Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 6# Nggak Boleh Nakal!


__ADS_3

Hasna bukannya tak berat hati meninggalkan fakultas yang selama satu tahun lebih ini menjadi tempatnya menuntut ilmu. Apalagi, dia harus juga rela meninggalkan para sahabatnya yang selama ini selalu ada untuknya.


Sejujurnya, Hasna itulah kesepian ketika di rumah. Kakek dan sang bunda seiring keliling kota untuk syiar agama. Sehari-hari mereka mengajar di sebuah yayasan.


Tak memiliki saudara satupun membuat dirinya merasa hanya hidup sendirian.


Hasna sebentar memiliki seorang kakak. Akan tetapi, saudari satu-satunya itu kini tengah berada di Yaman untuk menuntut ilmu. Sudah hampir tiga tahun Hasna tidak bertemu dengannya. Berkomunikasi di telepon pun jarang mereka lakukan.


"Besok aku kerumah kamu ya. Aku mau antar kamu, Na," ucap Mila setelah mereka selesai berpelukan.


"Gak usah! Cukup hari ini gue nangis. Gak mau nangis lagi yang malah nantinya buat keputusan gue berubah!" Hasna menolak keras niatan Mila yang ingin mengantarkannya.


Hasna sudah berada di kediaman sang kakek yang cukup mewah ini. Bangunan tiga lantai ini memiliki luas hampir enam ratus meter persegi.


Di saat makan malam.


"Aku selesai, Bun, Kek. Hasna mau ijin kembali k kamar, packing," pamit Hasna tanpa melihat ke arah keduanya. Sesungguhnya ia masih merasa bersalah.


"Tunggu sayang! Kau bilang apa? Mau packing? Jadi--"


"Iya, Kek. Hasna akan mempertanggungjawabkan perbuatan Hasna. Maaf, lagi-lagi sudah mengecewakan kalian."


Angkasa tak dapat berkata apapun untuk menjawab permintaan maaf dari sang cucu barusan. Entahlah. Sepertinya ada rasa nyeri ketika ia melihat Hasna yang mode menurut seperti itu.


Angkasa menoleh ke arah Hanifa putrinya. Dimana perempuan 46 tahun itu juga ternyata tenaga melihat kearahnya.


"Papa harap. Keputusan ini adalah yang terbaik. Bagaimanapun, Hasna harus kembali pada kodratnya. Anak itu, harus bisa mengontrol setiap emosinya. Tidak semua, masalah bisa di selesainya dengan jalan kekerasan."


"Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Ketika, panutannya itu berkhianat maka ... sakitnya melebihi patah hati. Aku ... tidak bisa menyalahkan putriku dengan segala sikapnya selama ini. Justru semua ini adalah salahku, Pa. Aku berusaha menyembuhkan luka dengan menyiarkan agama sejauh mungkin. Tetapi, di satu sisi ... putriku merasa kesepian. Hanifa harap, Hasna tidak menyimpan kebencian pada kita," lirih Hanifa yang kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Wanita yang mengenakan Khimar lebar itu menangis tanpa suara.

__ADS_1


Angkasa, hanya bisa menunduk. Ia pun memiliki harapan yang sama. Bagaimana pun, Hasna masih tanggung jawabnya.


Angkasa tidak bisa memikirkan kemungkinan jika cucu perempuannya itu terluka karena cara hidupnya yang seperti itu. Sungguh, dia sangat mencinta Hasna. Hingga, Angkasa tak sanggup melihat cucunya itu menderita.


"Papa akan menghubungi kyai Faisal Basri. Semoga, beliau menerima kedatangan Hasna yang mendadak ini. Semoga, Gus Musa belum berangkat ke Yaman," ucap Angkasa. Mengusap kepala Hanifa sekali, lalu pria berusia 60tahun itu pun berlalu ke ruang kerjanya.


"Assalamualaikum, Kyai ...," sapa Angkasa ketika panggilannya telah terhubung.


"Alhamdulillah, ana baik. Besok, kita ke pesantren mau nitip cucu lagi satu, boleh?" tanya Angkasa.


"Alhamdulillah, insyaallah. Semoga semuanya lancar, saudaraku. Wassalamu'alaikum warahmatullahi!" Angkasa pun menyudahi panggilan. Lagipula, hari sudah cukup larut di sana.


Keesokan harinya.


Hasna terlihat menyeret satu koper besar dan satu tas gemblok kesayangannya.


"Kamu cuma bawa segini sayang?" tanya Hanifa sang bunda.


"Ya sudah, Nak. Nanti kalau memang tidak ada agenda belanja. Biar bunda yang kirim dari sini," ucap Hanifa. Sekarang jaman serba digital dan belanja serta mengirimkan barang adalah hal yang mudah.


Mereka berangkat menggunakan satu mobil grandmax milik Angkasa. Berangkat pagi hari, dan sampai menjelang Maghrib.


Angkasa memerintahkan sopir untuk berhenti di masjid atau musholla.


"Ayo sayang, kita solat Maghrib dulu. Sekalian makan kamu pasti udah lapar ya." Hanifa mengusap ujung Khimar putrinya itu.


"Bun, kenapa sih masukin Hasna ke pondok pesantren yang letaknya di bawah gunung kayak gini? Jauh banget lagi," protes Hasna. Bokongnya terasa sangat panas karena berjam-jam duduk di dalam mobil. .


"Supaya kamu gak bisa kabur!" celetuk Angkasa dari kursi samping kemudi. Ternyata pria tua itu menguping pembicaraan dari anak dan cucunya ini.


"Haissh, kenapa Hasna harus kabur. Hasna akan tetap memegang janji!" keselnya seraya mencebikkan bibirnya yang penuh dan berwarna merah alami itu.

__ADS_1


"Itu karena kamu belum tau aja gimana pesantren itu, sayang," ucap Angkasa lagi.


Hasna pun langsung menoleh ke arah sang Bunda, yang kini tengah menahan senyum.


"Emang kayak gimana, Bund?"


"Nanti juga kamu akan tau, Nak." kawan Hanifa singkat.


Hasna hanya mencebikkan bibirnya mendengar jawaban ambigu dari sang bunda.


"Ingat satu pesan Bunda ya, sayang. Kamu jangan nakal di sana," pesan Hanifa pada putrinya.


"Hemm."


"Lagipula sejak kapan gue nakal sih, Bund." Hasna hanya bisa menggerutu dalam hati.


Pesantren Darussalam.


"Nak, tunda setahun lagi keberangkatanmu ya. Kami masih kekurangan tenaga pengajar. Apalagi, besok, putri dari sahabat Abi akan belajar di pondok kita ini," ucap Kyai Faisal Basri kepada putranya yang kemarin baru saja tiba di pesantren ini.


"Tapi, Bi."


"Apa kamu gak kasian sama adik-adik sepupumu? Lagipula, kau kesana bukan lantaran mengejar ilmu kan?" tebak kyai Faisal langsung tepat sasaran.


"Apaan sih, kok Abi bisa ngomong kayak gitu. Kayak tau aja. Musa--"


"Bukan kata Abi. Tapi Ummi kamu yang bilang. Tak ada satu pun anak yang bisa menutupi apapun dari seorang Ibu. Tapi, kau bisa menyembunyikan dari Abi. Meskipun, kini juga kami pada akhirnya tau," tutur Kyai Faisal.


Musa hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2