
"Sebenarnya apa, Mas?" tanya Gus Musa tak sabaran. Karena Gus Amar nampak ragu.
"Sebenarnya, Mas mau nanya. Kamu ada perasaan gak sama Hasna?" jawab Gus Amar justru dengan melempar pertanyaan yang membuat Musa tersedak seketika.
Uhuk uhuk!
"Mas, ngapain nanya gitu?" Musa kembali balik bertanya setelah berhasil menguasai kondisinya.
"Jawab aja sih. Mas, cuma pengen tau," jawab Gus Amar.
Musa nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari saudara satu-satunya itu. Dalam hatinya, pria ini juga sebenarnya bingung.
Akhir-akhir ini isi pikirannya memang di penuhi tentang Hasna. Tetapi, keinginannya masih sama. Ingin berangkat ke Yaman menjemput cintanya. Walaupun, dirinya juga belum yakin apakah gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Akhirnya, Musa menjawab seadanya.
"Apa ya, Mas. Cuma sebatas suka dan tertarik karena dia unik aja sih. Selebihnya gak ada," jawab Gus Musa yang mana hal itu membuat senyum terbit di wajah Gus Amar.
"Kamu gak ada niat gitu nikahin dia?" Kulik Gus Amar lagi.
"Eh, itu ... gak ada kok. Lagian aku masih menyimpan rasa sama ..."
"Muslimah yang berniqob itu. Alumni dari pondok ini kan?" tebak Gus Amar.
Gus Musa pun mengangguk.
__ADS_1
Setidaknya ia ingin memperjuangkan dulu cintanya.
Meskipun, setengah hatinya tanpa ia sadari sudah nyangkut juga di hasna.
"Ya sudah, kamu perjuangin deh cinta kamu itu. Karena, Mas juga mau memperjuangkan cinta, Mas setelah ini. Jadi, Mas minta dukungan ya dari kamu," ungkap Amar dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Kayaknya, Mas lagi jatuh cinta ya. Sama siapa?"cecar Gus Musa.
Tetapi, Gus Amar tertawa renyah sebelum menjawab rasa penasaran adiknya itu.
"Seharusnya kamu tau, Dek ... perempuan itu siapa," jawab Gus Amar dengan teka-teki.
Mendapat jawaban seperti itu, sontak Gus Musa terkesiap kaget.
"Jangan bilang kalau dia ... Hasna?" tebak Musa dengan rasa yang aneh di dalam hatinya.
"Kenapa ini? Kenapa aku merasa gak rela?" batin Musa.
"Kenapa Hasna, Mas. Gadis itu masih minim ilmunya. Dia cuma tau berantem aja. Sementara, perempuan yang pantas mendampingi Mas Amar itu yang ilmunya juga mumpuni. Supaya kalian itu selevel visa jadi pasangan pendakwah nanti," ucap Musa, mengandung provokatif.
Entah kenapa dia justru mengatakan hal itu kepada saudaranya.
"Astagfirullah, Musa ... Musa. Apa, Mas gak salah denger ya? Apa benar, ucapan picik ini berasal dari adikku sendiri? Apakah serendah itu pandanganmu terhadap orang yang tak berilmu?" cecar Gus Amar tetap dengan nada ramah dan senyum di wajahnya.
Tetap saja, ucapannya yang menohok itu sontak membuat Gus Musa menunduk malu.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Bukan begitu maksudku. Hanya saja ...,"
"Hanya apa?"
"Bukankah kamu mengerti, Dek. Bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotakkan manusia. Bahkan, Allah saja tidak pernah menilai hambanya dari kepemilikan tetapi dari taqwa. Lalu, kenapa lantas kita melakukan hal rasis terhadap sesama manusia itu sendiri?" tutur Gus Amar, sehingga membuat Gus Musa mengusap kasar wajahnya sambil mengucap istighfar.
"Astagfirullah! Maafin aku, Mas. Seharusnya, aku gak berkata dan berpikir seperti itu. Ya Allah," ucap Gus Musa penuh sesal.
"Justru, Mas mau cari istri yang bisa di bimbing. Dan, Hasna itu ... membutuhkan sosok laki-laki yang bisa membimbing dia, bisa mengayomi dan menenangkan hatinya. Kalau sama-sama berilmu, lalu ... Mas nyari pahalanya darimana, Dek?" ucap Gus Amar lagi. Sengaja, memberi pengertian pada sang adik.
"Mas, benar. Aku yang salah. Telah berpikir sepicik itu. Semoga, Allah mengampuni dosa-dosaku barusan,"sahut Gus Musa.
Hanya karena rasa tak rela saudaranya sendiri menginginkan Hasna. Sehingga, keluarlah kata-kata yang di bisikkan setan padanya. Rasa yang timbul dari iri hati itu, mencuat begitu saja menjadi ujaran provokatif. Sehingga, Gus Musa bahkan melupakan ilmu yang merupakan dasar dari segala ilmu. Yaitu, adab terhadap sesama manusia.
"Ya sudah. Kamu jangan sedih. Manusia itu memang tempatnya salah dan dosa. Mahkluk yang paling sering lupa. Sebanyak apapun ilmu yang kita punya dan mengerti, tetaplah rendah hati dan selalu berharap bimbingan dari Allah. Jangan sampai ilmu yang seujung kuku itu membuat kita setara dengan iblis," ucap Gus Amar kemudian.
Pria yang mengenakan gamis berwarna biru langit itu pun berdiri dari duduknya.
"Mas, mau kemana?" tanya Gus Musa.
"Mau nemuin Abi sama Ummi," jawab Gus Amar.
"M–mau ... ngapain?" tanya Gus Musa mendadak risau.
"Ya mau minta ngelamar neng Hasna, dong!" celetuk Gus Amar seraya tertawa senang.
__ADS_1
"Apa!"
Bersambung