Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 58# Kembali Ke Pesantren


__ADS_3

Kita beralih ke kamar sebelah.


Dimana Gus Musa dan Aira sedang bercengkerama.


Gus Musa telah berani memeluk tubuh mungil itu, dan mendekapnya erat. Menghujani dengan kecupan di dahi bertubi-tubi.


Ia memutuskan untuk memulai semuanya secara perlahan, biarlah mengalir seperti air. Tanpa adanya paksaan apalagi tekanan.


"Akhirnya, aku bisa memelukmu, Ai. Menghirup wangi rambutmu, dan merasakan bibir manis ini," tunjuk Musa pada bibir ranum Aira yang sejak tadi menggoda itu.


"Aku juga tidak menyangka, Bie. Jika, waktu ini akan tiba. Penderitaan demi menahan rindu akhirnya usai juga. Kini, aku dapat melihat wajahmu setiap hari."


Cup.


Cup.


Kening, hidung, kedua pipi dan bibir tak luput dari kecupan basah nan hangat seorang Gus Musa. Wanita idamannya yang selalu ia impikan kini telah menjadi miliknya selamanya. Semoga.


"Lebih dari sekedar memenuhi janji, bersamamu hari ini adalah anugerah yang tak terkira.


Duduk berdua, saling menggenggam jemari di atas peraduan yang hangat. Bahagiaku telah menjadi nyata. Jika bertemu denganmu adalah takdir Tuhan, maka jatuh cinta padamu, bukanlah hal yang aku rencanakan," tutur Gus Musa yang secara spontan keluar kata-kata puitis itu dari bibirnya.


Mungkin, sinergi dari bias kebahagiannya.


Mereka saling lekat memandang, iris mata pun bertabrakan dalam kilau asmara terpendam. Aira, melihat pria dihadapannya itu telah berselimut kabut gairah.


Nafasnya yang memburu telah menyapu hangat pada wajahnya. Jakunnya yang seksi terlihat turun naik menahan gelora yang memaksa untuk dikeluarkan.


"Aku mengerti apa yang harusnya terjadi malam ini. Aku pun paham apa kewajibanku serta hak suamiku. Hanya saja, selama mempelajarinya lewat teori sepertinya ini semua akan mudah. Tapi ternyata, keadaan di lapangan sungguh sangat mengancam keselamatan pada jantungku. Karena dia selalu berdetak lebih cepat ketika dia menyentuhku. Kenapa tidak ada penjelasan seperti itu di buku?" batin Aira penuh tanya, ia hanya bisa bicara lewat kalbunya.


Mata hitam pekat yang menatapnya dalam itu, seakan menghipnotisnya. Hingga, lidahnya tak lagi mampu mengeluarkan satu kata pun.


Hanya desah dan lenguhannya saja yang terlepas tanpa mampu di kontrolnya.


Apakah akan senikmat ini?

__ADS_1


Akankah seindah ini?


Jika label halal itu belum kau kantongi?


Jika ridho Tuhan yang sesungguhnya belum kau raih?


Hubungan yang halal itu sudah pasti lebih nikmat, karena tidak ada rasa takut di sana. Semua rasa membaur menjadi kesatuan, yang membuat gairah dan hasrat itu membuncah melenakan.


Tentu saja berbeda dengan hubungan haram yang terlarang. Melakukannya dengan terburu-buru dan dalam ketakutan.


Diam-diam dari pengetahuan manusia. Hingga mereka lupa, bahwa ada yang maha melihat sedang menyaksikan nista mereka.


Sentuhan dari lawan jenis yang belum pernah mereka rasakan di seluruh area kulit.


Membuat mereka merasakan sensasi, yang tak dapat di ceritakan, tak dapat di gambarkan bagaimana geliat gelora yang membuncah pada malam istimewa itu.


Dimana peluh keduanya menyatu, tanpa ada sehelai benang pemisah raga, tanpa ada selembar kapas pembungkus badan.


Semua yang telah halal tak memberi jarak, sehingga setiap sentuhan dan deru nafas yang di nilai ibadah itu, mencipta anti bodi serta menaikkan sistem peningkat imun.


__________


Kedua pasang pengantin ini memutuskan kembali ke pesantren untuk acara ngunduh mantu. Setelah itu baru mereka akan pergi berbulan madu ke Mesir mengunjungi Alexandria.


Di pondok pesantren Darussalam, para pengurus, pengajar dan beberapa santri bergabung. Demi kelangsungan acara nanti siang.


Belum ada satupun, warga dari pesantren yang tau siapa identitas kedua menantu dari pemilik pesantren ini.


Karena para pengurus menyimpannya rapat-rapat, sebelum Kyai Faisal yang mengumumkan nanti.


Tibalah pasangan pengantin datang. Mereka semua beserta keluarga dari besan langsung menuju musholla. Karena areanya cukup luas dan memang juga di peruntukkan berbagai macam pertemuan.


Semua warga pesantren menyambut kedatangan pengantin dengan sukacita. Tim Hadroh menyambut dengan berbagai lantunan sholawat yang menggetarkan jiwa.


Ustadjah Ainun yang menunggu saat-saat ini, nampak lemas tak bertulang ketika ia tau, bahwa salah satu santri yang sangat tidak ia suka kini menjadi pendamping dari anak tertua pemilik pesantren.

__ADS_1


Sedangkan yang menjadi istri dari Gus idamannya adalah sosok wanita yang sangat jauh berada di atasnya.


"Aira, sejak kapan dia kembali? Bagaimana bisa tau-tau menjadi istri dari pria yang ku sukai!" Ustadjah Ainun mencengkeram ujung kerudungnya.


Tanpa ba-bi-bu maupun ijin terhadap siapapun, wanita ini pergi dari pesantren dengan sebuah koper besar.


Ya, wanita itu pergi membawa cinta sekaligus benci di dalam hatinya.


Semoga ia menemukan arti cinta yang sesungguhnya di luar sana.


Semoga, Allah menghadirkan hidayah dan memlu membuka mata hatinya.


Gegao gempita di area pesantren di warnai dengan keagungan pada Allah dan juga rasa syukur luar biasa.


Mereka dengan hati bersih menyambut kehadiran dua Ning baru yang akan mewarnai pesantren dengan ilmu-ilmu baru.


Hasna, tentu akan mengambil bagian pendidikan bagian beladiri.


Karena memang itulah yang paling ia kuasai.


Berkuda, memanah dan juga beberapa tehnik beladiri. Termasuk, menggunakan pedang.


Akhir yang bahagia teruntuk semuanya.


Tentu saja, apapun akhir yang kau raih dan rasa. Berserahlah hanya kepada Allah saja.


Karena DIA-LAH yang paling tau mana yang terbaik untukmu.


♥️♥️♥️♥️♥️


Jazakallahu khoir teruntuk pembacaku semua.


Mohon maaf apabila ada salah kata dan typo.


Semoga kisah sederhana ini mampu menginspirasi kita semua.

__ADS_1



__ADS_2