ucapan polos Hasna.


"Dasar cucu nakal. Masa kakek di bilang mirip mummi," ucap Angkasa seakan merajuk.


"Ang. Bagiamana kabarmu hari ini?" Tiba-tiba, Kyai Faisal maju bersama kedua putranya. Sementara, Ning Khumaira langsung duduk dengan Hanifa dan mengobrol di sana.


"Bolehkan, jika aku meminta putrimu untuk menjadi menantuku," bisik Ning Khumaira yang sudah nampak sekali tak sabaran.


"Afwan, apa maksud Ning?" tanya Hanifa tak mengerti.


"Tunggu saja nanti ya. Biarkan pihak laki-laki yang berbicara," tambah Ning Khumaira lagi membuat Hanifa semakin tak mengerti.


Apakah mungkin ini yang di maksudkan dengan perjodohan yang tengah sang papa sepakati bersama Kyai Faisal? pikirnya.


"Alhamdulillah, keadaanku sudah lebih baik, Fai. Syukron, karena telah menjenguk dan juga membawa cucu ku sekalian. Kau memang saudaraku," ucap Angkasa sungguh-sungguh berterima kasih.


"Kalo kata anak jaman sekarang, santuy aja bro," kelakar Kyai Faisal, yang mana membuat semua orang di dalam ruangan itu tertawa renyah.


Kyai Faisal pun menggaruk kumisnya kikuk. Apa yang salah dari ucapannya? Kenapa semua tertawa? pikirnya.


"Kau ini. Ulama tapi kok kadang gak ada wibawanya," celetuk Angkasa.


Kini, Kyai Faisal yang tertawa.


Ya, menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah pemilik pondok pesantren Darussalam ini selesai tertawa. Pria berusia enam puluhan ini pun mulai memasang mimik wajah serius.


"Ada apa, Fai?" Angkasa langsung bisa membaca perubahan dari raut wajah sahabatnya ini. Hatinya pun mendadak berdebar kencang.


Begitupun, dengan Hasna.


Karena, gadis itu tau apa yang akan di bahas oleh Kyai Faisal Basri.


"Kedatangan ku kesini. Dimana membawa istri dan juga kedua anak lelakiku. Selain untuk menjengukmu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu. Ini ... mengenai masa depan putraku, Gus Amar dan cucumu, Hasna," jelas Kyai Faisal langsung pada intinya.


Hasna mencoba berpegangan pada sisi hospital bed yang terbuat dari besi itu. Bahkan, Hanifa yang mendengar ucapan Kyai Faisal langsung bangun dari sofa dan menghampiri putrinya. Kedua matanya yang terlihat hanya segaris itu mengedar ke arah Gus Amar dan Kyai Faisal.


"Sampaikanlah wahai saudaraku. Semoga Allah berkenan atas apapun yang kau ingin katakan ini," ucap Angkasa memberi ijin.


"Aku dan istriku--" Kyai Faisal langsung merangkul Ning Khumaira ke sisinya. "Bermaksud, mengkhitbah Hasna Albani Yazid untuk putraku, Amar Al Buchori," ucap Kyai Faisal tegas dan lugas.


Terlihat, Gus Amar menahan napasnya. Begitu juga dengan Hasna. Keduanya tak sengaja saling lirik.


Sementara, Musa terlihat menghembuskan napasnya perlahan dengan pipi yang sedikit menggembung.


Ada sedikit rasa yang ia tak faham. Karena, pria itu langsung mengucap istighfar. Agar setan tak lagi mampu membisikkan kata-kata yang akan mengacaukan suasana hatinya.


"Apa! Jadi putramu, Gus Amar yang--?"


"Iya, Ang. Putraku Amar dan cucumu Hasna, mereka saling menginginkan satu sama lain. Kita, sebagai orang tua, bukankah lebih baik ikut apa kata mereka. Sebab, merekalah yang akan menjalani biduk rumah tangga itu nanti," potong Kyai Faisal, yang mana telah mengerti apa yang hendak di tanyakan oleh Angkasa.


"Ah, ya aku paham. Memang, manusia boleh berencana tetapi sekali lagi Allah yang akan menentukan akhirnya.


"Baiklah. Aku terima niat baik dari mu dan juga putramu Amar. Kini, tiba saatnya aku tanyakan bagaimana tanggapan cucuku perempuanku mengenai permintaanmu ini," ucap Angkasa.


Mata teduh coklat pria ini kemudian beralih pada sosok Hasna yang menunduk di sisinya.


"Hasna sayang. Kau sudah dengar kan. Bahwa keluarga Kyai Faisal menginginkanmu untuk di jadikan istri putranya yang bernama Amar. Kakek yakin, kamu pasti sudah mengenalnya kan?"


Mendengar pertanyaan sang kakek, Hasna pun sontak mengangkat kepalanya. Mata indahnya menatap intens kearah pria yang telah menyayanginya dengan segenap jiwa raganya itu. Angkasa yang selama ini telah berusaha menggantikan peran sang ayah untuknya dan sang kakak.


"Sekarang, kakek mau tanya, apakah Hasna akan menerima atau tidak? Atau, Hasna butuh waktu untuk memikirkan ini semua? Katakan saja, jangan sungkan," ucap Angkasa lagi.


Hasna kini mengalihkan tatapannya pada Gus Amar, lalu ke arah Gus Musa. Gadis ini tak menyangka jika pria yang ia ancam semalam akan memenuhi tantangannya. Hasna kini, beralih menatap sang bunda. Hanifa, tersenyum dan mengusap lembut jari Hasna yang ada di dalam genggamannya.


"Hasna ... insyaallah, menerima khitbah ini, Kek," ucap Hasna tegas.


"Alhamdulillah!" Ucapan syukur serentak terucap dari semua yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Good job, Musa. Satu misi sudah selesai. Tinggal misi cari jodoh. Masa iya kamu kalah sama Mas-mu," batin Musa.


Sementara itu, di bandara internasional negeri ini.


"Alhamdulillah ya Allah. Aira sampai juga ke tanah air. Tapi, kenapa gak ada satupun nomer ponsel yang aktif ya. Entah Kakek maupun Bunda. Hasna juga nih. Bahkan, medsosnya sudah sebulan lebih gak aktif. Semoga, keluarga Aira baik-baik saja ya Allah," gumam gadis keluaran salah satu universitas Islam terbesar di negeri Yaman ini, seraya memanjatkan doa.

__ADS_1


"Apa aku langsung ke rumah aja ya? Atau, aku hubungi Gus Musa dulu. Ih, kamu apa-apaan sih, Aira!" monolog gadis itu berbicara seorang diri di depan lobi bandara.


Bersambung


__ADS_2