
Aira sangat senang karena dalam bulan ini gadis itu bisa kembali ke tanah air untuk berkumpul dengan keluarganya.
Sengaja, Aira tak memberitahukan sebelumnya pada sang bunda. Gadis ini berniat untuk memberi kejutan.
"Bunda, kakek sama adek pasti kaget deh. Selama ini aku sangat jarang sekali menghubungkan mereka. Tau-tau, Aira malah pulang dari rumah bawa ijasah kelulusan. Ah, udah gak sabar liat muka kaget mereka. Oh iya, Gus Musa gimana kabarnya ya. Apa dia masih ingat aku?" gumam Aira berbicara seorang diri sambil menyiapkan segala keperluannya untuk kembali ke tanah air.
Sementara itu, Hanifa setelah mendengar pertanyaan dari Hasna langsung menghubungi Angkasa. Akan tetapi, ponsel sang papa tidak dapat di hubungi.
Perasaannya seketika menjadi tak enak. Padahal, hari ini adalah kepulangan Hasna. Wanita itu bingung karena Hasna menginginkan kembali lagi ke pondok. Sementara, dokter menyarankan agar Hasna istirahat dulu di rumah.
Hanifa, ingin minta pendapat sang papa. Akan tetapi, tumben sekali ponselnya sangat susah di hubungi.
"Pa, angkat dong teleponnya. Jangan buat Hanifa khawatir kayak gini," gumam Hanifa sambil terus mencoba menekan dial pada layar ponselnya.
"Bunda," panggil Hasna lembut sambil menyentuh bahu wanita yang berpakaian syar'i itu.
Hanifa langsung menoleh. Karena sang putri sampai menghampirinya.
"Kakekmu. Berkali-kali Bunda telpon tapi gak ngangkat. Perasaan Bunda jadi gak enak gini, Na," ungkap Hanifa, dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran.
"Mungkin, Kakek lagi sibuk Bun," ucap Hasna mencoba menangkan sang Bunda. Sekalipun, perasaanya juga sejak semalam kepikiran terus akan Angkasa.
"Enggak, Na. Kakek tau kamu pulang hari ini. Makanya, Kakek gak ambil jadwal mengajar dan ngisi. Tapi kok, dari sejam yang lalu ... hapenya gak aktif. Kakekmu dimana ya?" risau Hanifa. Hatinya semakin tak menentu.
"Sabar ya, Bun. Apa mungkin Kakek udah di jalan menuju ke sini. Kakek bawa mobil sendiri kan?" tanya Hasna memastikan.
"Mungkin, tapi Bunda udah bilang biar ngajak di Sapri buat jadi sopir. Soalnya lumayan jauh kalo Kakek bawa sendiri. Bunda takut, Na. Ya Allah, semoga gak ada apa-apa," ucap Hanifa.
"Aamiin," jawab Hasna lirih seraya memegangi dada sebelah kiri.
Tak lama terdengar dering ponsel yang berada di genggaman Hanifa.
"Eh, ini Kakek nelepon," ucap Hanifa senang bukan main. Akan tetapi, raut wajah bahagianya seketika berubah menjadi keterkejutan.
"Innalilahi!" tak terasa ponsel yang menempel di telinganya itu merosot turun.
"Kenapa, Bun? Kakek kenapa!" pekik Hasna. Air mata udah jatuh berderai di pipinya. Tak mungkin apa yang ada di pikirannya itu jadi kenyataan kan?
"Ka–kek, kecelakaan Na ...," ucap Hanifa di sertai tangis kemudian. Bahkan wanita itu terjatuh duduk di atas sofa.
"Ya Allah!"
__ADS_1
"Barusan yang telepon polisi," jelas Hanifa lagi campur Isak.
Ujian apalagi ini. Putrinya baru mau keluar dari rumah sakit. Kini giliran sang papa yang masuk ke tempat itu.
"Bunda, nyusul kakek cepat. Biar aku nanti pulang sama Gus Musa, aja," ucap Hasna dengan bibir bergetar.
"Kamu gapapa kan sayang?" tanya Hanifa yang sebenarnya juga tak tega. Apalagi wajah Hasna masih agak pucat.
"Hasna udah embuh, Bun. Lagipula, nanti Hasna bisa minta tolong Ning Khumaira juga. Bunda gak usah khawatir. Justru, Bunda yang hati-hati, dan langsung kabarin Hasna," ucap gadis itu lagi.
"Iya, Sayang. Kamu sekarang telepon Gus Musa. Doakan juga semoga kakekmu gak luka terlalu parah," ucap Hanifa sebelum wanita itu berlalu pergi meninggalkan anak gadisnya di kamar perawatan seorang diri.
"Hasna pasti doain kakek, Bun. Semoga kakek baik-baik aja," bisik Hasna yang kini sudah berada di dalam pelukan sang bunda.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam ...," jawab Hasna parau.
Setelah hanifa pergi. Hasna pun meraih ponselnya. Gadis itu mengusap layar dengan jari yang gemetar.
"Kakek, harus baik-baik aja ya. Hasna mau mengabulkan keinginan kakek. Hasna tau, keluarga Kyai Faisal adalah orang-orang baik. Hasna mau kakek tenang gak mikirin keadaan Hasna terus," gumam gadis itu dengan air mata yang berderai.
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar. Hasna yang sedang fokus menghubungi Gus Musa sambil menatap keluar jendela tak mendengar suara ketukan.
Hingga, rombongan itu pun masuk dengan salam.
"Tuh Hasna lagi di depan jendela!" tunjuk Gus Musa pada sang Ummi.
"Kok dia gak jawab salam kita ya?" heran Ning Khumaira. Mereka berdua sengaja datang untuk ikut menjemput Hasna keluar dari rumah sakit. Kebetulan sekali.
"Kenapa sih gak diangkat?" gumam Hasna sambil terisak.
Gus Musa mengeluarkan ponsel yang bergetar dari saku celananya.
Ia menatap ponselnya dengan kening berkerut.
"Kamu, ngapain hubungin aku, Na?" tanya Gus Musa yang kini ada di belakang Hasna.
Gadis itu sontak berbalik setelah mendengar suara yang ia kenal.
Betapa kagetnya Gus Musa. Ketika ia melihat Hasna yang pucat berderai air mata.
__ADS_1
"Ya Allah, kamu kenapa? Apa ada yang sakit atau apa?" cecar Gus Musa seraya melangkah mendekat.
Jika tak ingat kalau mereka bukan mahrom. Sudah dia raih raga Hasna yang bergetar itu. Untung saja, gak itu di wakili oleh sang ummi.
Ning Khumaira langsung meraih raga Hasna yang bergetar hebat ketika melihat penampakan keduanya.
"Sini sayang, kita duduk di sofa," ajak Ning Khumaira seraya menuntun Hasna yang lunglai.
Gadis itu baru saja sehat. Mendengar kabar buruk tubuhnya serasa lemas tanpa tulang.
"Ceritakan pada, Ummi. Apa yang terjadi?" Kulik Ning Khumaira. Tangannya tak henti untuk mengusap punggung Hasna.
"Istighfar, Na. Tarik napas duku baru kamu cerita. Sebentar aku ambil minum," ucap Gus Musa.
Hasna menurut, mengucap istighfar berkali-kali lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Minum dulu, pelan-pelan," ucap Gus Musa, seraya menyerahkan botol air mineral untuk Hasna.
"Sekarang, kalau kamu sudah tenang dan bisa cerita ... kamu bisa katakan pada Ummi. Atau, mau bicara ke Musa aja," ucap Ning Khumaira lagi.
Akan tetapi Hasna menggeleng dan justru menggenggam tangannya erat.
"Ka–kek, kecelakaan ketika menuju kesini," jawab Hasna dengan isak tertahan.
"Innalilahi!!" pekik Ning Khumaira dan Gus Musa bersamaan.
"Lalu, Hanifa dimana?"
"Langsung nyusul ke rumah sakit kota. Makanya, tadi aku nelpon Gus Musa mau minta tolong jemput aku. Karena, hari ini adalah kepulangan aku dari rumah sakit," jawab Hasna.
"Ya Allah, kebetulan banget ya. Ummi kan kesini emang mau jemput kamu. Meskipun kamu gak minta. Ummi mau kamu kembali ke pesantren dan tinggal di kediaman kami. Bukan di asrama. Jadi, nanti kamu gak usah pulang kerumah kamu," tutur Ning Khumaira menjelaskan niatnya.
"Syukron, Ummi, eh Ning maksudnya," ucap Hasna meralat panggilannya.
"Panggil Ummi aja, siapa tau sebentar lagi kamu jadi anak perempuannya Ummi beneran," kelakar Ning khumaira membuat Hasna langsung tertunduk.
Sementara, Gus Musa.
Pemuda itu langsung tersedak nyamuk.
Bersambung
__ADS_1