
Mengabaikan pandangan orang terhadapnya. Musa keluar dari supermarket dengan santai dan tetap tenang. Toh, dia bukan seperti apa yang mereka kira.
Musa telah keluar dari lift, dan berjalan di lobi menuju kamar perawatan Angkasa.
Mempersiapkan hatinya untuk menemui wanita yang sempat mengisi relung hatinya selama beberapa waktu sebelum akhirnya Hasna hadir. Ketika Hasna harus ia relakan pergi. Kini, gadis itu justru hadir dan menghubunginya.
Betapa Musa ingin melompat kegirangan ketika tau bahwa Aira masih menyimpan nomer ponselnya.
Musa telah berada di depan pintu, tangannya terulur untuk mengetuk tapi ragu. Padahal, dia sudah beberapa kali datang ke kamar tersebut.
Sementara, Aira tengah bolak-balik menatap layar ponselnya.
"Lama juga. Katanya otewe," gumam Aira.
Hanifa mengernyitkan kening melihat sang putri bergumam sendiri.
"Kamu lagi nunggu siapa, Aira? Apa ada yang mau datang ke sini?" cecar Hanifa, sang bunda.
Tentu saja, Aira terkesiap pada saat mendapat pertanyaan beruntun dari sang bunda.
"Sebenarnya, Aira--"
"Assalamualaikum!" Musa mengetuk pintu sambil memberi salam.
"Ada yang datang," ucap Hanifa seraya mengenakan niqob-nya.
"Itu, pasti Gus Musa," ucap Aira.
Hanifa membulatkan kedua matanya. Untuk apa Gus Musa datang kesini? Oh, jadi orang yang sejak tadi chattingan dengan Aira adalah salah satu putra Kyai Faisal.
Aira pun bangun dan melangkah maju untuk membuka pintu.
Ketika pintu di buka, bertemulah keduanya.
Gus Musa dan Aira.
Senyum pun terbit di kedua wajah mereka.
"Aira ..."
"A–Assalamualaikum," sapa Gus Musa gugup.
"Wa'alaikum salam, Gus Musa," jawab Aira tenang.
"Masuklah," ucapnya lagi. Seraya membuka pintu itu lebar agar Musa dapat masuk dengan leluasa. Apalagi, terdapat banyak barang di kedua tangannya.
"Musa. Banyak banget bawaannya. Apa ini semua suruhan dari Aira?" tanya Hanifa.
"Iya Ustadjah. Gapapa kok. Selagi bisa saya bantu maka akan saya lakukan," ucap Gus Musa.
__ADS_1
"Gimana keadaan Ustadz Ang?" tanya Gus Musa dengan tatapan mengarah ke hospital bed. Dimana, sosok panutan itu tengah tertidur pulas.
"Alhamdulillah, sudah banyak kemajuan. Besok kemungkinan sudah boleh pulang," jawab Hanifa.
Sementara, Aira segera mencari barang pesanannya di dalam paper bag. Tetapi, ketika matanya menangkap benda segitiga itu, sontak membuat Aira terbelalak.
"Kau membeli ini juga, Gus?" tanya Aira seraya mengangkat benda itu tinggi-tinggi.
Musa hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aira, kenapa kau sopan sekali!" protes Hanura yang merasa tak enak hati. Putrinya telah memerintah anak dari seorang kyai dengan seenaknya.
"Gapapa Ustadjah. Saya udah biasa kok. Makanya tadi itu saya inisiatif aja. Takutnya, Aira juga butuh," jelas Gus Musa.
Aira yang kedua pipinya memerah langsung berlari ke dalam kamar mandi.
Bisa-bisanya, Gus Musa memikirkan juga benda itu. Kebetulan, Aira memang sangat membutuhkannya.
"Maaf ya, Nak Musa. Jika putri saya sudah merepotkan," ucap Hanifa merasa tak enak..
"Tidak masalah Ustadjah. Tak perlu di pikirkan. Lagipula, saya kesini memang ingin menemui Aira. Karena itu saya menawarkan apakah ada barang yang bisa saya belikan," terang Gus Musa.
"Jadi begitu. Oh ya, kenapa kalian ingin bertemu?" Kulik Hanifa ingin tau. Karena ia sama sekali tak menduga jika, Aira juga kenal baik dengan salah satu putra pendiri pondok pesantren ini.
"Sebenarnya, saya yang mengajak Aira untuk bertemu. Karena ada yang ingin saya tanyakan. Semoga nasib baik menyertai saya," ucap Musa penuh harap.
_______
"Terimakasih ya, Gus. Kamu penyelamatku," ucap Aira dengan senyum lebar.
"Jangan terlalu berlebihan," jawab Gus Musa.
"Inisiatifmu sangat tepat pada waktunya. Aku, sendiri bahkan tidak kepikiran sampai kesana. Sekali lagi, terimakasih," ucap Aira tulus.
Musa hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
Hatinya terus berdebar saat menerima berkali-kali pujian dari Aira.
"Nampaknya, Gus Musa juga sudah siap ya. Untuk jadi suami siaga," ledek Hanifa.
"Insyaallah Ustadjah. Saya tinggal nyari siapa yang mau saya jagain," kelakar Musa mencoba bercanda agar santai. Karena hatinya jedak-jeduk tak karuan.
Sementara Aira yang berada di sebelah Hanifa, agak terkejut mendengar ungkapan dari Gus Musa tersebut.
"Wah, jadi Gus Musa, juga sudah siap melepas status lajang nih?" Kulik Hanifa lagi.
"Insyaallah siap Ustadjah. Tapi, kira-kira Ustadjah siap gak kalau saya minta anak gadisnya?" tanya Gus Musa dengan serangan telak.
Deg!
__ADS_1
Aira dan Hanifa sama-sama kaget. Keduanya bahkan, terkesiap dan saling pandang.
"Maksud, Gus Musa gimana?"
Musa pun menghela napas panjang sebelum menjawabnya.
"Kebetulan Ustadjah bertanya. Saya akan menjelaskan. Sebenarnya maksud saya bertemu dengan Aira karena ada yang ingin saya tanyakan sekaligus bicarakan. Mohon maaf sebelumnya jika saya lancang," tutur Gus Musa seraya memperhatikan tanggapan dari kedua wanita di hadapannya ini.
"Ai." Hanifa menoleh ke arah putrinya itu. Aira pun mengangguk, agar Gus Musa meneruskan ucapannya.
"Sebenarnya saya sudah cukup lama menyimpan perasaan ini, terhadap Aira. Jujur saja, perasaan itu sempat terlupa dengan kehadiran Hasna beberapa saat lalu. Akan tetapi, setelah saya tau bahwa Hasna justru menginginkan Mas Amar sebagai imamnya. Saya pun memutuskan untuk mundur dan menghempas perlahan perasaan yang tumbuh terhadapnya." Gus Musa menjeda dulu ucapannya, demi melihat air muka Aira.
Gadis itu sempat kaget sesaat. Akan tetap, dia kembali mampu menguasai diri dan mengembangkan kembali senyumnya.
"Ternyata, saya sama sekali tidak pernah kehilangan perasaan saya terhadapmu, Aira. Perasaan itu, yang berawal dari kekaguman, masih ada. Kini, berubah menjadi sebuah keinginan untuk menjadikanmu, bidadari pendampingku di dunia maupun di akhirat. Bolehkah, Ustadjah?" tanya Gus Musa pada Hanifa.
Wanita itu kaget. Dia pikir, Gus Musa akan bertanya pada putrinya.
"Ha, itu ... Bunda, gimana Aira saja," jawab Hanifa.
Wanita ini sama sekali tak menyangka jika seorang Gus muda seperti Musa memiliki keberanian untuk menghitbahnya putrinya seorang diri.
Aira yang di tunjuk.
Rupanya tengah menguasai debaran dalam dadanya.
Hati gadis itu senang bukan main.
Karena perasaannya bak gayung bersambut dengan Musa.
Walau begitu, wajahnya tak mampu untuk ia angkat menghadap pria di depannya ini.
"Aira, bicaralah. Gus Musa mengkhitbah mu. Lalu, apa jawabanmu, Nak?" tanya Hanifa, pada putrinya.
"Ai--" Gadis itu mendongak dan menatap wajah Gus Musa lekat. "Aira, menerimanya, Bunda," jawab gadis muslimah lulusan universitas Islam di kota Yaman itu, penuh keyakinan.
Kedua sudut bibir Gus Musa pun terangkat tinggi. Hingga, sebuah senyum lebar terbit di wajahnya yang tampan.
Pria itu memegangi dadanya yang berdesir hangat. Agaknya, keinginannya menikah serentak dengan saudaranya nanti akan segera terlaksana.
"Bagus sekali! Kau khitbah cucuku di saat aku tertidur pulas!" Tiba-tiba suara bariton terdengar, dari arah hospital bed.
Pria usia senja dengan rambut putih menatap tajam ke arah ketiganya.
Glek!
Ingin rasanya Musa mengubur dirinya ke lubang undur-undur.
Kenapa dia bisa terlupa akan keberadaan Angkasa.
__ADS_1
Bersambung