Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 12# Dikira Santri Mesum


__ADS_3

Hasna hanya bisa menunduk ketika dibawa menghadap Ning Khumaira. Di sebelah wanita paruh baya itu juga ada sosok perempuan berwajah teduh.


Hasna, tidak enak hati karena perbuatan yang gagah maka kedua kawannya juga terseret masalah yang diperbuat tanpa sengaja itu.


"Syifa dan Sarah kalian boleh tinggalkan tempat ini. Tapi tetap, tunggu hukuman dari Gus Musa untuk kalian," ucap sosok perempuan berwajah teduh itu lembut.


Hasna, tak dapat melihat secara jelas karena ia terus menunduk sejak tadi. Bagaimanapun dia berada dalam lingkungan pesantren yang mengedepankan akhlak dan tatakrama.


Seharusnya dirinya lebih bisa menahan diri lagi. Untuk tidak berbuat hal sebar-bar itu. Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Nasi sudah menjadi bubur. Semua yang Hasna lakukan sudah terlanjur.


Semestinya ia bisa menahan diri. Nama baik bunda serta sang kakek yang akan ia pertaruhkan di sini.


"Hasna? Boleh ummi tau, apa yang membuatmu menyerang Gus Musa seperti itu?" tanya Ning Khumaira, istri dari kyai Faisal dengan lembut.


"Maaf. Hasna pikir, Gus Musa adalah salah satu santri yang mesum," jawab Hasna jujur.


Tentu saja hal yang dia ucapkan barusan membuat Ning Khumaira hampir saja meledak tawanya. Begitu juga dengan Ustadjah Ainun, yang berdiri di sebelah Ning Khumaira sejak tadi.


Lain halnya dengan kedua perempuan ini. Gus Musa, justru membelalakkan kedua matanya. Pria berwajah putih bersih dengan kumis tipis itu merasa tak terima dengan sangkaan Hasna.


"Bisa-bisanya ni ukhti bar-bar nyangka aku kayak gitu. Emang muka aku ada tampang mesum apa?" batin Musa tak terima. Akan tetapi, ia hanya bisa bersungut-sungut di dalam hati saja. Meskipun tatapan tajamnya lepas dari Hasna.


Sungguh keterlaluan memang, gadis yang sudah beberapa kali membuatnya terjengkang ini. Bahkan, Hasna mengatakannya begitu enteng tanpa memikirkan perasaan Musa.


"Astagfirullah, anak ummi di kira cowok mesum," seloroh Ning Khumaira sambil menyembunyikan tawanya.


"Ekhem! Ummi ... !"panggil Musa. Berharap orang tuanya itu berhenti menertawakan nasibnya.


"Hah! Anak Ummi? Maksudnya?" Hasna hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Kalau begini perkiraannya benar. Makin kacau saja urusannya. Secara tak langsung dirinya sudah menuduh anak dari pemilik pesantren.


"Bagaimana tidak. Sejak awal bertemu ... dia menunggui saya di depan kamar mandi. Tadi juga, tak ada ucapannya yang menjelaskan siapa dia dan apa keperluan yang sebenarnya. Jadi, tindakan saya itu hanya refleks," jelas Hasna. Bagaimanapun Hasna harus menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

__ADS_1


Ning Khumaira langsung mengkondisikan dirinya. Lucu saja, menurutnya.


Musa, menghela napasnya. Seumur-umur baru kali ini ada perempuan yang menuduhnya mesum.


"Jadi begitu ya. Perkenalan kalian unik juga," timpal Ning khumaira, seraya berusaha menghentikan senyumnya.


"Oh ya, Hasna. Kamu secara harfiah sebenarnya tidak salah sepenuhnya. Karena, kami juga belum memperkenalkan kamu. Siapa para pengajar disini, dan juga Musa seharusnya dia menjelaskan padamu apa keperluannya ingin masuk kedalam kelas yang notabene berisi santriwati. Jadi, masalah ini ummi anggap selesai sampai di sini saja. Ummi harap, semua hal ini dapat di jadikan pelajaran bagi semuanya," ucap Ning Khumaira bijak.


"Maaf, Ning. Bukannya saya menolak keputusan Ning. Tapi, dua kawannya yang lain akan mendapat hukuman. Lalu bagaimana dengan Hasna sendiri?" tanya ustadzah Ainun.


"Mereka di hukum karena tidak buru-buru menjelaskan pada Hasna. Siapa Musa sebenarnya. Sementara, Hasna di sini tidak tau apa-apa," kilah Ning khumaira membela.


"Tetapi, Ning. Setiap murid baru pasti mendapat buku panduan tentang pesantren. Dan, didalam buku itu sudah lengkap mengenai apa saja pelajaran apa saja yang akan di bina di sini dan juga profil para pengajar. Jika, Hasna tidak mengenali Gus Musa, bukankah itu artinya Hasna tidak mempelajari buku panduan," tutur Ustadjah Ainun. Menolak segala kebijakan dari Ning Khumaira.


Ucapannya itu membuat Hasna merasa benar-benar terpojok.


Di sini dia merasa jika Ustadjah Ainun sangat kesal padanya.


Hasna ingin mengakhiri kejadian ini segera. Karena itu, sekali lagi ia merendahkan hatinya untuk meminta maaf. Meskipun, kesalahan juga terdapat pada Musa. Pria itupun seakan sengaja tak menjawab pertanyaannya.


"Maaf. Saya akan terima setiap konsekuensinya. Saya juga siap menerima hukuman seperti dua kawan saja. Silakan, Ning dan Ustadjah hukum saya," ucap Hasna. Menantang hukuman untuknya.


"Soal hukuman itu. Ummi serahkan pada Gus Musa saja. Karena, beliaulah uang cukup di rugikan di sini," ucap Ning Khumaira singkat. Setelahnya wanita paruh baya itu pun pergi menuju kediamannya.


"Ummi, biar ku antar!" susul Gus Musa. Sekilas ia terlihat melirik ke arah Hasna. Hal yang sama pun secara kebetulan di lakukan oleh gadis yang telah membuatnya malu di depan para santri dan juga Ustadjah.


Entah perhitungan apa yang tengah di persiapkan Musa untuknya.


"Semoga, pria itu mengerti tentang hukum. Tentu saja mengerti dia kan pengajar. Tidak mungkin dia menaruh dendam kan ya," gumam Hasna.


Tiba-tiba, Ustadjah Ainun yang memiliki wajah teduh itu mendekati Hasna. Seketika, Wijaya yang tadinya sejuk untuk dipandang itu berubah seketika.

__ADS_1


"Hey, kamu!" tegurnya tanpa menyebut nama Hasna.


"Kenapa, Kak? Saya punya nama. Kenalkan, Hasna," ucapnya seraya mengulurkan tangan.


"Saya sudah tau." Ustadjah Ainun sama sekali tidak berniat untuk meraih uluran tangan dari Hasna. Perempuan itu justru menatap tajam ke arah santriwati di hadapannya ini.


"Kamu, jangan mentang-mentang, kakek kamu dan kyai itu sahabatan. Jadi, kamu bisa berbuat seenaknya di sini ya. Ingat, kamu itu santri. Hormati para pengajar di sini. Apapun latar belakang kamu itu gak berarti kamu bisa di perlakukan spesial. Ingat itu!" kecam Ustadjah Ainun yang sejak awal memang tak suka melihat kelakuan Hasna pada Musa.


Hasna tak menjawab apapun. Ia hanya tersenyum tipis. Mendapat ancaman seperti itu adalah hal biasa untuknya. Justru, Hasna bergidik membayangkan pelajaran apa yang akan di berikan oleh seorang pengajar macam itu.


Hasna, tidak mengikuti pelajaran pertama. Tetapi, ia ikut masuk kelas ketika pelajaran selanjutnya. Beruntung Hasna tidak menemui dua orang yang berusaha ia hindari. Untuk hari ini.


"Mbak Hasna. Kamu dapet hukuman apa?" tanya Syifa. Hasna mengernyit.


"Belum, dan apapun itu aku siap!" jawab Hasna tegas dan penuh keyakinan. Sejak kecil ia tak pernah takut apapun. Entah sudah berapa macam hukuman yang pernah ia dapatkan. Meskipun beberapa hal itu ia dapatkan bukan karena sebuah pelanggaran yang di sengaja.


"Insyaallah, gitu dong. Karena, kalau bukan atas pertolongan dari Allah. Kita gak akan sanggup melaksanakan hukuman itu," ucap Sarah. Bagaimanapun, sebagai manusia kita tidak boleh sombong. Meksipun kita memiliki beberapa kemampuan dan keahlian.


Karena tanpa pertolongan dari Allah maka semua itu tidak akan menyelamatkan kita.


"Emang apa sih hukumnya?" akhirnya Hasna penasaran juga.


"Kamu belum di kasih tau?" heran Syifa. Hasna pun menggeleng.


"Hafal satu juz dalam satu kali dua puluh empat jam."


Glek!


"Duh, aku kan dulu males ngaji." batin Hasna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2