Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 55# Ijab Qobul 1


__ADS_3

Acara sakral yang ditunggu oleh para Readers itu pun tiba pada masanya. Dimana seorang pria akan menggenggam tangan seorang ayah. Demi, meminta anak perempuan miliknya untuk dijadikan sebagai tulang rusuknya.


Menyempurnakan separuh dari agamanya, menyempurnakan status sosialnya, menjaga pandangan serta ***********.


Di mana Allah telah memerintahkan melalui sabda Rosul nya. Bahwa, menikahlah bila kau sudah mampu, dan menikahlah bila kau tak ingin gelora dan hasrat menenggelamkan mu pada telaga nista akibat zina.


Karena menikah akan memberi kehormatan dan keberkahan pada hidupmu. Menikah akan menghindarkanmu dari lubang dosa.


Satu ibadah seumur hidup yang akan menyempurnakan ibadahmu yang lainnya, serta melengkapi imanmu yang kurang penuh.


Karena, dengan menikah dapat meningkatkan taqwa dan ketaatan mu pada-NYA.


Di dalam kamar rias pengantin.


Angkasa yang baru saja meminta ijin masuk untuk melihat kedua cucu perempuan yang ia besarkan itu, berdiri mematung.


Sepasang manik mata tuanya menatap takjub penuh haru ke arah kedua putri dari satu-satunya anak perempuan yang ia miliki.


Entah mimpi apa dirinya hingga dapat memiliki kesempatan untuk menyaksikan secara bersamaan hari spesial nan suci kedua cucunya sekaligus.


Angkasa berjalan pelan mendekati Aira dan juga Hasna yang tengah duduk di depan meja rias. 


Aira, nampak begitu anggun dan dewasa, dengan baju pengantin longgar berwarna putih susu berpayet. Tertutup dan panjang hingga menyapu lantai.


Kepalanya yang terbungkus khimar berwarna senada dengan hiasan mahkota kecil berkilau, membuat tampilannya saat ini bagaikan seorang ratu.


Sedangkan penampakan sosok Hasna tak jauh berbeda. Aura yang memancar dari cucunya yang satu ini memang lain.


Hasna, yang tak pernah berdandan berlebihan selama ini membuat tampilannya begitu pangling.


Angkasa tidak menyangka jika dirinya selama ini telah merawat dua berlian yang mahal dan berharga.


"Masya Allah. Cantiknya cucu-cucu Kakek. Secantik para putrinya Rosulullah, " puji Angkasa dengan bibir bergetar.


Sontak kedua perempuan muslimah yang menatap raut Angkasa dari cermin pun berbalik. Keduanya maju untuk menghambur ke dalam pelukan satu-satunya lelaki terhebat yang mereka miliki selama hidup.


Karena mereka tumbuh besar tanpa sosok sang ayah. Sehingga, sang Kakeklah yang selama ini selalu ada untuk mereka berdua.


Hanifa yang tak sanggup lagi bertahan, menunduk untuk mengeluarkan Isak tangisnya.

__ADS_1


"Ya Allah, terimakasih. Engkau telah kuatkan aku


selama ini dalam membesarkan mereka. Kini, tugas ku sebentar lagi akan diambil alih," gumam Hanifa dalam hatinya.


Acara sebentar lagi akan di mulai.


Keluarga mempelai pria telah datang dan di sambut dengan pasukan marawis di bawah sana.


Sementara itu, mempelai wanita tetap berada di lantai atas, tepatnya di dalam kamar. Sehingga, Gus Amar dan Gus Musa tidak dapat melihat calon istri mereka sebelum sah.


Begitupun, dengan Aira dan Hasna.


Mereka hanya bisa mendengar rangkaian demi rangkaian acara dari pengeras suara saja.


Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain dengan mata terpejam. Ketika satu seorang alim ulama manyampaikan tausiahnya sebagai nasihat untuk pengantin.


Ciee ... yang mau di nikahin.


Tegang banget ya. 😁


Acara sakral penuh khidmat itu memang tidak terlalu ramai di hadiri tamu undangan. Hanya beberapa keluarga dekat, sahabat serta beberapa pengurus pondok pesantren Darussalam.


Kedua telapak tangan Hasna terasa dingin, bahkan jari-jari kakinya terasa gemetar di bawah sana.


Bagaimana dengan perasaan, Gus Amar sebagai calon suaminya di bawah sana? Ia bahkan harus berhadapan dengan begitu banyak pasang mata. Menghadap Angkasa dan juga penghulu serta wali hakim. Juga para saksi pernikahan dari kedua belah pihak.


Itulah yang berkelebat dalam pikiran Hasna saat ini. Hingga sebuah panggilan dari wanita cantik di sebelahnya menyadarkan seketika.


"Na," panggil Aira lembut, seraya menyentuh punggung tangannya yang telah dihiasi ukiran Henna-art berwarna putih.


"I–iya, Kak," jawab Hasna terkesiap.


"Istighfar. Jangan terlalu tegang begitu! Insya Allah semua akan lancar. Nih, lihat, telapak tanganmu sampai dingin begini," ujar, Aira berusaha menenangkan sang adik. Padahal, dirinya sendiri juga gugup setengah mati.


Hanya saja, ia lebih bisa menguasai ketegangan ketimbang dengan Hasna. Karena sangat terlihat sekali dari raut wajah adiknya itu.


"Kakak kok bisa tenang begitu?" tahan Hasna heran.


"Siapa bilang. Kakak juga tegang. Tapi, serahkan semua pada Allah. Dzikir terus dalam hati. Insyaallah Allah akan hadirkan ketenangan itu," jawab Aira.

__ADS_1


Hasna pun mengangguk dan menuruti apa saran dari Aira.


Selesai pembacaan suroh Ar- Rohman ayat 1–15. kini giliran Gus Amar, mengangkat wajahnya untuk menghadap ke depan. Ia menarik napasnya dan mempersiapkan diri untuk saat yang menentukan masa depannya.


Ia pun langsung mendapat tatapan bangga sekaligus kagum dari Angkasa dan juga Hanifa.


Tak terkecuali dari sang ummi. Ning Khumaira, bahkan sejak tadi terlihat berkali-kali mengusap sudut matanya yang berair.


Perasaan haru itu menyeruak, lantaran dirinya telah berhasil mengantar putra pertamanya ke gerbang pernikahan.


Tinggal selangkah lagi maka putra keduanya pun akan menyusul.


Pada saat inilah, ia merasa bahwa tugasnya telah selesai. Seorang ibu akan merasa sedih ketika sang anak yang ia rawat sejak kecil, ternyata telah dewasa dan akan menempuh kehidupannya.


Dengan penuh khidmat, akhirnya, Gus Amar dapat mengucapkan ikrar itu dengan lancar dan fasih.


Ketika wali hakim menghentak tangan keduanya yang saling berjabat. Pada saat itulah, Ijab dan qobul terucap dari bibir sang pengantin pria dengan sukses.


"SAH!"


Ketika kata-kata tersebut mengudara, maka terangkatlah kedua telapak tangan ke atas, kemudian berakhir menyapu wajah, tanda penuh syukur.


"Alhamdulillah!" Seru kedua wanita cantik itu serentak. Hingga membekap mulut dengan rona mata yang penuh binar kebahagiaan.


Buliran kristal bening yang berkumpul hampir meluncur turun dari sudut kedua mata indah Hasna. Kini statusnya telah berubah karena pria yang di bawah sana telah sah menjadi imamnya di dunia.


"Gus Amar ...," lirih Hasna, seraya menahan harunya yang menyeruak. Ia berusaha keras tidak mengeluarkan air matanya saat ini. Ia tidak ingin make-up nya rusak. Kasian penata riasnya nanti, bila nanti harus mengulang pekerjaan mereka.


"Selamat ya, kamu sudah sah menjadi seorang istri sekarang," ucap Aira yang kemudian menghambur memeluk pengantin baru di sebelahnya.


"Terima kasih Kak." Hasna pun membalas pelukan itu.


"Jangan panggil begitu, kamulah Kakak iparku sekarang. Jadi, aku yang harus panggil kamu, dengan sebutan Kakak," jawab Aira meledek adiknya, dengan senyumnya yang di kulum.


"Mana bisa gitu, tapi--"


"Bagaimana pun, kamu jadi Kakak. Bukannya itu yang kamu mau. Aku jadi adik sekarang," jelas Aira lagi. Hasna, mau tak mau akan dipanggil kakak oleh Aira maupun Gus Musa nanti.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2