
Gus Amar tersenyum getir. Pria itu telah benar-benar yakin melepas Hasna untuk sang adik. Harapannya, Hasna mau menerima pinangan Gus Musa nanti.
Bahkan, Gus Amar belum mengetahui mengenai trauma yang di alami oleh Hasna.
Hanifa yang tak tahan lagi merasakan rindu campur khawatir terhadap Hasna, sehingga wanita berpakaian syar'i lengkap dengan penutup wajahnya itu pun merangsek masuk ke dalam kamar perawatan.
Gus Musa kembali memenangkan alat bantu pernapasan bagi Hasna. Gadis itu pasrah dan menurut saja, meksipun Gus Musa menyentuhnya. Untung, Hasna masih lengkap mengenakan kerudung lebarnya.
"Assalamualaikum, Hasna. Anak bunda ...!" ucap Hanifa mendekat ke arah hospital bed.
Air matanya langsung jatuh kala melihat keadaan lemah putrinya itu. Hanifa kembali merasa bersalah, dengan terus menciumi keseluruhan wajah putrinya itu.
"Wa'alaikum salam," lirih Hasna seperti berbisik. Suaranya terdengar lemah.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa bisa seperti ini?" lirih Hanifa. Wanita itu tak mampu menahan Isak tangisnya yang mendatangkan berbagai penyesalan di dalam hatinya.
"Bun ... da ...," ucap Hasna lemah dan pelan. Apalagi mulutnya tertutup alat bantu pernapasannya. Sehingga ucapan yang keluar dari bibir Hasna kurang jelas.
Melihat keadaan cucunya, Angkasa langsung keluar kamar. Pria enam puluh tahun itu berniat menghubungi dokter yang menangani cucunya tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan pasien yang bernama Hasna Albani Yazid?" tanya Angkasa langsung pada intinya.
"Maaf, anda siapanya?" tanya perawat yang masih menghalangi Angkasa.
"Gadis itu, merupakan cucu saya," jawab Angkasa tegas dan terlihat berwibawa.
"Baiklah. Mari saya antar untuk langsung menemui dokter."
Keduanya masuk ke dalam ruangan serba putih. Dan kini Angkasa telah berada di depan sang Dokter.
"Hasna, mengalami typus yang lumayan parah. Bahkan lambung dan ususnya ada sedikit luka. Karenanya, untuk beberapa hari ke depan Hasna hanya bisa masuk makanan cair lebih dulu yang akan di masukkan melalui selang yang langsung menuju lambung," jelas sang dokter.
Angkasa terlihat menghela napas seraya memijat pangkal hidungnya. Belum pernah melihat Hasna sakit sedari kecil, membuat dirinya kaget ketika tau bahwa Hasna menderita penyakit yang tidak bisa dianggap enteng. Apalagi, sudah terdapat luka di usia dan juga lambungnya.
__ADS_1
Apa mungkin, selama ini dia dan Hanifa terlalu menganggap Hasna kuat dan baik-baik saja. Sehingga, gadis itu terbiasa menyembunyikan kelemahannya dari mereka. Pikir, Angkasa.
Seketika, hati pria yang sudah memiliki dua warna di rambutnya itu pun, merasa penuh penyesalan.
"Baik, terimakasih atas penjelasannya. Saya, mohon berikan pengobatan yang terbaik bagi cucu saya," ucap Angkasa sopan dan ramah.
Sang dokter pun tersenyum dan mengangguk.
Angkasa keluar, dan di depannya ternyata sudah ada Kyai Faisal.
"Ada apa saudaraku. Kenapa menyusul ana kesini?" tanya Angkasa.
"Ada yang hendak aku bicarakan. Mari," ajak Kyai Faisal, seraya menuntun Angkasa pada salah satu kursi kosong yang agak jauh dari keramaian para pengunjung rumah sakit tersebut.
"Ada apa? Terlihat macam serius sangat?" cecar Angkasa, dengan pandangannya yang tak lekat dari sosok pria berwajah teduh di hadapan ini. Mereka nyatanya sudah bersahabat lebih dari separuh usia keduanya.
Dengan kata lain, mereka tumbuh kembang bersama dan juga meniti jembatan hijrah pun bersama-sama.
"Ini, mengenai anakku dan juga cucumu. Kau tau kan, aku ini lebih telat menikah ketimbang engkau," jawab Kyai Faisal mengawali pembicaraannya.
Singkat cerita, Angkasa menikah di usia dua puluh tahun dengan sang istri yang kala itu baru lulus sekolah menengah.
Setahun kemudian mereka di karunia anak perempuan satu-satunya yang bernama hanifa. Lalu, Hanifa seakan mengikuti jejak kedua orang tuanya menikah pada saat usia muda.
Hanifa kala itu, juga menikah setelah lulus sekolah menengah. Tak lama menikah Hanifa memiliki putri hasil buah cintanya dengan Amar Albani Yazid.
Putri pertama yang bernama Aira Albani Yazid. Usianya kini, 22 tahun. Sementara Hasna 19 tahun. Aira, sedang menempuh pendidikan di negeri Yaman.
Aira beberapa tahun lalu juga pernah mondok di pesantren ini. Pada saat itulah Gus Musa mengenalnya.
Hingga, dirinya ingin menyusul Aira ke negeri Yaman demi melanjutkan pendidikan S-2 di sana.
"Tak apa, Ang. Setidaknya saat ini kau sudah punya cucu, bahkan mereka telah dewasa dan cantik. Sementara aku, menantu pun belum," kekeh Kyai Faisal.
__ADS_1
"Menantu ku satu-satunya, bahkan telah menyisakan luka tak berdarah di hati anak dan juga cucuku. Jika tak ingat bahwa ini semua nyatanya adalah ketentuan dari Allah, mungkin ... aku sudah membuat perhitungan dengan pria itu," ucap Angkasa dengan helaan napas yang mengiringi setiap ucapannya.
Kyai Faisal menepuk bahu sahabat kentalnya itu.
"Sudah, jangan di pikir dan diingat terus. Sebaiknya kita bicarakan mengenai rencana kita. Kau lihat kan tadi di kamar Hasna ...?" ucap Kyai Faisal.
"Iya, aku lihat. Apakah itu artinya rencana kita berhasil?" tanya Angkasa memastikan.
Akan tetapi, pria enam puluh tahun ini melihat sahabatnya justru menghela napas panjang.
"Apa yang terjadi, Fai? Katakan pada ana?" cecar Angkasa.
"Ang, cucumu telah berhasil merebut hati putraku. Tetapi, bukan hanya satu ... melainkan keduanya," ucap Kyai Faisal.
Sontak, ucapannya itu membuat kedua mata Angkasa membulat sempurna.
"Astagfirullah! Benarkah itu, Fai?" Kulik Angkasa yang masih tak percaya.
Lalu, Kyai Faisal pun menceritakan momen di mana putra pertamanya itu, mengungkapkan keinginan untuk mengkhitbah Hasna dalam waktu dekat.
Angkasa pun kembali memijat pangkal hidungnya. Tak lama kemudian pria ini tertawa.
"Bagaimana bisa, cucuku yang bar-bar itu memikat dua Gus sekaligus. Sebenarnya, apa yang ia lakukan? Apa kelebihannya sehingga kedua putramu itu tertarik padanya?" heran Angkasa.
Karena menurut sepengetahuannya, Hasna itu minim ilmu agama. Cucunya itu cukup tau ilmu Islam di basic-nya saja.
"Kau ini, Ang. Apa tak tau jika cucumu itu memiliki sifat dan pembawaan yang unik. Istriku saja di buat gemas, dan ingin cepat-cepat menjadikan Hasna menantunya," jawab Kyai Faisal dengan binar penuh kekaguman yang terlihat di matanya.
"Unik? Apa karena Hasna bisa memukuli laki-laki?" tanya Angkasa lagi.
"Bukan dalam artian buruk, Ang. Kau tau, beberapa saat yang lalu, tanpa sepengetahuan penghuni pondok pesantren lain, selain aku dan kedua putraku. Hasna, telah menjadi sosok jagoan misterius yang menghajar habis-habisan dua pencuri yang masuk ke pesantrenku," ungkap Kyai Faisal dengan air muka penuh kekaguman.
"Astagfirullah. Menghajar pencuri? Tunggu sebentar, apa maksudmu ... dengan menjadi sosok misterius?" cecar Angkasa yang sungguh-sungguh merasa heran.
__ADS_1
Menanggapi raut bingung Angkasa, Kyai Faisal hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
Bersambung