
Tak lama, Hanifa keluar dari kamar mandi lengkap dengan niqob menutupi wajahnya. Karena di dalam ruangan itu ada Gus Musa.
Hanifa, mendengar ketika Gus Musa merengek karena Hasna mengusirnya untuk pulang.
Hanifa, melengkungkan bibir di dalam niqob-nya. Beberapa hari ini dia bisa menelisik seberapa besar perasaan pria itu kepada putrinya.
Ehem!
Hanifa berdehem pelan untuk menunjukkan keberadaan dirinya.
"Ustadjah Han," ucap Gus Musa seraya menunduk sopan.
Hanifa pun melakukan hal yang sama.
"Sebaiknya Gus kembali ke pesantren. Banyak yang membutuhkan tenaga anda di sana. Para murid yang butuh di ajarkan ilmu. Sementara disini sudah ada saya. Besok boleh datang lagi kalau mau antar bubur. Itupun, jika tidak merepotkan," ucap Hanifa. Membuat bahu Gis Musa seketika mengendur.
Tadi anaknya.
Sekarang ibunya.
Nasib, kehadiran gak diinginkan. 😁
Sabar Gus.
"Kayaknya aku harus sabar dan alon-alon. Setidaknya, kali ini Hasna udah gak ketus lagi seperti biasa. Dia juga, udah gak kayak nantangin kalo ngomong. Lebih banyak nunduk dan mengalihkan pandangan. Meksipun, kelakuannya sekarang malah bikin aku tambah gemes. Astagfirullah," batin Gus Musa yang diakhiri dengan istighfar dan reaksi memukul bibirnya sendiri.
Dengan langkah pasrah, Gus Musa pun keluar dari kamar Hasna. Pemuda itu kembali ke pesantren, dan melakukan kewajibannya yang lain.
Setelah sampai di pesantren, Gus Musa langsung masuk ke dalam kelas Santriwati dan mengajar di sana.
Ketika kelas bubar, langkah kaki pemuda itu dihentikan oleh panggilan dua orang Santriwati yang memekakkan telinga.
"Gus Musa tunggu!!"
Ternyata mereka berdua adalah Sarah dan juga Syifa.
Sekarang, keduanya sudah mulai berani bicara dengan pengajar yang mereka tau menyukai sahabat mereka, Hasna.
"Kenapa kalian sampe lari-lari begini?" heran Gus Musa.
"Maaf, Gus. Kami cuma mau nanya. Gimana keadaan Hasna sekarang, dan kapan dia pulang?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Kalian ini, keadaan Hasna sudah membaik. Sudah bisa makan bubur dan turun dari tempat tidur. Mungkin sekitar dua hati lagi bisa pulang," jelas Gus Musa.
"Hasna nanti, pulangnya kemana Gus?" tanya Sarah, kali ini.
"Kali itu, saya juga tidak tau," jawab Gus Musa lesu.
Setelah pamit, Gus Musa pun berlalu. Meninggalkan, dua gadis itu terpaku dalam diam.
"Gimana kalo Hasna gak balik lagi kesini?" gumam Sarah.
"Ih, kamu mah, Sar ngomongnya kayak gitu. Kan aku juga jadi worry," timpal Syifa.
Mereka pun kembali ke asrama. Karena hari sudah hampir jam tiga sore. Para santri akan bersiap untuk solat ashar berjamaah.
Di kediaman Kyai Faisal.
Gus Musa sedang menghadap kedua orang tuanya.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Nak?" tanya Kyai Faisal pada Gus Amar.
"Amar yakin, Bi. Lagipula, perasaan Amar terhadap Hasna belum terlalu jauh. Hanya sebatas mengagumi lalu menginginkan. Tetapi, Dek Musa, dia sepertinya tidak bisa hidup tanpa dijudesin oleh Hasna," jelas Gus Amar dengan kekehan mengikuti ucapannya.
"Benar kata Mas-mu, Nak?" tanya Kyai Faisal pada putra keduanya yang tengah mengusap tengkuknya, kikuk.
"Apa!!" kaget ketiga orang di depannya bersamaan.
"Terus, gimana tanggapan Hasna?" tanya Gus Amar penasaran. Karena, dia telah tau jika gadis itu selalu menghindar dari laki-laki karena traumanya.
"Dia ... diam aja sih, gak jawab apa-apa. Mungkin kalau dia dalam keadaan sehat seperti biasa aku pasti sudah di pukul atau di tendangnya," seloroh Musa. Dimana ucapannya itu membuat yang lain tertawa.
"Jadi, ini strategi-mu ya. Menggunakan bibir buatan Ummi, untuk menarik simpati dari Hasna. Cerdik sekali," ucap Ning Khumaira tepat sasaran. Hingga, Gus Musa terkekeh di buatnya.
"Besok buatin lagi ya, Um. Hasna lahap banget makan bubur buatan Ummi," pinta Gus Musa.
"Iya, besok Ummi buatin lagi. Supaya Hasna bisa cepet sembuh dan kembali lagi ke pesantren ini. Ummi seneng banget, hal sesederhana itu bisa membahagiakan Hasna," ucap Ning Khumaira.
Amar tersenyum lebar, melihat kebahagiaan di wajah sang adik. Sepertinya, Musa sudah melupakan perasaan tak pastinya pada Aira.
"Setelah Hasna sehat, nanti Abi akan bicarakan lagi dengan Angkasa. Karena, ayah kandung Hasna tak tau dimana rimbanya. Pria itu, sudah melupakan para putrinya," jelas Kyai Faisal.
"Jadi, kemungkinan besar, Hasna akan menikah menggunakan wali hakim?" tanya Gus Musa.
__ADS_1
Kyai Faisal pun mengangguk.
Bukan karena apa, seluruh keluarga dari Amar Albani Yazid pun sudah memutuskan hubungannya dengan Hanifa.
Semenjak, mereka berdua berpisah.
Sehingga, Angkasa takkan mau mengemis pada keluarga mantan suami putrinya itu untuk menikahkan cucunya nanti.
Sebab, Angkasa telah mencoba sejak awal untuk menjalin hubungan baik. Akan tetapi tak satupun keluarga dari pihak mantan menantunya itu yang menerima.
Kyai Faisal tau karena sahabatnya itu pernah bercerita kepadanya.
"Kasian Hasna. Rasa kecewanya bukan hanya dari sang ayah. Tapi juga keluarga besar yang seakan membuang mereka," ucap Gus Musa dengan mimik wajah sedih. Pemuda ini bisa merasakan perasaan sakit hati Hasna.
"Sekarang keadaan mereka sudah lebih baik ketimbang dulu. Angkasa dan Hanifa adalah mubaligh yang di perhitungkan saat ini. Keadaan mereka juga sudah berkecukupan. Angkasa telah membuktikan bahwa putrinya mampu membesarkan mafia putrinya tanpa sepeserpun nafkah dari mantan menantunya itu," ungkap Kyai Faisal lagi.
Amar dan Musa semakin paham. Ternyata luka yang di pendam oleh gadis itu begitu dalam, sehingga membentuk kepribadiannya sedemikian rupa.
"Aku berjanji akan mengobati luka dan kekecewaan mu itu Hasna. Akan ku tunjukkan bahwa tidak semua pria seperti ayahmu," batin Musa.
"Kamu harus sangat sabar dan tulus untuk mengambil hati Hasna. Gadis itu tak percaya cinta uang manis tapi perasaan yang tulus ikhlas insyaallah akan sampai. Cintailah dia karena Allah, biar Allah yang membolak-balikkan hati serta perasaannya," ucap Ning Khumaira memberi nasihat pada putra keduanya itu.
Terbersit kebahagiaan dan harapan dalam hatinya. Sebentar lagi, Hasna akan benar-benar menjadi menantunya. Betapa Ning Khumaira menginginkan anak perempuan. Wanita itu juga sudah terlanjur sayang terhadap gadis yang dipanggil ukhti bar-bar oleh kedua putranya itu.
"Pasti, rumah ini bakal seru banget ya kalau Hasna jadi menantu Ummi. Meksipun, kalian nanti tetap tinggal bersama dengan Ummi dan Abi, tapi kami berdua gak akan menganggu rumah tangga kalian. Hasna akan tetap menjadi ratu," terang Ning Khumaira.
"Iya, bangunan di belakang akan Abi renovasi. Nanti kamu bisa ajak Hasna tinggal di sana. Pokoknya, Hasna jawab iya aja. Langsung deh Abi panggil tukang tuh segerombolan, biar sehari jadi," tutur Kyai Faisal bersemangat.
"Jadi kayak bedah rumah gitu dong, Bi. Pekerjanya segerombolan, dan selesai dalam dua puluh empat jam," gelak Gus Musa.
Sementara, Amar yang lebih lama tinggal di luar negeri tidak paham apa yang sang adik bicarakan.
Di rumah sakit.
"Bun. Kalau Hasna nikah lebih dulu, apakah boleh?"
"Apa, Nak?"
Alangkah kagetnya Hanifa. Ketika dari bibir Hasna meluncur pertanyaan yang tak pernah ia duga.
Sementara itu di Yaman.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ternyata kepulanganku di percepat satu tahun," gumam Aira Albani Yazid, dengan kedua mata berbinar. Kerja kerasnya belajar dengan serius selama ini ternyata membuat hasil sesuai harapan.
Bersambung