Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 32# Mas Rela Melepas Hasna


__ADS_3

Kedua Gus tampan ini tak ada yang menyadari getaran pada ponsel mereka. Keduanya, asik berperang dengan pikiran masing-masing.


Saat ini, Amar dan Musa berada di taman rumah sakit. Sengaja mencari udara segar, sekalian mereka tukar pikiran dan juga memperjelas perasaan. Terutama, untuk Gus Musa.


Amar, terlihat kembali menenggak kopi instan itu perlahan. Sebelum, ia mendengar jawaban pasti yang keluar dari bibir sang adik, Musa.


"Apakah yang aku rasakan ini benar-benar cinta? Jika iya, apakah Mas rela melepas Hasna untukku?" cecar Gus Musa.


Gus Amar sebelumnya menghela napas panjang lebih dulu. Bukan hal yang mudah melepaskan apa yang sudah menjadi impiannya ke depan. Akan tetapi, perasaan Musa jauh lebih besar ketimbang perasaannya terhadap Hasna.


Lagipula, menurutnya Musa juga pasti mampu membimbing Hasna.


"Perasaanku padanya, nyatanya tidak sebesar perasaanmu, Dek. Mas, akan membatalkan permintaan beberapa hari lalu kepada Abi dan Ummi. Setelah itu, kau bisa mengutarakan perasaanmu. Terhadap Hasna, melalui walinya," tutur Gus Amar bijaksana dan besar hati.


"Sebelum itu, lebih baik aku lebih meyakinkan hati ini dengan meminta petunjuk Allah terlebih dahulu, Mas. Sebelum, aku mengutarakan keinginanku kepada Ustadz Ang," ucap Gus Musa.


Gus Amar, tersenyum tipis dan mengusap bahu sang adik.


"Sebaiknya kita kembali, dia gadis itu pasti haus dan lapar," ajak Gus Amar.


Lalu pria dewasa berwajah ketimuran dengan kulit putih dan brewok halus di sekitar rahangnya ini, merogoh ponsel di dalam sakunya.


"Astaghfirullah! Abi nelponin terus daritadi. Kok, gak kerasa ya?" kaget Amar yang langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Di ponsel kau juga, Mas," sahut Gus Musa, yang juga mengeluarkan ponselnya dari saku.


Mungkin mereka berdua terlalu larut memikirkan nasib percintaannya dengan si ukhti bar-bar.


Sehingga mendadak tuli😁


"Assalamualaikum, Bi!" ucap Amar ketika Kyai Faisal telah mengangkat telponnya.


"Baik. Tunggu di sana, nanti Amar jemput!" Amar langsung menutup panggilan.


"Abi dimana emang?"


"Udah di lobi. Biar Mas yang kesana, kamu ke atas aja antar ini!" titah Gus Amar seraya menyerahkan bungkusan berisi minuman dan beberapa roti.


Musa pun mengangguk dan keduanya berjalan terpisah.


"Abi, Ummi ... maaf. Hapenya ke silent," dalih Amar. Pria itu langsung meraih tangan kedua orang tuanya untuk di cium takzim.


"Amar, sudah tau keadaan begini kok ponsel malah di silent!" protes Ning Khumaira.


"Gak sengaja, Ummi," ucap Gus Amar beralasan.

__ADS_1


"Kok bisa kompak sama adikmu. Satupun, gak ada yang angkat telepon Abi," gemas Kyai Faisal. Pasalnya, beliau juga khawatir akan keadaan Hasna. Sementara itu, Angkasa terus mencecar pertanyaan padanya.


"Kalau itu, Amar tak tau," jawabnya yang baru sadar kalau mereka saudara yang benar-benar kompak.


"Gimana, Ummi. Kita langsung menjenguk Hasna sekarang atau tunggu ustadz Angkasa dan Ustadjah Hanifa sampai?" tanya Kyai Faisal kepada istrinya, Ning Khumaira.


"Kalau mereka sudah dekat, sebaiknya kita tunggu saja, Bi. Daripada nanti, Amar atau Musa turun ke bawah lagi untuk menjemput," jawab Ning Khumaira.


"Iya sih, mereka sudah dekat," tambah Kyai Faisal lagi.


"Ya sudah, kita tunggu saja, Bi. Sekalian, ada yang mau Amar omongin," ucap Amar.


"Ya Allah, apa Amar menagih janjiku tempo hari? Atau dia justru ingin cepat minta di nikahi? Gimana ini, padahal Hasna itu--" Kyai Faisal tak dapat meneruskan ucapannya dalam hati, lantaran terdengar suara salam yang ia kenal.


"Angkasa!" sapa Kyai Faisal, memanggil kawan dekatnya.


Tak jadilah, Amar mengungkapkan keinginannya pada sang Abi.


"Gimana keadaan Hasna, Kyai? Ning?" tanya Hanifa, langsung memburu, dengan kedua matanya telah berkaca-kaca. Sejak mendapat kabar Hasna masuk rumah sakit, dia langsung kembali dari luar kota. Beberapa jadwal tausiahnya di batalkan bahkan ada yang ganti hari.


Entah bagaimana perasaannya saat ini. Sang putri, sejak kecil belum pernah sekalipun masuk rumah sakit. Karena, Hasna termasuk memiliki antibodi yang bagus, sehingga jarang sakit.


"Maaf, Mbak. Ini saya juga baru sampai," jelas Ning Khumaira, penuh simpati. Bagaimanapun ia mengerti, perasaan Hanifa sebagai seorang ibu.


"Maaf, Ustadjah Hanifa. Ijinkan saya, bicara," timpal Gus Amar, seraya menangkup tangan di depan dada.


"Silakan, Gus ... Amar, ya. Katakanlah," jawab Hanifa.


"Keadaan, Hasna Alhamdulillah sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Tadi, Hasna sempat tak sadarkan diri karena keadaannya yang sangat lemah. Tetapi, Hasna masih belum bisa di ajak bicara karena keadaanya belum stabil," jelas Amar tanpa ada yang di lebih-lebihkan.


"Innalilah! Pa, kenapa Hasna kita bisa seperti itu?" lirih Hanifa. Air matanya sudah jatuh membasahi kain niqob yang menutupi sebagian wajahnya.


"Sabar, Nak. Sebaiknya kita segera ke atas. Papa ingin bertemu dengan dokter yang menanganinya," ucap Angkasa tenang.


Pria itu selalu menyikapi setiap masalah dengan kepala dingin dan minim emosional.


Mereka berlima pun berlalu ke lantai atas dengan menaiki lift.


Sementara itu, di dalam kamar perawatan Hasna. Darah dan Syifa nampak malu-malu menikmati pemberian dari Gus Musa.


Berkat Hasna sakit, mereka jadi bisa berlama-lama memandangi idola satu pesantren ini. Dimana biasanya mereka hanya bisa melihat dan mendengar suara Gus Musa jika mengajar saja. Itupun, satu pekan sekali.


Walaupun begitu, Sarah dan Syifa tetap menjaga Marwah mereka sebagai perempuan muslimah. Mereka berdua hanya bicara sewajarnya dan juga seperlunya saja.


"Afwan Gus. Syukron air dab rotinya," ucap Sarah yang juga mewakili Syifa. Karena kawannya itu banyak takutnya jika berbicara dengan lawan jenis. Apalagi ini spek idola dan juga guru mereka.

__ADS_1


Gus Musa hanya mengangguk sekilas. Walau bagaimanapun, ia tetap harus menjaga batasan dan juga wibawanya sebagai pengajar.


Selama beberapa saat keadaan hening. Hasna masih terpantau tidur karena pengaruh obat. Dokter mengatakan bahwa Hasna harus banyak istirahat.


Memang, selama hampir dua bulan ini, Hasna sangat giat belajar dan beribadah. Gadis itu benar-benar berusaha untuk memperbaikinya dirinya.


Terlihat Sarah dan Syifa saling menyikut lantaran, keduanya saling memerintah untuk berbicara pada Gus Musa.


"Kalian ini, kenapa?" tanya Gus Musa, dengan kening berkerut.


"A ... ini Gus, ki–kita berdua ... mau ijin ke mushola. Sebentar lagi, masuk magrib," ucap Sarah, dengan terbata.


"Oh iya ya. Sebenatr lagi, adzan magrib. Oke, boleh. Nanti kita gantian aja. Saya juga, lagi nunggu Abi sama Ummi mau kesini," jawab Gus Musa.


"Afwan, Gus. Syukron," ucap Sarah dan Syifa bersamaan. Keduanya menangkup tangan di depan dada karena memang tidak boleh salaman jika bukan kepada mahrom. Lalu keduanya pun angkat kaki dengan cepat.


"Alhamdulillah!" ucap Syifa, setelah mereka berada di luar ruangan.


Sementara itu di dalam kamar, Gus Musa tengah membuka Quran digital melalui ponselnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara lenguhan.


Eugh!


"Sodaqollahul adzim."


"Hasna," ucap Gus Musa pelan. Pria itu pun langsung mengangkat bokongnya dari sofa, kemudian melangkahkan kaki ragu untuk mendekat pada hospital bed.


Setelah dekat.


"A–air," lirih Hasna.


"Ya Allah, kamu haus ya. Sebentar ya, Na. Gus Musa pun membuka air mineral yang ada di atas nakas lalu memasukkan sedotan, tapi kini giliran ingin meminumkannya, Gus Musa bingung.


"Oksigennya di buka dulu sebentar ya, Na. Maaf," ucap Gus Musa seraya melepas alat bantu pernapasan yang menempel di wajah Hasna.


Hasna masih memejamkan matanya karena rasanya berat sekali untuk di buka, tetapi ia merasa haus.


Sekalipun Hasna tau bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah laki-laki yang selama ini suka ia beri ucapan ketus.


Akan tetapi, Hasna kali ini tak mampu mengusirnya. Hasna pasrah, dan membiarkan pria dibhadapannya ini melihat betapa buruk keadaannya.


"Pelan-pelan aja minumnya, Na. Dikit-dikit," ucap Gus Musa. Lalu, ia mengambil tissue dan menyeka air yang menetes dari bawah Bibis Hasna.


Nyatanya, apa yang ia lakukan barusan di amati oleh beberapa pasang mata.

__ADS_1


Kyai Faisal dan Ning Khumaira saling pandang dalam resah.


Bersambung


__ADS_2