
Kemana, Gus Musa. Manggil kyai Faisal tapi kok belom balik juga," gumam Angkasa.
"Hasna kemana, Fa?" tengok Angkasa seraya bertanya keberadaan sang cucu pada putri satu-satunya itu.
"Itu dia, Pa. Tadi Hasna ijin mau ke toilet. Tapi belum balik juga. Apa jangan-jangan tuh anak nyasar?" risau Hanifa.
"Semoga saja tidak. Kan banyak santrinya di sini. Barusan udah bubar juga acara dzikirnya," jelas Angkasa, berusaha mengurai kerisauannya sendiri.
"Tapi kok lama banget ya." Hanifa pun berdiri dan berjalan mondar-mandir. Sesekali kepalanya menengok ke arah Hasna pergi tadi.
"Biar Papa telepon kyai Faisal saja." Angkasa langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelepon. Tak tersambung, dan hal itu pun membuatnya semakin gusar saja.
Sementara itu.
Musa terlihat menepuk keningnya ketika ustadz muda itu mengingat hal yang ingin ia lakukan tadi.
"Astagfirullah. Pasti ustadz Ang udah kelamaan nungguin ini. Semua gara-gara nih ukhti bar-bar. Mimpi apa aku ya Allah, segala ketemu dia lagi." batin Musa yang terlihat hanya menghela napas.
Akan tetapi pandangannya tak lepas dari Hasna. Membuat gadis muslimah itu memasang ekspresi yang sulit di artikan.
"Dasar! Ternyata semua laki-laki itu sama saja kalau sudah melihat wanita. Otak mereka kotor!" batin Hasna mengumpat pemuda yang ada di hadapannya ini.
"Kenapa nih ukhti kok ngeliatinnya kayak gitu banget ya? Apa ada yang salah sama aku?" batin Musa lagi seraya mengusap tengkuknya merasa aneh. Sebab, tatapan Hasna begitu tajam menelisik.
"Hey, apa Lo salah satu santri di sini juga? Kalo iya, Lo jangan macam-macam! Lo udah ngerasain kan gimana rasanya kaki gue ini!" tunjuk Hasna seraya menggerakkan kakinya dengan nada ancaman.
"Aku--"
"Ah, maaf. Aku masih ada urusan. Sebaiknya kamu kembali ke asrama putri, ini udah malem!" ujar Musa yang kemudian berlalu tanpa menoleh lagi ke arah Hasna. Ia berpikir jika Hasna salah satu santriwati yang ada di pondok pesantren tersebut.
Ia tak mau bertemu dengan pria yang satu model dengan Raymond maupun antek-anteknya. Karena Hasna ingin menuntut ilmu dengan tenang agar cepat pulang dan kembali. Sebab, Angkasa sang kakek hanya mendaftarkan selama dua tahun saja.
Hasna pun kembali ketempat semula. Nampak Hanifa sang bunda langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Kamu gak papa kan, Nak? Kenapa lama banget si? Bikin Bunda khawatir aja," cecar Hanifa yang sejak tadi di balut kekhawatiran terhadap putrinya itu.
Pasalnya, Hasna adalah tipikal perempuan yang selalu melakukan apa yang menurutnya benar dan ingin ia lakukan . Tanpa melihat kondisi maupun situasi dari lokasi manapun ia berada.
Toiletnya jauh Bun dari sini. Udah gitu penerangannya payah. Bisa-bisa, klo ada santri yang mesum pun gak akan ketahuan!" ucap Hasna asal saja. Membuat Angkasa langsung menyangkalnya.
"Astagfirullah, Hasna. Kalau bicara jangan sembarangan. Mana mungkin di pesantren ada yang mesum," sanggah Angkasa. Ia khawatir jika ada yang mendengar ucapan nyablak cucunya itu. Hasna memang suka asal bicara tanpa di saring lebih dulu.
"Loh, Kek. Gak ada yang jamin juga. Jangankan di pesantren yang mana ini tempat kanan kirinya kebun. Toilet masjid aja bisa jadi tempat mesum kek. Apalagi si sini, banyak tempat mojok dan ngumpet. Pasti banyak setannya juga," ucap Hasna lagi.
"Dimana ada setan'? Mesum pulak?" cecar sosok tinggi gagah dengan sorban coklat tua dan sorban putih yang tersampir di lehernya.
"Assalamualaikum, Kyai!" sapa Angkasa mengulurkan tangan untuk menjabat tangan lalu merangkul sahabat lamanya itu.
"Wa'alaikum salam, saudaraku. Maaf, jika anda sudah nunggu kelamaan ya. Maklum, tadi ada sedikit gangguan kata putraku," jelas Kyai Faisal.
"Tidak apa. Kenalkan ini putriku Hanifa bersama putrinya yang merupakan cucu keduaku," terang Angkasa. Sekalipun kyai Faisal pernah bertemu dengan Hanifa sekali ketika mengantar putri pertamanya kesini.
"Afwan, Kyai. Alhamdulillah. Ternyata, pesantren ini sudah ada beberapa perubahan. Semakin betah para santriwan/i di sini," jawab Hanifa jujur. Sebab, ketika ia mengantar putri pertamanya, tempat ini masih banyak tanah kosongnya.
"Oh ya, kyai ini putri saya yang kedua. Saya mau minta tolong lagi, untuk menitipkannya agar mendapat ilmu sebagai bekal hidup dan mati nanti," ucap Hanifa penuh permohonan dan juga harapan.
"Jadi ini, yang namanya ...Hasna Albani Yazid?" tanya kyai Faisal seraya memberi senyum hangatnya pada Hasna yang menunduk.
"Ukhti bar-bar!" kaget Musa. Ketika, ia bisa melihat dengan jelas sosok Hasna.
Mendengar suara tak asing yang menyebut namanya, membuat gadis itu mendongak seketika. "Lo lagi!" pekik Hasna tertahan. Ia memiliki firasat akan sering bertemu dengan pemuda itu ke depannya.
Ya Iyalah Hasna.
Siapin aja ya mental kamu😁.
Kyai Faisal dan Angkasa menoleh ke arah Hasna dan Musa yang saling melempar tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Kalian, ternyata sudah saling kenal ya?" tanya Angkasa dengan senyum lebar tercetak di wajahnya. Entah apa yang pria paruh baya itu pikirkan saat ini. Satu hal yang pasti, ia melihat kecocokan dari keduanya.
"Mungkin, sudah saatnya Hasna mendapatkan pawangnya." batin Angkasa.
"Apa yang sedang Papa pikirkan?" bisik Hanifa, yang nampak keberatan terhadap apapun itu yang tersirat dalam isi kepala Angkasa.
"Papa hanya perlu dukungan," jawab Angkasa dengan berbisik pula.
Hasna menoleh sekilas dan memicingkan mata melihat bunda dan sang kakek berbisik pelan.
Kyai Faisal hanya tersenyum. Karena, hanya dia dan Angkasa yang tau semua rencana itu. Nampaknya, rencana mereka ini akan berjalan dengan lancar.
Belom tentu pak Kyai 😁.
"Hasna, semoga kamu betah ya. Belajar sekaligus menuntut ilmu di pesantren ini. Kalau ada apa-apa, jangan segan datang saja ke kediaman Abi. Pintu rumah kaki terbuka lebar untukmu," ucap Kyai Faisal ramah. Pria itu tak henti melempar senyumnya pada Hasna.
Sehingga, gadis muslimah itu pun menjadi kikuk dibuatnya.
"Perasaanku, kedepannya akan menjadi hari-hari yang berat." batin Hasna. Gadis itu terlihat menghela napas samar.
"Jadi, dia santriwati baru?" Musa pun memamerkan senyum miringnya ke arah Hasna.
"Kenapa tuh cowok? Kok, senyumnya mengandung sesuatu? Duh, horor deh!" Hasna yang menangkap tatapan aneh pemuda yang ia temui tadi itu mengarah padanya. Membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
"Terimakasih ya Allah. Kau berikan aku kesempatan untuk memberi pelajaran padanya. Setidaknya, mulai saat ini ukhti bar-bar ini akan tau tatakrama," batin Musa lagi, seraya tertawa penuh kemenangan dalam hati.
"Musa, panggil ketua asrama perempuan. Agar mereka menjemput Hasna," titah Kyai Faisal.
Sontak hal tersebut semakin membuat Musa semakin heran.
"Siapa sih dia? Kok kayaknya spesial pake telor, yang karetnya dua, eh?" Musa semakin penasaran saja.
Bersambung
__ADS_1