
"Eh kita kayaknya terlambat!" pekik Sarah. Karena pintu ruang kelas telah di tutup.
"Kalian sih ngobrol tapi jalannya kayak siput. Kan aku jadi kebawa," dengus Hasna. Hari pertama belajar justru ia terlambat.
Tak tak tak.
Terdengar suara ketukan dari sepatu pantofel di belakang ketiga santriwati ini.
Mereka bertiga pun terkesiap dan tak ada satupun yang mengeluarkan suaranya.
Tak lama, suara itu berhenti dan berganti dengan deheman berat.
"Apa yang kalian bertiga lakukan ketika jam pelajaran sudah dimulai?" Nada pertanyaan yang biasa namun nampak mencekam, karena cara pengucapannya yang didramatisir.
Hasna yang merasa mengenali suara tersebut, langsung menolehkan kepalanya ke belakang.
Ketika, dirinya telah mengetahui siapa sosok tersebut. Seketika itu juga seluruh uratnya yang barusan tegang mendadak kendur.
"Ck, gue kirain siapa!" tegur Hasna langsung pada sosok pria muda di hadapannya ini.
Sementara dua kawannya terlihat salah tingkah.
"Memangnya, kamu tau siapa aku?" tanya Musa dengan cara bicara yang berbeda. Lebih terkesan penuh wibawa dan dewasa.
"Ck. Ini, tuh kawasan santriwati ya? Lo ngapain di sini? Pergi sana, jangan bikin dosa!" usir Hasna. Karena ia tau, jika kedua kawannya ini sedang mengagumi sosok tampan yang agak berwibawa dengan Koko Turki yang melekat di tubuhnya.
"Iya aku tau, kalau ini kawasan santriwati. Lagipula, aku memang sengaja datang kesini," jawab Musa ambigu. Membuat Hasna mengernyitkan keningnya.
"Terus Lo mau ngapain? Sekali lagi gue minta Lo pergi dari sini!" usir Hasna lagi. Kali ini ia bahkan mengarahkan jari telunjuknya ke arah luar.
__ADS_1
"Kalau aku gak mau, lalu kamu mau apa?" tantang Musa. Tanpa pria itu tau, bahwa apa yang ia lakukan saat ini memancing sesuatu yang tidak akan pernah ia duga sebelumnya.
Musa tetap melangkah ke depan pintu ruangan kelas yang menutup itu. Tak menggubris apa yang Hasna perintahkan padanya.
Tentu saja, Hasna langsung menghadang langkah Musa dengan menarik bahu pria itu hingga Musa berputar balik.
"Astagfirullah!" Musa merasakan sebuah tenaga pria dari sentuhan Hasna barusan.
"Pergi atau Lo jangan salahkan gue kalo bertindak kasar nantinya. Lo kan tau gimana rasanya kaki gue ini!" ancam Hasna yang sudah kembali memasang kuda-kudanya.
"Aku gak bisa menuruti apa keinginanmu. Dan, aku juga gak mau!" tantang Musa lagi. Pria itu pun tetap bersikeras ingin masuk kedalam ruang kelas tanpa berniat menjelaskan terlebih dulu apa kepentingannya yang sebenarnya.
Hasna menggeram kesal. Dirinya paling tidak suka lelaki yang agak sok dan menganggap dirinya sebelah mata. Apalagi, di dalam pikiran Hasna, pria ini bukan berada pada tempatnya.
"Dasar mesum! Sini Lo!" Hasna kembali menarik. Kali ini, sorban milik Musa yang melingkar pada lehernya lah yang menjadi sasarannya.
Hasna menarik dengan kencang hingga Musa terjengkang dan sukses mendaratkan bokongnya.
"Allahuakbar!" pekikan dari tiga orang mengudara bersamaan. Ketika, lagi-lagi Musa jatuh terduduk . Meskipun kali ini, kejadian itu harus di saksikan oleh orang lain. Hasna nampak tak perduli. Gadis itu hanya berpikir bahwa apa yang ia lakukan demi menjaga kehormatan sesama perempuan.
"Hasna ...," lirih Sarah dan Syifa, seraya menatap ke arah Musa dan Hasna bergantian.
Mereka, berdua hendak menolong Musa tapi mereka bingung harus bagaimana. Apa menarik tangannya saja atau bagaimana.
"Kalian berdua kenapa sih! Cepat sana panggil siapa aja yang bisa mengamankan cowok mesum ini!" ujar Hasna. Sama sekali gak mengerti kode yang di berikan oleh kedua kawannya itu.
Musa berupaya bangun dari kejadian yang memalukan barusan. Kemudian, ia menatap tajam ke arah Hasna.
"Dasar ukhti bar-bar! Gak punya sopan santun! Apa kau tau jika saat ini sedang berhadapan dengan siapa!" pekik Musa memprotes kelakuan Hasna padanya. Tak lupa pria itu mengusap pelan bagian belakang tubuhnya itu.
__ADS_1
Hasna hanya tersenyum tipis tanpa rasa bersalah.
"Emangnya Lo tuh siapa sih? Penting gitu ya gue kudu tau!" jawab Hasna enteng.
Sementara, Sarah berjalan kearahnya dan mulai membiakkan sesuatu. Pada saya itulah, kedua mata indah milik Hasna membola seketika.
"Lo jangan bercanda, Sar. Model kayak dia mana bisa jadi pengajar," balas Hasna dengan berbisik juga.
"Memangnya, kamu gak baca buku panduan ya. Di sana kan tertulis siapa saja nama tenaga pengajar di pesantren ini," jelas Sarah dengan berbisik lagi.
"Belum sempat. Memangnya apa hubungan dengan ini semua?" tanya Hasna lagi masih tak mengerti.
Sementara itu Musa berbalik dan menghujamkan tatapan tajamnya ke arah Hasna.
"Keterlaluan!" Musa hanya bisa menahan amarahnya dengan menggeram kecil, kemudian ia menghela napasnya panjang. Entah kenapa nasibnya jika bertemu dengan Hasna bawaannya harus mencium tanah dengan bokongnya.
Gadis muslimah yang berwajah manis ini nyatanya tak memiliki sikap maupun sifat yang kontras dengan tampilannya.
Tiba-tiba.
"Astaghfirullah! Ada apa ini, Gus Musa? Kenapa anda tidak mengajar di dalam? Kenapa juga kalian masih ada di luar pada saat jam pelajaran sudah berlangsung sekitar lima belas menit yang lalu?" cecar perempuan yang mengenakan busana muslim syar'i lengkap dengan Khimar yang lebar.
Tatapannya menelisik ke arah tiga santri yang masih ada di luar. Akan tetapi, pikiran Hasna langsung tertuju dan berpusat pada kalimat. Gus Musa. Dia tidak bodoh. Hasna paham panggilan itu bukan sembarang panggilan.
Panggilan Gus hanya akan di sematkan kepada laki-laki yang merupakan keturunan dari pemilik pondok pesantren. Kalau begitu, pria di hadapannya ini bukanlah seorang santri.
Seketika itu juga, Hasna menelan ludahnya kasar.
"Mampus deh gue!"
__ADS_1
Bersambung