Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 57# Kamu Adalah Ratuku, Hasna!


__ADS_3

Hanifa naik ke kamar atas untuk menjemput kedua putrinya. Ia menggandeng Aira dan Mila menuntun Hasna.


Kedua pengantin yang cantik bak boneka ini menuruni tangga dengan perlahan. Hingg tiba di undakan tangga terakhir, terlihatlah oleh para tamu undangan berikut kedua pengantin pria.


Sontak ketika kedua paras nan cantik jelita itu nampak.


Dua Gus tampan dengan balutan baju pengantin serba putih ini, nampak memegangi dada mereka masing-masing.


"Masyaallah, itukah istriku?" gumam Gus Amar.


"Masyaallah. Aira-ku. Kamu cantik banget," gumam Gus Musa.


Kedua pengantin pria ini terpana hingga para istri mereka tiba di hadapan masing-masing.


Tambah kikuklah Hasna maupun Aira. Karena para suami mereka tak berkedip dan membuka mulutnya.


Hingga, penghulu yang berakhir menyadarkan kedua pengantin pria.


"Kaget ya liat istrinya yang cantik. Duh, kalo liat begini saya jadi pengen mengulang," kelakar sang penghulu.


"Apanya Pak? Nikahnya?" celetuk salah satu saksi dari pihak perempuan.


Tertawalah semua tamu dan termasuk kedua pasang pengantin di depan.


Mulailah penyerahan mahar dan pemasangan cincin serta sungkem para pengantin wanita kepada suami mereka.


Nampak menggemaskan dan lucu karena yang nikah bareng adalah kakak beradik di kedua belah pihak.


Sungguh momen yang jarang sekali terjadi. Hingga, banyak para tamu yang mengabadikan momen ini.


"Gimana bisa, kedua pasangan ini benar-benar menggemaskan."


"Aku iri, atuh cantiknya bagi-bagi."


"Gantengnya juga sih, bagi gue dikit biar gak jones muluk!"


Itulah beberapa komentar para tamu yang meleleh melihat betapa charmingnya kedua pasang pengantin ini.


Acara tak lama pun selesai.


Hanifa menghampiri kedua putrinya.

__ADS_1


"Acara sudah selesai. Ajak naik suami kalian dan istirahatlah. Nanti, makanan akan di antar ke atas," ucap Hanifa.


Hasna dan Aira pun mengangguk, lalu mereka naik ke atas dengan di gandeng oleh suami masing-masing.


Jarak kamar kedua kakak beradik ini agak jauh meksipun satu lantai. Hasna di bagian depan dan Aira di bagian belakang.


Hasna rasanya, berdebar tak karuan saat ia harus masuk kedalam kamarnya bersama Gus Amar. Apalagi, pria itu sejak tadi juga memegangi ujung gaunnya yang panjang bak ekor cenderawasih.


"Kamar kamu luas juga ya. Beda sama rumah yang akan kita tempati nanti. Apa kamu tidak keberatan jika kamar kita nanti lebih kecil?" tanya Gus Amar, memulai pembicaraan dari keduanya.


"Insyaallah, gapapa kok, Mas. Jangan pikirkan hal itu ya. Sebaiknya Mas, bersihkan badan lebih dulu soalnya kalo aku banyak uang harus di ... buka," jawab Hasna seraya memerintahkan Amar untuk ke kamar mandi duluan.


"Oke, aku duluan ya," ucap Gus Amar dan pria itu pun mengambil handuk dan baju ganti di dalam kopernya.


"Huffht!"


"Gimana ini ya Allah. Apa yang harus Hasna lakukan?" gumam Hasna bingung. Perlahan dia mulai mempreteli riasan di tubuhnya.


"Yah, sletingnya di belakang lagi. Gimana dong ini, masa iya aku keluar lagi?" gumam Hasna yang mencoba untuk menggapai bagian belakang tubuhnya.


Tiba-tiba, datang sosok yang begitu segar dan wangi. Tangannya yang sedikit masih basah lagi dingin menyentuh jari-jari Hasna yang sedang berkutat dengan sleting gaun belakang.


"Mas Amar!" kaget Hasna.


Hasna takut sekali jika debaran jantungnya terdengar sampai ke telinga suaminya ini.


"Sini, biar aku bantuin buka. Gapapa kan?" tanya Gus Amar. Dia sengaja bertanya takut Hasna belum siap jika ia melihat lekuk tubuhnya.


"Iya, boleh, Mas," jawab Hasna sekuat hati. Mencoba untuk bersikap tenang. Meskipun dadanya terasa mau meledak saking gugupnya.


Hal serupa juga di rasakan oleh Amar. Siapa bilang pria itu tenang saja.


Dengan sok pedenya ia menawarkan diri untuk membuka gaun Hasna. Itu akan artinya nanti, dirinya akan melihat keseluruhan tubuh istrinya ini. Apa hatinya sudah siap? Ah, Bahkan baru melihat tengkuk leher Hasna saja, Amar sudah panas dingin.


"Lehernya aja putih banget ya Allah. Gimana yang--" Gus Amar buru-buru menggelengkan kepalanya untuk mengusir isi pikiran kotornya itu.


Padahal sih gak kotor, Gus. Wong itu istrimu sendiri kok. 😁


Dengan menguatkan hatinya, akhirnya Gus Amar selesai juga membuka gaun Hasna hingga pakaian itu jatuh kebawah.


"Masyaallah," gumam Gus Musa yang nyatanya mampu di dengar oleh Hasna.

__ADS_1


Hasna menutupi bagian depan tubuhnya yang masih tertutupi penyangga dada berenda.


"Maaf, Mas, Hasna mau mandi," ucap Hasna yang langsung berlari ke arah kamar mandi.


Sementara Gus Amar masih mematung tak bergeming. "Ukhti bar-bar ku ternyata seksi sekali," gumam putra pertama dari Kyai Faisal ini.


Mau tak mau, Amar menelan ludahnya kasar. Ia pun, membentangkan dua sajadah untuk melakukan solat dhuhur yang tertunda.


"Dek, sekalian wudhu ya Kita solat berjamaah," ucap Amar dari balik pintu kamar mandi.


Hasna pun keluar dengan pakaian lengkap, yaitu gamis rumahan yang polos tanpa motif. Rambutnya yang panjang terikat asal ke atas, hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan putih bersih.


"Kamu, pakai mukena dari aku ya. Sebentar, Mas ambil wudhu lagi," titah Gus Amar pada Hasna.


Gadis itu pun mengangguk pelan. Menyisir rambutnya sebentar, lalu mengenakan mukena yang di berikan sebagai barang seserahan untuknya.


"Kita solat ya. Ini pertama kalinya aku punya makmum seorang wanita cantik," ucap Gus Amar dengan sedikit godaan. Hingga, kedua pipi Hasna pun berhasil ia buat menjadi merah bak buah tomat matang.


Selesai dari solat berjamaah dan berdoa. Gus Amar berbalik ke arah istrinya.


Hasna langsung meraih tangan besar Gus Amar dan menciumnya dengan Takzim. Lalu, kemudian Gus Amar menarik wajah Hasna untuk mencium keningnya penuh mesra.


Kini kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Gus Amar seakan terhanyut dengan keindahan yang terpampang di hadapannya ini.


"Hasna, boleh Mas, mencium bibirmu yang merah merona ini?" tanya Amar yang mana membuat Hasna mematung.


"Um, kalo belum boleh gapapa kok. Meskipun, Mas udah gemas setengah mati melihatnya," ucap Gus Amar lagi jujur.


Hasna menunduk dengan tangan yang saling mencengkeram.


"Se–sebenarnya. Semua yang ada pada Hasna adalah milik Mas seutuhnya. Kenapa, harus meminta ijin?" tanya Hasna tanpa melihat ke arah suaminya itu.


"Tentu saja, Mas harus meminta ijin.Karena, meskipun kamu sudah menjadi milikku yang halal, tetap saja Mas harus menghargai dan menghormatimu. Kamu, adalah ratuku, dek Hasna. Mas tidak akan sekali-kali memberi perintah padamu meskipun kedudukan ku sebagai raja. Mas, akan mengajakmu mengarungi bahtera rumah tangga ini dan membinanya bersama-sama," tutur Gus Amar yang mampu membuat Hasna mendongakkan wajahnya.


Wajah cantik di depannya ini langsung menyunggingkan senyum. Karena, pada saat ini Hasna merasa tidak berada dalam sebuah kekangan tapi naungan.


"Mas, boleh mencium Hasna. Juga, melakukan apapun selain itu," jawab Hasna penuh keyakinan. Bahkan ia berani menatap kedua manik pekat suaminya.


"Emh, boleh sekarang? Gak nunggu nanti malam?" cecar Gus Amar yang terheran. Hasna pun menjawabnya dengan anggukan.


"Masyaallah, sini Mas peluk dulu deh. Oh iya, buka dulu mukenanya ya," ucap Gus Amar yang di jawab dengan tawa renyah dari Hasna. Suaminya ini ternyata sama sekali tak membuatnya merasa tegang. Mereka justru terlihat seperti teman yang sedang bercanda saja.

__ADS_1


AW AW AW ...😙


Bersambung


__ADS_2