
Hari ini, pertama kali bagi Hasna berada di kelas pelajaran Gus Musa. Pemuda yang entah sudah berapa kali mendapat kekerasan fisik secara tak sengaja darinya.
Musa masuk kelas dan memberi salam.
Wibawa pria itu terlihat begitu menakjubkan ketika Gus Musa menyampaikan ilmu yang ia kuasai di hadapan santrinya.
Kebetulan, Gus Musa membawakan sebuah kisah hari ini. Kejadian yang terjadi pada jaman Sahabat nabi.
Mendengar itu semua membuat Hasna menunduk malu. Semakin lama Gus Musa bercerita, Hasna semakin menundukkan wajahnya dalam.
Tak seperti kebanyakan santri lainnya yang justru menatap penuh kagum tanpa kedip ke arah pria yang bercerita di depan kelas ini.
Apa yang terjadi pada Hasna ternyata tak luput dari perhatian Musa. Hingga, dua jam kemudian, waktu pelajarannya selesai.
Sebelum keluar kelas. Musa memanggil Hasna.
"Hasna Albani Yazid!" pinggulnya dengan nama lengkap.
Dengan tenang Hasna maju ke depan. Tapi tidak dengan para santri yang lain termasuk Rekha. Gadis itu, menatap penuh iri ketika Gus Musa hafal bahkan hingga ke nama lengkap Hasna.
"Iya, Gus. Apa ada yang perlu saya lakukan?" tanya Hasna, sedikit rasa heran hinggap di hatinya. Apakah kali ini pria di hadapannya akan menetapkan hukuman itu?
"Tolong, bawakan ini ke ruangan saya," titah Musa seraya menunjuk ke arah beberapa tumpukan buku di atas meja.
"Ah itu ... baiklah," ucap Hasna.
Ia pun keluar kelas mengekori Gus Musa dengan membawa setumpuk buku. Makin meradang saja Rekha di buatnya. Hingga tanpa berpikir lagi, gadis itu berlari mengejar keduanya.
"Gus Musa tunggu!"
Musa dan Hasna pun seketika berhenti dan menoleh.
"Ada apa, Rekha?" heran Musa. Sebab, salah satu santrinya ini sampai terengah-engah.
"Saya juga mau membantu Gus Musa. Sini buku-bukunya!" pinta Rekha tak ingat posisi dan juga marwahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya sudah ada Hasna yang membantu. Sebaiknya, kamu bersiap untuk pelajaran ustadjah Ainun," tolak Musa dengan cara bicara yang sangat berwibawa. Sangat berbeda dengan ketika pertama kali Hasna bertemu dengannya.
"Nih, cowok kayak bunglon. Ko dia bisa jadi tegas dan penuh wibawa gitu sih? Pantes aja tuh santriwati gatel pada klepek-klepek," batin Hasna.
"Hai! Jangan bengong! Ayo jalan lagi!" tegur Musa kembali dengan gaya bicaranya yang non formal kepada Hasna.
"Dih, beneran bunglon dasar!" rutuk Hasna lagi.
Keduanya kini sampai di sebuah ruangan, Musa sengaja membuka pintunya lebar-lebar. Jendela pun terbuka gordennya.
"Letakkan di sana saja!" tunjuk Musa ketika Hasna baru saja mau membuka mulutnya.
"Setelah itu, kamu duduk sini. Saya mau bicara," titah Musa.
Setelah meletakkan buku, Hasna pun melakukan apa yang Musa perintahkan padanya. Duduk di kursi yang terletak depan meja, dimana pria itu duduk sambil berpangku dagunya.
"Kamu tau, apa yang mau aku katakan?" tanya Musa, bermaksud Hasna menyadari kesalahannya.
"Enggak! Aku kan cuma santriwati biasa bukan cenayang," jawab Hasna, datar.
Ternyata memang dibutuhkan kesabaran yang luas jika berbicara dengan gadis di hadapannya ini.
Ya salahmu juga Gus, ngapain main teka-teki silang sama Hasna 😁
"Kamu tuh gak peka ya. Gak sadar diri juga. Kamu tau gak kalau namaku itu udah santer di omongin para santriwati. Kalau aku itu pernah di hajar sama kamu," terang Musa.
Hasna mengerutkan keningnya pertanda heran. "Kenapa bisa berlebihan seperti itu sih ceritanya? Kan aku gak pernah menghajar, kalo nendang sih iya," sahut Hasna masih tetap tenang.
"Nah itu, saya minta penjelasannya dari kamu. Darimana kabar itu bisa berhembus sedemikian rupa. Mau taruh dimana mukaku ini?"
"Tetap di depan." Hasna dengan enteng menjawab pertanyaan serius dari Musa.
"Kamu-"
"Kenapa? Apa jawaban saya salah? Apa pun yang terjadi muka anda akan tetap di depan. Hadapi saja semuanya. Lagipula, itu bukan murni kesalahan saya. Lain kali, kalau bicara yang jelas. Jangan bikin tebak-tebakan terus. Memangnya kita ini anak Pramuka!" sindir Hasna.
__ADS_1
Lama-kelamaan dirinya kesal juga. Dari nada bicaranya pria di hadapannya ini seakan tengah menyudutkannya. Bahwa akar permasalahan dari kesalahpahaman ini bermula darinya. Tanpa muda ketahui, jika semenjak kejadian itu tersebar, Hasna telah mendapat tatapan tak mengenakkan dari beberapa santriwati dan para pengajar muda yang mengidolakan Gus tampan ini.
"Kamu itu ya. Saya lagi ngajak ngomong serius. Setidaknya kamu berusaha mencari bagaimana penyelesaiannya. Semua ini terjadi setelah kamu datang kesini," tegas Musa.
"Jadi, anda lagi menyalahkan saya ya? Kenapa anda gak tanya soal ini ke Ustadjah Ainun? Dia satu-satunya saksi dari masalah ini selain Ning khumaira. Lagipula, mana ada korban yang menyebarkan sendiri masalahnya. Sehingga, dia harus menerima perlakuan diskriminatif sejak hari pertama belajar di pesantren ini!" tegas Hasna membalik keadaan dan membuka pikiran Musa.
Benar saja, setelah mendengar penjelasannya, ekspresi Musa langsung terdiam.
Pria itu, lantas berpikir bahwa di sini bukan hanya namanya saja yang manjadi tercemar tapi juga Hasna. Bagaimanapun, Musa tak menutup mata bahwa banyak santriwati yang menaruh hati padanya. Bahkan, sesama rekan pengajar yang masih single. Tak jarang mereka bahkan berani bicara langsung kepadanya.
Bukan hal yang aneh atau tabu, jika wanita yang lebih dulu meminang laki-laki. Apalagi, untuk pria high quality macam Gus Musa.
"Kalau tak ada lagi yang di bicarakan. Saya mau permisi. Masih banyak tugas dari pengajar yang harus saya kerjakan," ucap Hasna mengembalikan kesadaran Musa yang sempat melamun sesaat.
"Baiklah. Mengenai hukumanmu--"
"Katakan saja, apapun itu aku siap!" ujar Hasna penuh keyakinan. Jika harus menghapal Qur'an dia pasti bisa.
"Haih, kamu ini begitu percaya diri. Sebenarnya, dulu kamu ini sebelum masuk pesantren jagoan ya? Kok kayak gak ada takutnya. Ekspresi kamu selalu santai dan tenang," Kulik Musa terus terang.
Hasna tersenyum tipis. Ternyata, Gus tampan di hadapannya ini kepo juga dengan jalan hidupnya.
"Gak perlu tau, yang pasti saya mau masuk kesini karena ingin memperbaiki diri. Mengontrol emosi yang selama ini selalu lost kontrol dari dalam diri saya. Mungkin, jika saya bisa lebih baik. Bunda dan kakek akan bangga dan bahagia. Saya rela keluar dari zona nyaman demi mereka. Tapi, jika keadaan sudah sangat mendesak. dan tekanan yang saya terima melebihi kapasitas sabar saya. Di situlah, anda akan melihat siapa Hasna yang sebenarnya," ungkap Hasna dengan penuh penekanan dan dramatisasi dalam setiap kalimat yang di ucapkan.
Glek!
Seketika, Musa menelan ludahnya kasar.
Dia nyatanya bukan hanya tengah berhadapan dengan ukhti bar-bar tapi juga gadis yang dominan.
[ Ingat kata Abi, kamu gak boleh keras sama Hasna. Dia hanya kurang perhatian dan kasih sayang dari ayahnya. Jadi, bersikap lemah lembut lah. Sentuh hatinya yang paling dalam. Maka pada saat itu kamu akan bisa mengendalikannya. ]
Seketika, ucapan dari kyai Faisal Basri sebagai Abi-nya. Berkelebat di dalam kepala Musa.
"Baik, Abi." Musa tersenyum samar.
__ADS_1
Bersambung