Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 46# Kunjungan Aira Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah."


Terlihat Gus Musa, berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang sejak tadi.


Bibirnya terus saja menggumamkan asma Allah.


Batinnya bergejolak, mengeluarkan perasaan senang luar biasa. Namun, Gus Musa tak mau terbawa suasana. Ia ingin tetap menyerahkan segalanya pada sang pencipta.


Pria itu sejak tadi nyatanya memang hanya bisa menyebut nama Tuhannya. Demi mengurai perasaan aneh yang menjalar ke dalam hatinya. Belum pernah Gus Musa merasa sebahagia ini sebelumnya.


Ingin rasanya pria itu melampiaskan perasaannya saat ini dengan melompat tinggi-tinggi sambil berteriak.


Akan tetapi, sekali lagi Musa dapat meredam keinginannya yang berasal dari bisikan syaitan yang terkutuk itu. Karena sebahagia apapun yang ia rasakan. Kembalikan semua perasaan itu kepada sang pencipta. puja dan puji di DIA.


Bukan justru karena hal itu kau melupakannya.


"Bagaimana ini ya Allah. Aira sudah ada di tanah air. Apakah ini jawaban dariku atas segala keikhlasanku. Merelakan Hasna untuk menyatu dengan mas Amar. Lalu kemudian kau kembalikan wanita impianku dalam waktu yang ... tiba-tiba dan tidak ku sangka sama sekali," ucap Musa seraya menengadahkan kepalanya menatap indahnya senja dari jendela kamar.


Sementara di rumah sakit. Aira sampai dan berpapasan dengan Hasna yang keluar dari dalam lift bersama seorang pria berpakaian gamis Turki.


"Kakak!"


"Dedek!"


Mereka pun berpelukan dengan erat di lobi.


"Panggil aku Hasna, bukan dedek!" cebik Hasna menolak panggilan yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan itu.


Aira tertawa kecil di dalam dekapan sang adik yang nyatanya lebih tinggi ketimbang dengan postur tubuhnya yang teramat mungil.


Bagaimana tidak, Hasna dengan tinggi badan 168 cm sementara dirinya hanya 155 cm.


Kalian mau tau tingginya Gus Amar?


Pria itu memiliki tinggi badan 183 cm dengan bobot tubuh yang cukup berisi. Di balik gamisnya Gus Amar memiliki bentuk tubuh yang atletis.


Sementara Gus Musa, memiliki tinggi yang hanya selisih lima senti di bawah Gus Amar.


Tubuhnya juga lumayan berisi dan terbentuk di beberapa bagian.


Karena berkuda juga membentuk otot pada tubuhmu. Apalagi jika sambil memanah.


"Iya deh iya. Lagipula, lebih cocok aku yang jadi adeknya," sungut Aira berpura-pura merajuk.

__ADS_1


Gus Amar yang melihat kedekatan keduanya hanya bisa menyembunyikan senyum simpulnya. Tentunya setelah, pria ini menguasai keterkejutannya. Melihat Aira, nampak di depan mata.


Padahal, setau Amar gadis ini seharusnya masih ada waktu belajar setahun lagi.


Satu hal yang juga menggelitik pikirannya adalah, apakah sang adik tau akan kepulangan gadis yang diam-diam pernah dia sukai dulu.


"Assalamualaikum, Aira," sapa Amar setelah keduanya melerai pelukan mereka.


"Wa'alaikum salam, Gus," balas Aira dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Loh, Kakak kenal sama Gus Amar?" heran Hasna.


"Ya kenal dong Dek. Kan kakak pernah mondok di pesantren milik Kyai Faisal. Kamu di sana juga kan sekarang? Akhirnya mau mondok juga?" jelas Aira.


"Oh iya, aku lupa, Kak. Kamu kan alumni ponpes Darussalam. Makanya dapet beasiswa sekolah ke Yaman," ucap Hasna setelah kembali mengingat semuanya.


Haih, kenapa juga dia bisa lupa.


Ya itu, karena dulu Hasna tidak terlalu memperdulikan soal sang kakak yang menuntut ilmu di pesantren. Hasna kala itu terlalu asik dengan dunianya sendiri.


"Kakak juga heran nih, kalian bisa kenal dan barengan gini?" cecar Aira. Sejenak ia melupakan niatnya untuk menjenguk sang Kakek juga bertemu dengan sang bunda.


"Nanti, biar bunda aja yang jelasin," jawab Hasna. Gadis itu langsung menoleh dan tatapannya pun seketika bertabrakan dengan Gus Amar.


Hasna pun tersenyum karena Gus Amar mengerti maksudnya tanpa ia berkata apapun.


"Yuk, aku antar ke kamar Kakek," ajak Hasna seraya mengapit lengan Aira.


"Tapi tadi kalian berdua mau kemana?" tanya Aira, sambil mengikuti langkah Hasna masuk kedalam lift.


"Tadi aku sudah mau balik ke ponpes, Kak. Diantar Gus Amar. Karena, kita sudah dari pagi di sini," jelas Hasna.


Aira hanya mengangguk mendengarnya.


Gus Amar yang berada di depan mereka hanya menyimak. Sebab, Hasna sejak tadi belum menjelaskan hubungan mereka berdua pada Aira. Justru, ketika Aira bertanya Hasna melemparnya pada sang bunda nanti.


Mereka telah sampai di lantai tempat kamar perawatan Angkasa.


Ketika berada di depan kamar, Hasna langsung mendorong pintu tersebut.


"Bunda, liat siapa yang datang!" teriak Hasna girang. Sampai ia terlupa kalau ini adalah kamar rumah sakit.


Kalau, saja Aira tak mencubit lengannya. Mungkin suara Hasna akan lebih kencang lagi.

__ADS_1


"Dasar bar-bar!" celetuk Aira.


Hanifa yang sedang menyuapi Angkasa buah potong pun menyibak tirai, dan langsung menoleh ke arah sumber suara yang berisik itu. Tak lupa ia kembali mengenakan niqob-nya.


Kedua mata indah Hanifa terbelalak ketika ia melihat penampakan sosok putri pertama yang sangat ia rindukan itu.


"Aira! Apa benar ini, Aira?" tanya Hanifa seraya menghampiri dan langsung menghambur untuk memeluk raga putrinya yang mungil itu.


"Iya, ini jelas Aira, Bunda. Masa lupa sih sama anak sendiri?" protes Aira pura-pura merajuk.


"Bunda bukannya lupa sayang. Tapi, gak nyangka kalau kamu ada di hadapan bunda saat ini. Bukannya kamu taun depan baru pulang," jelas Hanifa sambil menyeka air matanya.


Hanifa menangkup kedua pipi, Aira dengan telapak tangannya. Lalu mengecup kening putrinya itu lama. Demi menyalurkan segenap kerinduan yang ada di dalam hatinya.


Aira jadi ikut sedih. Padahal tadi hatinya mendadak ceria kala melihat Hasna sudah baik-baik saja.


"Aira, rencana ingin memberikan kejutan pada kalian semua. Aira selama enam bulan ini bekerja keras belajar siang dan malam agar cepat lulus.


Aira ingin cepat-cepat kembali bersama kalian semua. Tapi, setelah sampai rumah, justru Aira yang di kejutkan dengan beberapa berita," urainya, tentu dengan Isak tangis yang menyertai setiap ucapannya.


Aira menoleh ke samping karena Hasna juga datang memeluknya.


"Aku senang banget kamu balik, Kak," ucap Hasna sendu. Air mata pun ikut luruh membasahi pipinya. Apalagi, kala ia mengingat bahwa sebulan lagi sttusnya akan berubah.


Setidaknya kebahagian itu akan sempurna karena ada saudarinya yang hadir ikut memberi restu serta mendoakannya nanti.


"Kakak tau kau sudah baik-baik saja, lalu bagaimana keadaan Kakek?" tanya Aira yang masih di apit oleh Hanifa dan juga Hasna.


"Tuh, Kakek juga lagi nangis liat kita," tunjuk Hanifa ke atas hospital bed.


Memang benar, Angkasa saat ini tengah berlinang air mata. Pria itu semuanya bahwa Aira lulus lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Semua ini bagaikan berkat dari Allah subhanahu wa ta'ala, karena Aira ada di sini ketika Hasna telah mendapatkan jodohnya.


"Kakek!" Aira menghambur ketika pria berambut putih itu menatapnya dengan pandangan mendung.


"Cucu Kakek," sambut Angkasa menciumi kerudung samping Aira.


"Masyaallah. Kamu hebat, bisa lulus secepat ini. Berkah ini, berkah!" seru Angkasa.


"Kau tepat sekali pulang. Sepertinya Allah mengatur semua takdir ini begitu indah. Kakek sangat bersyukur di beri kecelakaan, sehingga dengan begitu Kakek mendapat dua kebahagiaan sekaligus," tutur Angkasa.


Aira pun mengernyit heran.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2