
Sore itu selepas ashar di Jumat pertama pada setiap awal bulan.
Pada musholla pesantren di adakan kajian yang berisi ceramah dan sholawat bersama.
Kebetulan, pada sore itu yang menjadi penceramah adalah Gus Amar.
Pada saat itu Gus Amar juga menceritakan bagaimana ketika ia belajar di Kairo. Juga tentang suasana di sana.
Para santri sangat serius.
Hingga, pada saat Gus Amar menjelaskan tentang bagaimana jalan dan cara setiap manusia mencari keridhoan Allah subhanahu wa ta'ala.
Setiap hal yang terjadi dalam hidup manusia yang telah di tuliskan pada lauh Mahfudz bahkan ketika manusia itu belum dilahirkan.
Tak ada satupun manusia yang mampu menolak takdir tersebut. Terlepas dari yang baik maupun yang buruk.
Karena Allah yang lebih tau apa yang terbaik bagi hambanya.
Baik menurut kita belum tentu baik bagi kita, kata Allah.
Sementara, yang menurut kita buruk adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah.
Manusia hanya perlu menerima dengan sabar dan ikhlas, meyakini Qodho dan Qodar sebagai bagian dari rukun iman.
"Keburukan, musibah, sakit hati sekalipun bahkan kecewa yang kita alami kita rasakan. Jika ... kita menerima semua dengan lapang dada. Berbesar hati, lebih bagus lagi memaafkan tanpa ada dendam tertanam di hati yang hanya akan menjadi bongkahan penyakit. Maka, insyaallah dari keridhoan kita itu Allah akan melebur dosa kita yang segunung ini sedikit demi sedikit."
"Manusia bahkan, tidak pernah sadar telah melakukan dosa. Banyak maksiat yang tidak kita sengaja dan itu terjadi. Tetapi, Allah dengan kemurahan hatinya. Dengan kasih sayangnya. Tak menginginkan kita terendam didalam genangan lumpur dosa tersebut. Sehingga, Allah melebur dosa-dosa kita itu dengan berbagai macam rasa sakit dan kesusahan. Termasuk rasa kecewa tadi."
"Percaya dan yakin, bahwa apa yang telah Allah tetapkan itu terbaik untuk kita. Janganlah pukul rata setiap orang dengan kelakuan buruk hanya karena kebencian kita pada seseorang. Setiap nasib manusia berbeda dengan manusia lainnya. Begitupula dengan rejeki, maut dan jodohnya. Terkadang, manusia dengan segala pikiran pendeknya namun tanpa sadar telah melampaui kekuasaan Allah yang maha tinggi dan mulia."
"Semoga, kita semua ... termasuk para santri di sini dijauhkan dari sifat seperti yang saya sebutkan tadi. Jika, kita mampu merelakan setiap kejadian yang Allah berikan dan menerima itu semua dengan ikhlas. Maka, tak ada kata trauma dan takut dalam hati kita. Qul huwallahu Ahad ... Allahusshomad. Allah satu-satunya Tuhan tempat kita bergantung dan bersandar." Gus Musa pun telah mengakhiri sesi tausiahnya.
Beberapa santri telah bugar, akan tetapi Hasna nampak masih terpekur dalam diam di atas sajadahnya.
Entah kenapa, kata-kata dari Gus Amar barusan begitu menyentuh hati dan kesadarannya.
Hasna laksana tertampar dengan keras. Dari setia kata demi kata yang pria itu utarakan.
Perlahan air mata yang sejak tadi menggenang jatuh mengaliri di kedua pipinya yang kemerahan.
Selama ini dirinya begitu takut.
Selama ini dirinya telah melabeli setiap laki-laki yang merupakan hamba Allah itu sebagai mahkluk yang bersalah atas segala sakit yang ia terima. Atas segala kecewa yang ia rasakan.
Hingga, tanpa sadar Hasna telah memperlakukan mereka tanpa adab. Secara tidak langsung ia telah takabur karena merasa menjadi orang paling menderita di dunia.
Sementara telah banyak hal dan anugerah serta kebahagiaan yang Allah kirimkan dalam hidupnya.
__ADS_1
Hasna hanya terus tenggelam dalam rasa sakit dan kecewa hingga tak merasa bahagia dan suka yang Allah berikan untuknya.
Hasna menunduk semakin dalam.
Di saat penyesalan itu menekan dadanya kuat.
"Nyatanya akulah seorang pendosa itu," lirih Hasna.
Hingga, sebuah tepukan lembut di bahu menyadarkannya.
Hasna pun menoleh setelah mengusap kasar pipinya dengan punggung tangan.
"Sarah," ucapnya ketika kawannya itulah yang berada di sisinya saat ini.
"Kamu, baik-baik aja kan?"
Hasna hanya mengangguk lemah sebagai jawaban atas pertanyaan Sarah.
"Ya udah yuk. Kita balik ke asrama. Nanti magrib, kita kesini lagi kan solat berjamaah. Mending kamu istirahat dulu di kamar," ajak Sarah.
Hasna merasa beruntung, di sini dia juga memiliki sahabat yang mengerti keadaan serta suasana hatinya.
Sehingga ia tak merasa sendirian. Meskipun, terkadang Hasna merindukan teman-teman lamanya di kampus.
Pada saat Hasna keluar tak sengaja dirinya papasan dengan Gus Amar.
Hasna sebenarnya agak terkejut.
Gadis ini tak menyangka akan bertemu sosok yang mampu menangis karena ingat akan dosa dan perbuatannya.
Tetapi, dengan cepat Hasna mampu menguasai dirinya.
Hasna pun melakukan hal yang sama dengan Gus Amar barusan. Tanpa berani mengangkat dagu, karena Hasna setia menundukkan pandangannya.
"Wa'alaikum salam Gus," jawab Hasna serentak dengan Sarah juga.
Seketika, ia merasa sungkan dan tak berani untuk sekedar menatap wajah bersinar Gus Amar.
Bagi Hasna muka Gus Amar kayak ada lampunya kelap-kelipnya guys. 😁
"Tumben banget nih ukhti nunduk aja ketemu aku. Biasanya tuh muka nantangin. Kenapa ya dia?" heran Gus Amar dalam hati, melihat perubahan sikap Hasna padanya.
"Apa kabarnya?" tanya Gus Amar yang tak tau mau bicara apa.
Sementara, Sarah yang berada di samping Hasna kaget. Bagiamana keduanya bisa saling kenal.
"Alhamdulillah baik, Gus. Maaf ya, Hasna duluan mau ke asrama," jawab Hasna sekalian pamit.
__ADS_1
Hasna tau jika Sarah sudah berpikiran macam-macam. Bahkan, gadis itu telah membulatkan mulutnya tanpa sadar.
"Ah ya, baiklah," jawab Gus Amar pasrah.
Padahal dirinya masih ingin berlama-lama untuk sekedar ngobrol meski sesaat saja. Akan tetapi pria itu keburu sadar.
"Astagfirullah!" Gus Amar mengusap kasar wajahnya dengan sorban yang ia kalungkan di lehernya.
"Jaga mata dan hatimu Amar. Kamu berdosa banget udah mikir kayak gitu barusan," gumamnya.
Sesampainya di kamar asrama.
"Na. Pokonya kamu harus jelasin ke aku dengan sejelas-jelasnya. Gimana bisa kamu kenal sama Gus Amar? Sampe tadi kamu di dapa gitu?" cecar Sarah dengan mimik muka serius.
Sebenarnya, Hasna paling tidak suka kehidupan pribadinya di kulik seperti ini. Ia merasa hal itu adalah haknya. Sehingga Hasna bebas untuk menyimpannya seorang diri sekalipun.
Akan tetapi, dirinya tak tega membiarkan Sarah dan kini Syifa yang mendekat ke arahnya nanti malam akan tidur dalam keadaan penasaran lalu mengigau.
Jadilah, Hasna memutuskan untuk berbagi sedikit kisah ini.
"Gak sengaja kenal pas aku lagi dipanggil sama Ning Khumaira," jawab Hasna singkat.
"Oo ... yang kamu pulang malam-malam itu ya?" tebak kedua kawannya ini serempak.
Hasna pun mengangguk santai, meski kedua kawannya ini nampak begitu antusias dan ingin melanjutkan sesi kepo mereka.
"Ada untungnya juga tangan kamu luka, Na. Kamu bisa kenal Gus Amar. Meskipun, dia masih kalah famous sama Gus Musa. Tapi, salah satu idola juga di pondok pesantren ini," terang Syifa.
"Ganteng, pinter, tapi sayangnya dewasa banget. Terlalu berat. Pasti Gus Amar kalo cari istri yang selevel deh ilmunya," analisa Sarah.
Hasna hanya menggelengkan kepalanya.
Dua kawannya ini selalu aja ada bahan pembahasan mengenai kaum laki-laki.
"Ih, Hasna. Kita belum selesai nanya loh. Kok kamu malah tiduran!"
"Hasna, Jangan tidur nanti linglung!"
Sementara itu di kediaman Kyai Faisal Basri.
Gus Amar terlihat bersama sang adik, Gus Musa.
"Mas mau ngomongin apa sama aku? Kok, kayaknya serius banget?" cecar Gus Musa penuh selidik.
"Dek, sebenarnya ... "
Bersambung
__ADS_1