
Ingin rasanya Amar berteriak kaget seperti itu namun hanya bisa ia lakukan dalam hati saja.
Wajah saudara kandungnya itu begitu bahagia, sementara perasaannya sendiri masih abu-abu.
Amar berjalan hingga ke depan pintu lalu berhenti. Sementara, Musa masih menatap nanar ke atas lantai.
"Hey, Bung!" panggil Gus Amar kepada sang adik.
Musa langsung mendongak dan ia pun paham. Amar ingin ia menemaninya untuk berbicara kepada kedua orangtua mereka.
"Apa aku yakin, membiarkan mas Amar menikahi Hasna. Jadi, Ukhti bar-bar itu nanti jadi kakak iparku, gitu," batin Musa, ragu.
Tanpa sadar, langkah mereka berdua telah sampai di ruang keluarga. Dimana kedua orang tua mereka tengah bersantai..
Amar pun mengutarakan maksud dah keinginannya kepada Kyai Faisal serta Ning Khumaira sang ummi.
Sontak, kedua suami istri ini saling pandang dalam kebingungannya.
"Insyaallah, nanti Abi akan bicarakan niatmu ini kepada Angkasa," jawab Kyai Faisal.
Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pasangan suami istri ini dari kedua anak mereka. Dan, hal itu nampak di sadari oleh Musa.
"Kenapa ... ummi sama Abi kok kayak kurang suka mendengar keinginan Mas Amar? Bukankah, mereka juga menginginkan agar mas cepat menikah? Kenapa tatapan ummi juga kayak gitu ke aku?" cecar Musa pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya.
Hasna bangun kesiangan.
Sejak semalam hadis itu berusaha menahan rasa yang melanda tubuhnya. Akan tetapi pagi ini ia merasa tak sanggup lagi. Sehingga, Hasna bahkan tak kuat untuk sekedar turun dari tempat tidurnya.
"Badan kamu panas banget, Na. Ini kamu demam," ucap Syifa yang ijin dari kelas untuk menengok Hasna. Karena, tadi pagi Hasna tidak makan sama sekali sebab muntah terus.
"Aku kedinginan, Fa. Tolong ... pinjemin aku selimut kamu," pinta Hasna dengan suara menggigil.
Padahal dirinya telah menggunakan selimut double.
"Duh, kamu sakit apa ya ini. Panas diluar dan dingin di dalam?" gumam Syifa yang bingung. Sambil memeras kain yang ia gunakan untuk mengompres kening kawannya ini.
Ingin kembali ke kelas pun rasanya tak tega meninggalkan Hasna dalam keadaan yang seperti ini.
__ADS_1
Hasna tak menjawab, bahkan kedua matanya masih terpejam seakan sulit untuk terbuka. Tubuhnya bergetar di balik selimutnya.
"Aku harus meminta obat ke klinik." Dengan berat hati, Syifa terpaksa meninggalkan Hasna sendirian di dalam kamar. Tak lupa, Syifa melapor pada pengawas asrama tentang bagaimana keadaan Hasna saat ini.
Pengawas kamar pun langsung menengok keadaan Hasna. Kemudian melapor kepada wali kepala santriwati.
Syifa ijin untuk merawat Hasna pada Ustadjah Nurul. Karena kebetulan hari ini adalah kelas beliau. Sarah, yang mengetahui keadaan Hasna juga ingin ijin. Akan tetapi Ustadjah Nurul melarang. Cukup Syifa saja yang menemani Hasna, titah Ustadjah Nurul.
Syifa telah memberikan Hasna obat, serta menyuapinya bubur. Akan tetapi, keadaan Hasna semakin buruk. Gadis itu terus muntah meskipun hanya air yang masuk kedalam perutnya.
Wajah Hasna sudah pucat pasi seakan tanpa darah.
Keadaannya pun sampai ke telinga Gus Musa.
"Astagfirullah. Serius, Hasna sakit?" tanya Gus Musa pada salah satu santri yang ia dengar tengah membicarakan Hasna. Kebetulan, pas Musa lewat tadi beberapa santriwati membicarakan keadaan Hasna.
Beberapa bahkan mengatakan hal yang tidak lazim. Entah darimana sumber berita itu.
"Muntah-muntah ya. Selama ini saya juga tidak pernah melihat kalau dia berhalangan. Sudah hampir dua bulan kan dia di sini," ucap Ustadjah Ainun ketika para pengajar berada di dalam ruang guru.
"Maksud, Ustadjah ... ada kemungkinan kalau Hasna itu, hamil begitu?" kulik, Ustadjah yang lain.
"Tapi, Kak. Bisa saja kalau Hasna itu punya penyakit tertentu. Menurut saja dia itu gadis yang baik," timpal Ustadjah Nurul yang baru ikut gabung di ruangan tersebut.
"Mana ada, gadis baik-baik yang tiba-tiba di masukkan kedalam pondok pesantren oleh orangtuanya. Asal kalian tau, dia itu bad girl dan suka berkelahi serta balapan motor," ungkap Ustadjah Ainun.
"Loh, Ustadjah tau darimana?" Kulik pengajar yang lain.
"Aku gak sengaja, pernah dengar Kyai Faisal dan Ning Khumaira membicarakan Hasna. Selama ini, aku diam aja meskipun tau siapa anak itu sebenarnya. Makanya, aku sengaja ngerjain dia pas di hukum masak oleh Gus Musa," tambahnya lagi.
Kata, Oh panjang pun keluar dari mulut beberapa pengajar. Terkecuali Ustadjah Nurul.
Di dalam pikiran salah satu pengajar yang memiliki ciri khas suara yang lemah lembut ini, justru tengah memikirkan kemungkinan yang lain.
"Alangkah baiknya, kita semua senantiasa berprasangka baik terhadap siapapun. Termasuk, santriwati kita sendiri. Sekalipun, latar belakang mereka buruk atau underground. Sesungguhnya Allah menyukai manusia yang perduli dan menyayangi sesamanya," ucap Ustadjah Nurul begitu lembut, hingga mampu menyejukkan suasana.
Mereka semua pun terdiam, termasuk Ustadjah Ainun yang hampir saja memprovokasi para pengajar.
"Kak, jika seperti yang kamu katakan. Bahkan Hasna adalah gadis yang suka berkelahi. Apa ada kemungkinan, jika yang pada malam itu melawan dua pencuri adalah Hasna?" tebak Ustadjah Nurul mengutarakan spekulasinya.
__ADS_1
"Hah, mana mungkin? Sosok muslimah misterius malam itu sangat keren," tolak Ustadjah Ainun tak terima. Meskipun, sebenarnya ia setuju dengan analisa dari Ustadjah Nurul. Sebab, kalau di perhatikan dari matanya memang sama seperti Hasna.
Lagipula, di pesantren ini tak ada satupun santriwati yang memiliki ilmu beladiri seperti itu.
Akan tetapi, dengan sifat iri hati dan dengki yang secara tak sadar telah melekat di hatinya. Ainun, berusaha menepis semua kemungkinan yang mengarah pada Hasna.
Sementara itu.
"Ummi ... Ummi ...!" panggil Musa ketika telah berada di dalam kediamannya.
Lelaki itu berjalan kesana dan kesini mengelilingi rumah tersebut. Demi mencari sosok yang sangat ia butuhkan saat ini.
Tak lama kemudian, muncullah sosok berpakaian syar'i lebar lengkap dengan niqob-nya dari arah luar.
Sementara Musa masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu.
"Ummi mana sih?" gumam Musa. Lelaki berkumis tipis itu pun berteriak sekali lagi.
"Ummi ...!"
"Labbaik!" jawab Ning Khumaira. Dimana langsung membuat Musa terperanjat lantaran kaget.
"Astagfirullah. Kenapa tau-tau nongol di belakang," protesnya.
"Kamu ini kenapa teriak-teriak?" tanya Ning Khumaira yang telah melepas niqob-nya.
"Hasna sakit. Keadaannya cukup parah, obat dari klinik sama sekali gak berefek katanya," tutur Musa begitu cepat.
"Innalilahi," pekik Ning Khumaira tertahan.
"Sekarang juga, kamu harus anter Ummi kesana!" ajak Ning Khumaira yang telah mengenakan kembali niqob-nya.
"Yaudah, ayok!" Musa pun langsung menuntun tangan sang Ummi.
Tanpa sepengetahuan kedua orang ini, ada sepasang mata yang mengintip dari balik lemari besar.
Senyum getir tercetak di wajahnya yang memiliki bulu halus di sekitar rahang.
"Kenapa kau menutupi perasaanmu, Dek. Atau, kau memang tidak menyadarinya?" gumam pria yang bersembunyi sambil memegang dada sebelah kirinya yang berdenyut ngilu.
__ADS_1
Bersambung