Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 42# Dag-Dig-Dug


__ADS_3

"Karena, Hasna tau jika Mas bicara bohong. Gadis itu akan semakin salah paham dan merasa tak di hargai. Sekarang, Hasna telah tau perasaan kita berdua. Kau, harus mengkhitbahnya besok di hadapan Ustadz Angkasa," ucap Gus Amar.


Pria itu berlalu, setelah sebelumnya menepuk bahu sang adik pelan.


"Mas, yang akan mengantar Hasna dan mengkhitbahnya. Dia, nyatanya telah memilihmu. Kau yang dia inginkan, Mas. Bukan aku," ungkap Gus Musa lesu.


"Tapi--"


"Tolong jangan mengalah demi aku, Mas. Kau hanya akan menyakiti Hasna. Dia bukan barang yang harus kau relakan pada orang lain. Perjuangkan dia, Mas!" ucap Gus Musa tegas. Tatapannya menyorot tajam pada pria yang merupakan saudara satu-satunya ini.


"Kenapa, Dek. Bukankah kau juga mencintai Hasna? Kenapa kau suruh Mas memperjuangkan dia?" cecar Amar memastikan maksud Musa.


"Ketahuilah Mas, bahwa lebih baik kau menikah dengan orang yang mencintaimu, dari pada memaksa cinta itu di berikan untukmu, lebih baik kau yang memupuk cinta itu agar semakin kuat Mas. Itu lebih baik. Kau yang lebih tepat untuk membimbing Hasna. Bukankah ini misi dari kita. Membuat Hasna meluapkan traumanya?" jelas Musa begitu bijaksana dan dewasa.


"Syukron, Dek Tak ku sangka ternyata kau telah menjadi pria yang bijak dan dewasa. Mas doakan, agar kau segera menemukan tambatan hati yang mencintaimu," ucap Gus Amar seraya menarik raga Musa ke dalam pelukannya.


"Jaga dia Mas. Bahagiakan Hasna. Basuh lukanya dengan kelembutanmu. Aku percaya hanya Mas yang bisa. Karena Mas yang dia inginkan. Aku merelakannya karena Allah. Mungkin, Hasna memang takdirmu," ucap Musa lagi, tulus. Bahkan pria itu tersenyum di balik mata yang mendung.


Apa yang dilakukan Musa tak ayal membuat Amar tersentuh. Keduanya berpelukan erat. Kasih sayang mereka para Hasna sungguh tulus karena Allah bukan lantaran napsu semata. Seandainya Hasna tau, betapa ia beruntung menjadi wanita yang di cintai dengan tulus tanpa sedikitpun keegoisan.


Keduanya pun berpisah dan kembali ke posisinya masing-masing dalam keadaan hati yang lapang. Tanpa ada satupun yang menyakiti maupun di sakiti. Cinta level tertinggi adalah ketika kita menyerahkan segala pada sang maha cinta itu sendiri.


Cinta karena Allah.


Menginginkan orang yang kita kasihi hidup bahagia.


Yakin, bahwa kebaikan yang kita lakukan akan Kemabli pada kita.


Yakin bahwa Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk kita.


Karena sesungguhnya apa yang kita inginkan belum tentu itu yang tepat untuk kita. Serahkan pada sang penguasa hati. Niscaya Allah akan hadirkan yang terbaik untukmu pada saatnya nanti.


Entah kenapa, Musa merasa sesak dalam dadanya hilang dan sirna bak pasir di terpa angin. Ia justru mengembangkan senyumnya. Merasa lega setelah ia mengetahui semuanya. Merasa bahagia ketika mendengar Hasna mempercayakan saudaranya sebagai pembimbing. Itu artinya, Hasna sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada masa lalunya. Itu pertanda bahwa Hasna menerima setiap nasihat yang perlahan ia dan Gus Amar sampaikan melalui pelajaran di kelas maupun tausiah di mushola pesantren.


Sementara itu, Hasna semenjak kembali ke kamar. Sama sekali tak bisa memejamkan matanya.


Entah mendapat keberanian yang baginya sungguh gila itu darimana.


Bagaimana bisa sosoknya yang antipati terhadap laki-laki justru dengan lantang mengungkapkan perasaannya bahkan menantang agar Gus Amar menghitbahnya.

__ADS_1


Ah, Kau ini kerasukan apa Hasna.


Bisa juga kau suka laki-laki bahkan penasaran setengah mati.


Apa ini artinya kau akan back to normal?


Hanya Hasna yang tau jawabannya.


Hasna hanya harus berdialog dengan Tuhannya.


Setelah berjam-jam hanya bisa guling-guling di atas tempat tidur. Akhirnya Hasna turun dan mengambil wudhu.


Setelahnya solat witir tiga rokaat lalu ia membuka mushaf Alquran.


Hasna melantunkannya dengan syahdu dan merdu. Bahkan, tanpa sadar gadis itu meneteskan air matanya.


Kenapa begitu ajaib. Kenapa hatinya seakan tengah di sirami air yang sejuk. Bahkan, Hasna seakan berada di sebuah taman bunga yang indah dan menenangkan batinnya.


Kenapa begitu luar biasa makna membawa kalimat demi kalimat yang Allah turunkan lewat mukzijatnya Nabiullah Muhammad.


Hasna yang merasa lebih tenang. Kini kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba memainkan matanya. Hingga, tanpa sadar gadis itu pun telah pindah ke alam mimpi.


Keesokan harinya. Setelah sarapan pagi.


Betapa Kyai Faisal kaget bukan main. Ketika kedua putranya ini memiliki cinta yang begitu besar lada Hasna. Juga mereka memiliki hati yang lapang dalam menyerahkan segalanya pada Allah.


Satu hal yang lebih mengagetkan lagi adalah, ketika Hasna menantang putra pertamanya untuk menghitbahnya nanti di depan sang kakek.


"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad," ucap Kyai Faisal Basri.


"Alhamdulillah, akhirnya bujang Ummi ada yang laku. Ummi jadi deh mertuanya Hasna. Ah, senangnya," ucap Ning Khumaira.Wanita itu nampaknya tak peduli siapa yang akan menikahi Hasna dari kedua putranya ini. Satu hal yang pasti, adalah Hasna terealisasikan untuk menjadi menantunya.


"Ummi, di kira kita selama ini barang dagangan apa ya," celetuk Gus Musa.


Ucapannya itu tentu saja di sambut dengan gelak tawa dari semuanya.


"Kalau begitu, kita kerumah sakit sama-sama. Biar Abi nanti yang bicara pada Angkasa. Musa, tolong hubungi Arif untuk membatalkan beberapa schedule Abi Hingg siang nanti," ucap Kyai Faisal kepada semua dan terkhusus pada putra keduanya.


"Baik Bi!" Musa pun langsung mengundurkan diri.

__ADS_1


"Setelah khitbah mu nanti di terima. Ummi mau, kamu secepatnya ya Nak. Menikahi Hasna. Ummi tuh udah gak sabar tau," ucap Ning Khumaira lagi.


"Ummi sayang. Kenapa kamu yang jadi gak sabaran gini sih!" ledek Kyai Faisal sembari menarik hidung mancung istrinya itu.


"Pengen cepat punya mantu Abi!" kilah Ning Khumaira seraya terkekeh kecil. Sambil bergelayutan manja di lengan suaminya.


Melihat kemesraan itu, membuat Gus Amar menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Diketawain kan sama anakmu," ledek Kyai Faisal seraya menunjuk Amar yang tengah senyum-senyum.


"Kamu jangan ngiri ya, Nak. Sebentar lagi juga ada wanita yang bakal manja-manja gini sama kamu, cieee ... anak Ummi, mau punya istri," goda Ning Khumaira pada putra sulungnya itu. Hingga rona merah itu menguar dari kedua pipi Gus Amar.


Ucapan sang Ummi membuat Gus Amar jadi salah tingkah. Seketika pria ini membayangkan, apakah sosok Hasna yang bar-bar itu bisa bertingkah manja seperti ummi-nya.


Beberapa saat kemudian dia tersadar dan mengucap kalimat istghfar.


"Kenapa aku jadi menghayalkan dia yang belum halal untuk ku bayangkan. Astagfirullah!" batin Gus Amar.


Kyai Faisal yang paham apa yang kini tengah sang putra rasakan, kembali mencubit hidung istrinya karena sudah


asal bicara. Dengan kode mata yang ia arahkan ke arah sang istri. Membuat Ning Khumaira, kembali memposisikan dirinya dengan penuh wibawa.


"Maaf, Bi," ucapnya tanpa suara,


karena Ning Khumaira hanya menggerakkan bibirnya saja.


Waktu berjalan.


Hasna kembali gusar di dalam kamarnya Padahal, Ning Khumaira sudah dua kali memanggilnya untuk turun. Mereka akan segera berangkat untuk menjenguk Angkasa.


Hasna yang tadinya menggebu-gebu untuk segera melihat sang kakek. Saat ini menjadi kalang-kabut sendiri lantaran ulahnya semalam.


"Haih, Gimana ini Hasna!" gemasnya pada diri sendiri.


"Mana Hasna, Um? Kita harus berangkat ini sebelum jalanan macet," tanya Kyai Faisal pada istrinya yang baru menuruni anak tangga.


"Masih siap-siap katanya, Bi. Tunggulah sebentar lagi," jawab Ning Khumaira.


"Pasti lagi dag-dig-dug lah tu. Kan mau di lamar," ledek Musa seraya melirik ke arah Gus Amar.

__ADS_1


"_"


Bersambung.


__ADS_2