
"Kenapa Abi sama ummi bisa tau sih? Rencana aku ke Yaman. Setahun lagi ... yang ada nanti dia lulus aku masih di sana. Kalau berangkat sekarang aku seenggaknya punya waktu dua tahun, belajar sama-sama di sana," batin Musa.
"Musa Al Hakim!" panggil kyai Faisal. Dimana suara tegas itu langsung menyadarkan pemuda yang tengah melamun di hadapannya.
"Siap, Abi!" seru Musa seraya menegakkan tubuhnya.
Puk!
"Udah kayak tentara aja!" Kyai Faisal memukul putranya itu menggunakan sorban yang ia genggam di tangan kanannya.
"Astagfirullah. Afwan, Bi." Musa menunduk lantaran malu dan menyesal telah melamun di hadapan orang tuanya.
"Kamu tau kan, jika kita berniat melakukan sesuatu bukan karena Allah. Pasti akan ada saja hambatannya. Semua yang kita lakukan terkadang justru akan menggelincirkan iman. Ingatlah, Musa. Derajat yang telah Allah berikan padamu. Sebagai Gus dan juga guru muda. Bukan lantas hal itu akan membebaskanmu dari godaan syetan yang terkutuk. Justru, godaan itu akan semakin berat. Ujian keimanan dan napsu akan semakin tinggi dan lebih sulit ketimbang orang awam yang tidak mengerti ilmu Islam," tutur Kyai Faisal dengan suara yang tegas namun sampai di hati Musa.
Semakin benar ucapan sang Abi maka semakin dalam Musa menundukkan kepalanya. Ia merasa malu sekali ketika orang tuanya sendiri tau apa yang ia pikirkan. Apalagi Allah, pikirnya.
"Musa mengerti, Bi. Karena ujian keimanan seseorang yang mengerti agama akan lebih hebat, dan berat. Bahkan seorang waliyullah dan nabi pun tidak lolos dari ujian Apalagi, Musa," ucap pemuda berwajah tampan dengan tatapannya yang menyejukkan. Hingga, pengajar serta santriwati banyak yang menyukainya.
Akan tetapi, hati Musa telah tertambat pada salah satu alumni santri di pondok pesantren ini. Sementara itu, pada saat ini ... gadis muslimah itu tengah meniti ilmu di negeri Yaman.
"Syukurlah kalau pada akhirnya kau mengerti. Karena itulah. Kita sepantasnya menempatkan rasa cinta tertinggi kita hanya kepadanya bukan justru kepada salah satu jenis mahkluk yang notabene kau tau, bahwa setiap bagian dari anggota tubuhnya adalah ujian bagi laki-laki. Yaitu, perempuan," tambah Kyai Faisal lagi.
"Bukan Abi melayang kau untuk jatuh cinta, Nak. Bukan. Tetapi, alangkah baiknya jika kau menyerahkan perasaan dan juga jodohmu kepada sang muqollibal qulub. Sang pemilik hati. Tsabit qolbi Alaa dhinik. Yang maha membolak-balikkan hati manusia." Pesan terakhir dari kyai Faisal telah terucap dan pria paruh baya yang penuh wibawa itu pun berlalu. Meninggalkan wangi khas musk yang menggelitik indera penciuman.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam," jawab Musa.
Selepas isya, rombongan dari Angkasa pun tiba. Akan tetapi mereka harus menunggu hingga majlis dzikir yang selalu di adakan selepas sholat isya ini menyelesaikan acara mereka.
"Hasna capek banget, Bunda," keluh gadis manis itu sambil merebahkan kepalanya di atas pangkuan Hanifa sang bunda.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi. Kakek kan juga sudah menyusul ke mushola. Sekalian sholat isya. Kalau kita nanti aja setelah kamu dapat kamar, baru kita solat," ucap Hanifa, seraya mengusap pucuk kepala putrinya itu.
Usapan tangan seorang ibu, nyatanya menghantarkan rasa nyaman yang sampai hingga ke dalam hati Hasna. Hingga, gadis muslimah itu perlahan memejamkan kedua matanya.
Tak berapa lama, kening Hasna berkerut. Gadis ini juga terlihat meringis kecil. Hasna bahkan menggerakkan kakinya tak bisa diam.
Menyadari ketidaknyamanan itu, Hanifa pun bertanya. " Kamu kenapa sayang?"
Mendengar pertanyaan dari sang bunda, sontak kedua mata Hasna langsung terbuka lebar.
Gadis itu pun segera mendongak.
"Hasna mau pipis Bun," ucapnya jujur seraya memasang ekspresi bahwa dirinya sedang berusaha menahan sesuatu.
"Ya udah kita cari toilet buat kamu," kata Hanifa Wanita itu bahkan hampir bangun berdiri jika Hasna tidak menarik lagi lengan sang bunda. Hanifa pun kembali duduk di atas sofa.
"Biar Hasna aja sendiri yang nyari. Bunda istirahat," ucap Hasna menolak rencana Hanifa yang ingin mengantarkannya.
"Tapi, kan kamu belum pernah kesini, Na. Sementara, Bunda udah sering," dalih Hanifa yang tetap bersikeras ingin mengantarkan putrinya itu. Sebab, area pesantren agak luas dengan kebun di sekelilingnya.
"Ya sudah. Kamu hati-hati. Jangan sampai nyasar, dan juga bertanyalah pada siapapun yang kamu temui nanti," pesan Hanifa selanjutnya.
"Iya Bundaaa ...," jawab hasna panjang. Ia tau Hanifa begitu lantaran wanita itu peduli padanya. Bukan cerewet perihal jodoh saja.
Leganya itu sang bunda selalu berserah terhadap segala ketentuan apapun yang menetap pada manusia.
Setelah mendapat ijin, Hasna pun berlalu dengan Hanya mengantungkan ponsel dan juga dompet di saku gamisnya.
Gadis itu berjalan cepat menebus jarak antara pendopo dengan musholla. Minimnya cahaya membuat Hasna harus menyalakan senter pada ponselnya.
Sementara itu di mushola.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ustadz Ang," panggil Musa, seraya menjabat tangan dan menciumnya Takzim. Panggilan tersebut memang khusus di sematkan kepada Angkasa sebagai seorang mubaligh.
"Wa'alaikum salam. Kau semakin tampan dan berwibawa. Aura sang mubaligh pengganti, sudah nampak jelas," puji Angkasa.
"Musa hanya tersenyum simpul mendapat pujian seperti itu, dari sahabat sang Abi. "Oh iya. Muda ijin panggil Abi dulu, ya. Soalnya tadi memang gak ikut jamaah di musholla. Ummi lagi manja dan minta di temani terus," jelas Musa, ketika Angkasa bertanya kemana kyai Faisal berada.
Angkasa tertawa kecil menanggapi keterangan dari Musa. "Faisal dan Khumaira memang selalu romantis sejak dulu. Apa kamu tidak iri, wahai anak muda?" pertanyaan dari Angkasa seakan menjabarkan apa yang tengah pemuda ini pendam dalam hatinya.
"Ustadz bisa saja menebak. Tapi, mau bagiamana lagi, jodohnya belum Allah kasih," jawab Musa jujur, yang mana hal itu membuat Angkasa tertawa lebih keras.
"Sudah sana panggil Abi-mu. Aku tunggu di pendopo biasa dengan putri dan juga cucuku. Oh ya, Musa. Cucuku itu, mungkin akan membutuhkan bimbinganmu," ucap Angkasa dengan nada ambigu.
Musa hanya mengangguk dan setelahnya berlalu.
Pemuda ini tak ingin menanggapi terlalu jauh.
Musa berjalan dengan cukup cepat menuju kediaman Kyai Faisal.
Sementara itu, hasna masih celingukan mencari toilet maupun letak musholla.
Gadis itu sudah mengadakan senter pada ponselnya ke segala arah. Namun, ia tak kunjung melihat tempat yang bisa dikatakan cocok untuk membuang hajatnya.
"Aduh, udah di ujung deh ini. Mana sih toiletnya. Nih tempat luas banget tapi gak ada papan petunjuknya apa?" gumam Hasna campur gerutu.
Hingga pada akhirnya kedua mata indahnya membulat sempurna. " Nah, itu dia toiletnya. Akhirnya ..." Hasna pun berjalan semakin cepat. Sementara, seorang pemuda yang keluar dari belokan tak di lihatnya. Hingga ...
Tabrakan pun tak dapat di hindari dari keduanya.
Malang nasib, Musa. Karena pemuda itu terjengkang akibat ulah Hasna.
"Astagfirullah, maaf ya. Aku–bukannya gak mau nolongin tapi ini gawat. Udah di ujung!" Hasna pun berlari meninggalkan Musa dalam keadaan menatapnya kesal.
__ADS_1
"Ya Allah. Siapa sih tuh? Pake gamis kan berarti perempuan. Tapi, kenapa tenaganya bisa sebesar itu?" Musa berusaha bangun dan mengusap bokongnya yang ngilu.
Bersambung