Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 19# Tes Kesabaran


__ADS_3

"Hasna. Duduklah dulu!" titah Gus Musa lagi.


Mau tak mau, Hasna pun mendaratkan bokongnya ke atas kursi. Tatapannya tak bergeser sedikitpun dari pria yang merupakan pengajar di pesantren ini. Entah kenapa, jika di luar jam pelajaran, Hasna tak bisa bersikap formal padanya.


Musa, bukannya mengatakan keinginannya memanggil Hasna kesini. Pria itu justru asik berbicara dengan seorang laki-laki yang bersebelahan dengannya. Nampaknya pria itu merupakan pengajar juga di pesantren ini. Akan tetapi, Hasna baru melihatnya.


Ingin rasanya Hasna protes. Tapi mereka berdua nampak berbicara serius. Sehingga, Hasna merasa tidak sopan jika memotong pembicaraan mereka. Akan tetapi, gadis ini kesal juga. Karena dirinya seperti kambing ompong.


"Ck. Ini orang maksudnya apa coba manggil tapi nyatanya dicuekin begini. Buang-buang waktu aja!" sungut Hasna membatin. Wajahnya sudah ditekuk sedemikian rupa.


Musa bukannya tak menyadarinya. Pria itu nampaknya sengaja. Ada satu hal yang tengah ia pelajari dari gadis yang sudah mulai duduk dengan gelisah di hadapannya ini.


"Maaf, Gus. Boleh saya kembali lagi nanti?" Hasna akhirnya tak tahan juga, setelah lebih dari tiga puluh menit ia menunggu dalam diam.


Gus Musa tersenyum tipis. Pria itu membiarkan lelaki yang sejak tadi berbincang dengannya untuk tetap berada di sini. Sementara dia berdiri, dengan membawa tas dan beberapa berkas.


"Ayo!" ajaknya pada Hasna. Karena Gus Musa langsung berjalan keluar mau tak mau Hasna pun melakukan hal yang sama. Meskipun dalam hati gadis itu dongkolnya bukan main.


"Sebenarnya mau kemana? Bisa jelasin gak!" tanya Hasna dengan suara lantang. Hatinya kesal bukan main. Ia merasa seperti sedang dipermainkan oleh pria di hadapannya ini.


"Bicaranya jangan kuat-kuat. Kamu kan perempuan. Lembut dikit boleh kan?" tegur Musa dengan tampang tanpa dosa. Padahal dirinya sudah membuat Hasna merasa seperti orang bodoh yang dikacangin tadi.


Hasna tersenyum miring dan mendengus. Hal itu membuat Gus Musa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Anggap saja tadi itu adalah tes kesabaran. Kan kamu lagi melatih sabar untuk mengontrol temperamen mu itu. Gimana, bisa kan?" ucap Musa.


Tentu saja ucapannya itu membuat Hasna membulatkan mata dan juga mulutnya.


Ekspresi Hasna sontak membuat Musa tertawa.


"Sudah jangan marah. Saya sebenarnya mau ngajak kamu ketemu Ummi. Beliau ingin bertemu kamu. Oh ya, gimana keadaan tangan kamu, apa sudah--"

__ADS_1


"Keterlaluan! Menyebalkan!" decak Hasna seraya berlalu cepat melewati Musa.


"Dasar emosian. Digituin aja marah banget," gumam Musa, seraya menyusul langkah kaki Hasna yang macam orang mau ambil gaji. Cepat sekali.


Tiba di persimpangan Hasna berhenti. Gadis itu menoleh ke arah Musa dengan wajah kesalnya.


"Kenapa berhenti? Tadi jalannya begitu bersemangat?" tegur Musa.


"Di depan banyak santriwati dan juga Ustadjah. Gus jalan duluan saja nanti aku menyusul pelan-pelan dari belakang," saran Hasna. Ia tak mau terlihat jalan berdua dengan pria yang menjadi idola satu pesantren.


"Kenapa memangnya, kita kan juga berjarak. Gak berdekatan," tanya Musa. Bukan tak tau, namun pria itu hanya mengetes Hasna saja.


Di saat para santriwati sampai rekan pengajar wanita selalu mencari cara untuk bisa dekat dan jalan dengannya. Akan tetapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Hasna.


Gadis itu justru seakan selalu menghindarinya. Sama sekali tidak berniat mencari muka bahkan perhatian darinya.


"Aku ingin ketenangan, karena itu masuk ke pesantren ini. Dekat denganmu membuat hari-hari ku di teror. Jadi, cepat jalan duluan saja!" ucap Hasna tegas.


"Kalo kamu gak mau jalan aku akan balik ke asrama!" tegas Hasna lagi. Ekor matanya melihat Ustadjah Ainun berjalan ke arah yang sama dengannya.


Ia tak mau berhadapan lagi dengan perempuan bucin itu lagi. Hasna takut semakin lama dirinya tak mampu mengontrol emosi.


"Oke-oke!" Musa memilih berjalan lebih dulu dan cepat. Tak lama Hasna menyusulnya. lagipula, gadis itu tau di mana kediaman Kyai Faisal Basri. Pemilik dari ponpes ini.


"Hey Hasna! Kamu mau kemana!" teriak Ustadjah Ainun.


"Haih, kenapa dia bisa liat kesini?" decak Hasna. Padahal, ia sudah berjalan dengan cepat. Ternyata pengajar itu tau juga.


"Afwan Ustadjah. Saya di panggil Ning Khumaira,"jawab Hasna jujur. Akan tetapi dirinya tak jujur jika ia kesana bersama Gus Musa. Bisa-bisa wanita di depannya ini jadi singa lapar.


"Heh? Ngapain Ning Khumaira manggil kamu. Ada urusan apa? Kamu kan murid baru. Gak menonjol juga," heran Ustadjah Ainun. Biasanya yang bisa bertemu Ning Khumaira hanya lara murid yang spesial, sehingga mendapat bimbingan langsung darinya.

__ADS_1


"Afwan Ustadjah saya belum tau. Tapi tenang saja, saya akan menolak jika di minta jadi menantunya. Karena saya sama sekali gak ada niat menikah dalam waktu dekat ini," sindir Hasna membuat perempuan di hadapannya ini mencebik.


"Jangan sok kepedean kamu! Ning Khumaira itu punya kriteria yang tinggi untuk calon menantunya. Apalagi, untuk istri dari Gus Musa," balas Ustadjah Ainun.


"Terserah saja. Pastinya saya akan menolak, jadi ... Ustadjah tenang aja. Gus Musa bukan kriteria lelaki idaman saya," ucap Hasna lagi. Lalu berlalu begitu saja dari hadapan perempuan yang merupakan pengajar di ponpes ini.


Ustadjah Ainun mengeratkan gerahamnya.


"Tuh anak makin belagu aja. Segala bilang Gus Musa bukan idamannya."


Hasna terus berjalan, meski Gus Musa tak lagi terlihat di depannya. Masa bodoh, Hasna pun tau jalan menuju kediaman petinggi pesantren tersebut.


Semakin dekat, Hasna dikejutkan oleh suara pria yang ia kenal.


"Lama banget sih!"


Hal itu membuat Hasna sempat terkesiap.


"Kurang kerjaan!" omelnya dengan tatapan yang mengarah tajam.


"Ngapain segala ngobrol dulu. Lain kali, abaikan saja!" ucap Musa. Dia tau jika tadi Hasna berbicara dengan siapa.


Tanpa menjawab, Hasna pun kembali berjalan.


Hingga ia sampai di kediaman Ning khumaira dan wanita paruh baya itu menyambutnya dengan senyum sumringah.


"Gimana luka bakar kamu, Hasna?"


"Alhamdulillah sudah baikan, Ning," jawab Hasna.


Sosok laki-laki tinggi nan gagah dengan tiba-tiba menghampiri Ning Khumaira dan merangkulnya. Akan tetapi tatapannya langsung menjurus pada Hasna.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2