Ukhti Bar-Bar

Ukhti Bar-Bar
Bab 31# Kekhawatiran Gus Musa


__ADS_3

"Hasna," lirih kata yang terucap dari bibir Gus Musa. Ketika dia memanggil, gadis yang tergeletak lemah dengan selang infus dan oksigen itu.


Bersama Gus Amar dia melangkah cepat mengikuti pergerakan dari para perawat yang mendorong brangkar menuju kamar perawatan Hasna.


Tak berapa lama kemudian para perawat tersebut keluar dari ruangan. Amar sengaja memberikan Hasna fasilitas kamar VIP agar bebas di temani dan di besuk.


Ia juga ingin privasi Hasna dan kenyamanannya terjaga.


Sungguh Amar memikirkan itu semua dengan sigap dan cepat.


Hasna nampak lemah, dengan mata yang berusaha ia buka. Syifa menaikkan bantalan kepala agar Hasna tidak perlu bangun.


"Istirahatlah, Na. Kita bakal nemenin kamu di sini," ucap Sarah, seraya menggenggam tangan Hasna yang terbebas dari selang infus.


Hasna hanya tersenyum tipis guna menjawab perkataan Sarah. Hasna merasa penuh syukur karena memiliki teman yang peduli padanya.


Hasna belum menyadari kehadiran dua pria yang juga menghawatirkan keadaannya.


Gus Amar telah meletakkan jaketnya di sofa Pria itu duduk dan menyandarkan punggungnya di sana. Sebagai tak menyapa, Karena ia tau jika Hasna masih lemah dan butuh memejamkan mata.


Akan tetapi tidak dengan Gus Musa. Pria itu tetap berdiri tak jauh dari hospital bed. Dimana Hasna berbaring tidur.


Tanpa ia sadari, ada cairan yang meleleh dari sudut salah satu matanya. Gus Musa langsung menghapus segera, sebelum mengalir melewati pipinya.


Ternyata apa yang ia lakukan barusan tertangkap mata oleh Gus Amar. Pria dewasa yang merupakan saudaranya itu, menghela napas kasar seraya menekan pangkal hidungnya.


Gus Amar terus melihat ke arah sang adik yang masih terpaku menatap Hasna.


"Ternyata adikku juga mencintai wanita yang sama denganku. Kenapa kau begitu lambat menyadarinya, Dek? Bagaimana jika Hasna tidak jatuh sakit? Sampai kapan kau akan menyadari perasaanmu?"batin Gus Amar.


Sementara Gus Musa. Hatinya terasa di remas pada saat melihat keadaan Hasna yang lemah seperti ini.


Selama ini dirinya tau bahwa Hasna adalah sosok gadis kuat dan berani. Apalagi, ketika ia teringat bagaimana Hasna beraksi diam-diam membantu ketika pondok kedatangan dua pencuri malam itu.


Bahkan Hasna pun berani berhadapan dengan dua pencuri yang menggunakan senjata tajam tersebut.


Tapi kini, Musa melihat gadis jagoan itu dalam keadaan tergeletak lemah. Gadis yang ia pernah rasakan pukulan dan tendangannya. Juga sorot matanya yang tajam menusuk hingga ke relung jiwa.


Entah kenapa, Musa tiba-tiba merindukan momen ia di perlakukan seperti itu oleh Hasna. Gaya bicaranya yang tegas cenderung satire, terkadang menjadi kesan tersendiri yang menjadikan pribadi Hasna sebagai sosok yang unik.

__ADS_1


"Na, cepatlah sehat kembali. Entah kenapa hatiku ini sangat perih melihat keadaanmu yang seperti ini. Aku ingin melihat tatapan tajam dari matamu lagi. Bukan, melihatmu terpejam dengan berbagai selang di hidung dan di lenganmu seperti ini."


"Hasna yang ku kenal dia sangat kuat dan berani. Kau pasti bisa melawan penyakit apapun yang menyerang tubuhnya saat ini," batin Gus Musa.


Pria ini terlihat menguasai deru napasnya. Jakunnya naik turun pertanda ia tengah menahan sesuatu dalam dadanya.


Seandainya boleh, ingin sekali Musa menggenggam tangan Hasna. Memberi semangat dan support melaluinya. Gus Musa terdengar tengah mengucapkan istighfar berkali-kali dengan pelan.


Tak lama kemudian ia pun berbalik dan menghampiri saudaranya yang telah lebih dulu duduk di sofa panjang tersebut.


Sementara, Sarah dan Syifa duduk di pojok sebelah satunya lagi. Untung saja, sofa itu lumayan panjang.


Gus Musa menoleh sebentar ke arah saudaranya itu, dan kebetulan Gus Amar pun menoleh juga. Tatapan mata keduanya sempat terkunci sesaat, namun hal itu cukup memberi penjelasan yang mampu mengubah keseluruhannya rencana dari Gus Amar.


Keduanya kembali bersandar dan menatap nanar ke arah hospital bed Hasna. Bergelung dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa ada satupun yang mengeluarkan suara.


Tiba giliran Sarah dan Syifa yang saling pandang.


Tak ada satupun dari mereka yang berani bicara mengungkapkan keheranan serta kebingungan yang melanda bagi dan pikiran keduanya. Daripada, tindakan dan perlakuan dari dua Gus pemilik pondok pesantren Darussalam ini.


Sarah dan Syifa bukan anak kecil yang tak paham arti dari tatapan kedua pria di sebelah mereka ini. Tentu mereka tau. Akan tetapi, kini keduanya hanya bisa berkomunikasi lewat tatapan saja.


Musa pun menoleh sebentar sebelum menjawab pertanyaan saudaranya itu.


"Mereka Sarah dan Syifa, Mas," jawab Gus Musa.


Gus Amar pun mengangguk.


"Maaf, Sarah dan Syifa," sapa Gus Amar sopan.


Dua gadis yang tengah menjaga kelakuan mereka itu pun terkesiap kaget bersamaan.


"Saya, Gus!" jawab Syifa gugup. Bahkan ucapan yang keluar justru terkesan seperti pekikan kecil dari mulutnya.


Sementara, Sarah hanya terdiam dan menunduk. Tak ada keberanian dalam dirinya bahkan untuk sekedar menatap wajah menawan dari anak pemilik pondok pesantren tempatnya menuntut ilmu ini.


"Saya akan keluar membeli minum. Kalian mau minuman apa? Air mineral atau kopi?" tawar Gus Amar.


Tentu saja hal itu membuat dia gadis ini semakin tercekat tak berani menjawab.

__ADS_1


"Jawab saja. Mungkin ada titipan lain, misalnya makanan kecil? Atau kalian mau saya belikan nasi Padang? Kasian pasti lapar kan karena mengurus Hasna sejak siang tadi," tawar Gus Amar lagi. Musa hanya tersenyum melihat kelakuan saudaranya itu yang memang penuh perhatian terhadap siapapun.


Berbeda dengannya yang lebih mudah panik. Amar lebih bisa berpikir tenang dan sigap dalam situasi apapun.


Sarah dan Syifa terlihat saling berbisik. Tak ada satupun, dari mereka yang berani menjawab pertanyaan dari Gus Amar.


"Sarah, Syifa. Tenang aja. Jawablah, pertanyaan dari Gus Amar. Beliau, sungguh-sungguh," ucap Musa, berusaha membuat ketegangan dua hadis itu mengurai.


"Saya ini, manusia juga sama seperti kalian. Jadi, biasa saja tak perlu sungkan kelewatan begitu," ucap Gus Amar lagi, dengan senyum yang mengiringi ucapannya.


Sarah dan Syifa pun mengangguk lemah. "Sebelumnya, terimakasih Gus. S–saya dan Syifa air mineral saja dengan roti," jawab Sarah memberanikan dirinya. Meskipun sebenarnya ia harus menahan gemetar pada ujung kakinya.


"Baiklah, tunggu di sini. Saya dan Gus Musa akan keluar sebentar. Titip Hasna ya," ucap Gus Amar lagi, seraya bangkit berdiri. Kemudian di susul oleh Gus Musa dan mereka berdua pun keluar dari kamar perawatan Hasna.


Setelah pintu kembali di tutup dari luar.


Sarah dan Syifa langsung menghela napas mereka.


"Alhamdulillah ... mereka berdua akhirnya pergi juga," ucap Sarah seraya menyandarkan punggungnya di kepala sofa.


Sementara, Syifa tengah menarik napasnya panjang.


"Sumpah aku kehabisan oksigen, Sar. Kayaknya kalo dua Gus tampan itu gak keluar. Aku bisa pingsan," ucap Syifa, yang memang selalu begitu ketika berada dekat dengan pria tampan.


"Hasna, tau gak ya? Kalo dua penerus dari pesantren Darussalam, itu peduli banget sama dia," tanya Sarah seraya menatap kawannya di sebelah.


"Gampang. Kalo dia gak tau. Nanti kita yang kasih tau!" seloroh Syifa.


"Eugh!"


Seketika, terdengar lenguhan dari Hasna.


Buru-buru, dua kawan Hasna ini berlari mendekat ke arah hospital bed.


________


"Kenapa dia putramu itu tak ada satupun yang mengangkat telepon Abi?" heran Kyai Faisal Basri. Pada saat ini, ia dan istrinya telah berada di lobi rumah sakit. Sambil menunggu kedatangan dari Angkasa dan juga, Hanifa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2