Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 47# Jodoh Untuk Musa


__ADS_3

Bukan hanya Aira yang heran tapi juga Hasna.


Bagaimana Angkasa bisa begitu bahagia ketika karena kecelakaan tersebut tangan dan kakinya di pasangi pen karena mengalami keretakan pada tulangnya.


Juga operasi di kepala yang di sebabkan benturan keras. Angkasa, bahkan sangat bersyukur karena itu semua.


"Kek, keadaanmu sudah sedemikian parah. Tapi, Kakek masih bersyukur pada Allah. Bahkan menganggap bahwa musibah ini adalah nikmat. Bagaimana bisa, Kek?" tanya Aira, mengutarakan penasarannya.


"Tentu saja sayang. Karena dengan begini, adikmu mendapatkan jodohnya Kamu juga tiba-tiba pulang. Bukankah ini semua adalah nikmat di balik musibah yang kakek alami. Betapa kakek teramat bersyukur karena ini semua," tutur Angkasa.


"Jodoh? Hasna?" cecar Aira seraya menoleh ke arah Hasna.


"Aku--" Hasna tidak meneruskan ucapannya, ia menunduk. Rasanya malu sekali jika dia sendiri yang mengatakannya.


"Adikmu akan menikah, Ai. Itu, calon suaminya," tunjuk Angkasa pada Gus Amar dengan sorot matanya. Aira lantas mengikuti kemana arah pandangan sang kakek.


Tanpa sadar, gadis muslimah ini menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Masyaallah! Dedek!" seru Aira, kaget campur speechless.


Hingga ia tak tau lagi harus berkomentar apa. Karena Aira juga tau bagaimana trauma dan tabiat Hasna selama ini.


Bagaimana keras kepala sang adik, ketika di ajak mondok kala itu tapi tak mau.


"Maaf, Kak," cicit Hasna.


"Lho, kenapa kamu minta maaf?" heran Aira.


"Aku, ngelangkahin Kakak," ucap Hasna lagi pelan.


"Ya ampun, jadi karena itu. Dengar ya, Dek. Masalah jodoh itu adalah hak Allah. Jadi, gak ada istilah melangkahi. Siapapun yang hadir jodohnya lebih dulu itu kan takdir yang udah Allah tetapkan. Jadi, manusia manapun tak ada yang berhak menunda jodoh orang lain. Menikahlah, Kakak tidak merasa kau langkahi, bahkan Kakak merestuimu," tutur Aira begitu dewasa dan bijaksana.


Amar tersenyum lega sekaligus kagum akan pandangan Aira yang begitu luas akan agamanya. Pantas saja jika gadis ini mampu menyelesaikan studinya lebih cepat.


"Terimakasih, Kak. Atas pengertiannya," ucap Hasna seraya memeluk Aira.


Hasna bersyukur tak ada drama tentang mengenai melangkahi kakak tertua menikah yang biasanya banyak terjadi. Sehingga, tak sedikit rencana yang tertunda itu menyebabkan hal buruk di luar dugaan.


Sementara dalam Islam tak ada istilah seperti itu.


Barang siapa yang sudah hadir jodohnya. Menikahlah.


Hanifa menyeka air mata yang sudah membasahi niqob-nya.


Wanita ini bahagia karena memiliki putri yang berjiwa besar dan bijaksana dalam bersikap.


"Kembalilah, biar Kakak di sini jagain Kakek sama Bunda. Kamu kan baru sembuh dari sakit. Harus banyak istirahat," titah Aira.


Hasna pun mengangguk dan ia menoleh pada Gus Amar memberi isyarat pada lelaki itu.

__ADS_1


Karena, Hasna masih merasa sungkan untuk bicara. Padahal, semalam dia begitu berani memojokkan pria itu hingga ke sudut.


"Apa kamu tidak lelah, Ai. Kamu juga pulang saja kerumah. Mungkin, besok atau lusa Kakek sudah bisa pulang," ucap Angkasa.


"Aira mau istirahat di sini saja, Kek. Itu kan ada tempat tidur. Ai bisa tidur sama Bunda di sini. Daripada di rumah sepi gak ada kalian maupun Hasna. Ai gak mau," jawab Aira.


"Sudahlah, terserah kamu. Sebenarnya bunda juga senang karena punya teman ngobrol jadinya. Soalnya Kakek kamu itu kan nanti lebih banyak tidur. Mana ponsel Bunda juga rusak," adu Hanifa layaknya anak kecil yang merengek.


"Ya Allah, Bunda gemesin banget. Beli ponsel baru aja ya. Nih, pesennya pake handphone aku aja!" tawar Aira.


Hanifa pun memesan ponsel pada salah satu gerai gadget kenalannya agar barang itu dapat diantar secepatnya.


"Sudah nih. Bunda kudu nunggu sekitar empat jam lagi," kata Hanifa.


Akhirnya urusan ponsel rusak selesai, karena sudah ada gantinya. Hanifa memesan sekaligus dua karena untuk Angkasa juga. Bagaimanapun sang papa juga membutuhkan alat komunikasi itu. Sebab, Angkasa juga berhubungan banyak dengan orang-orang.


Aira juga menghubungi Pak Ujang agar mengantarkan koper berisi pakaiannya yang masih tergeletak di rumah tamu, ke rumah sakit.


Sementara itu, di dalam mobil yang di kendarai oleh Gus Amar. Dua insan yang akan menikah sebulan lagi, tak ada yang membuka suara. Mereka diam seribu bahasa.


Sebenarnya, Gus Amar terlihat berkali-kali ingin m membuka mulutnya tapi urung, karena ia takut itu nanti akan membuat suasana hati Hasna berubah.


Ah, pokonya Gus Amar banyak takutnya ketika bertingkah di depan Hasna.


Padahal banyak sekali yang ingin pria ini tanyakan.


Ehem!


Sebab, gadis itu sejak tadi hanya menoleh keluar jendela. Entah apa yang menarik dari jalanan.


"Hasna," panggil Gus Amar.


Hasna pun sontak menoleh. "Kenapa, Gus?" tanyanya.


Gus Amar justru hanya tersenyum.


Melihat ekspresi Pria yang akan menjadi suaminya ini membuat Hasna mendengus pelan.


"Hei lihat ke depan saja!" titah Gus Amar.


"Kenapa? Hasna, maunya lihat yang di samping jendela," jawab Hasna.


" Nanti leher kamu, kaku kalo kelamaan nengok gitu," jelas Gus Amar.


Hasna tak menjawab lagi, tapi gadis itu menurut dan langsung membenahi duduknya.


"Nah, mending kamu senderan, terus merem. Nanti, kalo udah sampe pondok aku bangunin," ucap Gus Amar memberi saran.


Lagi-lagi Hasna diam tak menjawab tapi dia mengikuti apa yang pria itu katakan.

__ADS_1


Gus Amar hanya tersenyum simpul menanggapi sikap Hasna yang malu-malu meong gini.


"Hasna, aku nanya boleh gak?" tanya Gus Amar.


"Tadi, katanya di suruh merem. Kenapa sekarang malah di kasih pertanyaan?" kata Hasna.


"Ahaha, iya juga. Tapi kamu belum mau tidur kan?" kilah Gus Amar yang tak tahan untuk tertawa. Karena salahnya juga memang. Hasna ia perintahkan tidur tapi dia juga yang mengajukan pertanyaan ketika gadis itu hendak memejamkan matanya.


"Ya, belum sih. Gus mau tanya apa?" ucap Hasna seraya menahan deburan ombak dalam dadanya.


"Nanti, kalo kita sudah menikah, kamu mau tinggal di pondok atau mau di tempat lain?" tanya Gus Amar serius.


"Itu semua, terserah Gus saja. Tapi, bukankah Ummi ingin kita tinggal sama-sama?" jawab Hasna.


"Iya, memang. Aku hanya takut dan khawatir kamu gak nyaman aja nanti,"


"Aku gak tau, kita liat aja nanti gimana," sahut Hasna lagi.


"Hasna,"


"Um." Hasna menoleh sambil bersandar. Hingga tatapannya dengan Gus Musa bertemu sesaat. Karena pria itu langsung berpaling kembali melihat depan jalanan.


"Kalo nanti kamu ngerasa gak nyaman. Pokoknya kamu bilang sama aku. Jangan diem aja atau di pendam dalam hati. Karena, aku gak mau hati apalagi perasaan istriku tertekan," tutur Gus Amar.


"Iya, Gus. Insyaallah Hasna ngerti. Hasna akan terbuka dan menceritakan semua yang Hasna rasa," jawabnya. Perlahan-lahan kedua mata Hasna tak lagi membuka. Rasa kantuk dan lelah telah menguasainya.


Gus Amar tersenyum.


Setidaknya pria itu sudah tau jika Hasna rela tinggal bersama keluarga besarnya.


Sesuai janjinya, Kyai Faisal langsung menghubungi tukang untuk merenovasi bangunan yang berada di bagian belakang kediamannya.


"Saya mau, bangunan itu selesai dalam waktu lima belas hari. Kerahkan tenaga kuli sebanyak-banyaknya!" titah Kyai Faisal di balik telepon.


Ning Khumaira pun tersenyum bahagia, hingga ia senantiasa bergelayut manja di lengan suaminya itu.


Kyai Faisal yang sudah selesai menelepon akhirnya menunduk untuk menikmati wajah menggemaskan istrinya ini.


Meskipun, usia mereka tak lagi muda tapi keduanya tetap menjaga hubungan agar tetap harmonis dan hangat. Dengan beberapa tingkah yang terkesan romantis.


Kyai Faisal menunduk untuk mengecup kening Khumaira-nya.


"Nanti, biar Hasna yang memilih sendiri furniture untuk rumah itu. Gimana, Ummi setuju kan?" tanya Kyai Faisal seraya menatap manik pekat bidadari surganya itu.


"Ummi setuju banget. Pokonya, apa yang Abi lakukan itu sesuai dengan apa yang Ummi inginkan. Pokoknya, Abi the best!" puji Ning Khumaira pada suaminya seraya mengangkat kedua jempolnya.


"Kamu paling bisa kalo ngerayu. Hayo deh, Ummi mau apa sih, hem?" tanya Kyai Faisal.


"Kita cariin juga jodoh buat Musa. Pasti lucu kalo kedua putra kita nikah bareng," ucap Ning Khumaira. Dimana hal itu membuat suaminya seketika tersedak udara.

__ADS_1


Uhukk!


Bersambung


__ADS_2