
Hasna pun kembali melepaskan serangannya ketika Gus Musa hampir saja celaka oleh keteledorannya.
"Jangan melamun, bodoh!" teriak Hasna saking kesalnya.
Pencuri yang hendak menyerah Musa itu kembali ia patahkan gerakannya, dengan menendang tangan dari sang pelaku.
Petakk!
Kaki Hasna terlihat keluar dengan cepat dari bawah rok gamisnya. Akan tetapi dengan cepat pula masuk lagi dan tertutup dengan sempurna.
Gus Musa lagi-lagi terkesiap mendengar perkataan dan perbuatan yang keluar dari sosok asing ini.
Mau bagaimana lagi, Hasna terlanjur kesal.
Tanpa diduga, si pencuri kedua melempar ular ke arah Hasna.
"Rasain lu!"
"Mati lu di patok uler!" pekik kedua pencuri tersebut dan mereka pun kembali berlari.
Akan tetapi, kara santri nyatanya tak tinggal diam. Mereka mencoba mengejar dan menghentikan laju lari para perusuh pondok pesantren Darussalam di tengah malam buta ini.
Sementara bola mata Gus Musa terbelalak ketika hewan melata tersebut bergerak dan berada tepat di bahu Hasna.
Hasna tak memperdulikan hewan yang tidak mungkin membahayakannya itu. Dalam hati dirinya ingin tertawa terbahak-bahak. Lantaran pencuri itu melempar ular tersebut ke arahnya.
Entah apa yang di maksud oleh mereka. Saat ini Hasna tau jika para pencuri ini ternyata bodoh.
__ADS_1
"Siapa sosok muslimah itu ya? Apa dia salah satu santriwati kita?" tanya Ustadjah Ainun. Dimana saat ini ia membantu untuk menenangkan dan juga mengobati luka di tangan rekan pengajar, yang barusan menjadi korban sandera.
Siapa lagi kalau bukan Ustadjah Nurul.
"Gak tau juga Kak Ai. Tapi, perempuan itu hebat. Dia sudah menyelamatkan aku. Sungguh, aku gak bisa bayangin kalau tadi ... celurit itu ...," Ustadjah Nurul tak dapat meneruskan ucapannya. Wanita itu ngeri sendiri membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Hingga, ia kembali menutup wajahnya.
"Sudah. Untung kau selamat. Allah masih memberikan pertolongan pada kita melalui gadis misterius itu," ucap Ustadjah Ainun.
"Kalau dia salah satu santri di sini. Aku mau sungkem, Nur. Kamu mau ya temani aku. Dia harus kita rekrut agar menjadi salah satu pengajar santriwati dalam bidang beladiri. Kebetulan kita memang kekurangan tenaga pengajar dalam bidang esktra-kurikuler," ucap Ustadjah Ainun lagi.
"Aku ikut, aja Kak Ai," jawab Ustadjah Nurul menurut. "Karena aku juga mau ngucapin terima kasih Kak sama dia."
"Yaudah kalo gitu kita ikutin mereka. Ayok!" ajak Ainun pada Nurul.
Meskipun masih sedikit takut dan gemetar, mau tak mau Nurul pun ikut juga, ketika Ainun menyeretnya.
Jika saja Ainun tau siapa muslimah yang menjadi penolong mereka saat ini. Maka bola matanya bisa jadi akan meloncat keluar dari kelopaknya.
Melihat pertahanan serta perlawanan kedua pencuri yang lumayan kuat ini. Maka Hasna memutuskan untuk melakukan sebuah trik.
Hasna mengambil ular yang melata di bahunya. Kemudian melempar pada salah satu pencuri yang tadi melemparkan hewan sejenis reptil ini padanya.
"Huwaaaa ... ular!!" teriaknya ketakutan sambil berjingkrak kesana-kemari. Berupaya agar hewan melata itu terlepas dari tubuhnya.
"Hei kenapa kau malah menari, bodoh!" bentak pencuri yang pertama. Kesal melihat kawannya ini kelojotan hanya karena seekor ular pohon.
"Ini ular Bang! Nanti kalo di patok gua bisa mati! Huwaaaa!" teriaknya lagi setelah menjawab kemarahan kawannya.
__ADS_1
"Tolong ... tolongin!" teriaknya sambil berputar. Para santri yang takut ular bahkan tak berani maju.
Hal itu justru membuat Hasna geram bukan main. Sudah di beri selah malah pada diam dan bengong.
"Dasar kalian laki-laki bodoh semua!" pekik Hasna yang maju ke depan lalu melayangkan tendangannya yang spektakuler.
Kenapa?
Karena, sekali serang maka para pencuri itu langsung terkapar.
Sebab, Hasna menendang telat di tengkuk.
Hasna mendarat dengan mulus di tanah dan langsung merapikan kembali pakaian bagian bawahnya. Hasna mengibas rok gamisnya hingga kakinya tertutup kembali dengan sempurna.
Para santriwan yang melongo pun pada akhirnya tersadar setelah para warga meneriaki para maling itu.
Tak jauh beda dengan Gus Musa.
Lelaki tampan berkumis tipis itu, menatap tak berkedip pada sosok wanita berpakaian serba hitam tersebut.
"Siapa dia? Apa mungkin--?"
Melihat semua warga desa dan para penghuni pondok pesantren sibuk menangkap pencuri tersebut. Hasna perlahan mundur, untuk menghilang dari tempat itu.
Ia tak mau jika, identitasnya terbongkar. Atau, sang kakek akan terkena serangan jantung mendengar ulahnya ini.
Hasna berhasil mundur dari kerumunan. Dan ...
__ADS_1
"Mau kemana kamu!"
Bersambung