
"Kakek!" pekik Hasna yang ternyata tertidur di dalam mobil. Gadis itu sedang berada di perjalanan menuju ke pesantren.
Karena tadi Ning Khumaira sempat mengajaknya makan di salah satu kedai. Sekalian, membelikan keperluan Hasna yang sudah pada habis. Betapa wanita itu memiliki perhatian yang sebegitu besar pada Hasna.
"Hasna, kenapa?" tanya Ning Khumaira lembut, yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Astagfirullah. Maaf, Hasna ketiduran ya Ummi?" ucapnya dengan mimik wajah malu.
"Gapapa sayang. Istirahatlah. Nanti kalau sudah sampai, Ummi bangunkan," jawab Ning Khumaira dengan senyum di balik niqob-nya. Terlihat dari matanya yang menyipit.
"Iya, Ummi. Tadi Hasna kayak denger suara kakek manggil-manggil. Apa kakek mau ketemu Hasna, ya?" ucapnya menceritakan apa yang gadis itu rasa tanpa sungkan lagi pada Ning Khumaira.
"Mungkin, itu perasaan khawatir kamu saja. Tapi, bisa juga memang kakek Angkasa sudah sadar dan menanyakan kamu. Secara, beliau itu sangat sayang pada kedua cucunya. Terutama kamu," jelas Ning Khumaira.
"Bukan paling datang mungkin, Ummi. Tapi, karena aku yang paling nakal. Suka bikin kakek khawatir. Gak kayak kak Aira. Dia adalah perempuan muslimah yang sempurna," timpal Hasna dengan senyum getir yang tercetak di wajah manisnya.
"Hei sayang. Jangan memandang rendah dirimu. Lagipula, tak ada manusia yang sempurna selain Rosulullah Muhammad," sahut Ning Khumaira.
"Astagfirullahal adzim," gumam Hasna seraya mengusap wajahnya pelan.
Sementara Gus Musa hanya tersenyum tipis mendengar dialog antar sang Ummi dan gadis yang ia sukai. Gadis yang ingin ia khitbah segera. Lantaran pria ini ingin secepatnya halal dan memberi ketenangan pada Hasna.
Musa ingin menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki di akhir zaman ini seburuk ayahnya.
Meksipun, Musa sadar diri bahwa ia pun masih perlu banyak belajar lagi dalam memahami karakter wanita. Akan tetapi, sial menghormati ia cukup paham. Bagaimana bersikap terhadap tulang rusuk yang bengkok ini.
"Tunggu saja, Bunda Hanifa menghubungi lagi. Mungkin, besok Hasna baru bisa menengok keadaan kakek. Karena, kamu juga masih harus banyak istirahat. Apalagi, hari ini kamu lelah, Ummi ajak muter cari barang keperluan kamu," tutur Ning Khumaira lagi.
"Terimakasih banyak, Ummi. Maaf, jika Hasna sudah merepotkan. Gus Musa juga, Hasna ucapkan terimakasih ya," ucap Hasna kepada Ning Khumaira dan Gus Musa.
"Sama-sama, sayang," ucap keduanya bersamaan.
Ternyata hal itu membuat Hasna tiba-tiba terbatuk, karena tersedak ludahnya sendiri.
Bagiamana tidak, jika Gus Musa juga mengatakan hal yang sama dengan Ning Khumaira.
Memanggilnya, dengan sebutan, sayang.
"Musa ...," tegur Ning Khumaira lembut.
__ADS_1
"Astagfirullah, kelepasan Ummi!" seru Gus Musa seraya menoleh dan menangkupkan tangan kearah Hasna.
"Maaf, ya Na," tambahnya dengan raut muka menahan malu.
Apalagi Hasna, wajahnya pasti saat ini sudah memerah bak kepiting rebus.
"Gus Musa ini sengaja ya? Apa-apaan sih dia. Hati juga kenapa berdebar terus. Aneh sekali!" batin Hasna menggerutu.
Hasna nampak tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan saat ini. Itu terkesan membuatnya seperti gadis yang bodoh dan lemah. Tapi Hasna juga tak mampu mengindahkannya seperti biasa.
Hal sekecil apapun yang Musa lakukan pasti akan menyentil hatinya. Dan, anehnya Hasna tidak bisa mengabaikan hal itu begitu saja.
Entah apa spesialnya laki-laki itu.
Di rumah sakit.
Tepatnya di kamar perawatan Angkasa.
"Iya, Pa. Nanti Hanifa kabarkan lagi ke Hasna kalau Papa sudah sadar," ucap Hanifa masih memegang erat telapak tangan Angkasa.
"Pasti cucuku itu menunggu untuk ku jemput. Tapi, qodarullah. Allah berkehendak lain," lirih Angkasa lagi dengan napas yang masih terlihat berat.
Angkasa pun mengangguk lemah. Ia memang masih tak berdaya. Apalagi rasa ngilu itu ia rasakan hampir di seluruh bagian tubuhnya yang renta.
"Ya Allah, jika kejadian ini semua dapat menggugurkan semua dosa-dosaku, maka hamba ikhlas ya Robb," batin Angkasa.
Bagaimana tidak, hampir sekujur tubuh Angkasa mengalami luka-luka.
Meksipun tidak ada yang patah, hanya bagian kepala saja yang paling parah.
Kediaman Kyai Faisal Basri.
Kedatangan Hasna benar-benar di sambut di sini.
Tentu saja, karena Kyai Faisal adalah sahabat sang kakek. Dan, Ning Khumaira juga kenal dengan sang bunda. Bahkan, Aira juga menempuh pendidikannya di sini selama tiga tahun.
"Hasna langsung istirahat saja ya, Nak. Abi dan Gus Amar ingin ke kota untuk menjenguk Angkasa, kakekmu," ucap Kyai Faisal seraya mengusap kepala Hasna lembut.
"Syukron Kyai. Tolong sampaikan, salam Hasna untuk kakek. Insyaallah, besok Hasna jenguk," jawab Hasna dengan senyum ramah dan sopan.
__ADS_1
"Insyaallah, akan Abi sampaikan. Kamu jangan banyak pikiran dulu. Tadi, Abi baru saja menghubungi Hanifa. Dan, Angkasa sudah sadar. Operasinya juga berjalan baik dengan hasil yang bagus," terang Kyai Faisal.
Mendengar berita tersebut, Hasna langsung mengusap wajahnya penuh haru.
Sungguh ia tadinya sempat merasa takut sekali. Angkasa adalah satu-satunya sosok laki-laki yang mampu menggantikan peran ayah baginya dan juga sang kakak. Hasna bahkan tak berani untuk sekedar memikirkan kemungkinan terburuk sekalipun.
Semua itu karena, dia merasa belum pernah berbakti pada sang kakek.
Kyai Faisal dan Amar pun berlalu. Hasna merasa aneh karena Gus Amar sama sekali tidak menyapanya.
Hingga Hasna tanpa sadar terus memperhatikan pria itu hingga punggungnya menghilang di balik tembok.
"Kenapa Hasna merhatiin Mas Amar gitu banget ya? Duh, gawat gak sih ini. Padahal, Mas Amar udah dingin dan cuek gitu," batin Musa risau dan nampak Gegana.
"Ayo, Na. Ummi antar ke kamar kamu," ajak Ning Khumaira.
Wanita ini bukannya tak sadar. Ia pun peka atas apa yang terjadi.
Mungkin, Hasna hanya heran saja di saat Amar tak bersikap cuek tadi.
Khumaira berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
Hasna tak percaya jika kamar yang telah si siapkan untuknya begitu besar.
"Ummi, apa ini tidak berlebihan. Kamar ini terlalu bagus untuk Hasna. Kalau Hasna betah gimana?" kelakarnya.
"Ummi Alhamdulillah banget kalo Hasna betah. Biar secepatnya jadi anak perempuan Ummi," ucap Ning Khumaira enteng dan santai.
Akan tetapi hal itu mendatangkan kesemutan pada kedua pipi Hasna.
Hasna tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang pada sang kakek.
"Apakah aku memang harus mengambil keputusan ini? Jika memang itu adalah satu-satunya hal yang membuat kakek bahagia, maka dengan sukarela akan Hasna lakukan ya Allah," ucapnya lirih di atas sajadah.
Keputusan apa yang di maksud oleh Hasna?
Apakah Hasna tau, rencana tau mengenai rencana Angkasa?
Bersambung
__ADS_1