
Gus Amar adalah sosok pria yang berada di balik lemari. Sebenarnya pria itu ingin keluar dan menanyakan kejelasan tentang keadaan Hasna saat ini. Akan tetapi, melihat kekhawatiran di raut wajah Musa membuatnya urung melakukan hal tersebut.
"Hasna, semoga kamu baik-baik saja. Mas akan biarkan Musa, menunjukkan perasaan yang ia sembunyikan dari kita maupun dirinya sendiri," gumam pria bertubuh tinggi tegap ini lagi.
Sesampainya di asrama santriwati. Kamar Hasna telah kosong.
Ketua asrama mengatakan bahwa keadaan Hasna darurat dan harus di bawa kerumah sakit. Musa seketika panik dan kalang kabut. Ia pun segera menelpon saudaranya.
"Halo, Mas. Hasna masuk rumah sakit. Cepetan kita nyusul!" ucapnya panik di telepon.
Amar yang berada di seberang sana semakin yakin. Pria itu dengan kebesaran hatinya pun mengiyakan ajakan sang adik. Amar langsung mengenakan jaket di luar gamis yang ia kenakan.
Tak lupa, Amar pun membawakan jaket untuk sang adik. Dengan cepat pria berwajah ketimuran ini mengeluarkan motor gedenya. Amar bahkan langsung mengganti sandal sepatu.
Amar langsung melaju untuk menjemput Musa.
"Um, kita berdua ijin menyusul Hasna kerumah sakit ya," ucap Amar dan Musa bersamaan seraya mencium tangan ibu mereka.
"Iya, kalian pokoknya hati-hati, dan langsung kabarkan kepada ummi mengenai keadaan Hasna di sana. Nanti, insyaallah ummi nyusul sama Abi," jawab Ning Khumaira.
Kedua pria yang merupakan Gus, penerus dari pesantren Darussalam ini pun naik ke atas motor dan melaju keluar dari gerbang pesantren. Menyusul mobil ambulance yang sudah lebih dulu berlalu menuju rumah sakit terdekat.
Sementara itu, kepanikan barusan yang melanda kedua Gus membuat para pengajar terkesiap kaget.
"Siapa sih, Hasna sebenarnya?" gumam Ustadjah Ainun.
Akan tetapi, gumamannya itu terlalu kencang hingga dapat di dengar oleh pengajar yang lain.
"Perlakuannya sangat spesial. Mungkin, Hasna adalah calon istri dari salah satu keturunan kyai Faisal Basri," seloroh salah satu pengajar yang sontak mendapat pelototan mata dari Ustadjah Ainun.
"Eh, mana ada seperti itu. Seandainya ada wanita yang pantas jadi calon menantu salah satu Gus di pondok pesantren Darussalam ini, maka dia adalah salah satu santri yang juga menjadi pengajar dan telah berkontribusi banyak untuk tempat ini," ucapnya panjang lebar.
Wanita ini sungguh tidak terima dengan, persepsi dari kebanyakan pengajar mengenai Hasna.
Entah kenapa dirinya begitu tidak menyukai Hasna semenjak gadis itu mempermalukan Gus Musa. Padahal, Musa sendiri sudah sama sekali tidak mempersoalkan itu.
Ainun juga, tak suka jika ada wanita lain yang dekat dengan keluarga pemilik pesantren, termasuk dengan Ning Khumaira.
Di ruang sakit.
__ADS_1
Syifa dan Sarah, nyatanya sudah tak tahan untuk tidak mengisi keadaan Hasna. Bahkan, ketika di ruang UGD tadi. Kawannya itu, terus mengeluarkan isi perutnya yang hanyalah air itu.
Hingga, pada akhirnya Hasna tak sadarkan diri saking kemasnya.
Hasna langsung di tangani oleh tim dokter. Di beri infus yang di masukkan melalui selang kecil yang mana pada ujungnya terdapat jarum. Lalu benda tersebut di tusuk ke dalam pembuluh darah.
Selang oksigen juga membantu pernapasan Hasna yang nampak sesak. Apalagi, saturasi oksigen gadis itu sangat rendah. Begitupun dengan Tendi darahnya.
"Hasna gapapa kan, Fa? Kok aku takut ya, Fa," ucap Sarah, yang sejak tadi menangisi keadaan kawannya itu.
"Insyaallah, Sar. Hasna itu pasti kuat. Dia pasti baik-baik aja," jawab Syifa dengan bibir bergetar. Pasalnya hatinya pun sebenarnya takut dan memiliki kekhawatiran yang sama, namun ia mencoba untuk kuat dan berpikiran positif.
"Assalamualaikum!" sapa Gus Musa dan Gus Amar.
Sontak, Syifa dan Sarah langsung berbalik dan menjawab salam.
"Wa'alaikum salam, Gus," jawab keduanya serempak.
"Gimana keadaan Hasna?"
"Apa sudah di tangani dokter?" tanya kedua Gus tampan ini bersamaan.
Pada saat itu.
"Assalamualaikum Gus Musa, Gus Amar," sapa wanita berpakaian muslimah syar'i yang merupakan pengurus asrama santriwati. Ustadjah Maryam, wanita tiga puluh tahunan yang bertanggung jawab terhadap administrasi. Dan dia baru saja selesai melakukan pengisian data mengenai rencana rawat inap Hasna.
"Ustadjah Maryam. Jadi, anda yang bertanggung jawab?" tanya Musa.
"Betul, Gus. Saat ini, Hasna sedang di tangani oleh tim dokter di ruang UGD. Saya juga, sudah dapat kamar kelas tiga, jadi--"
"Pindahkan ke kelas utama!" potong Gus Amar.
Mendengar ucapan saudaranya membuat Musa sontak mendongak.
"Aku setuju, Mas. Lebih baik Hasna di rawat di ruangan yang tidak bercampur dengan pasien lain," timpal Musa.
"Tapi, maaf Gus. Kelas perawatan ini adalah kebijakan dari--"
"Ini perintah langsung dari saya. Apa kurang jelas?" ucap Gus Amar lagi dengan tegas. Sehingga, sang pengurus asrama tersebut pun tak ada lagi, penyangkalan. Apalagi, Gus Amar langsung mengeluarkan kartu atm-nya.
__ADS_1
"Baik Gus. Mari saya antar," ucap wanita itu.
Gus Musa dan Gus Amar pun mengekori Ustadjah Maryam menuju, petugas administrasi rumah sakit tersebut.
"Fa, Fa, kamu ngerasa aneh gak?" tanya Sarah sambil menggoyangkan bahu Syifa. Bahkan, seketika air mata mereka kering ketika dengan tanpa tanda maupun peringatan, dua Gus tampan ada di depan mereka sesaat tadi.
"I–iya, Sar. Dia Gus tadi ... memberi perhatian yang begitu besar terhadap Hasna. Bahkan, Gus Amar menggunakan uang pribadinya untuk membiayai rumah sakit ini. Aku kayak mimpi loh ini, Sar,"ucap Syifa.
"Aku aja masih pangling, Fa," sahut Sarah.
Mereka berdua nampaknya benar-benar speechless.
Setelah mengurus kamar rawat inap. Kedua Gus tampan yang kebetulan kakak beradik ini. Duduk dengan gusar di kursi tunggu. Pasalnya, Hasna belum juga keluar dari ruang tindakan.
"Sebenarnya, si Ukhti bar-bar sakit apa?" gumam Gus Musa, dengan raut wajah risaunya.
"Kamu, sangat menghawatirkan dia, Dek?" tanya Gus Amar.
"Iya, Mas. Aku kok takut ya. Perasaanku gak enak dari tadi. Aku pengen buru-buru liat dia," jawab Musa terus terang. Bahkan, jawaban itu mengalir begitu saja. Sampai-sampai Musa menjawab pertanyaan Gus Amar tanpa menoleh.
Tatapan Gus Musa, hanya terarah pada pintu ruang UGD.
"Itu artinya, kamu mencintai dia," ucap Gus Amar.
Deg!
Sontak Musa langsung menoleh.
Kedua kakak beradik ini saling pandang dalam diam.
Gus Musa bahkan tak tau harus menjawab apa dari tebakan saudaranya ini. Karena, dirinya sendiri pun bingung dengan perasaan yang saat ini menyelimuti hatinya.
"Jawab, Musa. Agar aku dapat mengambil sikap yang tegas. Sebelum semuanya terlambat," desak Gus Amar.
"Aku--"
Pembicaraan mereka berdua nyatanya harus terhenti karena Syifa dan Sarah telah keluar bersama tim dokter dan juga, brangkar yang berisikan sosok Hasna.
Bersambung
__ADS_1