
Hanifa reflek langsung menghampiri Angkasa yang terbangun dengan rahang yang kaku.
"Pa, tenang dulu ya. Kita tanya baik-baik. Mungkin saja, Gus Musa berkata begitu karena pancingan kata dariku tadi. Jadi, dia sama sekali tidak ada niat untuk lancang apalagi melangkahi Papa," jelas Hanifa berusaha menenangkan perasaan orangtuanya itu.
Gus Musa juga bangkit dan menghampiri Angkasa. Di sadar bahwa apa yang di lakukan ya serba terburu-buru. Hanya saja, semua ini ia lakukan demi mengikuti apa tuntunan dari hatinya saja.
Musa ingin lebih dulu tau perasaan Aira padanya. Sebelum, ia membicarakan ini semua kepada kedua orang tuanya.
"Afwan, Ustadz Ang. Saya, sungguh meminta maaf. Saya sama sekali tidak ada maksud lancang. Hanya saja, saya tidak ingin memastikan lebih awal bagaimana perasaan Aira. Karena, mengambil pelajaran yang sebelumnya. Ketika saya telah yakin pada satu perempuan, tapi justru dia memilih hati yang lain. Saya, tentu tidak ingin kecewa lagi," jelas Gus Musa.
Pada saat ini, Angkasa dan Hanifa paham bagaimana perasaan Gus Musa ketika ia benar-benar mengikhlaskan Hasna pada saudaranya.
Mungkinkah, Aira memang obat atau penyembuh yang Allah kirimkan untuknya?
Hanifa juga bahkan tak menyangka jika putrinya Aira memiliki perasaan terhadap Gus Musa. Terbukti, hubungan mereka juga terlihat dekat meksipun telah lama tak bertemu.
Dulu sewaktu Aira belajar di pondok pesantren Darussalam, Musa dan Aira pernah di beri tugas bersama untuk membimbing santri-santri baru yang masih kecil.
Karena pada saat itu, Musa dan Aira yang memang cocok menangani anak-anak.
Sejak saat itulah mereka saling mengenal dan dekat satu sama lain. Aira yang pembawaannya ceria dan Musa yang humble sangat serasi.
Sejak kepergian Aira menuntut ilmu di negeri Yaman, pada saat itulah Musa menyadari arti kehilangan.
Pria itu menyadari bahwa perasaannya bukan sekedar kagum dengan Aira. Bahkan, Musa berniat untuk mengejar S-2 pun di negeri yang sama dengan Aira.
Akan tetapi, sebelum niatnya terealisasi. Sang Abi telah menerima misi dari sahabatnya ini untuk menangani salah satu cucunya yang bernama Hasna.
Bagi Kyai Faisal, mungkin Musa yang berusia tak jauh dari Hasna bisa mendekati gadis itu dan berteman baik dengannya. Bahkan, kedua pria usia senja ini justru ingin menjodohkan keduanya.
Akan tetapi takdir berkata lain, di saat semua itu sedang berjalan, Gus Amar hadir diantara mereka dan menjadi salah satu perantara dari Allah untuk membuka mata hati Hasna atas kekeliruannya selama ini. Pelan tapi pasti, trauma dan ketakutan gadis itu perlahan-lahan sirna.
Pada saat itu, Gus Musa memilih mundur karena saudaranya dan Hasna saling menginginkan satu sama lain.
Perasaan cinta terbesar adakah ketika kita bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Level cinta karena Allah adalah fase mencintai tertinggi. Karena hanya ada ketulusan di dalamnya.
Mungkin, sebab inilah Allah mengasihinya sehingga menghadirkan sosok pelipur lara baginya.
Aira.
Gadis yang selama ini juga ternyata menyimpan sosok Musa dalam diam.
__ADS_1
Menyerahkan segala ketentuan itu kepada sang pemilik hati dan juga kehidupannya.
Siapa sangka, jika pria itu dengan berani mengungkapkan perasaannya serta memintanya menjadi seorang istri.
Sungguh impian Aira selama ini yang seakan menjadi nyata.
Hal yang samasekali tidak ia sangka-sangka.
Angkasa menatap lamat rupa pemuda yang ada di hadapannya ini. Menelisik keseriusan dari niatnya.
Belum lama cucu keduanya di minta untuk menjadi menantu dari putra pertama Kyai Faisal. Kini, cucu pertamanya justru kembali di minta oleh putra kedua dari sahabatnya juga.
Ternyata takdir dan jodoh benar-benar rahasia Tuhan.
Bahkan, tak ada satupun manusia yang bisa menduganya.
"Kakak jadi sama adiknya, dan adiknya jadi sama kakaknya." Tiba-tiba, kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Angkasa. Bahkan, di sertai dengan kekehan kecil.
Hal tersebut membuat ketiga orang ini terheran-heran.
Bukankah tadi Angkasa terlihat sangat marah.
"Bawa kedua orang tuamu untuk menghadapku, hari ini juga. Kau lihatkan, cucuku yang cantik dan imut ini sudah menerimamu. Resmikan khitbahnya dengan membawa orang tuamu kesini. Sekalian membicarakan pernikahan kalian. Siapa tau, bisa bareng sama Mas-mu itu," ucap Angkasa tegas.
Ini artinya pria ini tidak menolaknya.
"Jadi, Ustadz Ang ... tidak marah?" tanya Gus Musa, tak percaya.
"Untuk apa aku marah, pada calon imam dari cucuku sendiri. Cepat pulang sana, kabarkan pada ummi dan juga abi-mu. Ku tunggu sampai sore, ini!" titah Angkasa.
Ucapan dari pria usia senja ini laksana sebuah amunsiis yang menjadikan Musa sangat bersemangat.
"Baiklah, Ustadz Ang. Saya pamit pulang. Ustadjah Hanifa, juga Aira. Saya pulang dulu. Insyaallah nanti sore balik lagi sama abi dan ummi kesini," ucap Gus Musa dengan raut wajah berseri.
Hanifa dan Aira hanya mengangguk. Melepas kepergian Gus Musa yang belum lama tiba ke tempat ini. Bahkan, pria itu belum lama mendudukkan bokongnya di sofa.
Aira menyusul hanya untuk mengatakan.
"Hati-hati, tidak perlu ngebut bawa motornya."
Gus Musa menoleh dan mengangguk. "Iya."
__ADS_1
Sekelebat, pria itu telah menghilang di balik pintu.
Aira tersenyum seraya memegangi dadanya sendiri.
"Masyaallah. Indahnya rencanamu ya Allah. Aira, bahkan tidak mengiranya sama sekali. Kepulanganku ke rumah, ternyata KAU sambut dengan kehadiran calon imam yang akan mendampingi Aira. Ternyata, ENGKAU, melancarkan segalanya untuk ini," gumam Aira dengan rasa takjub yang luar biasa.
Aira pun berbalik dan mendapati sang bunda dengan kedua mata yang sudah berembun.
"Bunda ... kenapa nangis?" tanya Aira ketika gadis itu sudah dekat pada Hanifa.
"Bunda, hanya tidak menyangka jika semua ini terjadi. Nampak begitu cepat dan tak tertebak. Berawal dari Hasna yang masuk rumah sakit. Hingga, kakekmu kecelakaan, lalu kamu yang tiba-tiba kembali pulang. Hasna di khitbah dan di tentukan sebulan lagi pernikahannya, sekarang, kamu yang ... ," Hanifa tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
Wanita itu sudah tergugu dalam pelukan putrinya.
Aira tak dapat menimpalinya dengan kalimat apapun karena dirinya sendiri tak dapat lagi berkata-kata.
"Rencana Allah itu memang indah, dan tak tertebak. Allah adalah penulis skenario terbaik dalam kehidupan. Tak ada satu manusia pun yang mampu merangkai kisah seindah goresan takdirnya." Tiba-tiba Angkasa bersuara di tengah keheningan.
__________
"Allahuakbar!!"
Itulah kata yang keluar dari mulut Kyai Faisal dan Ning Khumaira.
Ketika sang putra, mendatangi mereka dengan segala ceritanya.
Kyai Faisal menatap intens pada putra keduanya ini. Tak lama kemudian, ia menyunggingkan senyum dan memberi tepukan selamat di bahu Gus Musa.
"Kamu anak Abi yang hebat. Berani datang sendiri kesana dan mengungkapkan semuanya," puji Kyai Faisal di sertai tawa kecil setelahnya.
"Abi, apa ini tandanya ummi jadi beneran punya dua menantu perempuan sekaligus?" tanya Ning Khumaira memastikan, sekali lagi.
"Iya, jauzati sayang. Allah mengabulkan langsung doa-doamu," jawab Kyai Faisal seraya menarik ujung hidung mancung Istrinya itu.
"Masyaallah, Abi harus potong sapi!"
"Insyaallah, tujuh sapi itu potong semuanya. Sebagai ungkapan kebahagiaan Abi!" ujar Kyai Faisal penuh guratan bahagia tak terukur.
"Good Job, Brother!!"
Sebuah tangan kekar, datang menepuk bahu Gus Musa.
__ADS_1
Bersambung