Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 44# Kekhawatiran Hanifa


__ADS_3

Akhirnya Aira pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


Gadis itu menaiki sebuah taksi yang memang mangkal di bandara.


Sementara itu, di rumah sakit. Angkasa dan Kyai Faisal berembuk untuk memutuskan waktu pernikahan bagi Hasna dan juga Gus Amar.


Mau tak mau, Hanifa menyetujui rencana ini. Karena Hasna telah menerima pinangan dari keluarga Kyai Faisal.


Meski dalam hatinya tersirat segelintir kekhawatiran. Pasalnya, Hasna masih muda. Bahkan, putrinya itu pernah mengalami kekecewaan yang mendalam.


Akan tetapi Hanifa akhirnya meyakinkan hati, bahwa keputusan Hasna menunjukkan bahwa putrinya itu tengah berusaha memulihkan lukanya.


Hanifa tak melepaskan tatapannya dari Hasna. Wanita bercadar ini sungguh tak percaya jika putrinya bisa lepas juga dari belenggu trauma itu. Meski pada awalnya hal itu membuat Hanifa lumayan terkejut.


Setidaknya, dengan begini, Hanifa tak perlu khawatir lagi sang putri akan membuat masalah dengan menempatkan dirinya sebagai algojo, alias pahlawan pembela kaum perempuan.


Sekalipun hal itu bagus dan memiliki niat baik di dalamnya. Hanya saja eksekusi dari putrinya itu menimbulkan banyak kontroversi.


"Hasna, benar-benar yakinkah?" tanya Hanifa memastikan, dengan cara berbisik ketika mereka berdua telah duduk di sofa.


Sementara, Kyai Faisal beserta kedua putranya, tengah mencari hari baik bersama Angkasa.


Hasna lebih dulu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari sang bunda. Padahal hatinya sendiri berdebar tak karuan sejak tadi.


Bahkan jawaban penerimaan darinya meluncur dengan lancar begitu saja dari bibirnya yang mungil.


"Insyaallah, Hasna siap, Bun. Jangan khawatir ya. Cukup sudah, selama enam tahun ini, Hasna berbuat ulah yang sempat membuat Bunda dan Kakek khawatir. Jadi, untuk kedepannya biarkan suami Hasna saja yang menanggung itu semua," kelakarnya.


Hanifa pun terkekeh, seraya memukul pelan punggung tangan putrinya.


"Kamu gak boleh gitu. Jangan berniat untuk membuat suamimu pusing tujuh keliling. Siap menikah, itu berarti Hasna siap merubah diri menjadi lebih baik dan dewasa," ucap Hanifa serius.


"Iya, Bunda. Hasna bercanda aja kok. Mungkin, dia bisa jadi pawang Hasna. Kita liat aja nanti," jawab Hasna dengan senyum yang sulit untuk di artikan.


"Apa Hasna tengah merencanakan sesuatu? Kenapa senyumnya kayak gitu?" cecar Hanifa lagi. Wanita ini belum yakin akan keputusan sang putri rupanya.


"Ya ampun, Bund ih, suudzon aja. Doain kenapa, anaknya ini lagi belajar move on," jawab Hasna, gemas. Bisa-bisanya wanita yang telah melahirkannya ini mengira dirinya begitu. Memiliki rencana tersembunyi pada Gus Amar nanti.


Lagipula, rencana apa? Jika saja sang bunda tau kalau hatinya saat ini bak rebana yang di tabuh pemain Hadroh.


"Astagfirullah. Kamu bener, Nak. Bunda udah salah. Nuduh kamu macem-macem. Maafin Bunda ya," tutur Hanifa.

__ADS_1


Lucu juga, kali ini bundanya rela mengalah. Biasanya wanita yang melahirkannya ini akan tetap berkeras hati merasa paling benar.


Pikir Hasna.


Hasna justru tertawa kecil melihat reaksi Hanifa, sang bunda.


Setidaknya, kelakuan wanita di hadapannya ini mampu mengurai sedikit ketegangan di dalam hatinya.


"Hasna," panggil Ning Khumaira lembut. Wanita itu agak ragu untuk menghampiri gadis manis yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.


"Sini, Ummi!" jawab Hasna seraya melambaikan tangan agar calon mertuanya itu tak ragu mendekat.


"Akhirnya, kamu bakal jadi Putri Ummi juga," ucap Ning Khumaira yang kentara sekali kebahagiaan itu memancar dari binar kedua matanya. Karena jika senyum, tertutup oleh niqob, tentu saja.


Kini, tatapan Ning Khumaira beralih kepada, calon besannya. Hanifa.


"Han, kita bakal besanan. Kita akan jadi saudara. Kita akan sama-sama mendampingi mereka ya?" tutur Ning Khumaira seraya mengusap punggung tangan Hanifa yang ia genggam.


"Insyaallah, Ning. Alhamdulillah. Ini jalan Allah untuk semakin mendekatkan kita," jawab Hanifa.


"Sejak awal, aku sangat menyukai putrimu ini. Aku jatuh cinta padanya lebih dulu dari kedua putraku itu," jujur Ning Khumaira mengungkap semuanya.


"Iya, Hasna sungguh beruntung. Dan, yang lebih beruntung lagi adalah Amar. Karena, dia yang sukses mendapatkan hati Hasna, iya kan sayang?" jawab Ning Khumaira, yang kemudian beralih kepada gadis di sebelahnya ini.


Hasna yang kedua pipinya mendadak Semerah tomat masak pun, hanya bisa menunduk seraya mengangguk pelan.


"Lalu, putraku yang satunya lagi, bagaimana?" tanya Hanifa. Tersirat kekhawatiran di dalam hatinya. Takut, jika kejadian ini akan menjadi suri dalam pernikahan putrinya di kemudian hari nanti.


"Musa, ikhlas menerima takdirnya. Nyatanya, ini semua mengisyaratkan bahwa Hasna bukanlah jodohnya. Insyaallah, putraku itu paham, Han. Dia tau apa yang harus ia lakukan. Ketika kita telah memasrahkan segalanya kepada Allah. Maka, apapun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan memberatkan hati dan juga pikiran," jelas Ning Khumaira, untuk menenangkan perasaan Hanifa.


Wanita ini tau, jika Hanifa pasti langsung berspekulasi macam-macam. Karena memang naluriah wanita akan seperti itu. Apalagi seorang ibu.


Dirinya pun, telah lebih dulu ada di posisi itu. Akan tetapi, Gus Musa telah meyakinkannya bahwa, pria itu telah menerima semua ini dengan ikhlas karena Allah ta'ala.


Tak berapa lama kemudian. Keluarga Kyai Faisal berserta Ning Khumaira dan Gus Musa mohon pamit. Akan tetapi, Gus Amar tetap berada di sana untuk menemani Hasna. Gadis itu, yang merupakan calon istri kecilnya masih kangen dengan kebersamaannya bersama Angkasa.


Apalagi, Hasna ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada sang kakek sehingga bisa mengalami kecelakaan seperti ini.


Kyai Faisal dan Angkasa telah memutuskan jika keduanya akan menikah satu bulan kedepan.


Kyai Faisal setuju dengan Angkasa yang tidak ingin memperlambat rencana dan niat baik.

__ADS_1


"Jagalah dirimu dan juga Hasna. Karena kalian hanya akan kembali ke pesantren hanya berdua nanti. Ingat itu, Nak. Abi paham kau tau dan hafal betul akan aturan agama kita. Tapi, sekali lagi setan akan menjadikan napsumu di atas segalanya!" kecam Kyai Faisal memberikan peringatan kepada putra sulungnya ini.


________


Aira telah sampai di depan gerbang kediaman keluarganya. Rumah yang telah ia tinggalkan selama satu tahun lebih.


Terasa sangat lama sekali ia tidak berada di sini. Untung saja, Aira dapat mempercepat pendidikannya. Kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil karena keridhoan Allah. Sehingga, wanita berusia 23 tahun ini bisa kembali lebih cepat.


Setahun saja kerinduannya sudah sebesar dan setinggi gunung. Entah bagaimana kalau harus setahun lagi.


"Assalamualaikum Pak Ujang!" teriak Aira menggedor gerbang memanggil penjaga rumahnya. Sementara taksi yang membawanya telah berlalu setelah ia menyerahkan beberapa lembar uang merah.


"Wa'alaikum salam neng Aira!!" kaget Pak Unang. Karena setau pria ini, anak majikannya sedang sekolah di negeri Yaman.


"Iya, Pak. Aira pulang nih. Bukain dong pintunya jangan malah bengong gitu!" seru Aira yang pada akhirnya tertawa karena melihat ekspresi kaget penjaga rumahnya.


"Ah iya, Neng. Ya Allah, Bapak sampe lupa saking panglingnya," ucap Unang.


"Apa kabar Pak Unang. Makin gardam aja deh. Keren!" puji Aira, pada sosok penjaga yang tinggi besar, tegap tapi agak sedikit bulat di bagian perutnya itu.


Tentu saja ucapannya yang ramah dan supel kepada pekerja di rumahnya ini, adalah salah satu hal yang di rindukan oleh sang penjaga tersebut.


"Neng bisa aja," jawab Unang. Segala malu-malu.


"Duh, kangen banget sama rumah dan semua orang-orang di sini," ucap Aira lagi.


"Termasuk sama bapak kan Neng," goda Unang, pria berusia empat puluh lima tahun ini sudah terbiasa bercanda dengan anak majikannya ini. Entah itu Aira maupun Hasna.


"Iya dong, bapak itu salah satunya. Meskipun saya letakkan di daftar list paling bawah," jawab Aira dengan ledekan pula.


"Ahahahah. Eneng bisa aja. Satu hal yang terpenting mah, Bapak masuk dalam daftar penerima oleh-oleh," ucap Unang lagi penuh harap.


"Adalah Pak. Tapi nanti ya. Aira mau ketemu Bunda dan semuanya dulu," jawabnya seraya hendak melangkahkan kaki kedalam rumah.


"Eh tapi, Neng. Bunda gak ada," panggil Unang.


Langkah kaki Aira pun langsung tertahan.


"Bunda kemana? Lagi keluar kota ya, ngisi kajian?" cecar Aira.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2