
"Ssst! Jangan berisik ogeb, Lu mau bangunin penghuni pondok," marah si pencuri pertama dengan berbisik sambil memukul belakang kepala kawannya.
Keduanya kini terlihat mengendap-endap di balik semak belukar. Perlahan langkah kaki mereka membawa ke tepi danau belakang asrama putri.
"Jirr! Uler!" kaget mereka berdua. Hewan bertubuh panjang dan melata itu kini berada di depan kaki mereka. Para pencuri ini pun langsung mengambil kayu lalu memukuli hewan melata tersebut hingga tak bernyawa.
"Lu kan bawa clurit, kenapa tadi gak lu pake ogeb," protes si pencuri pertama pada kawannya.
"Lupa Bro, panik,"" jawab sang pencuri kedua.
"Klo ada uler belang kayak tadi, tangkap. Bisa kita gunain buat senjata nanti," bisik sang pencuri pertama. Hal itu pun langsung diangguki pencuri kedua.
Pencuri pertama berjalan di bagian depan. Mereka berniat mencari persembunyian sementara malam ini. Sampai kondisi aman dari para warga yang mencarinya.
"Bang, gua Nemu uler!" pekik tertahan dari pencuri kedua.
"Masukin karung aja sana," sahut di pencuri pertama tanpa menoleh ke belakang.
Pencuri kedua pun, menangkap kepala ular tersebut dengan sigap lalu memasukkannya ke dalam kantung kain yang juga berisi barang hasil curian mereka.
Sementara itu, di belakang mereka para warga kampung masih menelusuri jejak.
Para pencuri ini makin tersudut. Mereka tak mau tertangkap setelah perjuangan panjang untuk masuk ke salah satu rumah warga yang kaya raya tersebut. Bahkan, salah satu dari mereka juga telah melukai korban lumayan parah.
"Kita gak boleh tertangkap. Atau, kita bakal masuk penjara bertahun-tahun. Kita harus cari tempat persembunyian sampe besok pagi," bisik pencuri pertama. Keduanya menggunakan penutup wajah yang mana terdapat lubang di bagian mata dan hidung.
Pakaian mereka serba hitam hingga sempurna sekali ketika bersembunyi di balik semak belukar. Akan tetapi, karena di tempat itu banyak ular berbisa maka mereka memutuskan untuk mencari bangunan yang tak terpakai di sekitar asrama santriwati.
"Suek! Dulu gua pernah mondok di sini sebentar sebelum akhirnya kabur," ungkap pencuri pertama.
"Ah yang bener lu Bang?" heran kawannya tak percaya.
"Ironis memang. Sekarang, gua kudu balik lagi justru sebagai pencuri. Gua harap, pondok ini bisa menyembunyikan kita," ucap si pencuri pertama.
"Gimana ceritanya ini," gumam pencuri kedua risau.
Karena warga yang mencari mereka sudah sangat dekat.
"Kita kehilangan jejak mereka! Kemungkinan besar para pencuri itu masuk ke area asrama santriwati!" terang salah satu warga pada yang lainnya.
"Saya dapat pesan dari pak kepala RW, katanya kyai Faisal dan para santriwan serta pengajar akan melakukan pemeriksaan seluruh area pondok," terang salah satu warga yang sedang memegang ponsel. "Semoga kita dapat menemukan pencuri bersenjata tajam tersebut," tambahnya lagi.
__ADS_1
Para warga tetap berdiam di tempat tersebut sambil berkoordinasi dengan para warga yang berada di area depan.
Tok tok tok!
Hasna langsung membuka matanya ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar asrama. Meskipun gadis ini sudah tertidur pulas, namun berkat respon kewaspadaan Hasna yang sudah terbiasa siap siaga. Membuatnya langsung sigap sadar dan bangun.
Hasna segera menyambar kerudung instan yang tersampir di kepala ranjang besi. Meksipun, yang mengetuk pintu sudah pasti pengurus asrama santriwati yang juga sesama perempuan.
Klek!
Pintu telah terbuka dan terdapat dua orang pengurus asrama dengan satu santriwan laki-laki.
"Ada apa, Kak?" tanya Hasna dengan kerutan di keningnya.
"Waspadalah, jangan keluar dari kamar. Kunci dan rapatkan semua pintu. Pondok kita kemasukan pencuri," jelas pengurus panti.
"Astagfirullah!" Hasna langsung membekap mulutnya sambil mengucap istighfar.
Pantas saja perasaanya tak enak sejak mau tidur tadi.
"Baik Kak. Insyaallah kami akan waspada," jawab Hasna. Meskipun, di dalam hatinya timbul rasa penasaran.
"Ya Allah. Ada-ada saja. Semoga mereka cepat tertangkap," gumam Hasna. Setelah gadis ini menutup rapat pintu dan jendelanya.
"Hasna pun kembali ke atas kasur dan berusaha untuk memejamkan matanya. Berpikir bahwa para pencuri itu tidak mungkin masuk ke kamar para santriwati.
Akan tetapi, suara berisik di luar membuyarkan keyakinannya.
Hasna pun kembali turun dari kasur dan mencoba mengintip dari balik gorden jendela.
"Semua orang sepertinya keluar. Itu juga sepertinya ada Gus Musa. Ada berapa pencuri sebenarnya? Kenapa semua begitu terlihat waspada? Jika memang hanya pencuri biasa yang masuk. Mereka tidak akan sepanik itu," pikir Hasna.
"Kenapa Na ...,"
"Iya, ada apa sih?"
Rupanya Sarah dan Syifa terbangun. Kedua gadis itu mendekati Hasna sambil mengucek mata mereka.
Hasna pun langsung menghampiri kedua kawannya itu. "Gak ada apa-apa. Udah yuk, kita tidur lagi. Baru jam setengah satu dini hari. Lumayan masih ada satu jam setengah sebelum kita bangun buat tahajjud," kata Hasna.
"Ya udah deh, yuk!"
__ADS_1
Sarah dan Syifa pun tertidur lagi.
Akan tetapi, Hasna sepetinya tidak bisa setenang mereka.
Lagi-lagi, terdengar bunyi berisik di luar kamar. Entah, apakah karena memang naluri Hasna yang tajam dan sensitif. Ia merasakan bahaya itu dekat sekali.
"Aku gak bisa diem aja dikamar. Sambil nunggu para pencuri itu kemungkinan masuk ke sini. Aku harus bersiap siaga," gumam Hasna.
Kemudian gadis ini langsung mengganti gamisnya. Untung saja, Hasna membawa perlengkapannya. Yaitu pakaian fleksibel yang biasa ia gunakan untuk balapan. Dimana pada bagian celana, ia bisa menyisipkan pisau kecil maupun benda lainnya.
Bahkan potongan pakaiannya ini juga sengaja dibuat khusus agar Hasna dapat berkelahi dengan mudah.
Tak lupa, Hasna mengenakan Penutup wajahnya. Ia tak mau jika, para penghuni pondok mengetahui identitasnya nanti.
Sebelum keluar, Hasna menoleh ke arah dua kawannya yang tertidur pulas itu.
"Maafin aku," gumam Hasna sambil berlalu keluar dan mengunci pintunya juga dari luar.
Dengan gerakan gesit bagaikan ninja. Hasna tau, sudah berada di atas sebuah pohon yang lumayan tinggi.
Dari sana dirinya sudah bisa melihat, aktivitas para penghuni pondok pesantren Darussalam.
Bahkan di beberapa titik mereka para santriwan dan pengajar pria berjaga.
Tatapan Hasna menjurus pada gudang kosong di belakang dapur.
Ada pergerakan mencurigakan di sana. Tetapi, para penghuni pondok tidak menyadarinya.
"Sepertinya pencuri itu tidak sendirian. Mereka menghindari penjagaan. Haiihh, gerakan para santriwan terlalu mencolok hingga memancing tindakan nekat dari pencuri itu. Harusnya, mereka itu di pancing keluar atau di jebak saja," monolog Hasna. Membaca setiap gerakan di bawah sana.
"Hei! Sepertinya mereka ada di dalam gudang sebelah dapur!" teriak salah satu guru pengajar.
"Aduh, seharusnya jangan di kejar tapi pancing keluar. Kalian itu bisa terluka," gumam Hasna gusar dari atas pohon.
Tiba-tiba ...
Krakk!
"Astagfirullah!"
Bersambung
__ADS_1